My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 34 : Belati


__ADS_3

Tidak terlalu lama dan tentu saja lomba senapan untuk Kelompok perempuan di menangkan oleh Klan ular tapi sayangnya untuk Tim laki-laki dimenangkan oleh Klan singa yang poinnya hanya beda 2 angka.


"Kami akan menunggumu di sini saja karena tidak mungkin kami berada di dekat arena nya kau tau bukan peraturan" jelas perempuan yang berseragam tentara itu sambil menatap Luna yang sedang bersiap-siap untuk mengikuti pertandingannya dalam senjata Belati.


"Tenang saja" ucap Luna singkat. Tidak berapa lama suara besi yang dipukul terdengar saat lawan terjatuh atau menyerah. Ya di arena belati berbeda dengan arena senapan mereka di indoor yang artinya di dalam ruangan dan di ruangan itu hanya ada satu Arena untuk bertanding yang membuat di dalam ruangan hanya dibolehkan peserta laki-laki maupun perempuan yang masuk dan juga panitia. Tujuannya agar setiap anggota kemiliteran mengetahuinya kehebatan dari lawan mereka yang membuat saat kemenangan disebutkan maka tidak akan ada yang protes oleh keputusan para juri.


Luna sudah memasuki arena dan menatap lawan yang merupakan sahabatnya itu, Joe. Joe yang ditatap hanya tersenyum manis sambil memegang kedua belati warna pink yang dibuat khusus itu.


"Luna-chan aku akan membalas semuanya loh" ucap Joe manis yang membuat Luna menatap tajam ke arah Joe. Tidak ada kata teman saat bertanding karena apapun itu mereka adalah musuh yang harus dilawan.


"Sepertinya kau ingin nyawanya cepat pergi" Smirk Luna dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Luna tidak menyadari seorang laki-laki yang akan bertanding setelah orang yang berada di arena itu sedang menatap tajam dan terkejut saat melihat seseorang yang ada di arena itu.


'Luna Nypole' pikir lelaki itu dan mengeluarkan senyum smirknya. Lelaki itu adalah Leonex Martin, lelaki yang akan bertanding setelah peserta di atas arena menyelesaikan perlawanan mereka.


Leon Pov~


Satu kali di restoran, satu kali di party, satu kali di Gym dan sekarang di arena. Siapa sebenarnya dirimu Luna hingga membuatku menginginkan mu dan membuatku tertarik.


Author Pov~


Suara besi dipukul terdengar lagi, hembusan nafas terdengar di mulut Luna. Matanya menatap tajam lawan perempuan yang sudah mengeluarkan cakar nya. Luna mengeluarkan aura dingin dan membunuhnya di ruangan itu walau sudah ada penghangat ruangan tapi tetap mereka merasakan dingin sampai ke dalam tulang saat merasakan aura mematikan dari peserta yang ada di hadapan Mereka.


Tentu saja ini adalah pertandingan Final, pertandingan untuk menentukan siapa yang akan menang dalam kategori belati. Membuat kedua orang itu akan mengeluarkan kemampuan mereka dalam mengenai lawan dan menyayat kulit lawannya agar satu kata diucapkan oleh orang yang dihadapi mereka masing-masing


'Menyerah'

__ADS_1


"3...2...1... Ting mulai" lantang panitia.


Langkah kaki melaju cepat menuju lawan, tatapan tajam selalu mengiringi kedua orang yang ada di arena itu. Tangan mereka menikam mau bahu ataupun kepala. Refleks tubuh yang sempurna membuatnya terhindar dari setiap tikaman pisau belati yang tajam itu.


Di saat tumpuan kaki tidak kuat maka kesempatan akan terbuka dan sebuah senyum terukir jelas di wajahnya. Luna menikam ke arah lengan milik Joe, goresan terlihat di tangannya akan tetapi tidak ada suara ringisan di sana. Joe yang tergores membuat ambisinya bertambah dan menambah kekuatannya membuat tikaman milik Joe mengenai pipi kanan milik temannya itu, Luna.



