
Lina yang mulai menggila di tempat sepi itu mulai menarik perhatian orang-orang yang berada jauh dari tempatnya. Disaat suara teriakan bertambah keras menarik perhatian orang-orang, disaat itu pulalah wajah menawan milik Lina menghilang.
Dimana hanya ada wajah ketakutan yang membuat orang-orang yang melihatnya merekam wajah itu maupun menelepon ambulance untuk membawa Lina ke rumah sakit. Berbeda dengan seorang wanita yang hanya menatapnya dingin dari kejauhan.
Tidak ada ekspresi kebahagiaan maupun kesedihan yang tercerminkan di mata bewarna hitamnya itu. Seakan-akan menggagap wanita yang jauh dari hadapannya saat ini hanyalah hantu bukan saudari yang memiliki ikatan darah dengannya langsung.
Dengan hembusan angin musim dingin yang membawa dedaunan pergi. Wanita yang bersembunyi di balik pepohonan itu pergi meninggalkan wanita gila dan laki-laki yang dijatuhi reruntuhan bangunan. Meninggalkan semua kenangan yang ada dan pergi menjauh dari perusahaan yang dipenuhi oleh orang-orang.
Wanita itu pergi meninggalkan semuanya dan masuk ke dalam mobil yang ia parkir tidak jauh dari lokasi kejadian. Mata yang dulunya penuh ambisi itu kini mulai sunyi dan menjadi keheningan. Dimana keheningan itu berasal dari balas dendam yang sudah terselesaikan.
Dengan gumaman kecil nan tenang, matanya menatap ke arah perusahaan yang hancur itu untuk terakhir kalinya. "Saatnya untuk memulai kehidupan yang lebih baik dan juga lebih tenang" gumam wanita tersebut dan mulai mengendarai mobil hitamnya ke jalan raya yang dipenuhi kendaraan.
Ditemani dengan sinar matahari yang lembut wanita itu pergi kembali ke tempat tinggalnya untuk menemui orang-orang yang sangat ia cintai. Sama seperti seorang laki-laki yang saat ini duduk di ruangan kerjanya sambil menunggu tangan kanannya membawa sebuah hasil yang sudah lama ia tunggu.
Dimana hasil ini akan menjadi awal atau akhir kehidupannya bersama dengan orang yang ia cintai dan ia sayangi selama 10 tahun lamanya. Cinta yang kadang membuat seseorang menjadi egois dan kadang juga membuat seseorang menjadi manis.
Hingga membuatnya menjadi seorang manusia yang kuat di luar namun lemah di dalam saat melihat wanita yang merupakan cintanya itu pergi jauh darinya. Bahkan saat ini ruangan yang dilengkapi penghangat ruangan itu, tidak mampu menahan aura dingin nya yang mencekam.
"Tuan Leon maaf bila saya tidak sopan kepada anda, hanya saja saya ingin mengatakan bahwa tuan Felix sebentar lagi akan sampai ke sini jadi saya harap anda bisa tenang sebentar tuan " ucap asisten Leon saat merasakan aura mencekam dari atasan yang membuatnya menggigil kedinginan.
"Kau sudah mengatakan ini untuk ke 12 kalinya, paham" dingin Leon yang sudah mencoba untuk menenangkan diri nya tetapi tetap tidak bisa dan berakhir dengan aura yang semakin bertambah.
Hingga tidak terlalu lama kemudian pintu yang tadinya tertutup rapat kini mulai terbuka dan memperlihatkan seorang laki-laki dengan baju hitam khasnya. Dengan langkah kakinya yang tegas laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop bewarna putih bercap rumah sakit dan memberikan amplop itu kepada atasannya.
"Ini adalah hasil tes DNA yang kau minta aku kerjakan, tuan" ucap Felix dengan formalitas miliknya. Membuat Leon yang mendengarnya dengan cepat mengambil amplop putih bercap itu dan membuka segelnya.
