My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 129 : Akhir Kehancuran


__ADS_3

"Di sana? brankas? huh, sepertinya kau benar-benar meremehkan manusia tuan Luxury atau aku harus memanggilmu dengan sebutan Dad" smirk wanita tersebut dan membuka masker hitamnya.


Membiarkan wajah cantik yang tadinya tertutup perlahan terlihat, dan Membuat Reno terkejut saat melihat nya.


"Lama tidak bertemu, tuan Luxury"


"Kau... ke..kenapa kau bisa disini?!" teriak Reno terkejut saat melihat seseorang yang tidak seharusnya berada di sini, hidup di hadapannya saat ini.


"Apa anda pikir saya sudah mati, Dad?" smirk Luna sambil berjongkok di hadapan laki-laki menyedihkannya itu. Membuat Reno yang mendengarnya panggilan yang diucapkan oleh Luna menegang seketika.


Laki-laki paruh baya itu tau, satu-satunya orang yang memanggilnya dengan sebutan Dad hanya anak itu. Seorang anak perempuan yang dulunya ia lupakan, seorang anak perempuan yang selalu bersembunyi di balik pohon saat ulang tahunnya dan juga saudarinya. Satu-satunya anak yang memiliki ramalan berbeda yang membuatnya ketakutan.


"Sepertinya anda sudah mengenal saya" smirk Luna


"Ba...bagaimana bisa kamu hidup?"


"Bagaimana?? tentu saja dengan cara bertahan hidup atau bisa dikatakan Dewi Fortuna sedang berada di sisi saya saat ini" senyum Luna sambil berjongkok di hadapan laki-laki yang penuh darah itu.


"Cih, aku sama sekali tidak peduli mau kamu hidup atau mati , jadi cepat ambil brankas yang ada di dalam perusahaan ku" perintah Reno yang tidak peduli tentang anak perempuan yang datang tiba-tiba ke hadapan nya ataupun seorang wanita yang seharusnya mati beberapa hari yang lalu.


"Brankas? haha apa anda mencari ini tuan?" tawa Luna pecah sambil mengeluarkan beberapa potongan kertas yang ia sembunyikan di balik pakaiannya.


Dimana potongan kertas ini terdapat garis-garis halus dan juga bagian bergambar. Yang menandakan bahwa potongan kertas yang saat ini dipegang oleh Luna merupakan potongan peta yang berbahaya.


"Berikan kepadaku berikan!" teriak Reno sambil mencoba menjangkau tangan Luna yang memegang potongan peta tersebut.


"Apa anda ingin mengambil ini? boleh kok, saya akan memberikannya kepada anda tapi menunggu reruntuhan bangunan ini menjatuhi anda dulu" senyum Luna manis dan memundurkan langkahnya menjauh dari ayahnya.


"Apa maksudmu?"


"Lihat di atas anda, Dad" ucap Luna sambil menunjuk ke arah reruntuhan bangunan bagian atas yang akan menimpa Reno.

__ADS_1


"Ti-tidak ini tidak bisa terjadi ka-"


Reno yang melihat reruntuhan bangunan itu dengan cepat meminta bantuan ke arah Luna yang ada di dekatnya. Namun sayangnya sebuah pistol sudah ditodongkan ke arahnya dari kejauhan. Dengan mata yang tajam dan senyum tipis yang mengerikan, Luna sama sekali tidak peduli dengan kematian orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa kau menyayangiku, Dad?" tanya Luna dingin tanpa menurunkan sama sekali pistol yang ada di tangannya.


"I-itu tentu saja ya" jawab Reno secepatnya karena melihat reruntuhan bangunan yang ada di bagian atas akan jatuh ke tempatnya.


"Benarkah?"


"Ya, aku menyayangimu aku sangat-sangat menyayangimu! jadi cepat bantu Daddymu ini" teriak Reno yang membuat Luna mengeluarkan senyum manisnya.


"Oleh karena itu Dad sebagai bentuk kasih sayangku kepadamu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri karena hidup di neraka lebih baik daripada hidup di duniakan" senyum Luna dan menarik pelatuk pistol yang ia pegang.



Suara tembakan itu menggema bersamaan dengan jatuhnya reruntuhan bangunan yang ada di atas. Membuat mata Reno terkena peluru yang ada dengan cepat ditutupi oleh reruntuhan besar maupun kecil. Menenggelamkan nya di balik reruntuhan itu dan menutup matanya untuk terakhir kali.


"Hanya karena ramalan keluargamu aku harus disingkirkan, jadi jangan salahkan aku untuk berbuat jahat seperti ini kepadaku Dad. Karena aku hanya seorang anak yang menginginkan kasih sayang dan berakhir dengan kebencian" senyum Luna miris dan berjalan menjauh dari gedung yang mulai runtuh karena ledakan itu.


Dengan langkah kakinya yang santai, Luna sesekali menoleh ke sekelilingnya untuk mencari kedua orang yang tersisa yaitu Lina Luxury dan juga Melli Luxury. Agar ia bisa mengakhiri kerja kerasnya hari ini dengan ketakutan dan juga darah mereka.


Hingga matanya mendapatkan sesosok wanita yang sedang duduk di atas tanah. Dengan tas merk channel yang di biarkan jatuh ke tanah. Dengan sosoknya yang ketakutan, beberapa orang mencoba menenangkan nya.


