
Leon yang mengenggam tangan Luna dengan cepat membawanya ke salah satu ruangan yang ada di dalam manor tersebut. Menekan dan juga mengunci rapat tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Dengan tatapan yang menggoda, ia menatap mata hitam berkabut itu penuh godaan. Aroma cendana dan juga mint yang kuat bercamppur menjadi satu. Menghampiri Luna dan menggelitik indra penciumannya.
Membuat wanita yang sedang berada di dalam pelukannya itu mengernyit dan mengendus kesal. Dengan wajah tanpa ekspresi, jari-jari ramping dan halus mulai menyentuh rahang laki-laki yang ada di depannya saat ini.
"Apa itu menyenangkan, Luna?" bisik Leon menggoda, membuat tangan yang menyentuh rahang itu seketika berhenti dan mengubah gerakannya menjadi sangat kasar.
Dengan nafas yang kental, jari-jari yang ramping dan halus itu mulai menyekik leher milik Leon. Mata hitam pekatnya seperti pusaran yang menyapu pesona galaksi, membuat laki-laki yang tersapu itu tidak merasakan sakit sedikitpun di bagian lehernya yang ramping.
"Bukankah sudah ku katakan untuk menjauh dariku, tuan Martin" tatap Luna dingin, tanpa menyembunyikan niat membunuhnya sedikitpun. Terutama di saat matanya bertemu dengan mata biru laut yang sama dengan anak perempuannya.
Sebuat mata yang memiliki warna yang sangat indah dan memberikan pesonanya sendiri. Namun sayangnya, ia sangat mengetahui perbedaan mata biru laut itu. Dimana mata yang dimiliki anak perempuannya menampilkan sosok manis seperti rubah.
Berbeda dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Karena mata bewarna biru laut itu akan menampilkan kejadian 8 tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang membuat jiwa dan raganya terluka.
Sehingga mengubah sosok yang memiliki pesona bunga lily putih menjadi sosok bunga poppy ataupun mawar hitam. Yang dimana kedua bunga itu melambangkan kematian dan juga sebuah jiwa yang liar.
Jika saja ia tidak bertemu dengan ayah angkatnya di pertengahan jalan, mungkin saja kini ia menjadi orang yang paling sengsara di muka bumi. Tanpa mengenal emosi di kehidupan sehari-harinya dan berakhir dengan melukai kedua anaknya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu memiliki banyak keberanian untuk memikirkan orang lain selain diriku . . . Apa kau benar-benar berpikir bisa lepas dari genggaman tanganku, Luna?" bisik Leon sambil membawa tangan yang ada di lehernya ke bibir merah menggoda.
Dengan ciuman yang lembut, jari-jari ramping dan halus itu merinding seketika. Membuat Leon yang melihat pemandangan itu dengan rakus menutupi bibir kecil milik Luna, dan menatap mata hitam itu penuh dengan nafsu.
Ciuman yang datang tiba-tiba, membuat Luna seketika terkejut. Udara segar yang masuk ke dalam rongga pernafasan kini mulai dipenuhi dengan bau cendana dan juga mint yang sangat kuat.
Tubuh yang tadinya tenang mulai menegang, membuat Luna yang merasakannya dengan marah mengigit bibir Leon. Sehingga menghasilkan suara erangan yang halus dan penuh dengan nafsu.
Hingga tidak lama kemudian rasa asin menghampiri mereka. Dengan tatapan kesal Luna mulai mengeluarkan gerakan memukul bagian leher. Namun bukannya mengenai leher milik Leon, tangan itu dicengkram kuat oleh lawannya.
Tanpa memberikan jeda sedikitpun, ciuman panas keduanya masih berlanjut. Hingga waktu berlalu, Leon yang melihat Luna kehabisan nafas menghentikan ciuman tersebut. Dan dengan senyum yang puas ia menatap maha karya yang baru ia buat.
Dengan suara bisikan kecil yang menggoda, ia menatap wanita yang ada di hadapannya dengan penuh minat. Tanpa kebohongan sedikitpun, ia mengaitkan helaian rambut tersebut dan dengan lembut berkata kepadanya . . .
"Tubuhmu tidak bisa membohongiku, Luna" bisiknya menggoda.
Membuat Luna yang mendengarnya, merasakan detak jantungnya bertambah cepat dan dengan cepat menutupi semua perasaan itu. Mengubah wajah yang tadinya memerah kembali mendingin.
__ADS_1
Kecepatan mengubah itu sama seperti kecepatan membalik kertas. Seakan-akan perasaan yang datang menghampirinya hanyalah sebuah kesalahpahaman semata. Bahkan Leon yang berada di hadapannya mungkin tidak menyadari sama sekali kelainan itu.
Dengan wajah yang dingin, Luna mengeluarkan belati yang ada di tubuhnya dan dengan cepat menggores tipis permukaan leher lelaki tersebut. Tanpa memberi kesempatan, Luna mengangkat kakinya dan menendang tubuh milik Leon.
Membuat Leon yang tidak waspada, terdorong jauh dan hampir menabrak pilar yang ada di belakangnya. Jika saja ia tidak bertumpu kuat dan menekan kekuatan di bagian kakinya, maka dipastikan tulang yang ada di bagian belakang tubuhnya remuk.
Terutama saat ia merasakan sebagian dari kekuatan fisik Luna, ia mengakui bahwa wanita yang ada di hadapannya bukanlah kelinci putih kecil. Melainkan serigala berbulu domba yang cukup berbahaya.
"Kau seharusnya bersyukur bahwa aku tidak membunuhmu dan mau bekerja sama denganmu tentang potongan peta itu" jelas Luna dingin sambil menyapu ujung sepatu botnya dengan lap bersih.
Tatapan dingin dan bercampur rasa jijik itu tertangkap di mata Leon. Membuat Leon yang melihatnya menyentuh luka di bagian lehernya lembut dan dengan senyum tipis yang berbahaya, ia menatap wanita itu seperti serigala kelaparan.
Seakan-akan mangsa yang ada di hadapannya harus ditangkap dan dikurung di sangkar emas miliknya. Dengan perlindungan dan juga keamanan yang ketat, ia akan memanjarakan wanita itu dengan ketat dan memanjakannya selamannya.
'Aku akan melihat sampai mana kamu ingin berlari dari diriku, Luna' pikir Leon paranoya.
🔫 Terimakasih buat kak izarina ibrahim yang sudah memberikan koin [TIP] untuk mendukung novel ini. Oleh karena itu, jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~
Note : Selamat menjalankan ibadah puasa~