My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 8 : Peretas


__ADS_3

"Bisakah kau diam, jika tidak reputasi mu akan hancur" tegas lelak itu. Hingga sebuah senyuman terukir jelas di tempat itu. Ya Laura memenangkan perempuan itu dan memberikan virus kepada orang yang mencoba merentas milikinya.


"Ah sial!" teriak lelaki itu dan langsung menghempas komputer miliknya.


"a..ada apa, Leon" tanya Lina takut dan diberikan oleh tatapan yang sangat tajam oleh Leon. Ya lelaki yang diperintahkan oleh sang Ibu demi membantu sang calon menantu ibunya yang bernama Lina Luxury karena dirinya sedang menjadi Trending Topik.


"Kau tau karena mulutku yang tak bisa diam. Akunku terkena virus dan kau hanya bisa mengadu terus!" bentak Leon dan langsung berjalan ke lantai atas meninggalkan Lina yang masih menatap takut ke arah Alex. Seorang lelaki paruh baya itu menyusul anak laki-lakinya itu dan memasuki kamar yang tentu saja sudah sangat berubah.


Tok**tok**tok


Ketukan pintu berbunyi tetapi tidak ada jawaban oleh penghuninya. Hingga lelaki paruh baya itu memasuki Ruangan yang sangat sangat berbeda dari 8 tahun lalu. Ruangan yang gelap, dengan botol wine yang berserakan. Bahkan anak lelaki yang dulu sangat terasa dekat dan hangat sudah berubah menjadi dingin dan kejam. Lelaki paruh baya itu berjalan mendekat ke arah anak lelakinya dan mengusap pelan kepalanya.


"Maafkan ibumu nak, dia hanya tidak tau apa yang kamu rasakan" lembut lelaki paruh baya itu.


"Kapan yah! kapan dia merasakan rasa sakit ku ini! kapan dia sadar bahwa anak lelakinya ini tidak mengetahui arah jalan lagi, kapan dia tau anak lelakinya ini ingin nyawanya pergi dari dunia ini!" teriak Leon kepada sang ayah. Ya lelaki paruh baya itu adalah Levine Martin ayah kandung dari Leonex Martin.


"Ayah tau kau mencintainya tapi kau harus melupakannya,nak" ujar sang ayah.


"Bagaimana aku melupakannya jika setiap detik, menit, jam hingga tahun berganti perasaan bersalah ini tidak pernah hilang bahkan selalu menghantuiku!" tangisnya pecah sambil memeluk bantal milik nya. Ya inilah dia lelaki yang terlihat kuat, dingin di luar tapi bagaikan kaca di dalamnya Rapuh dan mudah hancur karena kehilangan perempuan yang sangat dia cintai dan dia usir karena kesalahpahaman.


"Ayah tau nak, tapi ibumu hanya terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang terjadi" ungkap Levi dan mencoba menenangkan sang anak.


"Aku lelah yah,aku tidak bisa hidup seperti ini" sendu lelaki itu sambil merengkuh tubuh sang ayah. 'Dimana kamu Luna cepatlah kembali dan kembalikanlah lelaki ini menjadi lelaki yang kuat di dalam dan di luar dan memiliki aura yang hangat, kembalilah Luna' ucap Levi di dalam hati.

__ADS_1



Di Tempat Lain~


Sebuah senyuman terukir jelas di wajah anak perempuan itu dan tentu saja keringat membasahi kepalanya.


"Lap dulu keringatmu itu" ucap Luna sambil memberikan tisu kepada sang anak perempuannya. Sedangkan Navin sudah memberikan susu full cream yang baru dia minum kepada sang adik, sama sama keluarga berbagi tidak papa kan?.


"jangan bilang kau kalah" sindir Navin yang membuat Laura langsung menatap tajam sang kakaknya.


"Enak aja pasti aku menang lah, tidak mungkin aku dikalahkan oleh siapapun" sombong Laura yang tidak tau bahwa sang ayah adalah orang yang melawan dan mencoba merentas akun miliknya.


