
Luna hanya bisa menatap dingin ke orang kepercayaan ayahnya itu. Tidak dia sangka bahwa asisten ayahnya itu tidak bisa melihat taktik miliknya.
"Sepertinya kau sudah tau bahwa aku menggunakan taktik 9 kotak" ucap Luna dingin.
"Ya taktik 9 kotak dan sepertinya genap" tebak Keiga. Dia tidak bisa bergerak di tempatnya karena lem perekat yang ada di bawahnya tersebut.
"Sayangnya aku memilih ganjil, 1-3-5-7-9" smirk Luna dan melesatkan peluru milikinya di dekat area tangan milik Keiga.
"Kau sengaja meleset bukan" dingin Keiga dan melihat tangannya sudah tergores lalu mengeluarkan darah segar.
"Sebenarnya aku ingin bertanya terlebih dahulu sebelum menghabisi nyawamu itu" ungkap Luna.
"Hah, kalau begitu saya harus menjawabnya dengan jujur" ucap Keiga menghela nafasnya.
"Kamu menjawab jujur juga tidak bisa membuatmu masuk surga, ingat kau sudah membunuh banyak orang untuk menjalankan rencana pak tua itu" tajam Luna.
"Tidak apa-apa walaupun sedikit itu cukup mengurangi dosa saya yang sudah berumur ini" kekeh Keiga. Kebenaran nya memang tidak mungkin dia mendapatkan yang terbaik saat nyawanya tiada. Karena dia sudah membunuh banyak orang yang tidak bersalah untuk mendapatkan hal yang diinginkan tuannya itu.
"Apa kamu tau barang apa yang diinginkan pak tua itu, sehingga dia menargetkan klan singa?" tanya Luna to the point.
"Sepertinya anda juga mengincar racun itu" smirk Keiga.
"Racun?"
"Kau tau racun yang bukan racun yang sangat langka itu, racun yang hanya ada di abad dulu" jelas Keiga.
"Jangan bilang..."
"Ya racun itu" senyum Keiga.
"Tapi bukankah seharusnya racun itu sudah tidak ada lagi?! apalagi ini sudah bukan abad pertengahan" tukas Luna.
"Sayangnya para ilmuwan ******** itu berhasil membuatnya dan menyimpan nya di suatu tempat yang sangat dirahasiakan" miris Keiga.
__ADS_1
"Dan potongan terakhir itu ada di klan singa, bukan" tebak Luna.
"pfftt hahaha sepertinya anda sudah sangat mengetahui nya. Bukan hanya potongan tetapi mereka juga yang memegang kunci untuk mengambil barang tersebut" tawa Keiga.
"Makanya kalian bekerja sama dengan pemerintahan untuk mendapatkannya terbaru" dingin Luna.
"Oleh karena itulah aku akan membunuhmu!" teriak Keiga yang sudah berhasil melepas sepatunya. Tanpa sebuah alas kaki dia berlari dengan cepat ke arah Luna dan...
Jlebb**
Tangannya menusuk tepat di bagian perut tersebut. Tatapan nya tenang saat menusuk orang. Tidak ada senyuman maupun ekspresi yang ada hanyalah tatapan tenang itu saja.
"Aku sudah mengetahuinya, Keiga" bisik Luna yang menusuk lebih dalam perut Keiga.
"Seperti duga.... an... ku uhuk.." ucap Keiga terpotong-potong, mulutnya mengeluarkan muncratan darah di pindah Luna. Tangannya tidak memegang senjata apapun hanya saja dia berencana untuk mencekik leher milik Luna. Tapi sayangnya Luna yang unggul dengan senjatanya menusuk bagian perutnya.
"Aku tidak sebodoh itu Ga, bahkan jika kau memberikan aku jawaban sekalipun. Aku masih bisa melihat kakimu yang mencoba menarik keluar dari seperti milikmu itu" jelas Luna dingin. Tangannya mencabut pisau belati yang tertancam di perut Keiga. Membiarkan laki; yang itu roboh dengan sendirinya.
"Tidak, aku bukan keturunan klan ular asli" dingin Luna.
"maksud..mu?" bingung Keiga dan menatap Luna. Walaupun mulut dan perutnya mengeluarkan darah dia memiliki sedikit kekuatan untuk berbicara.
"Sayangnya aku adalah keturunan klan Harimau yang kau jaga saat ini" jelas Luna datar.
Luna ingin mendengarkan lagi tanggapan orang lain yang sebelum ajalnya mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Luna ingin melihat penderitaan orang terdekat dari keluarga kandungnya itu menderita. Penderitaan yang akan membuat bebannya terangkat walaupun sedikit saja.
