My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 21 : Bolehkah Kita Berteman?


__ADS_3

Di Tempat Gym~


Luna sudah memarkir kan mobil Ferrari merah miliknya dan mengambil tasnya dengan topi hitam yang membuat dirinya tidak terlalu mencolok di sana. POW! Gym Chicago merupakan tempat gym terkenal di Chicago dan tentu saja memiliki banyak peminatnya.


Luna memasuki area gym itu dan memainkan pemanasan miliknya sambil menggunakan kacamata hitamnya. Karena cukup tubuhnya yang dilirik oleh pengunjung yang lain tapi tidak dengan mukanya. Langkah kakinya mulai melaju saat kecepatan treadmill itu tambah tinggi. Hingga sebuah suara yang sangat dirinya kenal membuatnya mempelankan kecepatan treadmill miliknya itu.


"lama tidak berjumpa, bro" ucap Lelaki itu sambil berjabat tangan dengan teman lamanya.


"Kenapa ramai di jam seperti ini?" tanya lelaki itu saat melihat pengunjung Gym yang biasanya ramai saat di jam malam malah ramai saat di jam pagi sekali.


"karena ada wanita cantik di sini" bisik lelaki itu membuat lelaki yang menggunakan kaos hitamnya mengangkat alisnya perlahan.


"women?"


"Disana, Leon" lirik laki-laki bernama Jeroma. Mata Leon mengikuti arah gerik mata temannya itu dan menatap punggung perempuan yang sangat dia kenali.


"Bukankan itu perempuan yang di pesta itu, Luna Nypole"pikirnya. Hingga sebuah bersin terdengar di tempat perempuan itu.


"Hachim"


'Sial siapa yang membicarakan ku' baginya geram lalu mematikan treadmill dan mengambil sapu tangan milik nya. Hingga sebuah air minum diberikan oleh sebuah tangan. Kepalanya menatap ke wajah laki-laki yang dia dengar suaranya dan sekarang sedang ada di hadapannya.


'Kenapa dia ada di sini juga' umpat Luna dalam hati. Luna mengambil air minum yang ada di dalam tasnya.


"Tidak perlu" tolak Luna dingin lalu meminum pelan minumannya pelan. sebuah smirk terlihat jelas di wajah laki-laki itu. Kakinya ia tekuk dan menyamakan tinggi dengan perempuan yang membuat dirinya mencoba mencari informasi miliknya itu.


"Luna Nypole" smirknya yang membuat Luna menghentikan minumnya pelan.


"Bukan" jawab Luna lalu melanjutkan kembali.

__ADS_1


"Bolehkan kita berteman?" tanya Leon yang membuat Luna memuncratkan minuman miliknya tepat di hadapan wajah Leon.


'Sial' umpat Luna. Sedangkan Leon langsung mengambil handuk miliknya dan membersihkan muka miliknya lalu sebuah tisu basah terlihat jelas dihadapannya. Ya perempuan itu memberikannya tisu basah.


"Sorry" ucapnya singkat yang hanya didiamkan oleh Leon. Luna memutar bolanya jengah dan membuka tisu basah miliknya dan melap wajah lelaki yang membuatnya emosi.


"saya sudah mengatakan maaf apa anda tidak bisa menjawabnya sekali?" sarkas Luna sambil melap wajah milik Leon. Sedangkan Leon hanya menaikkan sebelah alisnya. saat mendengar ucapan perempuan yang dia tau adalah Luna Nypole. Hingga sebuah gumaman pelan terlintas mulus di mulutnya yang seksi itu.


"Luna.." gumamnya.


Luna menarik tangannya cepat saat sadar bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal seperti ini. Apalagi kebiasaan dulunya bisa muncul saat berhadapan dengan laki-laki ini.


"Kalau begitu saya permisi" dingin Luna lalu memasukkan tisu basah miliknya ke dalam tas. Saat dirinya ingin pergi genggaman tangan menghentikan langkah kakinya yang membuatnya menatap wajah Leon bingung.


"ada apa?" tanyanya dingin.