"Sudah sudah ayo kita pulang, besok mom memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan" ujar Luna yang membuat Kedua anak itu langsung menjawab serentak.


"ai ai kapten" tegas mereka dan langsung membereskan semua makanan yang berserakan. Di perjalanan pulang Luna merasakan tubuhnya mendadak merinding dan tentu saja dia beberapa kali bersin.


"Mungkin ada yang membicarakan mom, makannya mom bersin" ujar Laura sambil meminum susu full creamnya.


"Yaya terserah Kamu Laura, yang pasti kita harus pulang dan membersihkan tubuh kita untuk menyusul om mu itu" ujar Luna yang membuat kedua anaknya pasti semangat.


"Asik, dimana latihan kita hari ini mom? apa senapan peluru-tunggal kaliber 0,22 nomor 8 milik kami sudah datang?" tanya Laura semangat.


"Tentu saja sudah datang dan juga hari ini kita akan latihan di hutan buatan milik keluarga Nypole" jawab Luna sambil melakukan mobilnya.

__ADS_1


"Kak kita lomba tembak bagaimana?" tanya Laura kepada sang kakak yang membuat Navin mengangkat alisnya sebelah.


"Kita memanah saja apalagi tempat itu pasti ada hewan untuk sasaran panahan" jawab Navin membuat Laura mengeluarkan wajah cemberutnya.


"Kak kau tau aku tidak pandai memanah, kenapa jadi memilik lomba memanah" ucap Laura cemberut.


"Makanya kau belajar memanah yang betul jangan suka kepada beberapa senjata saja" sindir Navin membuat Laura langsung merengek dan tentu saja membuat Luna menarik nafas pelan.


"Laura jangan merengek, dan juga kakakmu sudah mempertimbangkan senjata yang cocok dengan senjata yang cocok untuk di hutan itu" ujar Luna membuat Laura langsung mengambil tisu dan melap air ingusnya yang pastinya langsung dilemparkan ke arah kakaknya.


"Laura jorok, mom" adu Navin dan langsung melempar kembali tisu itu ke arah Laura. dan pastinya Laura hanya bisa tertawa dengan sikap kakaknya yang sangat suka kebersihan.


"hahahaha" tawa Laura saat melihat ekspresi kakaknya.


"Sudah sudah sebentar lagi kita sampai, jaga perilaku kalian" tegas Luna membuat kedua anaknya itu langsung kembali ke posisinya dan memperbaiki sikapnya. Luna langsung membuka kaca mobil miliknya agar mukanya bisa disensor oleh sistem keamanan. Tidak lama kemudian gerbang tersebut terbuka dan mempersilahkan mobil itu untuk masuk ke dalam tempat latihan yang pastinya dijaga ketat.


Mobil hitam itu melaju masuk ke dalam area khusus parkiran. Luna mengunci mobilnya dan berjalan masuk bersama kedua anaknya. Terlihat tentara yang sedang melakukan pemanasan dengan setiap pelatih/pemimpin mereka. Hingga langkah kaki Cyla berhenti tepat di barisan ketiga tempat sang kakak berdiri. Tatapan setiap tentara laki-laki itu merasa aneh dan heran saat melihat mereka bertiga apalagi kenapa mereka diperbolehkan masuk. Tempat yang berbahaya yang tidak pernah dimasuki oleh perempuan apalagi anak-anak. Hingga suara panggilan itu membuat mereka paham akan semua pemikiran mereka


"Kakak" panggil Luna yang membuat Rangga langsung menengok dan memeluk sang adik.


"Kapan kau sampai?" tanya Rangga


"Baru saja" jawab Luna yang membuat Rangga menganguk paham, Rangga langsung memerintahkan bawahannya untuk menyuruh semua orang berkumpul agar Luna bisa diperkenalkan kepada semua orang yang ada di tempat latihan itu. Saat semua orang berkumpul dan Rangga sudah memulai pidatonya tiba-tiba suara tembakan terdengar jelas di tempat mereka yang membuat mereka semua langsung melirik ke arah sana.

__ADS_1


Dor



__ADS_2