My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 35 : Menyesal lah!


__ADS_3

Luna berjalan menuju basecamp milik klannya, langkah kakinya melaju cepat. Aura dingin menyelimuti setiap langkah kakinya, bila seharusnya dia bisa senang saat memenangkan pertandingan tapi ini berbeda hatinya sungguh ingin membunuh orang yang ada di hadapannya itu. Laki-laki yang akan dia berikan balasan seperti keluarganya nanti.


"Menyesal lah kau Leon!" dingin Luna dan melemparkan pisau belati ke arah kayu di seberangnya dan tentu saja batang pohon itu tertusuk oleh pisau belati miliknya.


"Apa kau ingin membunuhku selain di arena, Luna-chan?" tanya seorang perempuan yang pasti sangat dikenal saat mengucapkan kata Chan itu. Ya perempuan itu adalah Joe yang baru saja lewat dan sudah disambut oleh pisau belati yang dilesatkan.


"Boleh juga sarannya itu" Smirk Luna dan mengambil pisau belatinya.


"Apa kau juga ingin ke kantin, sebentar lagi jam makan siang?" tanya Joe.


"Tidak aku akan kembali ke basecamp" jawab Luna singkat dan ingin berlalu pergi dari hadapan temannya tapi sayang Joe sudah menarik tangan milik Luna ke arah kantin.


"Kau harus menemaniku ada yang ingin ku bicarakan, Luna-chan" ucap Joe dan menarik tangan Luna ke arah kantin.


"Kau" Luna hanya bisa menghemhus nafas pelan menghadapi temannya yang suka memaksa saat ada keperluan nya saja. Jika Luna sedang berjalan menuju kantin maka berbeda dengan Leon yang sedang memegang pisau belati miliknya dan menikamnya ke arah batang kayu.


"Sial, kenapa dia selalu mengingatkanku tentang Luna" pikir Leon dan menggerakkan tangannya untuk menggores kayu yang ada dihadapan nya. Sudah puluhan goresan dia layangkan ke arah batang pohon itu, keringat di tubuhnya sudah mulai menetes tetapi tidak cukup membuat hatinya tenang sedikit.


"Senyumnya... Aromanya... bahkan nama depannya sama persis" lanjut Leon dan menyayat kasar batang pohon itu. Semua pikiran nya tertuju kepada perempuan itu, perempuan yang memiliki senyum seperti mantan kekasihnya. Perempuan yang sudah bekerja lama bersama dengannya. Perempuan polos nan manis yang akan selalu memberikan senyum dan memarahinya saat dia melakukan hal-hal yang tidak baik.


Ya perempuan bernama Luna Luxury itu yang telah membuat jiwanya tidak pernah tenang, di saat penyesalan selalu ada kepada dirinya. Jika perempuan itu akan mengatakan bahwa


'Penyesalan akan datang di akhir bukan di awal, jadi hati-hati okay Le'


Maka benar ucap perempuan itu, penyesalan nya datang di saat perempuan itu pergi karena kebohongan yang tak pernah dia lakukan. Penyesalan saat diriku mengetahui kebenaran dari orang-orang yang telah melukainya. Bukan diriku saja yang melukainya tapi keluarganya. Perempuan yang polos itu memiliki luka yang tak pernah di tampakkan dan hanya senyum manis nan tulus itu yang selalu mengiringi langkah kaki nya.


"Siap!" ucap Leon dan menancapkan nya keras di batang pohon itu. Nafas yang terengah-engah dirasakan di hembusan nafasnya. Hingga suara berat itu terdengar di telinga milik Leon.

__ADS_1


"Apa kau ingin membuat tanganmu memar Ingan pertandingan untuk dunia gelap masih ada" tukas lelaki itu dan meminum soda nya.


"Lose or Win" tanya Leon dingin.


"Cih, beda 2 detik dengan kemeliteran milik London" ucap lelaki itu berdecih.


"Sepertinya kau harus berenang di kolam renang untuk membuat otakmu jernih, Febri" dingin Leon dan mengambil handuk yang ada di dekat basecamp nya. Lelaki bernama Febri itu hanya bisa tertawa mendengar ucapan temannya itu.


