
Mobil yang dinaiki oleh Qarin berhenti tepat di depan mini market. Membiarkan pelayan yang berada di samping Qarin menyelesaikan tugas yang diberikan tuannya.
"Apa nyonya benar-benar akan memberikan mereka buah-buahan dari mini market ini?" tanya Fin, pelayan milik Qarin.
"Tidak apa-apa, bagaimanapun juga saya lupa membawa oleh-oleh dari rumah bukan?"
"Huft, tapi nyonya anda tau bukan teman-teman anda itu pasti akan membuang buah-buahan yang dibeli dari tempat murahan" jelas Fin.
"Jika mereka membuang buah-buahan itu, maka saat mereka mati mereka akan dibuang oleh buah-buahan yang mereka buang itu" canda Qarin membuat Fin hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Baiklah, kalau begitu apa nyonya ingin ikut saya ke dalam?" tanya Fin yang ingin mengajak atasannya untuk ikut ke dalam mini market secara halus, karena perasaan tidak enak nya masih ada sela perjalanan di dalam mobil. Membuatnya tidak ingin meninggalkan atasannya dengan supir yang ada di dalam mobil.
"Hemmm, sepertinya saya di dalam sini saja kau tau bukan jarum panjang sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang" jelas Qarin yang tidak ingin menyia-nyiakan uang suaminya yaitu tubuh yang sedang dijaganya hari ini.
"Ta..tapi.."
"Fin, tenang saja tidak akan terjadi apa-apa dan juga kalau ada yang terjadi saya pasti bisa melakukan nya" senyum Qarin penuh kepercayaan diri.
"Huft baiklah jika itu yang diinginkan nyonya dan kamu aku tidak akan membiarkan mu jika terjadi sesuatu" tatapan Fin tajam lalu masuk ke dalam mini market dengan cepat. Meninggalkan atasannya di dalam mobil dan memilih buah-buahan yang segar dengan cepat.
Dan di saat itu pulalah, langkah kaki milik Fin berhenti tepat di depan kasir. Saat matanya menoleh dia menyadari bahwa mobil yang membawa mereka sudah menyalakan mesinnya.
"Tunggu jangan bilang ini..." ucap Fin khawatir dan refleks melepas belanjaannya di depan meja kasir. Membuka pintu mini market dan berlari ke arah mobil yang tadi ia tinggalkan.
Langkah kakinya tergesa-gesa mencoba untuk mendekat ke arah mobil. Namun sayang mobil itu sudah menancapkan gas miliknya dan membawa Qarin di dalam mobil sendirian.
"Arghhh tidak-tidak, aku harus menelepon tuan besar" ucap Fin khawatir. Mengambil telpon yang ada di sakunya dan dengan cepat menekan nomor milik tuan besarnya.
Tit....
"Ahhh tidak, kenapa tuan besar Riska mengangkat telponnya! a..aku harus menelepon tuan muda" ucap Fin yang ketakutan karena melihat bahwa atasannya yang merupakan nyonya besarnya diculik.
Tit... tit...
"Halo?"
"Apa benar ini dengan tuan Leonex Martin" tanya Fin cepat.
__ADS_1
"Ah apa ini suaranya Fina, pelayan nyonya Qarin?" tanya Luna balik.
"Tunggu jangan bilang ini nona Luna?"
"Hahaha, iya maaf saya yang mengangkat telpon karena tuan Leon sedang mengadakan rapat direksi" jelas Luna.
"Nona, bisa anda membantu saya, saya mohon nyonya besar diculik seseorang" panik Fin.
"Apa katamu tadi? Nyonya Qarin diculik... baiklah aku akan ke tempat mu secepatnya jadi kirim lokasimu sekarang, Fin" ucap Luna yang dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ruangan miliknya. Meninggalkan atasannya yang sedang sibuk dengan para bawahan kantornya.
"Sebentar lagi aku berangkat jadi cobalah ingat-ingat nomor platnya" minta Luna.
"Baik, terimakasih nona atas bantuannya" ucap Fin dan mematikan telponnya. Luna yang berada di kantor dengan cepat mencari kunci mobil kantor yang diberikan oleh Leon untuknya bekerja. Mengambil tas pribadinya dan Dnegan cepat meminta izin kepada asisten terpecaya milik Leon.
"Sir, katakan pada sir Leon saya harus pergi karena nyonya Qarin diculik" ucap Luna cepat dan pergi meninggalkan kantor secepat mungkin.
"Ah baiklah, hati-hati ... eh tunggu nyonya Qarin diculik???? Hei Luna katakan apa yang terjadi!!!" teriak asisten Leon dan melihat bahwa Luna sudah pergi jauh.
Luna yang sudah berada di tempat parkiran dengan cepat memasuki mobil kantor, memutar kunci dan menancapkan gas mobil dengan cepat. Mengikuti GPS yang menunjukkan lokasi pelayan berada dan berhenti tepat di depan sebuah mini market.