Tidak ada yang mengalah, semuanya sama-sama menikam dan menyerah. Sayatan maupun goresan sudah mengenai tubuh mereka akan tetapi tekad mereka untuk memenangkan pertandingan sangat bulat membuat keduanya tidak akan menyerah. Hingga Luna menekan tubuh Joe dan menjatuhkannya membuat tubuh Joe oleng dan mengenai lantai arena.


Tubuh Luna dengan cepat membalik dan mengunci rapat tubuh Joe dengan kakinya dan jangan lupakan tangannya yang sudah meletakkan ujung pisau belati nya tepat di leher milik Joe.


"A..Aku menyerah" ucap Joe dan


Ting**


"Kau sangat sadis, teman" ucap Joe sambil tersenyum manis.


"Di dalam pertandingan tidak ada namanya teman" ucap Luna dingin yang membuat Joe hanya bisa terkekeh mendengar nya.


"Baiklah aku harus ke Unit Kesehatan sebelum luka ini infeksi dan bye" ucap Joe yang berjalan dan langsung dibantu oleh pasukan miliknya. Tetesan darah keluar dari sayatan yang ada di tubuhnya. Langkah kakinya berjalan keluar menuju tempat pencucian tanpa melihat peserta yang akan bertanding setelahnya.


Di Tempat Pencucian~


Luna menghembuskan nafasnya dan berjalan mendekat ke arah keran hingga sebuah tangan menepuk bahunya.

__ADS_1


"Mau ku bantu?" tanya perempuan yang merupakan anggotanya.


"tidak perlu kau kabari saja mereka di tenda" jawab Luna singkat yang langsung diangguki oleh perempuan itu


"Baiklah aku tinggal dulu yaa" ucap Perempuan itu dan pergi menuju basecamp. Luna membuka keran air dan mencuci mukanya dari keringat maupun debu. Hingga sebuah suara berat yang sangat dirinya kenal terdengar di depannya.


"Ternyata kau anggotanya militer juga, Nona Luna" ucap datar lelaki itu. Hati Luna bergetar saat mendengar suara itu, kepalanya mendongak dan menatap ke arah depan. Matanya terkejut dengan seseorang yang ada dihadapan nya. Lelaki yang merupakan ayah dari anaknya dan merupakan mantan kekasih dan atasannya dahulu, Leonex Martin.


"Peduli apa kau" ucap Luna dingin dan mencoba menyembunyikan ekspresi terkejut nya.


"Apa kau tau aku melihatmu bertanding" ucap Leon basa-basi.


"Lalu" jawab Luna malas.


"Aku sedikit terkejut seorang perempuan yang merupakan CEO dari Perusahaan Nypole mengikuti militer" lanjut Leon to the Topic.


"Apa ada pikir saya adalah perempuan lemah yang hanya meminta pertolongan calon mertuanya dan duduk santai seperti di pantai" Jawab Luna dirinya sudah tidak ingin berlama-lama dengan lelaki di hadapannya ini. Karena dirinya takut tidak bisa mengontrol lagi perasaan miliknya saat melihat mata lelaki itu.


"Jangan kau berpikir saya sama seperti tunangan anda tuan Leonex Martin" Tekan Luna tak kalah dingin dan datar dari Leon


"Ternyata kau adalah perempuan yang menarik, Nona Luna Nypole" tekan Leon di akhir kalimatnya yang membuat Luna menatap tajam lelaki itu dan mengeluarkan senyum smirknya.


"Menarik hmmm, apa anda sudah jatuh cinta pada saya?" ujar Luna meremehkan dan mengangkat pisau belati yang sudah bersih dari darah dan mendekatkan nya di leher milik Leon. Tubuhnya mencondong ke depan sambil membisikkan beberapa kalimat di telinga laki-laki yang ada dihadapan nya.


"Jika anda jatuh cinta kepada saya jangan lupa memutus hubungan dengan tunangan anda karena saya tidak ingin Menjadi Orang ketiga" bisik Luna dan mengigit pelan telinga milik Leon. Luna menatap Leon dingin dan berbalik meninggalkan lelaki yang membeku di tempatnya.

__ADS_1


'Apa yang sedang ku rasakan ini' pikir Leon memegang jantungnya yang berdetak kencang.



__ADS_2