"Kau kira mudah untuk membongkar bom dan merakitnya kembali, aku hanya ketinggalan 2 detik paham bukan 2 menit" bela Febri laki-laki berkumis tipis dengan alis tebal.


"Waktu merupakan sesuatu yang berharga" ungkap Leon yang hanya membuat Febri tertawa.



Ungkapan dari temannya itu cukup membuat pikiran nya melayangkan bahwa setiap ungkapan dari temannya seharusnya untuk dirinya sendiri


"Tidak perlu membahas hal yang tidak berguna" tajam Leon dan ke dalam basecamp yang diikuti oleh Febri


"Hal yang tidak berguna itu lah yang membuatku tidak bisa tenang dan juga kenapa kau masih tidak bisa melupakannya? apa sesulit itu kau berpindah ke lain hati?" ucap Febri dan mengikuti Leon ke dalam basecamp. Mata Leon menatap foto pigura kecil yang dia letakkan tepat di meja basecamp yang tentu saja selalu dibawa nya.


Tangannya mengambil pigura itu dan mengeluarkan senyum setipis mungkin.


"Ya sangat sulit hingga diriku tidak bisa menemukannya bahkan 8 tahun ini" jelas Leon dan mengusap pelan pigura yang berisi foto mantan kekasih yang merupakan sekretaris nya itu. Febri yang melihatnya hanya bisa mengembuskan nafas pelan, dia tau temannya itu sudah menyesal tapi dia sangat tau bahwa penyesalan selalu datang di akhir bukan di awal. 'Aku berharap kau menemukannya, Leon' ucap Febri dalam hatinya.


Hembusan angin musim dingin menyapa lembut kulit perempuan yang lebih memilih makan di kantin area luar daripada dalam dan melihat kegiatan para anggota militer lainnya dan sebuah gebrakan dari meja makan kecil itu.


"Sudah aku yang kalah sekarang aku juga yang harus traktir dan membawakan" protes Joe dan meletakkan makan siang mereka.

__ADS_1


"Kau yang mengajakku paham dan juga mungkin itu takdirmu untuk selalu kalah" tatap Luna dingin dan menyedokkan makanannya.


"Haisssh kenapa aku bisa punya teman seperti dirimu Luna-chan" gemas Joe dan mendudukkan bokongnya di kursi sebrang milik Luna.


"Tanyakan pada diriku sendiri" jawab Luna santai.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Luna to the points.


"Ahhh aku sudah mendapatkan sedikit bocoran dari atasanku tentang hal itu" ucap Joe pelan.


"Apa kau dibolehkan untuk memberi tahukan ku?" tanya Luna mempastikan.


"Malah atasanku yang harus mengatakan bahwa hanya kamu yang bisa membantu tapi itu katanya yaa" jawab Joe yang membuat Luna menaikkan alisnya sebelah.


"Intinya saja" dingin Luna. Mata Joe menatap sekeliling nya dan tidak akan ada yang mendengar ucapan yang akan dikatakan nya ini.


"Atasanku mengatakan bahwa yang dicari mereka adalah barang yang bisa berguna untuk seluruh dunia jika itu ditangan yang benar tapi jika berada di tangan yang salah itu bisa membahayakan seluruh dunia" bisik Joe.


"Lalu hubungannya denganku?"


"Sepertinya atasan milikmu dan milikku akan membuat rencana dan melibatkan diriku di rencana itu" jawab Joe yang membuat Luna mengeluarkan sendok dari mulutnya itu.


"Rencana apa lagi yang akan dilakukan di saat pembalasan ku saja masih bertahap" dingin Luna yang membuat Joe hanya menaikkan bahu.


"Sorry Luna-chan aku juga tidak mengetahuinya dan juga mungkin ini akan ada sangkut pautnya dengan rencana pembalasan dendam mu itu" ucap Joe memelas jujur saja dirinya juga tidak mengetahuinya apa yang direncanakan para tetua karena itu hanyalah rahasia dan merupakan misi tingkat A ataupun tingkat S yang tidak diperbolehkan untuk orang lain mengetahui selain orang yang bertanggung jawab.


'Sial apa lagi yang direncanakan dad' pikir Luna.

__ADS_1



__ADS_2