
"Itu....baiklah aku akan menerima penawaran mu tapi aku memiliki syarat" ucap Navin yang menerima tawaran milik Leon dan menambahkan syarat miliknya.
Bahkan anak itu sama sekali tidak mempedulikan bisikan orang-orang yang disekitar nya. Dimana saat ini mereka berdua terlihat persis seperti ayah mereka.
"Pssst, apa kalian lihat aku seperti melihat duplikat tuan"
"Entahlah"
"Kalian semua tidak perlu berbisik dan siapkan apa yang anak ini perlukan" perintah Leon tegas. Membuat orang-orang yang menaruh curiga tadi berbaris dengan rapi.
"Siap laksanakan" tegas mereka mengikuti perintah atasan.
"Jadi apa yang kau perlukan?"
"Aku membutuhkan laptop ataupun komputer dengan teknologi tertinggi dan terbaru" jelas Navin dan memberikan kodenya kepada adik perempuannya.
'Apa kau ingin aku mencari mereka lewat kamera yang berhasil masuk ke dalam mobil?'
'Apa lagi memangnya, ingat ini satu-satunya cara untuk kita mengetahui dalang dari kecelakaan hari ini' isyarat Navin yang langsung membuat Laura menghela nafas dan tersenyum.
"Baiklah aku akan melakukan nya, apapun itu demi mom" senyum Laura yang tidak akan membiarkan usaha ibu mereka terbuang sia-sia.
"Tuan Leon bisa kita mulai sekarang?" tanya Navin dingin yang tidak ingin membuang waktunya. Apalagi saat ini ibunya berada di ruang operasi dengan luka yang lebih parah.
"Tentu saja kita bisa mulai sekarang, tapi lukamu harus diurus terlebih dahulu" kelas Leon yang melihat darah menetes di seluruh tangan kiri milik Navin.
Dimana tangan itu memegang sebuah pistol yang berisikan peluru. Membuat Navin yang melihat keadaannya mengalihkan pistol yang ada di tangan kiri ke tangan kanan. Memberikan tangan kiri dan membiarkan para dokter yang dibawa oleh adiknya membalut lukanya.
Navin yang sedang diobati memberikan Leon waktu untuk menyiapkan semua permintaan nya. Ia tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang ada di sekitarnya, yang ia pedulikan saat ini adalah informasi tentang orang yang telah berani melukai cinta yang merupakan tunangannya.
Dimana wanitanya ini merupakan ibu dari kedua anak yang membuatnya merasakan rasa nyaman di dekat kedua anak itu. Bahkan mata dan hatinya tidak bisa berhenti untuk mengikuti permintaan kedua orang itu.
"Sebentar lagi akan siap tuan dan apa ada lagi yang tuan perlukan?" tanya salah satu bawahannya yang sudah menyiapkan beberapa hal.
__ADS_1
"Berikan sampel ini kepada Febri dan minta dia untuk memeriksa nya. Jika hasilnya sudah keluar cepat berikan kepadaku" perintah Leon yang mengeluarkan kantong plastik segiempat dan memberikan nya kepada bawahannya itu.
"Kalau begitu saya permisi" ucap bawahan itu dan pergi mengerjakan tugas baru yang diberikan oleh atasannya.
Leon memberikan sebuah sampel untuk kedua kalinya. Dimana sampel itu bukan berisi rambut milik Luna melainkan rambut milik Laura yang berhasil ia ambil saat pengobatan tadi dan mengetesnya dengan rambut miliknya sendiri.
'Jika panggilan yang diberikan anak itu benar, maka Navin dan Laura memang benar-benar adalah anakku dengan Luna' pikir Leon.
Dirinya tidak ingin kehilangan siapapun lagi, karena sudah cukup dirinya dulu menyesal. Menyesal dengan perbuatan yang membuatnya kehilangan kekasih yang merupakan sekretaris nya sendiri. Seorang perempuan yang sangat ia cintai secara diam-diam dan seorang perempuan yang membuatnya berubah menjadi pribadi yang hangat.
Bahkan kini dirinya sudah mulai mempedulikan kedua orang tuanya. Dimana kedua orang tuanya itu tidak pernah ia anggap dan ia toleh sedikit pun. Semua itu berubah hanya karena perbuatan kecil yang dilakukan oleh Luna dulu. Sehingga membuat hidupnya yang tidak bewarna kini berubah.
Namun sayang semua itu harus berhenti di saat kesalahan dan kesalahpahaman terjadi. Membuat orang yang dulunya dipenuhi warna kembali menjadi tidak bewarna. Wanita yang dulunya tersenyum manis itu juga telah hilang. Menghilang dan berganti menjadi seorang wanita yang dipenuhi dengan aura membunuh kental dan kental
'Apapun yang terjadi aku akan melindungi mu Luna, bahkan jika takdir yang memidahkan kita lagi dan lagi' ucap Leon dalam hati.
