My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 94 : Kehancuran Sisca (4)


__ADS_3

Luna sudah menyelesaikan pekerjaan miliknya di kantor, mengambil tas miliknya dan pergi meninggalkan perusahaan. Luna menghabiskan waktu lemburnya sehingga membuat dirinya kesibukan dengan beberapa proyek yang baru.


Membuat Luna menyelesaikan pekerjaan miliknya tepat di malam hari dan tepat dimana dirinya akan beraksi di apartemen milik Sisca. Dari bantuan kedua anaknya yang berada di dalam mansion, Luna dengan mudahnya mengetahui keberadaan milik Sisca sekarang. Sehingga memudahkan Luna untuk mematikan lampu seluruh apartemen dari saklar uang ada.


Dengan cara seperti pencuri dengan mudah Luna membobol pintu depan yang merupakan pintu utama. Bila pencuri biasanya membobol dari jendela sayangnya Luna merupakan pencuri yang memiliki nilai etiket tinggi. Membuat dirinya membobol melalui pintu utama bukan pintu belakang ataupun jendela apartemen yang ada di lantai 2.


Saat membuka pintu tersebut Luna bisa mencium aroma bau alkohol dari minuman-minuman yang berserakan di atas lantai dan di atas meja. Baunya bahkan mengalahkan bau toilet yang ada di rumahnya.


"Uhhhh.... padahal aku belum membunuhmu tetapi hidupmu sudah semenyedihkan ini" gumam Luna yang melihat keadaan sekitar miliknya.


"Mom, apa kau masih ada di situ?" tanya Laura dari saluran airpods miliknya.


"Ah tenang saja mom mendengarkan" ucap Luna yang kembali melanjutkan rencana miliknya.


"Sebentar lagi perempuan itu akan sampai yaitu dalam jarak 5 kilo meter dari bangunan apartemen" jelas Laura mengintruksikan.


Laura yang berada di dalam mansion telah berhasil meretas sistem keamanan jalan di wilayah kota Mexico. Untuk mencari keberadaan Sisca Made dan memberikan lokasi teperinci milik mantan teman ibunya tersebut. Jelas saja kedua anaknya saling membantu dalam pembalasan ini. Bagaimanapun juga mereka berdua diperbolehkan mengikuti pelatihan militer sejak kecil hanya untuk membantu ibunya dalam menyelesaikan pembalasan dan juga agar ibunya tidak direpotkan dalam penyelesaian tugas itu.


"Baik... semuanya akan siap" ucap Luna. Dia mengeluarkan obat tidur yang ada di dalam tasnya dan menaburkan serbuk tersebut di lilin terapi milik Sisca. Walaupun Sisca meminum minuman alkohol tetapi wanita itu memiliki kebiasaan menyimpan lilin aroma terapi dan sering menggunakan nya untuk menenangkan pikirannya ditemani alkohol.


Membuat Luna mengambil kesempatan yang ada dari kebiasaan tersebut. Karena Luna tidak ingin meninggalkan jejak sedikitpun. Luna harus melumpuhkan Sisca Made tetapi sebelum dia lumpuh dengan baik dirinya akan menampilkan dirinya yang sebenarnya di bayangan.


"Mom, mendekat" ucap Laura membuat Luna langsung bersembunyi di balik lemari yang berada di pojok ruangan. Nafasnya dengan tenang mendengarkan suara yang akan ada.


Suara langkah kaki terus mendekat dan suara ganggang pintu terdengar di pintu perlahan. Suara milik Sisca Made sedikit mabuk tetapi dia hanya bisa bergumam sedikit dengan keanehan yang ada.


"ehmmmm... sepertinya aku lupa mengunci pintu" ucap Sisca yang langsung mengunci pintu dan memasuki ruangan miliknya. Di tangannya terdapat kresek putih besar dan dijatuhkan ke lantai dengan kasar.

__ADS_1


Suara kaleng yang bertabrakan mengisi ruangan sunyi itu. Hingga tidak terlalu lama suara telpon berdering di dekat sofa miliknya. Suaranya yang membuat Sisca hanya merancau kesal dengan simfoni yang sellau berputar-putar.


"Ahhhhhhhh sial! siapa yang menelepon malam-malam begini!" kesal Sisca yang langsung berjalan ke arah sofa dan mengangkat telpon miliknya. Tangan kirinya mengambil kaleng yang ada di plastik di dekatnya.



Kemudian membuka kaleng minuman berakohol tersebut. Meneguknya dalam dua kali tegukan sambil mengatakan kata-kata yang tidak jelas.


"Hmmm...siapa?" tanya Sisca yang meminum kembali alkohol miliknya.


"Ini aku Sisca" jawab Co.


