
Mereka berempat makan di meja persegi panjang ditemani Henry dan Francis. Sarapan hari ini dimulai terlambat karena menunggu kedatangan Luna dan membuat William juga ikut sarapan. Apalagi dia dari kemarin sudah ikut menginap di mansion Nypole menunggu motornya yang tak kunjung kembali.
"Jadi katanya kamu yang membuat berita yang sedang disiarkan di TV" ucap Henry mengawali pembicaraan di meja makan. Dentingan piring dan sendok yang bergesekan berhenti. Mata Luna menatap mata ayahnya dengan senyum tipisnya dia mengangguk.
"ya seperti itulah" jawab Luna.
"Lalu apa yang terjadi dengan mereka tentunya mereka tidak mungkin memiliki kehidupan yang mulus bukan?" tanya Francis dan memakan makanan penutupnya.
"Mereka akan menjalani pengobatan" jawab Luna santai.
"Pengobatan maksudnya?" bingung Rangga.
"Aku dapat info bahwa anak mereka menjadi gila dan juga mendapatkan luka bakar di sekujur tubuhnya" jelas Luna. Seakan tidak percaya Navin hanya menatap ibunya. Sedangkan Laura bertepuk tangan ria.
prok prok prok
"Bila dijadikan berita itu pasti akan menggegerkan dunia maya" semangat Laura. Ini merupakan keuntungan untuk website miliknya dan kakaknya. Setelah itu dirinya pasti memiliki untung yang banyak.
"Laura kaga perilaku makan mu" tegur Francis kepada cucunya.
"Hehehe sorry Oma" kekeh Laura dana mengehentikan tepuk tangan nya.
"Pengobatan apa yang kamu maksud?" tanya Henry.
"Hanya rehabilitas dan operasi mengembalikan tubuh dan juga wajahnya"
"Bukannya itu masih kurang mom" timpal Navin yang sudah ikut masuk ke dalam obrolan.
__ADS_1
"Jelas saja itu kurang navin bahkan mereka harusnya mendapatkan yang lebih" jawab Henry. William yang dari tadi mendengar dan sekali bertanya akhirnya membuka mulutnya. Saat dirinya mengingat sesuatu hal yang sering di bicarakan oleh pelayan di rumahnya.
"Ehmmm boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya William
"bicaralah Will anggap kami seperti keluargamu" hangat Rangga.
"Aku pernah dengan dari obrolan para pelayan di rumahku. Kalau pertunangan Lina terjadi karena wajahnya yang mirip dengan saudarinya dulu yaitu Luna tapi itu menurut ya" jelas William yang diberikan anggukan oleh beberapa orang di sana.
"Bukannya kalau dia operasi otomatis wajahnya tidak akan mirip denganmu Luna dan juga seharusnya pertunangan itu batal bukan?" lanjut William.
"Kau benar Will aku juga pernah dengar bahwa Qarin menyetujui pertunangan itu karena Lina pernah menyelamatkan nya" setuju Francis. Jangan salahkan dirinya yang suka dengan isu-isu sosial. Dia juga seorang wanita dan sering menjadi publik figur dengan suaminya.
"Menyelamatkan? bukankah urusan ini makin ribet kalau banyak kesalahpahaman?" ucap Rangga. Sebuah senyuman tercetak manis di wajah Luna sambil mengemut sendok yang berisi cheesecake miliknya.
"Hmm.. menarik'" Senyum Luna. Dia sangat suka ini bila namanya dibawa-bawa bahkan kebaikannya juga disalahgunakan. Lina menyelematkan seseorang, astaga bisa-bisa kucing melakukan kayak kalau begitu. Dengan pakaian glamornya dan kuku yang selalu dirawat maksimal tidak mungkin Lina menyelematkan seseorang dan mengorbankan kukunya yang cantik.
"Ya sesuatu yang harus ku luruskan tentunya" jawab Luna.
"Mom aku tunggu pembalasan selanjutnya" manis Laura dan dijawab oleh senyuman Luna.
