
Laura yang mendengar perkataan milik kakaknya dengan cepat mengganguk pelan. Dikarenakan apapun yang dikatakan kakaknya memang benar. Terutama kalimat yang menemukan paman Felix adalah mereka bukan ibunya.
Apalagi saat ia mengingat kenangan 5 tahun yang lalu, terutama saat ia berumur 3 tahun. Dimana saat itu ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam mansion. Membuat mansion yang biasanya damai itu penuh dengan ketenanggan yang abadi.
Seakan-akan mengatakan bahwa badai akan datang di tempat mereka. Dengan suara peluru yang di masukkan ke dalam senjata. Suara tembakan terdengar di dalam milik mereka.
Suara ringisan kesakitan itu menggema di ruangan batita miliknya. Membuat mata kecilnya perlahan terbuka dan sesekali mencoba menoleh. Dimana di saat ia menoleh ke samping ia melihat ibunya memegang pistol bewarna silver.
Asap yang keluar dari pistol itu menghiasi pemandangan spektakuler yang ada di dalam kamarnya. Dengan percikan darah mengenai permukaan wajah kecilnya ia menatap ibunya terkejut.
Bukan suara tangisan yang menggema di ruangan itu melainkan suara tawa anak kecil. Membuat wajah dingin ibunya menjadi releks saat melihat bahwa kedua anaknya tidak menangis melainkan tertawa kecil.
Ditemani gerakan tepuk tangan kakaknya yang polos. Hari itu merupakan hari pertama kami melihat pembunuhan di dekat kami. Membuat hari-hari kekanakan polos itu berubah menjadi lebih ekstrem.
Namun tidak membuat sisi anak-anak kami hilang. Walaupun kami mencoba melupakan kejadian tersebut. Itu tidak cukup membuat kami melupakannya melainkan memutar kembali dan mengingat kembali kejadian spektakuler itu.
'Ah, jika ku pikirkan kembali saat aku berumur 3 tahun aku menggangap aksi ibuku merupakan aksi yang ada di dalam buku dongeng. Betapa polosnya aku' pikir Laura yang mengingat bahwa kejadian itu merupakan kejadian pahlawan mengalahkan penjahat.
Dengan ibu yang menjadi tokoh pahlawan dan penyusup itu yang menjadi tokoh penjahat. Namun sayangnya dunia tidak sebaik itu kepada keluarga mereka. Sehingga kejadian itu selalu terjadi berulang kali.
"Laura"
'Itu hari yang menakutkan tapi itu memiliki kenangannya masing-masing'
"Laura"
'Ah benar, kenangan'
"Laura!"
"Ah ya, ada apa kak? kenapa kau berteriak di samping terlingaku?" terkejut Laura sambil menggosok telinga miliknya.
"Aku sudah memanggilmu berulang kali, apa kau tidak mendengarku?"
"Ah, maafkan aku kak. Hanya saja aku mengingat kenangan kita" jelas Laura sambil tersenyum manis. Membuat Navin yang melihatnya menatap heran.
__ADS_1
"Kenangan yang mana?"
"Kenangan 5 tahun yang lalu"
"Maksudmu kejadiaan penyusup itu"
"Yap, kejadian yang membuat ibu mendapatkan julukan peluru pembunuh" ucap Laura yang mengingat asal mula salah satu julukan ibunya di Inggris.
"Salah satu kejadian yang paling mengesankan buat kita, bukan" lanjut Laura yang diangguki oleh Navin.
Dimana saat itu ia juga menggangap kejadian 5 tahun yang lalu cukup mengesankan. Bahkan sampai sekarang tidak pernah melupakan bagaimana kerennya ibunya saat itu.
"Ngomong-ngomong kenapa kakak memanggilku tadi?" tanya Laura bingung.
Membuat Navin yang melihatnya memasukkan senjata miliknya lalu menatap ke arah Felix yang ada di sebrang sana. Dengan tatapan santai dan juga tenang Navin menggengam tas hitam kecilnya.
"Kita harus menyeret kedua orang yang ada di sana untuk masuk ke dalam mansion" jelas Navin yang membuat Laura menoleh ke arah tatapan kakaknya berada.
"Tunggu, bukankah tadi hanya ada satu orang?" terkejut Laura yang melhat ada orang lain sedang terbaring lemah di lapangan hijau mansionnya.
Dimana tas yang ada di tangan kanannya berisikan senjata khusus yang memiliki peluru bius di dalamnya. Senjata ini dirancang oleh neneknya dan dihadiahkan saat ulang tahunnya yang ke 5 saat itu.