Namun sayangnya berbeda dengan Luna yang ingin menyelesaikan masalahnya dengan orang itu secepatnya. Sehingga membuatnya berjalan mendekat ke arah waniat tersebut. Sambil mendengarkan gumaman kecil ketakutan nya.


"Ti-tidak ini tidak bisa terjadi ini tidak bisa terjadi, seharusnya hidupku baik-baik saja kenapa bisa menjasi seperti ini? A-aku harus menelpon Leon dan meminta bantuannya. Ya benar Leon adalah tunangan ku benar" semangat Lina dan memgambil tas yang ada di dekatnya.


Mencoba mencari sebuah telepon genggam yang sering ia bawa untuk meminta bantuan kepada orang yang sangat ia sayangi. Namun sayangnya tidak menemukan sama sekali barang kecil yang sangat ia perlukan saat ini. Hingga sebuah handphone dijulurkan ke arahnya dan membuat Lina mengambil handphone tersebut sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak, aku pinjam dulu ya" senyum manis Lina sambil menutup matanya sebentar dan baru menyadari bahwa handphone yang tadi ia coba ambil sekarang tidak ada di tangannya. Membuat matanya yang tertutup perlahan-lahan terbuka dan terkejut dengan orang yang ada di belakangnya.

__ADS_1


Dengan keterkejutan yang hampir membuatnya syok, Lina yang ingin berteriak dengan cepat ditutupi mulutnya dengan sebuah kain dan membawa Lina ke tempat sepi yang tidak banyak dilihat oleh orang-orang.


"Ehmmmmm, kmmmmmmm"


"Aku tau kamu terkejut dengan kehadiranku nona Lina, tapi saya ingin menyelesaikan masalah kita saat ini di sebuah tempat dulu. Jadi tolong jangan bergerak sebelum saya tidak habis pikir menggunakan senjata saya saat ini" jelas Luna sambil memperlihatkan sebuah pistol yang ada di sakunya.


Membuat Lina yang melihatnya ketakutan dan tidak bisa memberikan perlawanan lagi. Mengikuti wanita yang datang tiba-tiba itu sambil sesekali menoleh ke arah belakang. Dimana orang-orang yang menemaninya tadi sedang mencarinya dan tidak bisa mendengar teriakannya sama sekali.


"Ehmmm!! ehmmmm!!!" teriak Lina sambil mencoba mengeluarkan gumpalan kain yang ada di dalam mulutnya saat ini. Hingga tidak terlalu lama kemudian Lina dibawa ke arah pepohonan yang rindang di dekat sana. Dengan kebaikan hatinya, Luna mengeluarkan gumpalan kain yang ada di mulut Lina dan membiarkan Lina itu berteriak sesukanya.


"Apa yang kau lakukan kepadaku Luna! apa kau tidak tau aku siapa, aku Lina Luxury seorang pewaris asli yang merupakan tunangan dari Leonex Martin!" teriak Lina yang mencoba mengancam dengan kedudukannya tapi sayangnya bukannya ketakutan hanya ada tawa yang keluar dari mulut Luna.


"Hahahaha, Tunangan katamu? apa kau benar-benar mengganggap dirimu sebagai tunangan Leon? apa kau memiliki kualifikasi yang bagus?" tawa Luna sambil mengejek kepercayaan diri Lina.


"Tentu saja ada, aku terlahir sebagai seorang konglomerat dan tentunya aku adalah wanita berpendidikan dengan kesehatan yang sempurna" Jelas Luna sambil menyombongkan dirinya.


Hingga tidak lama kemudian, kesombongan yang ada pada dirinya menghilang dan berganti dengan ketakutan. Saat matanya melihat selembar kertas yang memiliki sebuah cap dari rumah sakit. Dimana selembar kertas itu memiliki keterangan bahwa pasiennya memiliki penyakit sakit jiwa.


"Lihat apa yang ku bawa untukmu Lina, bukankah ini kertas yang sangat bagus. Dengan kata-kata yang mengatakan bahwa seorang Lina Luxury pernah mengalami sakit jiwa yang parah. Bahkan harus dirawat inap di sebuah rumah sakit ternama di wilayah Canada" jelas Luna yang mengetahui kelemahan Lina.


"I-ini a-aku"


"Daripada itu kenapa kau tidak bermain dengan hal ini saja" senyum Luna sambil mengeluarkan sebuah cairan merah yang membuat Lina terjatuh dan ketakutan. Dimana alam sadarnya saat ini mencoba bangkit saat melihat darah dan juga beberapa kelopak bunga yang melambangkan kematian itu ada. Membuat rasa takut yang sebelumnya disembuhkan kembali hadir.


'Sesuatu yang fatal bagi orang pengidam sakit jiwa adalah membangkitkan kembali ketakutan nya yaitu alasan orang tersebut menjadi gila' ucap Luna dalam hati sambil melihat Lina yang mulai menggila dihadapannya.



🔫Oh yeah akhirnya Update juga huhuhu, akhirnya Reno mati dan Lina gila! Tapi masih ada satu orang lagi bukan. Oleh karena itu mari kita liat kelanjutan nya jika likenya mencapai 1000! Dan juga jangan lupa mampir ke novel saya yang berjudul Lady Killer's ya.


Sekian terimakasih, Mata Ne~

__ADS_1


__ADS_2