
Tit....tit.....tit...tit....tit....
Bunyi suara detak jantung itu menggema di ruangan bernuansa putih nan bersih. Ditemani dengan obat dan infus, seorang wanita kini sedang berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit itu.
Tubuhnya yang biasanya dipenuhi darah milik lawan kini berubah menjadi darah miliknya sendiri. Serpihan-serpihan kaca memenuhi tubuh dari bagian tangan hingga punggungnya. Dibantu dengan obat bius, dia terlelap dalam tidur nya. Tanpa orang mengetahui bahwa wanita itu sedang bermimpi dan melihat sesuatu di dalam bayang nya.
"I..ini dimana?" pikir Luna sambil menoleh ke arah kanan dan kiri.
Ia tidak takut sama sekali tentang keberadaannya sekarang. Hanya saja dia bingung dirinya berada di mana sekarang. Dimana saat ini dirinya hanya sendiri di kegelapan dan kabut-kabut putih menjulang. Berdiri di tengah-tengah dan tidak tau akan lingkungan yang mungkin tidak akan berujung.
"Ha .."
"Mom....."
"Mom....."
Luna menoleh ke sekelilingnya, suara itu adalah suara kedua anaknya. Suara Navin dan Laura yang merupakan kesayangan nya. Dia bisa mendengarnya, mendengar di ruangan ini.
"Navin.... Laura.... apa itu kalian?" tanya Luna yang tidak bisa melihat apapun selain kegelapan dan kabut.
Matanya memandang ke sekeliling, hingga akhirnya matanya menemukan tetesan darah di dekatnya. Tetesan darah itu segar dan segar membuatnya mendekat ke arah datangnya darah lalu mengikutinya. Sampai ia melihat kedua anaknya berdarahan di depannya.
Mereka di penuhi darah dan di depannya terlihat seorang wanita yang memukul mereka, itu adalah Lina. Wanita itu adalah Lina Luxury, saudara perempuan nya dan merupakan kembarannya.
"Lihat ini Luna, aku akan membunuh anakmu aku akan membunuh mereka" teriak Luna yang mulai memukul Navin dan Laura.
"Mom...." panggil Laura sedih.
Tangan kecilnya itu ingin menggapai tangan Luna, tetapi sebuah tali cambuk mengenai tangannya. Membuat warna kulitnya membiru karena kesakitan.
"Mom.... hiks hiks .." tangis Laura yang membuat Luna dengan cepat mempercepat langkahnya. Luna ingin menangkap tangan anaknya namun sayang tubuh itu menghilang di hadapannya.
Membuat nafasnya tercekat dan jantungnya berdetak dengan cepat. Bahkan kepalanya merasakan rasa pusing saat melihat anak-anak nya diperlakukan seperti itu.
"Arghhhhh hentikan!!!!" teriak Luna yang tidak ingin melihat kesedihan apapun dari anaknya.
Teriakannya mengencang dan membuat ia tersadar dan menoleh ke arah kanan kiri. Tempatnya berada sekarang bukan lagi tempat gelap yang dipenuhi kabut melainkan sebuah tempat yang terang dipenuhi dengan warna putih nan cerah.
__ADS_1
"Ahhh cepat berikan obat bius lagi" teriak suster yang melihat pasiennya sadar.
"Ini dimana?" tanya Luna dingin yang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya langsung menjawab.
"Ini rumah sakit kemiliteran tersembunyi milik klan singa, nona" jelas suster yang membuat Luna mengernyit.
Melihat ke arah kanan kiri kembali dan dengan cepat bangkit dari tempat tidur itu. Membuat orang-orang yang menyiapkan obat bius terkejut.
"Tunggu nona, luka anda..."
"Aku akan pergi" dingin Luna yang dengan cepat pergi dan tidak mempedulikan orang-orang yang mengejarnya.
Luna menguatkan ikatan perban miliknya, berjalan keluar dari ruang perawatan dan membiarkan orang-orang melihat darahnya berceceran, yang Luna pedulikan saat ini adalah kedua anaknya Navin dan Laura.
Membuat dirinya tidak mempedulikan sama sekali luka miliknya. Berjalan dan mencari kedua anaknya dan menatap sekelilingnya. Ini adalah musim dingin, suhu dingin yang ada jelas membuat orang-orang kedinginan. Tapi tidak untuk Luna yang berjalan tanpa alas kaki dan mendekat ke arah orang-orang yang ramai. Dia mendekat ke arah seorang laki-laki dengan baju hitam itu dan menanyakan kedua anaknya dengan ekspresi dinginnya.
