
"Jadi maksud kamu, orang yang ada di atas kursi itu merupakan salah satu musuh kita?" ungkap Luna yang mendengarkan penjelan detail dari anak perempuannya, Laura.
"Sudah ku pastikan itu mom, karena bagaimanapun juga sistem keamanan di mansion ini sangat tinggi dan tidak memungkinkan orang asing masuk ke dalam"
"Kalau begitu bagaimana dengan orang yang berdiri di sana? apa orang itu bukan orang asing?" ucap Luna sambil menatap Felix di dekatnya.
Membuat Laura yang mendengarnya dengan cepat menatap tajam ke arah Felix lalu menatap ibunya kembali. Dengan mata hitamnya yang polos, ia mengeluarkan tatapan puppy miliknya [anak anjing].
"Aku tidak tau itu mom, yang ku tau laki-laki itu dikirim ke sini untuk memperbaiki listrik yang ada. Jadi bisakah mommy mamaafkanku?" tanya Laura sambil memohon dengan tampang anjingnya.
Tanpa mengetahui bahwa tatapan milik Felix saat ini sangat-sangat jelek. Dimana hembusan nafasnya mulai bertambah kasar saat mendengar penjelasan anak perempuan mililk atasannya.
'Bukankah kalian yang membawaku ke sini dan menjadikanku mainan kalian? Lalu kenapa kalian sekarang mengatakan aku seorang tukang perbaiki listrik?! Apa kalian benar-benar berumur 8 tahun saat ini?' pikir Felix yang merasakan harga dirinya semakin dinjak-injak di sini.
Luna yang melihat tatapan anak perempuannya dengan cepat menghembuskan nafas dingin. Menurunkan anak itu dari gendongannya lalu mendekatkan bibirnya ke arah telinga kecilnya. Dengan hembusan nafas yang dingin, Laura hanya bisa menatap ibunya bosan.
"Mom sudah terbiasa melihat trikmu ini, paham" bisik Luna yang membiarkan anak perempuannya dijaga oleh kepala pelayan rumah.
"Geeeee" Sedangkan Laura yang mendengarnya hanya bisa menatap punggung ibunya dengan bosan dan lesu.
'Apa trik ini sudah tidak ampuh lagi? Lalu apa yang harus ku lakukan saat berhadapan dengan mom di masa depan?' pikir Laura yang tidak ingin diberikan hukuman saat melanggar peraturan dari keluarganya.
Berbeda dengan Navin yang suda mengetahuinya dari awal. Sehingga membuatnya dengan cepat dan tangkas membantu ibunya untuk menghadapi orang yang ada di kursi duduk itu.
"Navin, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Luna saat melihat tingkah laku anak laki-lakinya.
"Bukankah mom ingin aku membantu mommy?"
"Untuk kali ini tidak perlu, dan kepala pelayan saya serahkan ketiga orang itu kepadamu" jelas luna yang membuuat kepala pelayan yangsedamg berdiri di belakang mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
"Tapi mom-"
"Bawa mereka secepatnya"
"Baik nona"
Kepala pelayan yang bertugas itu dengan cepat mengambil tali Felix. Menggendong nona muda kecil lalu menjabat tangan tuan muda kecil. Meninggalkan nona muda untuk melakukan tugas miliknya.
"Tunggu seben-"
"Tuan muda, mari kita pergi" ucap kepala pelayan yang tidak bisa dibantahnya lagi.
Sehingga tidak lama kemudian, ruangan yang tadinya dipenuhi dengan orang-orang hanya tersisa dua orang saja. Rambutu hitam yang tadi ia gerai dengan lembut ia naikkan ke atas. Menyatukan setiap helai tersebut dengan ikan rambut kecil miliknya.
Melepaskan jam tangan miliknya lalu mengambil sarung tangan yang ada di dalam laci. Tangannya yang putih dan bersih tertutup rapat. Dengan bau mesiu, ruangan itu memancarkan aura penyiksaan yang kuat.
Di saat lensa mata hitamnya yang hangat berubah menjadi genangan darah yang dipenuhi dengan musuh-musuh berjatuhan.
