
Suara Laura menghilangkan rasa perlawanan dari kedua orang tersebut. Dengan pelan-pelan Laura mengeluarkan suaranya yang manis.
"Mom aku ingin makan" ucap Laura yang dari tadi melihat ekspresi tidak suka oleh kakaknya. Ya Navin dari awal kedatangan ayahnya sudah mengeluarkan tatapan tidak suka. Apalagi banyaknya orang-orang yang sudah mengelilingi mereka karena kedua orang yang termasuk orang besar.
Luna yang mendengar ucapan anak perempuannya langsung mengalihkan perhatian nya dan mengabaikan Leon.
"Baiklah mari kita makan" ucap Luna dan membawa kedua anaknya pergi ke arah tempat makan. Sayangnya apapun yang dilakukan Luna untuk menjauh dari Leon. Malah membuat laki-laki itu mendekat dan memberikan senyum tipis nan halus.
"Kalau begitu bagaimana kalau aku mentraktir kalian" ungkap Leon sambil mengikuti ketiga orang tersebut.
"Tidak per..."
"Wow bukankah itu Bagus" ucap Laura keceplosan dan membuat Navin menatap adiknya.
'Dasar penyuka gratisan' maksud tatapan Navin kepada adiknya.
"Maaf" pelan Laura yang kelepasan bicara. Sikap yang tidak bisa diubah salah satunya adalah penyuka barang gratisan. Karena barang gratisan adalah hal yang menguntungkan dan tentunya tidak membuat dirinya rugi kecuali orang lain.
"Kalau begitu ayo" ajak Leon dan berjalan di depan mereka bertiga. Luna hanya bisa menghela nafas melihat sikap anaknya yang sangat mirip dengan laki-laki di hadapannya. Tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan sesuatu hal.
Luna dan Navin saling bertatapan dan sama-sama berucap pelan. 'Ayah dan anak memang sama' ucap mereka berdua bersamaan.
Di dalam restoran~
Suara hening dan alunan lagu terdengar di kesunyian keempat orang yang sedang duduk di meja yang sama. Dengan isi restoran yang sudah di kosongkan atas perintah Leon. Dimana Leon merupakan investor terbesar di taman yang artinya Leon merupakan pemilik dari taman bermain ini.
"Emm mom bisakah aku meminta kentang gorengnya lagi?" tanya Laura.
"I.."
"Ini ambil punya saya saja" ucap Leon santai dan memberikan kentang korengnya. Laura yang telah mendapatkan kentangnya memberikan senyum manis dan hangatnya kepada Leon.
__ADS_1
"Terima kasih tuan" senyum Laura manis. Mata Leon yang menatap senyuman anak perempuan yang ada di sampingnya hanya bisa tertegun di saat senyuman itu membuatnya teringat akan suatu hal.
Sesuatu yang hanya ada dirinya dan kekasihnya dulu, hal kecil namun tampak berharga bagi perempuan itu.
Flashback on~
Di bawah rembulan malam yang terang dan ditemani hujan yang deras. Seorang perempuan duduk di terminal bus. Bila orang yang menunggu di terminal biasanya untuk menunggu bus tapi perempuan itu sedang berteduh dari derasnya hujan.
Hosh... hosh... hosh...
Suara nafas yang terengah-engah mengentikan tatapan perempuan yang cantik itu dan mengalihkan tatapannya ke arah orang yang baru datang.
"Astaga pak tidak perlu datang ke sini, sayakan sudah bilang saya akan pulang sendiri" ucap perempuan itu.
"Apa kamu itu gila, pulang jalan dan lupa bawa payung. Ingat kamu itu sekretaris saya dan tubuhmu harus sehat untuk bekerja dengan saya" ucap laki-laki itu dingin dan memberikan cup yang berisi kopi panas.
"Pak boleh saya tau, apa bapak khawatir dengan saya?" tanya perempuan tersebut.
"Saya tidak khawatir dengan anda saya khawatir dengan pekerjaan saya nanti" jelas laki-laki itu dan duduk di samping perempuan tersebut.
"Jangan lupa dokumen saya harus dikirim besok pagi, Luna"
"Siap pak Leon" jawab Luna dengan senyuman manisnya.