"Dimana kedua anak itu?" tanya Luna dingin.
"katakan padaku dimana mereka" tekan Luna yang tidak ingin basa basi lagi.
"Di sana" tunjuk laki-laki itu ke arah pohon tinggi yang terlihat dari kejauhan. Membuat Luna yang melihatnya dengan cepat melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah pohon tinggi itu.
Di sana katanya menangkap sesosok laki-laki dewasa dan dua anak kecil. Mereka memiliki ekspresi serius yang sama bahkan bisa dibilang seiras. Bahkan jika orang-orang melihatnya sekilas juga sudah tau bahwa ketiga orang itu memiliki hubungan darah.
"Navin... Laura...." panggil Luna pelan membuat keseriusan kedua anak itu pecah dan langsung menoleh ke arah suara berasal.
Mata mereka bertiga saling bertatapan, bahkan ada sebuah keterkejutan di mata anak-anak itu saat melihat kondisi Luna.
"Mom..." panggil Laura yang langsung melepaskan laptop nya dan berlari ke arah ibunya. Navin yang melihatnya juga ikut berlari dan melepaskan pekerjannya.
"Mom... kenapa mom ada di sini?" tanya Laura khawatir saat melihat ibunya datang dipenuhi dengan darah yang sedikit menetes.
"mommy.... kyaaaaa" terkejut Luna yang tubuhnya diangkat oleh kedua tangan yang kokoh.
"Leon apa yang kamu lakukan?" tanya Luna terkejut saat dirinya sudah berada di dalam pelukan milik Leon.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa menjaga kesehatan mu sebentar saja? bahkan cobalah untuk menjaga tubuhmu Luna"jelas Leon yang tidak peduli dengan tatapan dingin Luna.
Navin yang melihat tingkah laku ayahnya menyadari bahwa ibunya datang tanpa alas kaki. Dimana kaki cantik nan putih itu sekarang sedikit membiru karena kedinginan.
"Mom, apa mom kesini buru-buru?" tanya Navin khawatir.
"I.. itu"
"Baiklah kalau mom tidak ingin menjawab aku dan Laura akan kembali melakukan kerja sama" potong Navin yang membuat Luna hanya bisa pasrah.
"Mom... mom khawatir dan juga akhiri kerja sama kalian" jelas Luna.
"Mengakhiri maksud mom?"
"Mommy mohon kepada kalian berdua berhenti bekerja sama untuk mencari kebenaran dan biarkan mom sendiri yang menyelesaikan nya"
"Tapi mom kita tidak bisa berhenti bekerja sama. Kami tidak ingin mom tersakiti lagi" ucap Laura dan Navin bersamaan. Membuat Laura yang mendengarkan nya mengepalkan tangan miliknya dan mengeluarkan senyum tipisnya.
Air matanya keluar tanpa ia sadari, bahkan mata yang dulunya tajam penuh dengan kesedihan.
"Mommy mohon, jika kalian tidak berhenti bukan hanya mom yang terdiri tapi kalian... mom...mom tidak ingin kalian terluka lebih dan lebih dari ini" ucap Luna yang mengingat mimpinya saat dibius.
"Mom..."
"Apa kalian sudah selesai berbicara?" sela Leon yang menyadari akan kesedihan satu keluarga ini.
"a..aku"
"Tidak perlu banyak bicara lagi Luna kau harus diobati dan untuk kedua anakmu aku akan membantu mereka dan melindungi mereka, karena seharusnya kau tau mereka itu orangnya bagaimana" jelas Leon yang tidak ingin menambah beban kepada Luna.
'Tenang saja Luna, aku tidak akan membiarkan orang-orang menyakitimu lagi bahkan jika itu keluargaku sendiri aku akan tetap melindungi mu' ucap Leon dalam hati.
🔫 Perlindungan apa yang akan diberikan oleh Leon untuk Luna dan kedua anaknya? Dan juga kita akan mendekat ke arah penghancuran jadi siapkan hari kalian teman-teman.
Jangan lupa beri tip yaaa sekian terimakasih, Mata Ne~
__ADS_1