"Terimakasih kamu sudah datang secepatnya nona saya akan menunjukkan lokasi yang saya tau" jelas Fin dan memasukkan pintu mobil.
"Kalau begitu mari kita mulai" ucap Luna yang mulai memasang seatbelt miliknya. Menancapkan gas dan berjalan menuju rute yang diberitahukan oleh pelayan. Hingga tidak lama kemudian mereka bisa melihat sebuah mobil bewarna hitam berplat XXX67X berada di dekat mereka.
"Itu dia, itu mobil yang membawa nyonya" ucap Fin yang membaca plat mobil dari kejauhan, menggunakan kamera handphone untuk memperbesarnya.
"Baik"
"Nona, anda harus lebih cepat jika tidak kita akan kehilangan mobil tersebut" jelas Fin yang tidak ingin nyonya nya kenapa-kenapa.
"Baiklah kalau begitu pegangan" ucap Luna yang mulai menambah kecepatan mobil miliknya. Dimana saat ini juga dirinya sedang berdoa untuk keselamatan dirinya, terutama mobil yang sedang ia gunakan saat ini.
'Mobil apapun yang terjadi kepadamu ku harap bos tidak memotong gajihku jika tidak aku tidak bisa makan seumur hidup' pikir Luna
Ia menancapkan gasnya lebih cepat, mengikuti instruksi dari Fin dan membelokkan setir mobilnya ke arah kanan. Mengikuti jalan pengunungan yang di daki mereka. Membuat dua mobil sedang berbalap-balapan. Hingga mobil Luna memiliki kesempatan untuk mendukung mobil hitam yang membawa Qarin. Membiarkan mobil kantor bewarna silver itu tergores.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus kita lakukan." tanya Luna bingung.Dia tidak pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya. Membuatnya kebingungan dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Nona kita harus turun dan membawa nyonya secepat mungkin... saya akan melindungi kalian" ucap Fin dan mengeluarkan senyumnya.
"Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Luna, dia merasakan rasa khawatir bila terjadi apa-apa dengan Fin hari ini. Apalagi saat ini mereka ada di jalan pengunungan yang merupakan jalan sepi dan jarang dilewati oleh kendaraan. Memuat Luna enggan meninggalkan Fin yang merupakan pelayan pribadi Qarin.
"Nona muda, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Saya akan melindungi kalian dan saya juga sudah menelpon polisi jadi mereka akan datang ke sini jadi tenang saja semuanya pasti baik-baik saja" ucap Fin, dia memegang tangan Luna membawanya berjalan ke arah mobil hitam dan mulai membuka pintu mobil. Terlihat di sana Qarin sedang duduk dengan tangan yang terikat dan mulut yang di plester. Air matanya masih bercucuran karena kejadian yang baru saja ia lewati.
Membuat Fin yang melihat hal tersebut mengigit bibirnya. Melepaskan ikatan milik Qarin dan membawanya menjauh dari mobil.
"Nona muda mundur, saya akan berjaga di depan kalian" ucap Fin yang langsung diangguki oleh Luna. Tangan Luna memeluk Qarin dan membawanya mundur selangkah demi selangkah. Mengamati sekeliling dan mencoba mengamankan apa yang terjadi.
'Dimana supir itu? dimana dia? aku harus mencari keberadaan nya?" pikir Fin sambil minat sekeliling. Hingga telinganya yang tajam mendengar suara suara tembakan pistol. Membuat matanya terbuka dan berlari cepat ke arah Qarin membalikkan tubuhnya dan membiarkan peluru itu menembus tubuhnya.
Dorrr**
"Uhukkk..." batuk Fin yang mengeluarkan darah yang ada di mulutnya. Kaki yang tadinya berdiri tegak kini melemah dan roboh. Membuat suara tangisannya Qarin bertambah diiringi dengan suara sirene mobil polisi yang mulai mendekat.
"Fin...hiks..." panggil Qarin di sela-sela tangisannya. Dia mendekat ke arah Fin menggenggam tangannya erat. Tubuhnya bergetar ketakutan melihat desah yang banyak untuk pertama kalinya
"Nyonya besar... uhukkk sa.. saya baik-baik saja... sa.. saya baik-baik saja jadi jangan menangis ya" senyum Fin sambil mengelus tangan milik Qarin.
"Fin...."
"Nona muda... ja....jaga nyonya besar ya... to...tolong" minta Fin dan menatap ke arah Luna sedih
"Aku akan menjaganya, a..aku"
*Terimakasih... terimakasih banyak" senyum Fin dan menutup matanya pelan. Menghembuskan nafas terakhirnya miliknya di tengah-tengah raungan kesedihan.
"Fin.....!!!"
🔫Omgggg pengorbanan banyak juga ya di kejadian ini dan juga sepertinya kita akan memulai kejadian mobil lagi. Dimana bakal ada Bagian Navin dan Laura ^^ #Spoiler
Sekian terimakasih, Mata Ne~
__ADS_1
.