My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 191 : Jejak dan Pertempuran (3)


__ADS_3

Yu yang mendengar amarah tuannya juga tidak bisa menahan rasa dinginnya. Terutama saat mendengarkan laporan dari bawahan yang tidak sopan itu. Membuat hatinya mendingin seketika.


Yu tidak mengkhawatirkan bawahannya yang mati di medan pertempuran, melainkan ia khawatir dengan senjata yang para bawahannya gunakan. Karena senjata itu bukan senjata biasa melainkan senjata mematikan yang telah lama tuannya ingin dapatkan.


Dan dengan harapan yang tinggi, Yu menyelesaikan misinya dan mendapatkan cetak biru dari senjata tersebut dan memperbanyak seri senjata itu. 


Bukan hanya tidak memperbanyak saja, Yu juga kesulitan dalam memperbanyak bagian peluru yang dimiliki senjata itu. 


DImana peluru yang digunakan senjata itu menggunakan peluru berbahan khusus yang hanya bisa di impor dari padang pasir dan juga hutan amazon. Bukankah ini gila, bahan yang digunakan untuk setiap peluru yang ditembakan berasal dari penambangan yang berbeda dan dijadikan menjadi kesatuan yang sama.


Sehingga menghasilkan produk bermutu sekaligus berbahaya seperti itu, yang artinya terdapat kerugian besar jika senjata berbahaya itu dimiliki oleh lawan yang bahkan tidak mengeluarkan biaya sepeserpun pasca produksi.


Tidak hanya Yu saja yang memikirkan kerugian dari aksi penyusupan kali ini. R yang mendengar laporan itu juga memikirkan hal-hal yang terbuang sia-sia dan waktu yang ia gunakan untuk melatih pasukannya.


Yang dengan jelas terlihat bahwa waktunya terbuang percuma saat melihat bawahannya yang terlatih dikalahkan dengan mudahnya dan sudah dipastikan senjata yang bawahannya gunakan telah dirampas oleh tikus-tikus itu.


“Tuan.”


“Cepat perintahkan pasukan tengah untuk memasuki medan pertempuran dan pastikan mereka membawa tikus-tikus itu ke sini. Aku ingin melihat siapa orang yang berani memasuki wilayah dan membasmi pasukanku.” Perintah R dingin dan mengambil jubah hitamnya dan siap memasuki ruang kendali miliknya.


Yu yang mendengar maksud perkataan tuannya dengan cepat mengambil intercom dan memerintahkan pasukan yang ada di bagian tengah untuk memasuki medan pertempuran saat ini juga dan membantu pasukan depan dalam melawan tikus-tikus jalanan itu.


Sekumpulan tikus yang hanya bisa memungut sampah milik orang lain, maka karena itulah mereka hanya bisa disebut dengan sebutan tikus.


“Apa kalian dengar tadi? Cepat ambil senjata kalian dan habisi nyawa-nyawa tikus menjijikkan itu dan jangan lupa untuk membawa pemimpin mereka ke sini. Kalian paham, kerjakan!”


“Siap, kerjakan.”


Dengan suara tanggapan yang serentak orang-orang yang memiliki posisi di bagian tengah, dengan cepat mengambil senjata mereka dan siap memasuki wilayah pertempuran dan menikmati kesenangan malam kali ini.

__ADS_1


Terutama saat mendengar perintah pemimpin mereka yang disampaikan oleh jenderal karena hanya dengan ini mereka bisa memberi penghormatan terhadap raja yang mereka layani, yang mulia R.



Di tempat lain,


Luna yang telah menggantung dirinya di atas dahan pohon yang ada di atas tumbuhan beracun namun tampak cantik itu menatap sekelilingnya. Terutama saat melihat banyak adegan perkelahian dihasilkan oleh para dua kelompok itu.


Membuat Luna dengan jelas melihat bahwa kelompok yang menggunakan pakaian seperti perajut itu jelas kalah telak. Terutama saat ini bawahan yang menggunakan seragam hitam telah merampas banyak senjata dari tangan milik lawannya.


Sehingga Luna yang melihatnya mau tidak mau tertarik dengan hal-hal yang mereka peroleh. 


Apalagi Luna saat ini hanya merampas senjata seri SN-A VivXXXX. beserta pelurunya saja dan tidak merampas senjata yang lain. Karena ia hanya membunuh orang-orang yang menghalangi jalannya dan menghentikan langkahnya.