Tangannya yang kecil dan indah menyentuh permukaan mulut orang itu. Membuka rongga mulutnya lalu melihat ke sela-sela rongga mulut tersebut. Dengan lihai memasukkan pisau bedah miliknya lalu mengoyak dinding yang ada.
Dengan goresan yang ada, dinding tipis itu mulai mengeluarkan tetesan-tetesannya. Mengambil kapitan besi halusnya dan dengan cepat mengeluarkan racun yang ada di dalam rongga mulut.
Racun yang dibungkus tipis itu diletakkan di atas meja operasi kecil. Dengan jarum perak yang sudah disterilkan Luna menjahit kembali dinding yang ia robek itu. Suara mendesis terdengar di dalam ruangan tersebut.
Tetapi tidak bisa membangunkan orang yang sedang duduk. Dimana kandungan yang ada di dalam obat bius ditambahkan seiring waktunya. Sehingga tidak mampu membangunkan orang yang tertidur itu.
"Sepertinya sudah selesai" gumam Luna yang melihat bahwa rongga mulut yang ada di bagian dalam kembali seperti semula. Walaupun dipenuhi dengan darah, operasi sederhana itu bisa diselesaikan dengan cepat.
__ADS_1
"Aku hanya perl memberikan obat ini saja" lanjut Luna sambil mengambil botol obat yang ada di atass meja. Melepaskan salah satu sapu tangannya lalu memasukkan dua tablet putih itu ke dalam mulut orang tersebut.
Sehingga suara desisan tadi berubah menjadi suara erangan kecil. Rasa sakit dan juga nyeri yang berasal di rongga mulutnya, membuat ia membuka matanya. Menatap ke arah depan dan melihat sosok wanita yang ada di hadapannya.
Dimana wanita cantik itu terlihat mempesona dan indah. Namun seperti penampilan bunga poppy, kecantikan belum tentu menyamai artinya.
"Siapa ka- shhhh" desis orang itu kembali. Membuat Luna yang ada di depannya memasang kembali sapu tangannya yang dipenuhi dengan darah. Dengan senyum tipis nan dingin, aura pembunuh menguasai ruangan tersebut.
"Sepertinya kau sudah bangun tuan, kalau begitu bisakah kta mulai eksekusi kita?"
"Apa kau pikir aku akan takut?" tanya laki-laki tersebut sambil meludahkan darah yang ada di dala mulutnya.
"Karena anda tidak takut dengan saya, maka dengan senang hati saya akan menemani dan menghibur anda di sini" senyum Luna sambil memegang beberapa pisau bedahnya.
Dengan langkah kaki yang tegas namun anggun, Luna mulai menggoyak kulit tubuhnya sedikit demi sedikit. Suara erangan dan juga desisan bercampur menjadi satu di saat suara besi saling belawanan.
Pisau bedah yang tajam itu mulai menyayat setiap sisi permukaan kulit bagian tangan dan kaki. Tubuh yang tadinya terlihat kusam kini dipenuhi dengan darah segar yang terus mengalir. Sehingga suara teriakan dan penolakan terdengar di sela-sela jeruji itu.
"Aku tidak akan pernah mengatakanya kepadamu dan lihat saja akan ku pastikan kau menyesal" teriak orang tersebuut dan mencoba mengigit salah satu rongga mulutnya dan menyadari ad sesuatu yang salah dengannya saat ini.
"Apa kau mencari ini?" bisik Luna yang sudah menghentikan setiap goresan miliknya dan memperlihatkan sebungkus racun di tangan lainnya.
Membuat orang itu membeku dan mencoba mengontral ekspresi terkejut miliknya.
"Bahkan jika kau mengambil benda itu dari mulutku, kau tetap tidak akan bisa mengetahui orang yang ada di belakang ku, nona Martin." ungkap laki-laki itu yang membuat wajah Luna semakin gelap dan gelap.
"Benarkah? kalau begitu tunggu dan rasakan saja penderitaan ini. Maka aku akan lihat seberapa kuat kamu bertahan" ucap Luna dengan suaranya yang dingin dan penuh penekanan.
__ADS_1
🔫 Di bab inni aku menyadari bahwa pertumpahan darah memang mengerikan. Jadi jangan lupa beri like, komen, dan berikan dukungan kalian berupa Hadiah maupun Tip.
🔫 Sekian terimakasih, and sayonara~