
Leon yang saat ini penuh dengan aura lembut, bertimbal balik dengan aura yang ada di ruangan putih abu-abu itu. Dimana aura dingin dan juga bermusuhan sedang bertimbal balik di sana.
Dengan kedua tangan mereka yang saat ini sedang memegang controller berwarna hitam dan juga putih. Mata berwarna biru dan juga hitam itu tidak bisa berhenti menatap layar yang ada di hadapan mereka.
Sehingga tidak lama kemudian suara notifikasi menggangu pemandangan yang ada di hadapan mereka. Membuat suara kemenangan dan juuga kekalahan terdengar secara bersamaan.
"Arghhh menyebalkan, kenapa harus aku yang kalah" kesal Laura melemparkan controller putih miliknya. Berjalan ke arah kulkas mini lalu meminum susu coklat miliknya. Dengan sekali tarikan nafas, suara menyegarkan itu kembali terdengar.
"Hah rasanya sangat menyegarkan sekali" ungkap Laura yang merasakan minuman dingin itu melewati tenggorakannya.
Navin yang melihat tingkah laku adiknya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Berjalan menuju komputernya lalu membuka pesan notifikasi yang datang. Dengan wajahnya yang releks, Navin membaca pesan notifikasi itu.
Notifikasi yang cukup membuatnya terkejuut dan membeku di tempat. Dengan nafas yang dingin dan aura yang mengerikan, Navin mengubah ekspresi wajahnya. Membuat Laura yang sedang memeluk makanan ringan, berjalan mendekat ke arah kakaknya.
"Apa yang terjadi kak? apa notifikasi itu berisi pesan berbahaya?" tanya Laura khawatir.
"Lebih berbahaya daripada biasanya" dingin Navin
"Maksudnya?"
"Informasi kita berhasil diretas" jelas Navin singkat yang membuat Laura yang mendengarnya refleks menjatuhkan semua makanan ringan yang ada di pelukannya dan dengan cepat menyalakan sistem komputer miliknya.
Jarinya yang berisi dan juga kecil itu dengan cepat menari-menari di atas keyboard. Memainkan mouse miliknya dan menatap layar dengan dinigin.
"Sistem keamanan berapa yang berhasil di retasnya?" tanya Laura sambil fokus menatap layar komputer miliknya.
"Sistem keamanan yang pertama"
"Maksud kakak sistem yang aku buat sendiri?" terkejut Laura saat mengetahui bahwa sistem keamanan yang ia buat berhasil diretas oleh orang luar.
Dimana setiap tingkat keamanan yang ada dibuat oleh orang-orang yang berbeda. Seperti tingkat keamanan ketiga itu dibuat oleh dirinya sendiri, tingkat keamanan kedua dibuat oleh kakak laki-lakinya dan untuk sistem keamanan pertama itu dibuat oleh ibu mereka sendiri.
Sehingga sistem keamanan milik mereka memiliki kode yang berbeda di setiap orangnya. Terutama keluarga mereka menggunakan keahlian meretas sesuai keahlian atau kebiasaan mereka sendiri.
__ADS_1
"Apa IQ mu mulai menurun Laura?" bisik Navin yang cukup membuat Laura menambah kecepatannya dalam mengetik.
'Menyebalkan, ini sangat menyebalkan. Kenapa hanya sistemku saja yang diretas?! Ini benar-benar menyebalkan!' pikir Laura sambil memarahi orang yang meretas sistem keamanan yang ia buat.
Dimana orang yang ia marahi saat ini sedang berbaring di dahan pohon. Menyandar di tubuh pohon sambil mengintip gerak-gerik orang yang ada dalam mansion saat ini. Dengan suara bersin yang keras, burung-burung yang ada di sekitarnya dengan cepat berterbangan.
"Hachim, ah sial ada saja orang yang membicarakanku saat ini" gerutu Felix sambil sesekali menggosok hidungnya.
Tanpa mengetahui bahwa orang yang sedang membicarakannya saat ini ialah seorang anak perempuan berumur 8 tahun. Anak perempuan yang merupakan target untuk diamati dan tentunya seorang anak perempuan yang sedang sibuk di depan layar.
"Apa kamu mengetahui siapa yang meretasnya Laura?" tanya Navin ringan.
"Sedikit lagi, aku hanya perlu memasukkan beberapa kode saja" jelas Laura yang saat ini dalam kondisi yang tidak baik.