Ya kedua orang yang sedang duduk di terminal bus itu adalah Leon dan Luna. Seorang atasan dan seorang sekretaris yang sedang menunggu hujan reda. Tepatnya Leon menemani Luna karena perempuan yang polos itu sama sekali tidak ingin pulang bersama dirinya.
"Kenapa kamu tersenyum?" bingung Leon yang selalu heran dengan sekretaris yang selalu memberikan senyum manis maupun senyum polosnya.
"Memang ada yang salah dengan senyuman saya pak? Bukannya tersenyum hal yang biasa untuk kita?" ungkap Luna.
__ADS_1
"Huft, Aku akan mengganti pertanyaan nya. Apa kamu sering tersenyum kepada hal-hal yang kecil" tanya Leon sekali lagi. Dia harus sabar menghadapi sekretaris nya yang sangat polos dan sulit mengerti hal-hal biasa.
"Emm sepertinya sering dan juga tumben bapak mengeluarkan ucapan lebih dari 5 kata" ucap Luna mengalihkan topik pembicaraan nya.
"Karena kamu spesial" ucap Leon pelan tetapi masih bisa terdengar oleh telinga Luna.
"Hahaha terima kasih pak, saya senang mendengarnya" ucap Luna sambil tersenyum manis ke arah Leon. Senyuman manis itulah yang mengakhiri keberadaan hujan dan menggantinya dengan awan-awan malam.
Flashback off~
Leon ingat senyuman itu, itu adalah senyuman yang seiring diberikan oleh Luna kepadanya dulu. Senyuman yang selalu diberikan walaupun hal-hal yang kecil. Senyuman manis dan ringan namun dapat membuat orang yang melihatnya merasakan kehangatan.
'Senyuman itu mirip dengannya' pikir Leon yang terus-menerus menatap wajah Laura. Tatapannya berubah menjadi sebuah pemikiran dimana di saat dirinya menatap wajah Laura lebih lama ada sebuah kehangatan dan perasaan yang akrab diantara mereka.
"Tuan Leon? tuan Leon? apa anda mendengar saya?" panggil Laura sambil melambaikan kedua tangannya ke arah wajah Leon. Leon tersadar dan memberikan senyuman tipisnya.
"Maaf saya tidak mendengar ucapan anda tadi" ungkap Leon.
"Ah tidak apa-apa tuan hanya saja ibu saya ingin mengatakan sesuatu dengan anda berdua" jelas Laura. Leon mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke arah anak perempuan yang terasa akrab padahal mereka baru bertemu dua kali.
"Baiklah anda bisa berbicara dengan saya di ruangan lain" ucap Leon dan berdiri dari kursinya. Mereka berdua berjalan menuju ruangan lain yang terpisah dari Navin dan Laura berada. Membuat kedua anak yang menatap kedua orang tuanya mereka hanya bisa mengeluarkan pendapat yang akan terjadi.
"Kak,apa Daddy akan selamat dari amukan mommy?" tanya Laura sambil memandangi punggung kedua orang tuanya.
"Mungkin dan juga Laura jangan sampai hilang kendali lagi" tegur Navin dingin.
"Hehehe maaf tadi aku benar-benar tidak bisa menahan rasa gratisan" kekeh Laura tanpa dosa yang hanya membuat Navin menggelengkan kepala melihat tingkah laku adiknya.
Kedua anak yang hanya bisa mengobrol sambil menunggu kedua orang tua mereka yang sedang melakukan obrolan yang penuh dengan aura dingin. Mata mereka sama-sama menatap dengan tajam, bahkan jika ada orang yang ada di dalam ruangan selain mereka. Mungkin orang tersebut sedang kedinginan dan beku di tempat karena aura dingin yang kuat dari kedua orang tersebut.
"Tuan Leon bukankah Anda seharusnya sedikit malu" dingin Luna mengawali obrolan mereka berdua.
__ADS_1
🔫Uhhhh obrolan mereka akan membuat para pemuja romantis menjadi kecanduan dan mengeluarkan emosi yang berlebihan seperti nya. Jadi mari kita like bab ini lagi^^