"Mungkinkah... nona Luna Luxury" ucap Keiga dengan nafas yang terengah-engah. Luna memberikan senyuman tipisnya itu ke arah Keiga. Menatap kematian yang sebentar lagi mendekati laki-laki tersebut.
"Ya perempuan yang mereka anggap tidak ada itu akan kembali. Kembali menagih semua hal yang mereka lakukan kepadanya dan membuat mereka menderita dalam genggaman ku" senyum Luna tipis.
"Tapi...mereka... keluarga... kandung... anda" ucap Keiga.
__ADS_1
"Sayangnya tidak ada yang namanya keluarga, kerabat, sahabat maupun teman jika ini berurusan dengan balam dendam ku" dingin Luna. Dia mengeluarkan pistol miliknya dan menodongkan nya tepat di kepala milik Keiga. Tatapan miliknya kosong, tidak ada jiwa di dalamnya.
"Hah... sepertinya.... an...da benar-benar berubah, nona" senyum pasrah Keiga. Dia tidak pernah percaya untuk terakhir kalinya dia akan melihat nona mudanya lagi. Nona muda yang merupakan anak kedua dari atasannya itu. Nona muda yang dari kecil sudah pernah ia lihat. Dimana penderitaan dan penderitaan yang diberikan tuannya itu telah didapatkan oleh anak kecil itu. Tetapi dia dengan sikap acuhnya itu tidak mempedulikan tatapan ketakutan milik anak perempuan itu.
"A..andai saja dulu...sa..sa..ya menolong anda..mu..mungkin anda..tidak akan menjadi...be..begini" ucap Keiga.
"Sayangnya itu dulu dan waktu tidak mungkin diubah, selamat tinggal Ga" ucap Luna dingin dan menarik pelatuknya.
"atau bisa saya bilang Mr.Kei" smirk Luna. Keiga yang mendengar panggilan tersebut hanya bisa tersenyum. Walau darah sudah keluar dari perut miliknya dan tangannya tidak mampu menopang berat tubuh miliknya. Dia bisa merasakan bahwa dia saat ini dalam keadaan ringan dan beban yang ada padanya mulai hilang.
"Selamat...tinggal nona, senang bertemu dengan..anda..lagi dan..."
"senang bisa berakhir di tangan anda" lanjut Keiga. Matanya menatap hangat perempuan yang sudah dewasa itu. Kehangatan terpancar di wajahnya itu, menatap mata perempuan yang dia pikir tidak akan pernah dia lihat malah menjadi mata terakhir yang dia lihat di akhir hidupnya.
Dor***
Luna melepaskan pelatuk miliknya membiarkan peluru yang ada di dalam pistol nya itu menembus kepala milik Keiga. Matanya yang terbuka dan tubuhnya yang langsung terdampar di lantai. Mengatakan padanya bahwa lawannya sudah tiada.
Luna berjalan ke arah Keiga berhati-hati menutup mata milik Keiga dan menatapnya datar. Dia mengenal Keiga dari saat umurnya 5 tahun dan di saat dia sedang dihukum di depan mansion. Dimana saat dirinya kecil itu dia sedang menjalani hukuman dan hanya ada kalimat tertawa dari orang-orang yang melihat nya.
"Selamat tinggal Mr.Kei, ku harap anda menikmati hidup anda di sana" ucap Luna dan mengeluarkan tumbuhan rempah-rempah miliknya. Menebarkan nya ke mayat-mayat tersebut lalu mengambil korek api. Eksperimen ke 50 miliknya bukan hanya lem biasa tetapi sebuah lem yang mudah terbakar karena campuran bahan bakar.
Tuk*** shusshhhhh*
Saat korek api itu ia nyalakan dan ia lemparkan ke arah lem tersebut. Membiarkan api yang mula-mula nya kecil itu menjadi semakin besar. Membawa tas miliknya dan pergi dari tempat kejadian. Menjauh dari kobaran api yang akan memanggil orang-orang di dekat sana.
Dia pergi dengan motor hitam miliknya dan kembali ke mansion. Melewati depan jalan gang sepi tadi dan menatap orang-orang yang ramai karena kebakaran tersebut. Matanya beralih ke pakaian miliknya yang beruntungnya adalah warna hitam. Membuat darah yang mengenainya tidak nampak dan tidak membuat curiga.
"Selamat tinggal" ulang Luna dalam hati.
🔫Uwu Luna sudah menyelesaikan satu dan akan beraksi lagi nih. Jadi makin semangat nulisnya^^
__ADS_1