Dikarenakan neneknya tidak ingin mereka terluka saat ada penyusup masuk ke kawasan tempat tinggal mereka. Walau mansion di negara inggris tepatnya di ibukota london itu terbilang ketat dan juga aman.
Itu tidak membuat keluarga mereka melonggarkan kewaspadaan mereka terhadap musuh. Terutama ada kalimat yang mengatakan bahwa musuh bisa berasal dari orang terdekat. Sehingga mereka harus siap sedia dengan semua hal yang akan terjadi kedepannya nanti.
'Akhirnya kamu berguna juga' pikir Navin tenang.
Laura yang mendengar maksud kakaknya hanya bisa terganga lalu mendengus kesal. Terutama saat mengetahui bahwa ada musuh berhasil masuk ke dalam tempat tinggal mereka saat ini.
"Bagaimana bisa seseorang berhasil masuk ke dalam mansion? bukankah aku sudah menghidupkan semua sistem keamanan yang ada? atau jangan-jangan?! ah menyebalkan" ucap Laura kesal.
"Laura, apa yang kau lakukan? cepat ke sini dan bantu aku menyeret kedua orang ini" ulang Navin yang melihat adik perempuannya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
__ADS_1
Laura yang mendengar panggilan kakaknya dengan cepat merapikan senjata miliknya. Berjalan ke arah kakaknya dan dengan cepat menyusul langkah kakinya yang tertinggal.
"Biar aku saja yang menyeret penyusup itu dan kakak seret saja paman Felix" ucap Laura menawarkan bantuan mliknya. Navin yang mendengarnya hanya mengganguk dan berjalan ke arah laki-laki yang diikat.
Dan dengan cepat mendorong laki-laki itu ke tanah. Mengambil salah satu kakinya dan mencoba menyeret laki-laki tersebut. Felix yang mengetahui maksud dari gerakan Navin dengan cepat berteriak dan melepaskan genggaman di kakinya.
"Lepaskan Navin ah maksudku tuan muda, cepat lepaskan tanganmu dari kakiku, biarkan aku berjalan sendiri aku berjanji tidak akan kabur!" teriak Felix yang merasakan malu.
Terutama jika orang-orang yang ada di angkatan militer melihat keadaannya saat ini. Maka sudah dipastikan dia tidak memiliki wajah lagi untuk berdiri di pangkalan kemiliteran nanti.
'Ah, kenapa aku harus sesial ini?!' pikir Felix yang mencoba menahan malu.
Navin yang mendengar permintaan milik Felix dengan santai melepaskan pegangannya. Membiarkan laki-laki itu berjalan dengan kakinya sendiri.
"Kalau begitu cepatlah, adikku sudah berada di depan" ucap Navin sambil memegang salah satu ujung tali milik Felix. Membuat Felix yang tadinya terlihat seperti barang rongsokan berubah menjadi hewan peliharaan milik majikan.
Sedangkan untuk Felix yang mendengarnya dengan cepat berdiri dan berjalan mengikuti arahan Navin. Tanpa berhenti menatap ke arah depannya. Dimana saat ini ada seseorang dengan pakaian kamuflasenya sedang diseret dengan kasar di tanah hijau tersebut.
'Beruntung aku tidak di seret seperti itu' pikir Felix yang merasakan malu jika ia diseret seperti orang yang ada di hadapannya saat ini.
Navin yang mendengar hembusan nafas lega dari orang yang ada di belakangnya tidak sengaja mengeluarkan senyum kecilnya. Memegang tali itu kuat-kuat dan membawa Felix ke mansion secepatnya,
"Apa yang kamu lakukan paman? kenapa jalanmu lebih lambat dari orang yang ada di depan, apa paman ingin aku seret seperti yang ada di depan?!" tanya Navin yang membuat Felix yang mendengarnya dengan cepat mempercepat lagkah kaki miliknya.
"Terimakasih atas kebaikan anda, tuan muda" tolah Felix cepat.
Sehingga membuat Navin yang mendengarnya terkekeh kecil dan mempercepat langkah kakinya. Agar tidak ketinggalan langkah kaki adiknya saat ini.
Dimana ia juga mengetahui bahwa adik yang ada di depannya saat ini tidak sabar untuk menyudutkan penyusup yang masuk ke dalam mansion milik keluarganya.
'Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang cukup menyenangkan' pikir Navin tenang.
🔫 Jangan lupa berikan like, comment, dan juga TIPnya yaa agar sang penulis semakin semangat dalam berkarya.
__ADS_1
🔫 Sekian terimakasih and sayonara~