Mengambil kertas putih yang ada di dalam lalu menarik nafasnya pelan. Dia merupakan seorang laki-laki yang kuat dan sempurna di mata orang-orang. Namun tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan bukan? Karena bagaimanapun juga dia tetaplah seorang manusia yang memiliki kekurangan.
Dimana kekurangan itu berasal dari orang yang ia cintai dan ia sesali yaitu Luna Luxury atau yang saat ini dikenal sebagai Luna Nypole. Seorang wanita yang dulunya ia anggap lemah dan polos. Sehingga membuat dirinya ingin melindungi wanita tersebut dan berakhir dengan menghancurkannya.
'Huft, apapun hasilnya aku akan tetap mencintaimu Luna' pikir Leon dan mulai membaca huruf berwarna hitam yang ada di dalam kertas itu.
Dengan wajahnya yang tenang matanya mulai bergerak dari ujung ke ujung. Membaca setiap kalimat yang ada, lalu sampai ke sebuah tulisan yang membuat wajah yang tadinya tenang berubah menjadi kaku, diikuti dengan nafas yang tercekat tangan yang tadinya terbuka kini mengepal dengan erat.
Hingga membuat kertas dan amplop yang ia pegang, dipenuhi dengan lipatan kasar dari kedua tangannya. Bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini hanya berdiam diri dan tidak bisa berbicara apapun saat melihat aura mengerikan dari atasannya.
__ADS_1
"Felix, antar aku ke tempat tinggal Luna sekarang!" tegas Leon yang dengan cepat mengambil jaket musim dingin yang ada di tangan asistennya. Melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pribadinya dan menekan lift pribadi miliknya.
Pergi menuju tempat parkir lalu membiarkan Felix membawanya ke tempat tinggal orang yang ia cintai yaitu Luna. Tanpa melupakan sebuah bukti nyata di tangannya saat ini,. Dengan wajah tanpa ekspresi hatinya dipenuhi dengan kebingungan, kebahagiaan, kesedihan, penyesalan dan juga amarah yang menyatu menjadi satu di tengah-tengah angin musim dingin yang ada.
'Sialan kau Luna' teriak Leon dalam hatinya dan membiarkan kertas itu bertambah kusam karena amarahnya.
Sebuah amarah yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang ada di sekitar. Seperti dia yang saat ini sedang makan bersama dengan keluarga kecilnya di meja makan berbentuk persegi panjang itu. Dengan kehangatan yang ada membuat orang-orang yang ada di sana berwajah senang.
Hingga suara bersin milik seseorang membekukan tempat itu dan membuat suasana hangat yang ada menjadi suasana mencekam karena khawatir dengan keadaan orang tersebut.
"Hachim" bersin Luna di tengah-tengah acara makan bersama mereka. Membuat Laura yang bebrucara riang dengan sang paman berhenti dan menoleh ke arah ibunya. Sama seperti sesosok anak kecil yang saat ini juga sedang menatapnya cemas.
"Apa Mommy tadi bersin?" tanya Laura yang takut salah mendengar.
"Seperti nya ti-"
"Ha-hachim" bersin ulang Luna membuat suara Rangga yang tadinya mencoba mengatakan ketidakmungkinan berubah menjadi masam.
"Mom ini tisu" Ucap Navin sambil memberikan tisu ke arah ibunya.
"Tidak perlu ambulance Laura, paman akan panggil Met sekarang" jelas Rangga dan meminta kepala pelayan yang ada didekatnya membawakan telpon rumah yang ada.
>>>Met \= Dokter pribadi keluarga Nypole.
Luna yang mendengar kekhawatiran milik Laura dan kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala ringan, lalu menutup hidungnya dengan tisu yang diberikan anak laki-lakinya. Dengan wajah yang santai dan tenang, Luna menghentikan panggilan yang ingin mereka lakukan.
"Tidak perlu memanggil Ambulance maupun kak Met, aku hanya bersin saja jadi tenanglah" ucap Luna ringan dan tidak bisa menyembunyikan senyum ringannya.