"Aku akan memaafkan mu bila" ucap Leon berhenti lalu menghembuskan nafasnya pelan


"Bila kau berteman denganku" ucap Leon yang entah kenapa kali ini di depan perempuan ini dia bisa mengucapkan kalimat yang bahkan dirinya tidak pernah ucapkan semenjak 8 tahun silam. Kebingungan Leon berubah saat mendengar tawa meremajakan terpampang nyata di wajah perempuan yang melepaskan kacamata hitamnya itu.


"Hahaha, apa kau bercanda tuan Leonex Martin?" remeh Luna yang membuat tatapan bingung Leon berubah menjadi dingin dan datar.


"Apa kau meremehkan ku" dingin Leon tidak terima.


"Bukan meremehkan" jawab Luna.


"lalu"


"Tapi aku tidak ingin berteman denganmu" tekan Luna di akhir katanya membuat Leon mengeratkan genggaman tangan miliknya dengan Luna.

__ADS_1


"Ulangi" dingin Leon yang membuat Luna memutar bola matanya jengah.


"Aku tidak ingin berteman denganmu" tegas Luna lalu menghempas kasar lengan milik Leon.


"Kalau begitu selamat tinggal" smirk Luna Lalu pergi dari area gym itu.



Leon menatap punggung Luna yang sudah memasuki mobil Ferrari merahnya itu. entah kenapa hatinya merasakan emosi saat mendengarkan penolakan itu lalu merasakan kehilangan saat dirinya pergi.


'ada apa denganku' pikir Leon hingga sebuah tepukan bahu membuatnya kembali sadar dan menatap dingin wajah Jerome yang sedang menatapnya menggodanya.


"Siapa dia? wanita one night stand mu?" goda Jerome yang langsung diberikan tatapan dingin oleh Leon dan membuat Jerome hanya bisa terkekeh dengan sikap temannya itu.


"Bercanda okay, dan juga bukannya kamu ingin berbicara denganku?" tanya Jerome.


"Setelah Olahraga" dingin Leon yang diangguki oleh Jerome.


Sedangkan Di Tempat Lain~


Luna melajukan mobilnya memutari kota Chicago yang merupakan kota terbesar di bagian Amerika serikat Illinois dan menepikan mobilnya di tepi jalan dekat kafe.


"Sial kenapa aku harus bertemu dengan lelaki itu" umpat Luna sambil memegangi jantungan yang berdetak dia jujur dia melupakan lelaki itu tapi hatinya berbohong karena hatinya tidak bisa melupakan lelaki itu apalagi anak perempuannya Laura yang sama persis dengan Leon hanya berbeda mulut dan gender, sisanya tentu saja sama persis dengan sang ayah.


Tapi yang membuat Luna beruntung adalah Leon masih belum mengenali Laura dan dirinya. Mungkin karena Leon hanya bertemu dengan Laura sekali sedangkan Luna tidak dikenali dari sikap dan postur tubuh. Bila dibandingkan dengan Luna yang sekarang dan dulu tentu saja sangat berbeda. Luna yang dulu memiliki sikap yang polos, lembut, penyayang dan sabar dengan pakaian biasa ditambah postur tubuh bagaikan triplek dan jangan lupakan tubuh Luna yang dulu lumayan lemah yang membuatnya tidak terlalu berisi. Sedangkan Luna yang sekarang memiliki sikap dingin, datar dan tertutup dengan pakaian modis dilengkapi tubuh berisi karena kegiatan kemiliteran yang membuat dirinya sering melakukan hal berat dari menembak, memanah, berburu dan masih banyak lagi yang membuat tubuhnya yang sangat rapih menjadi sekuat baja.


Tidak ada di dunia ini orang yang tidak bisa berubah apalagi bila waktu yang membuat mereka belajar dan membuat mereka sadar untuk melakukan hal yang baru. Seperti Luna yang sekarang yang sangat sulit dikenali yang dulunya membuka semua rahasianya dan sekarang menutup semua rahasia dan akan membalas semua tindakan yang akan dilakukan.


Pandangan Luna menatap ke arah cafe yang tidak dirinya kenal tapi orang yang di dalamnya sangat dikenalnya. Membuat dirinya menggeleng pelan tak percaya dan menatap sekali lagi untuk mempastikan. Ya dia yakin perempuan itu adalah perempuan yang sangat dia tidak bisa lupakan dan perempuan yang membuatnya ada di sini dan dunia ini.

__ADS_1


"Neva..."



__ADS_2