Memasukkan beberapa kode ke dalam sistem miliknya lalu menekan tanda enter di sebelah kanan keyboard. Membuat sistem yang tadinya biasa-biasa saja dipenuhi dengan beberapa file informasi.
"Kak, apa kau mengenali kedua orang ini? aku rasa aku pernah melihat salah satu dari mereka" ucap Laura sambil menarik pakaian kakak laki-lakinya.
Membuat Navin yang mendengarnya menundukkan kepalanya sedikit. Melihat kedua gambar itu lalu mengeluarkan aura dingin miliknya. Hingga membuat laura yang ada di sebelahnya menggigil saat merasakannya.
"Apa kau mengetahui siapa mereka, kak?" tanya Laura yang mencoba menekan perasaan tertekan miliknya.
"Apa kau tidak ingat orang yang ada di belakang ayah saat makan siang tadi?"
"Aku tidak bisa mengingatnya dan juga bukankah saat itu aku sedang duduk di pangkuan ayah?" jelas Laura yang tidak ada kesempatan untuk melihat ke belakangnya.
"Dia asisten kerja ayah" jelas Navin yang cukup membuat terkejut Laura.
"Lalu bagaimana dengan orang yang ini? apa orang ini juga milik ayah?" tanya Laura yang merasakan bahwa wajah orang ini cukup familliar baginya.
"Sepertinya memang benar IQ milikmu mulai menurun" cibir Navin yang membuat wajah Laura memerah karena marah.
__ADS_1
"IQ ku tidak menurun!" teriak Laura kesal. Membuat Navin yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Baiklah-baiklah aku akan memberitahumu" pasrah Navin.
"Kalau begitu beritahulah, siapa dia dan apa pangkatnya"
"Seharusnya kamu pernah liat laki-laki itu di basecamp kemiliteran milik ayah dan aku tidak tau apa pangkat laki-laki itu. Karena yang ku tau laki-laki itu memiliki hubungan yang cukup spesial dengan ayah" jelas Navin yang membuat Laura yang mendengarnya mengganguk dan membaca informasi kedua laki-laki itu kembali.
"Memang ada apa dengan kedua orang itu?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja sistemku mendeteksi bahwa kedua orang ini mencoba meretas informasi milik kita, terutama laki-laki yang memiliki hubungan spesial dengan ayah itu" ungkap Laura yang ingin mengetahui siapa yang meretas sistem miliknya,
Sehingga menemukan fakta bahwa kedua orang yang mencari informasi mereka adalah anak buah ayah. Dimana perasaan benci dan ketidaksukkan tadi berkurang. Saat mengetahui bahwa ayahnya saat ini mencoba mencari informasi mereka.
'Aku pikir siapa, ternyata ayah yang mencarinya' pikir Laura yang merasakan hatinya mulai menghangat tanpa sadar.
Berbeda dengan sang kakak yang saat ini tidak bisa berhenti menatap layar komputer milik adiknya. Dengan wajah masam, ia mengepalkan kedua tangan kecil miliknya. Menatap layar itu lalu menghembuskan aura dinginnya.
'Apa-apaan laki-laki itu, berani-beraninya dia meretas informasi milik kami. Sial, ini benar-benar menyebalkan' pikir Navin yang sama sekali tidak menyukai kehadiran ayah kandungnya.
Dimana penilaian terhadap ayah kandungnya saat ini benar-benar buruk dan juga negatif. Membuat Navin yang melihatnya dengan cepat memasukkan penilaiannya lagi dan tidak akan membiarkan ayahnya masuk ke dalam kehidupannya.
'Sepertinya aku harus mencari ayah baptis secepatnya' lanjut Navin yang tidak ingin ayahnya merusak kehidupan bahagia miliknya.
Tanpa mengetahui bahwa adik perempuan yang ada di dekatnya saat ini mencoba untuk menyatukan keluarga kecil mereka. Dengan menambahkan nilai kehebatan dan juga nilai kebaikan milik laki-laki itu ke dalam otak kecilnya.
'Sepertinya aku harus turun tangan sendiri untu masalah ini' pikir Laura senang.
🔫Mari kita mulai kehidupan manis yang penuh pengejaran ini. Dengan Navin sang pendukung ibu dan Laura sang pendukung ayah. Dimana perjalanan cinta mereka tidak semudah jalan tol yang tidak ada tikungan maupun belokan.
🔫Saya DNA_2005 mengharapkan dukungan kalian dari like, comment dan juga Tip yang kalian berikan. Sekian terimakasih, sayonara minna~
__ADS_1