Terutama saat ia berdiri di ketinggian yang tak terlihat. Membuat tempatnya menjadi tempat yang baik untuk mengamati orang-orang yang ada di bawahnya. Dimana di bawah dahan yang ia injak terdapat tanaman mematikan yang terlihat memikat.


Karena siapa saja yang menyentuh atau mengenai dirinya dengan kuncup maupun tangkai bunga itu akan mengalami gangguan pernapasan dan tidak lama kemudian mati dalam seketika.


Membuat Luna yang melihatnya dengan seketika tertarik dengan tempat berbahaya ini dan benar saja tempat berbahaya ini sangatlah strategis. 


Dimana mata berwarna hitam itu dengan cepat melihat orang-orang yang mulai keluar dari semak-semak bahkan tanah yang ada di petak bunganya saat ini. 


Sehingga Luna yang melihatnya mau tidak mau mengeluarkan senyum tipisnya saat mengetahui bahwa ada sebuah jalan masuk tidak jauh dari tempatnya berada.


Tidak hanya itu saja, Luna dengan jelas melihat perubahan di tangkai pohon besar miliknya. Sehingga ia dengan cepat menangkap sebuah kamera yang berkamuflase menggunakan warna batang pepohonan yang kini telah maju.


Dan kamera itu mulai memperlihatkan keadaan yang ada di sekelilingnya. Membuat Luna yang melihatnya dengan jelas melihat bahwa beberapa pepohonan yang memiliki tinggi lebih dari pepohonan lainnya mulai mengeluarkan kamera pengintainya.


Yang artinya ada seseorang yang telah menyadari bahwa mereka mulai menyergap kawasannya dan telah memasuki ruang kontrolnya. Luna yang melihatnya kamera tersebut menghitung dan memperkirakan posisi tempat ia berada.

__ADS_1


Sehingga ia bisa menyusup masuk ke dalam wilayah milik musuhnya. Dimana dari perhitungan miliknya, Luna menyadari bahwa setiap jalan masuk memiliki sebuah kamera pengintai di dekatnya.


Membuat Luna mulai memperhitungkan kembali langkanya. Agar menghindari pelacakan dari lawannya dan tidak memberitahu lokasi keberadaanya saat ini. Dimana Luna dengan jelas menggunakan pakaian berbeda dari kedua kelompok itu.


“Tunggu sebentar, sepertinya aku harus kembali ke mayat yang ku bunuh itu dan merampas pakaiannya.” Gumam Luna yang ingin menyamar menjadi orang milik musuhnya dan menyusup masuk wilayahnya.


Terutama saat ini ia hanya tidak memiliki senjata lawannya tapi ia juga akan memiliki pakaian lawannya yang nanti akan ia rampas. Dan tentunya Luna harus memikirkan cara bagaimana untuk menghalangi pandangan kamera pengintai yang ada di bawahnya saat ini.


Dimana Luna dengan cepat mencabut dedaunan yang ada di dekatnya dan menjatuhkannya di atas kamera pengintai yang ada di bawahannya. Membuat R yang saat ini berada di ruang pengintai tidak bisa melihat ke layar komputer yang gelap.


“Kamera nomor 3.”


“Baik, yang mulia.”


Dengan tanggapan yang singkat, bawahan itu dengan cepat mengambil kontrol kamera lain dan menggerakan kontrol tersebut secara fleksibel. Membuat kamera satu arah itu berubah tempat dan menggeser dedaunan yang mulai berjatuhan dan menutupi lensa kamera miliknya.


“Lapor yang mulia, beberapa daun mulai berguguran di beberapa pepohonan.” Jelas bawahan itu yang menemukan alasan kenapa lensa di kamera nomor 3 tertutupi.


“Periksa yang lainnya dan pastikan kalian mendapatkan informasi milik lawan. Aku tidak ingin malam ini menjadi hari terakhir kalian berada di ruangan ini.” Dingin R yang melihat sikap bawahannya.


Membuat para bawahan yang berada di lokasi yang sama dengan atasannya merinding saat mendengar ancaman tuannya dan dengan cepat memegag beberapa konrol milik kamera yang terpasang dan terhubung ke arah luar.


Dimana setiap kamera pengintai kini mulai menampilkan pertempuran yang ada di wilayah mereka. 



🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.


🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~

__ADS_1


__ADS_2