Suara anak-anak yang ada di dekatnya membuatnya menoleh dan menatap kloningan dirinya. Mereka berdua mirip sangat mirip dengannya, apalagi anak perempuan itu. Dia memiliki rambut dan mata yang sama dengannya.
'Ya benar bahkan jika kedua orang ini bukan anakku, aku akan tetap mengganggap mereka anak kandung ku' pikir Leon tenang yang tidak tau bahwa kedua anak dihadapannya ini memang benar anak kandungnya.
"Ya kita bisa memulai sekarang dan juga apa yang ingin kalian lakukan terhadap senjata yang ada di dalam mobil?" tanya Leon yang tidak bisa mengambil maupun membuang senjata yang merupakan senjata milik Lunanya.
"Simpan ke tempat yang aman dan pastikan jangan ada yang menyentuhnya, itu saja" tegas Navin yang mengetahui kesukaan dan kebencian ibunya. Dimana ibu dan dirinya sama-sama tidak menyukai ada orang yang menyentuh senjata milik mereka kecuali diri mereka sendiri.
"Baiklah, kalian cepat simpan ke ruanganku dan pastikan untuk memperketat penjagaan" dingin Leon.
"Siap laksanakan"
Mereka semua pergi membawa kotak besar bewarna hitam menuju ruangan. Meninggalkan Leon, Navin dan Laura di halaman.
"Kalau begitu ikuti aku" ucap Leon yang sudah menyiapkan semua permintaan milik Navin.
__ADS_1
Leon membawa kedua anak itu menuju sebuah tempat. Dimana tempat itu memiliki sebuah tempat duduk taman ditemani dengan pohong rindang yang melindungi nya. Di sana Navin bisa melihat dua buah laptop berada di sana.
"Apa itu barangnya?" tanya Navin dingin sambil menunjuk ke arah laptop bewarna hitam dan putih.
"Ya, jika kalian ingin di dalam kalian bisa..."
"Tidak perlu kamu diluar saja, bahkan jika angin musim dingin meniup kami akan duduk di luar saja" ucap Navin yang dengan cepat menolak penawaran milik Leon.
Berjalan ke arah tempat duduk dan dengan cepat mengambil laptop itu, ia mengambil laptop bewarna hitam dan menyalakan. Sedangkan Laura dengan cepat mengambil laptop bewarna putih yang disisakan kakaknya lalu menyusul kakaknya.
"Aku akan melihat sistem keamanan mansion" ucap Navin yang ingin melihat kondisi tempat tinggalnya saat ini.
"Baiklah kalau begitu aku akan memulai operasi pencarian" jelas Laura yang dengan cepat memasukkan sandi ke dalam akunnya.
Memuat semua sistem dan prosedur yang ada. Mereka berdua mengentikan angka, huruf maupun simbol di setiap detiknya. Membuat orang-orang yang berlalu lalang di saja tertegun melihat kecepatan kedua anak itu.
Bahkan Leon yang ada di hadapan mereka terkejut saat melihat kecepatan kedua anak itu dalam memainkan laptop mereka dan menjalankan tugas masing-masing. Semua sistem di mulai dan semua perangkat yang dibutuhkan oleh Laura telah kembali. Membuat anak kecil itu dengan cepat membuka sistem kamera kecilnya.
"Dalam 5 detik lagi sistem akan selesai dan aku bisa melihat orang-orang yang telah mengepung kita" jelas Laura yang membuat Leon mendekat dan melihat kehebatan anak perempuan itu. Sedangkan Navin yang ada di samping Laura membuka sistem keamanan mansion dan melihat apa ada kerusakan di lingkungan tempat tinggalnya.
"Kamera satu, dua, tiga, empat sampai tujuh mulai beroperasi" dingin Navin yang sudah memperbaiki sistem keamanan rumahnya. Tanpa tau bahwa laki-laki yang ada di belakangnya menatap mereka berdua kagum
'Mereka sungguh luar biasa' pikir Leon kagum.
Ini adalah sebuah kerja sama yang dilakukan oleh Navin dan Laura. Kerja sama yang dibantu oleh Leon dan siap untuk menyelesaikan semuanya. Mereka bertiga memiliki daya pikir yang berbeda tapi mereka semua memiliki tujuan yang sama. Tujuan yang akan membuat orang yang paling disayangi itu hidup bahagia dan bahagia.
Bahkan jika nyawa sekalipun, mereka tidak pernah takut untuk mengorbankan nya. Seperti Luna, seorang wanita yang kini sedang menyelesaikan operasi miliknya.
Tit....tit.....tit...tit....tit....
🔫Tinggal menunggu hitungan hari sebelum keluarga luxury hancur dan juga kebenaran tentang darah daging milik Leon.
__ADS_1
Sekian terimakasih, Mata Ne~