"Tentu saja mom akan membuat mereka bersenang-senang" senyum Luna. Jangan salahkan dia membiarkan anaknya ikut dengannya. Dia tidak ingin kedua anaknya menjadi anak-anak yang polos dan mudah terluka. Kemudian mereka akan disakiti dan berubah menjadi dirinya. Maka biarkanlah dia menyeret kedua anaknya dan melindungi mereka dari dunia yang kejam ini.
Sarapan di meja makan itu dipenuhi dengan pembicaraan maupun obrolan tentang rencana bahkan isu-isu tentang marga Martin dan Marga Luxury. Kehangatan dan kedamaian seakan menerima lalu menyambut keluarga Nypole untuk hari itu. Berbeda dengan seorang laki-laki yang sudah melepas dasinya pelan.
Tangganya dengan pelan melonggarkan dasi yang ada di lehernya. Lalu melemparkan kasar ke bawah lantai. Kerah meja yang mulai terbuka di saat satu persatu kancing dari kemejanya. Jas yang sudah dia lepas dan letakkan di dekat kursinya. Matanya yang bewarna kelam, seakan-akan ingin membawa seseorang ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Hembusan nafas kasar dan bau wine yang baru dituangkan oleh seseorang yang juga berada di ruangan tersebut. Gelas tingginya yang sudah di isi dengan wine hitam dan memiliki kadar alkohol lebih banyak tidak membuat laki-laki itu mudah mabuk.
"Apa yang akan kamu lakukan kepada kelinci lucu mu, Leon?" tanya seseorang sambil memberikan gelas milik Leon.
"Sepertinya aku ingin memakannya" Smirk Leon. Ya Laki-laki ada di ruangan tersebut adalah Leon dengan tubuhnya yang seksi. Dasi yang terlepas dan kemeja yang dibukakan dua kancing. Cukup membuat aura laki-laki itu menjadi vulgar dan siap menyantap mangsanya. Ditemani Febri yang selalu ikut bersamanya.
"Hahaha kau benar-benar ingin memangsanya? bahkan dia bisa melakukan hal mengerikan seperti itu" tawa Febri. Mereka baru menyelesaikan masalah yang diperbuat oleh seseorang dan mereka juga harus mengklarifikasi kepada para wartawan.
"Ya dan juga apa yang kau dapatkan dari tawanan kita?" tanya Leon. Pagi buta dia harus menyelesaikan banyak hal karena sebuah berita dan siaran langsung yang dilakukan oleh tunangannya. Tunangan yang bahkan dia tidak cintai ataupun sayangi.
"Kau tau ternyata tunangannya itu akan melakukan rehabilitas dan juga dia akan menjalani operasi plastik" bisik Febri. Tawa sarkas seakan menemani aura milik Leon. Dimana dia malah mendapatkan hal yang sangat menguntungkan baginya.
"Hahaha sepertinya ini akan menjadi keberuntungan ku" Smirk Leon.
"Apa aku harus mengatur jadwal untuk wawancara mu?" tanya Febri. Dia selalu siap siaga bahkan dia akan rela untuk menghancurkan seseorang.
"Tenangkan dirimu dulu Febri kita harus menunggu Lina pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi dan melakukan rehabilitasnya. Setelah itu kamu tau maksudku bukan?" Smirk Leon. Dia harus menyiapkan semuanya secara baik dan rapi karena dengan ini dia bisa membatalkan pertunangan maupun cara pernikahan miliknya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan kepada kelinci kecilmu itu? harus kita beri hadiah atau sesuatu hal?" tanya Febri. Leon menyesap pelan gelas anggurnya. Matanya menatap air bewarna hitam pekat yang sesekali menampakan wajah perempuan yang merupakan kelinci kecilnya.
"Aku akan memberikannya hadiah tetapi saat pertandingan besok" gumam Leon. Wajah yang beberapa hari ini selalu terbayang dipikiran nya. Senyuman dingin namun terasa bernostalgia.
"Seperti yang kamu katakan Leon aku akan memilih rute yang akan dia gunakan" ucap Febri dan mengundurkan dirinya. Febri harus membuat teman yang merupakan atasannya bisa menemui kelinci kecil di pertandingan besok. Dan tentunya akan sangat menarik untuk disaksikan.
'Luna Nypole, hmm kau perempuan yang sangat menarik' gumam Leon dan meneguhkan habis anggurnya.
__ADS_1