"Ahhhrg maafkan aku pak, ada apa pak direktur menelpon saya malam-malam begini? apa iklan yang diurus sudah selesai dengan baik atau acara wawancara yang saya jalani diterima oleh para publik? hiccup" cegukan Sisca.


"Sayangnya saya disini hanya akan menyampaikan kabar buruk" tegas Co.


"Namamu telah diblacklist dari dunia entertainment dan semua properti yang kamu miliki akan ditarik. Setelah itu dikembalikan ke perusahaan" jelas Co.


"Apa! tidak-tidak bisa ini tidak bisa!" teriak Sisca yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Menjatuhkan kaleng alkohol yang ada di tangannya dan membiarkan cairan bening itu mengalir di lantainya.


"Itu saja yang saya katakan, besok tim saya akan mengambil apartemen anda" jelas Co dan mematikan telpon secara pihak. Menjadikan amarah yang ada dari diri Sisca menjadi bertambah melempar handphone nya ke arah lemari.


"Arghhhh!!!! Sial-Sial siapa yang melakukan ini padaku!" kesal Sisca. Dia menggigit jarinya keras dan mengambil korek api, menyalakan lilin aroma terapi dan membiarkan aroma yang elegan itu masuk ke dalam hidungnya.


"Tenang-tenang, hari ini hanya mimpi dan aku akan berada di atas kembali" ucap Sisca meyakinkan. Saat hidungnya mencium aroma yang dikeluarkan tambah kuat, kaki yang menopang dirinya semakin lemah. Sebuah bayangan yang dari tadi tersembunyi di balik lemari dan menghindari lemparan dari Sisca.


"Ehhhh ternyata hanya dengan begitu saja kau sudah roboh" smirk Luna dan mendekat ke arah Sisca.

__ADS_1


"Si..siapa kamu? apa yang kamu inginkan hah?" tanya Sisca yang gugup. Perasaan tenang yang dia miliki tiba-tiba menghilang dengan cepat dan rasa ketakutan menghampiri dirinya yang terjatuh ke lantai. Aura kuat yang mencekam membuat Sisca ketakutan, jendela ruangan kamarnya yang terbuka memperlihatkan sinar bulan pertama yang sempurna.


"Apa kau telah melakukan aku? padahal kita merupakan teman yang sangat dekat sekali loh" jelas Luna.


"Tidak! aku tidak memiliki teman yang datang tanpa diundang!" teriak Sisca menolak. Di saat dirinya menatap orang yang bersembunyi, tiba-tiba matanya yang memiliki kesadaran penuh hampir melompat dari tempatnya. Seorang perempuan yang merupakan temannya dulu, sekarang berada di hadapannya.


"Kamu... Luna Luxury" gugup Sisca


"Heh sepertinya kamu mengingatku, kalau begitu mari ku bawa kematian untukmu" smirk Luna yang langsung Mendieta ke arah Sisca. Sedangkan Sisca yang tidak bisa melihat gerakan Luna tidak bisa menghindari Luna yang tiba-tiba melukai tangannya.


"Arghhhh!!!!" teriak Sisca kesakitan.


"Sebenarnya aku ingin berbicara banyak denganmu teman lama tapi sayangnya aku punya batas waktu dan aku harus menyelesaikan ini lebih cepat" ucap Luna yang langsung menyayat pergelangan tangan Sisca.


"Arghhhh!!! hentikan! hantu! hentikan! biarkan aku pergi"ringis Sisca yang semakin bertambah keras. Dan tidak perlu waktu yang lama kesadaran milik Sisca Made menghilang. Dia pingsan dengan sayatan luka yang besar dan Luna hanya menatapnya dengan dingin.


Mengambil tali yang ada di tasnya menggantungnya ke sela-sela kayu yang ada atap. Mengambil Sisca yang sedang dalam keadaan sekarat lalu menggantungkannya di tali yang sudah dibuatnya. Membiarkan kondisi kritis milik Sisca bertambah parah karena tubuhnya digantungkan di tali, seperti seseorang yang melakukan gantung diri.


'Mari akhiri hidupmu dengan kecelakaan level rendah' pikir Luna.



🔫Maaf bila dikit seperti yang dikatakan di Ig ataupun grup, kondisi saya lagi kurang fit dan bab ini juga merupakan draf yang simpan. Karena saya tidak ingin mematahkan semangat kalian yang selalu menunggu jadi saya paksakan sedikit. Hehehehe.


🔫Dan maaf bila kurang berdarah saya tidak bisa menguras otak saya lagi karena sakit ini. Gomenne minna~


Maaf bila ada salah ketik karena ini merupakan penyakit yang hanya bisa disembuhkan oleh para pembaca yang bermata jeli^^ Sayonara~

__ADS_1


__ADS_2