
"Lalu, apa yang akan kau lakukan kedepannya Luna?" lanjut Jiro yang mengikuti permainan Luna. Dengan posisi yang sama, ia mengambil kue dango yang ada di atas meja dan memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya.
Mengunyahnya lembut dan mengambil kue tradisional khas jepang lainnya. Gayanya yang tenang dan juga santai membuat keadaan di sana semakin stabil.. Seolah-olah kamera pengintai yang ada di rak buku itu hanyalah hiasan yang tidak membahayakan mereka.
"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu saat kau sedang makan dengan santainya di hadapanku. Jiro?" tatap Luna tajam membuat Jiro yang mendengarnya mengeluarkan senyum tipisnya.
"Kau benar, seharusnya aku berhenti memakan kue tradisional ini" balas Jiro yang berhenti mengambil kue-kue tradisional itu. Mengumpulkan sampah dari makanannya lalu berjalan ke arah tempat sampah yang ada di sekitarnya.
Menginjak tombol yang ada di tempat sampah lalu mengangkat salah satu tangannya. Dengan suara dentuman keras, kamera pengintai yang tersembunyi di rak buku itu hancur berkeping-keping.
Kilatan listrik tipis terlihat di sana, menyisakan sebuah puing-puing kecil tanpa bentuk teratur. Senyumnya yang tipis, terpampang nyata di wajah tegasnya itu. Dimana sampah yang terletak di tangan yang lain terbuang dengan bebasnya.
"Seperti biasa, menyelesaikannya dengan sangat cepat" ungkap Luna yang melihat senyum gelap milik Jiro.
"Cepat? entahlah, mungkin saja aku hanya terlalu tertarik dengan musuh baru ini' smirk Jiro.
"Tertarik? tidak seperti kau yang biasanya Jiro"
"Aku tidak bisa menjadi biasanya kali ini, terutama di saat musuhku lebih licik dari diriku"
"Bukankah kau sudah sering menghadapi hal-hal ini?"
"Tidak, ini untuk pertama kalinya aku melawan seseorang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan saat dibunuh. Apalagi orang tadi bukan hanya berniat untuk menyusup saja namun ia berniat untuk memasukkan kamera ke dalam ruang pertemuan kita. Bukankah ini sangat menarik?" ucap Jiro sambil menyenderkan sebagian tubuhnya ke dinding.
"Menarik? itu menurutmu saja Jiro, karena aku sudah terbiasa melawan musuh seperti itu" jelas Luna yang terbiasa menghadapi serangan musuh mendadak.
Dimana setiap misi yang ia terima selalu mempertaruhkan nyawanya. Mau itu darat, laut ataupun udara yang sering menggunakan pesawat tempur. Agar setiap lawannya tidak bisa melarikan diri, entah itu ditangkap hidup-hidup ataupun tak bernyawa sekalipun.
"Apa kau sedang menyombongkan dirimu?"
__ADS_1
"Sombong? aku hanya mengatakan kebenarannya"
"Benarkah? aku rasa itu bukan kebenaran sa-"
Jiro yang ingin berbicara dipotong oleh suara dobrakan pintu yang jelas. Membuat kedua orang yang ada di dalam ruangan itu waspada dan dengan cepat berada diposisi siaga. Dengan satu tangan memegang senjata, mereka menunggu orang itu masuk.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa membuat Luna yang memegang senapan meletakkan dua jarinya tepat di bagian pelatuk. Gerakannya yang stabil mencoba menarik pelatuk.
Namun sebelum menarik pelatuk dengan sempurna, ia harus menghentikan gerakannya itu. Di saat ia menangkap sesosok laki-laki yang sangat ia kenali berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa.
"Luna, apa kau baik-baik saja? aku dengar dari kepala pelayan bahwa klan Elang datang ke sini?" ucap laki-laki itu tergesa-gesa.
"Kakak!" teriak Luna.
Membuat Jiro yang melihat kedatangan Rangga tidak bisa berhenti tertawa.
Rangga yang mendengar tawa tersebut, melihat sekelilingnya dengan waspada. Dan menyadari bahwa kedua orang yang berada di sekitarnya saat ini sedang dalam kondisi siaga.
Dimana kedua orang tersebut kini sedang memegang senjata di tangan mereka masing-masing. Mau itu senapan laser ataupun sebuah pedang katana yang tajam. Membuat Rangga yang melihatnya mengeluarkan senyum tipisnya.
"Apa kalian berencana membunuhku?" tanya Rangga sambil menatap kedua orang yang saat ini sedang memegang senjata mereka masing-masing.
"Pfftt, hahaha. Apa kau tidak malu Rangga datang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu?" tatap Jiro yang tidak memiliki niat untuk menurunkan senjata katana miliknya.
"Malu? aku hanya khawatir terhadap kondisi adik perempuanku, paham" tegas Rangga tanpa menyadari bahwa adik perempuannya saat ini sedang menatapnya tajam.
"Sekali lagi kakak berbicara, maka aku tidak segan-segan menembakkan senjata yang berisi amunisi ini ke arahmu, kak" ancam Luna yang masih meletakkan kedua jarinya di bagian pelatuk senapan.
__ADS_1
Membuat Rangga yang mendengarnya menutup mulutya segera. Berjalan ke arah dinding dan berdiri di pojokkan. Sambil memukul-mukul lembut dinding yang ada di depannya itu. Seolah-olah ia merupakan seorang anak laki-laki yang di hukum oleh orang tuanya.
"Hah, bagaimana bisa kakakku seperti ini?" ucap Luna yang mulai menurunkan senjatanya dan menatap ke arah kakak laki-laki yang sedang berada di pojok ruangan.
"Pfft, aku baru tau pemimpin klan ular di bagian kemiliteran memiliki sikap kekanak-kanakan seperti itu" ungkap Jiro yang sudah memasukkan pedang katana miliknya ke dalam sarung pelindung.
"Kak, kemarilah dan berhenti menekan dinding itu dengan lembut" perintah Luna yang membuat Rangga yang mendengarnya berjalan ke arah adik perempuannya itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini Jiro?apa kamu hanya ingin bermain-main seperti adikmu itu?" tatap Rangga tajam.
"Kenapa kalian berdua harus menyamakanku dengan adik perempuanku itu? bukankah sudah ku katakan aku berbeda dengannya dan juga aku di sini karena perintah ayahku" ucap Jiro sambil mendengus dingin.
"Ayahmu? kenapa aku tidak menerima kabar itu di basecamp tadi?" bingung Rangga.
"Apa kamu tidak menerima kabar di basecamp mu? bukankah seharusnya kau sudah menerimanya dari tadi. Terutama musuh yang kita lawan saat ini berbeda dengan musuh yang lainnya"
"Musuh? maksudmu pasal orang-orang yang mencari potongan-potongan peta itu"
"Ya, potongan-potongan peta yang memiliki harga setara dengan pajak negara" ucap Jiro yang sudah mencari tau tentang potongan-potongan peta tersebut.
"Setara dengan pajak negara? bukankah itu terlalu murah?" tatap Luna tajam.
"Entahlah, yang ku tau harga itu di dapatkan terakhir kali saat pelelangan di swiss 5 tahun yang lalu" balas Jiro yang sudah kembali ke tempatnya dan meminum teh hijau yang ada di dalam gelas tersebut.
"5 tahun yang lalu..."
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~