"Tidak bisa seperti itu Luna" tegur Rangga yang tidak ingin adik perempuannya kenapa-kenapa.
"Benar apa yang dikatakan uncle mom, apalagi mom habis menyentuh wanita itu. Bisa saja mom tertular virus gilanya" timpal Laura yang sudah mendengar penjelasan ibunya dan mengetahui bahwa ibunya sudah menyelesaikan balas dendamnya.
"Tidak mung-"
__ADS_1
"Tidak ada yang tau mom dan juga kenapa mom tidak menyerah saja dan biarkan uncle Met datang untuk memeriksa mom?" ucap Navin yang setuju dengan perkataan milik paman dan juga adik perempuannya. Membuat Luna yang mendengar ucapan milik Navin tidak bisa berkutik maupun menolaknya.
"Aku akan memanggil Met ke sini, jadi tunggu sebentar" ucap Rangga dan bangkit dari kursi nya.
Menekan angka yang ada di telpon rumah lalu menelpon dokter pribadi keluarga nya dan menunggu kedatangan laki-laki itu. Dimana tidak terlalu lama setelah ia menelpon laki-laki itu terdengar suara hell berbunyi dari luar.
"Apakah itu uncle Met?" tanya Laura yang mendengar beli pintunya berbunyi.
"Bukankah ini terlalu cepat? mungkin saja itu orang lain" jelas Navin yang juga mendengar suara bell pintu berbunyi.
"Kalau begitu biar uncle yang buka-"
"Tidak perlu uncle, biar aku saja yang bukakan" potong Navin yang beranjak dari tempat duduknya lalu merapikan pakaian miliknya. Berjalan menuju ruang utama lalu membukakan pintu yang lebih tinggi daripada dirinya.
Dimana seseorang yang ia harapkan berubah menjadi seseorang yang tidak diharapkan dan bahkan orang yang ada dihadapannya saat ini merupakan salah satu orang yang tidak diundang sama sekali. Membuat wajah tenang dan tenangnya berubah menjadi membeku seketika saat melihat laki-laki itu ada di hadapannya.
Seorang laki-laki yang memiliki paras dan wajah yang sama dengannya. Walaupun warna rambut dan warna bola mata yang ada iada dirinya saat ini berbeda dengan orang yang ada dihadapannya. Namun tidak cukup membuat orang-orang berpikir mereka berdua tidak mirip saat melihatnya bersamaan.
"Sia-"
"Apa nona Luna ada di dalam?" tanya Felix menggantikan tuannya yang tidak berbicara dan hanya menatap anak laki-laki kecil di hadapannya dengan tenang.
"Sedang apa anda di si-"
Pertanyaan milik Navin harus terpotong di saat suara adik perempuannya terdengar menggema di dekatnya. Membuat mata yang tadinya menatap ke arah laki-laki yang ada dihadapannya berpaling ke arah belakang. Menyadari bahwa sang adik sudah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arahnya.
"Kenapa kau begitu lama kak, memang siapa yang da- e... ehhh!!!!" terkejut Laura saat melihat sosok laki-laki yang ada didekatnya dan tanpa sengaja menarik perhatian sosok wanita yang tadinya duduk di meja makan.
Dengan langkah kakinya yang anggun, wanita itu berjalan mendekat ke arah anak laki-laki dan perempuan nya berada. Memindahkan pandangan nya dan menatap ke tempat kedua anaknya saat ini menatap. Dimana tidak jauh dari tempatnya berada, sesosok laki-laki yang ia kenali berdiri di dekatnya.
"Sangat mirip" gumam Leon bersamaan dengan panggilan gugup milik Luna.
"Le-Leon"
"Lama tidak bertemu, Luna" senyum Leon sambil menatap Luna tenang.
__ADS_1
🔫 Info lengkap jam 23.00 Wib di bab selanjutnya hari ini!!!!! warrr