My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 52 : Dejavu


__ADS_3

Cup


Luna mencium Leon tepat di bibir laki-laki itu. Ciuman dalam dengan mulut Leon yang terbuka memudahkan Luna memasuki Rongga mulut milik Leon. Luna dengan lembutnya memindahkan permen vanila yang sebelumnya dia **** dan pindahkan ke dalam mulut Leon. Mungkin ini sedikit menjijikan bagi orang yang melihatnya.


Hanya saja Luna tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas perbuatan laki-laki yang ada di bawahnya. Laki-laki yang menciumnya dengan lembut dan manis tapi meninggalkan nya karena kesalahpahaman. Untuk sekarang dia akan memberikan ciuman yang lembut dan diakhir dengan perkataan sinis maupun tamparan.


Cup


Ciuman itu berakhir dengan senyuman Luna dan tangan Luna terangkat pelan. Sebuah tangan yang menampar pipi kanan Leon sedikit keras. Sedikit memerah tapi cukup membuat Luna bangga akan tanda itu.


"Ups sepertinya tadi saya melihat nyamuk" ucap Luna tanpa dosa. Dirinya berdiri dari tempat duduknya yaitu tubuh Leon. Matanya dengan tajam menatap mata gelap yang bewarna kecoklatan merah. Mata yang mampu membuat semua orang terhipnotis. Dimana dulu Luna termasuk di bagian orang-orang itu.


Tetapi untuk kali ini dia cukup membalaskan 1% dari semua pembalasannya untuk Leon. Ciuman yang menggairahkan dan diakhiri tamparan yang pernah dia dapatkan dulu.


"Saya permisi tuan" senyum dingin Luna meninggalkan Leon yang tidak bisa bergerak karena beberapa titik akupuntur nya dihentikan oleh Luna. Walau tubuh Leon Tidak bisa bergerak tapi matanya melirik dan menatap langkah tegas milik perempuan yang berani-beraninya memberikan permen vanila di dalam mulutnya dengan cara yang seperti itu.


Tangan kanan Leon datang dengan tergesa-gesa. Febri sudah lama bersembunyi di balik beberapa kayu dan menunggu waktu yang tepat. Waktu dimana perempuan yang membuat temannya tertarik itu pergi. Sayangnya jika Febri berpikir temannya akan aman saja maka jawabannya tidak. Dia harus menyaksikan gerakan erotis dan sedikit bergairah secara langsung. Bahkan dia harus menahan semua libidonya.


"Apa aku bantu kamu melepaskan titik ini atau tidak?" tanya Febri sambil bercanda. Mata dingin dan tajam Leon menusuk mata milik Febri seketika. Febri yang menerimanya langsung menekan semua titik akupuntur yang telah di kunci dan dibuka kembali.

__ADS_1


"Aku sudah melepas semua titik akupuntur yang dikunci" ungkap Febri yang menyelesaikan tugasnya. Leon meregangkan tubuhnya dan melihat tempat dimana Luna menghilang. Perempuan yang merupakan kelinci kecil yang menarik. Bahkan sekarang membuatnya lebih menarik.


"Kau tau Leon, senyumanmu sangat mengerikan" sindir Febri. Leon menatap tajam Febri, dia tidak suka dirinya dikatakan tersenyum. Senyum bahkan ekspresi yang seperti itu sudah lama mati.


"Bukan maksudku apa kamu tidak merasakan aneh? Sudah 8 tahun ah tidak kurang-lebih sejak kau mengetahui kebenaran tentang Luna Luxury kau tidak pernah tertarik dengan perempuan bahkan berbicara saja tidak" jelas Febri.


"Tapi untuk kali ini kamu tertarik dan jangan lupakan kau mengeluarkan ekspresi yang aku saja sulit percaya saat minat ekspresi mu" lanjut Febri. Sebagai teman Leon yang sudah menemani temannya ini sela bertahun-tahun. Febri telah melihat banyak hal mau itu dari ekspresi bahkan kejadian yang diterima oleh temannya. Apalagi beberapa tahun berlalu Leon menjadi pribadi yang lebih menyeramkan dari yang dulu. Dirinya saja harus membela nafas panjang karena sering lembur atau menemani temannya minum.



Leon yang mendengar penjelasan dari Febri terdiam dan memikirkan semua hal yang beberapa hari ini terjadi. Dari pesta yang membuatnya merasakan ketertarika, tempat Gym yang membuatnya ingin berteman dengan perempuan yang baru dia lihat, pelatihan militer yang membuatnya ingin mengenal lebih dalam, rencana kelinci kecilnya yang membuat bebannya tidak banyak menumpuk. Sampai di sini dua menginginkan perempuan itu ada di dekatnya terus menerus.


Leon dengan pelan menyentuh bibirnya sambil mengecap permen yang dia dapatkan dari pertukaran oleh kelinci kecilnya. Manis, lembut, dan ada sebuah rasa yang pernah di rasakan seperti Dejavu.


"Tidak tapi aku merasakan Dejavu" jawab Leon singkat. Setiap ******* wanita-wanita yang sering menggodanya tidak ada yang seperti ini. ******* manis dan jangan lupakan aroma vanila dari mulutnya. Bau tubuh nya yang beraroma bunga Lily putih.


Membuat Leon teringat akan seorang perempuan yang dia ambil keperawanan. Perempuan yang merupakan kekasihnya dulu. Perempuan yang selalu memberikan senyum polos nan manis. Aroma wangi bunga Lily yang selalu membuat mabuk dalam pelukan perempuan itu.


Perempuan yang selalu sabar menunggunya di apartemen. Mau dia dalam keadaan sadar ataupun mabuk. Masakan yang selalu pas di dalam mulutnya. Sederhana tapi kesederhanaan itulah kebahagiaan yang dia dapatkan dari perempuan nya dulu.

__ADS_1


"Luna luxury, Luna Nypole" pikir Leon. Rasa Dejavu ini sangat mengingatkan nya tentang mantan kekasihnya Luna Luxury. Sebuah dugaan menghampiri pikirannya. Pikiran yang bisa dibilang masuk akal.


'Tunggu apa jangan bilang Luna luxury dan Luna Nypole adalah orang yang sama' duga Leon. Apalagi mengingat Luna Nypole memberikan senyuman polosnya. Senyuman yang sama dengan senyuman yang selalu menyambut nya hanya di Apartemen miliknya.


"Leon apa kamu tidak apa-apa?" bingung Febri yang melihat ekspresi datar milik Leon. Sedangkan Leon terperangkap dengan pikiran dan dugaan miliknya tentang kedua perempuan yang sama-sama berawalan dengan nama Luna. Yang membedakan nya hanyalah nama belakang yaitu marga mereka Marga Luxury dan Marga Nypole.


"Leon!" panggil Febri dan memukul keras pundak Leon. Seketika semua hal yang dipikirkan nya hilang dan kembali fokus dalam pertandingan. Di saat Febri temannya memukul pundaknya. Hanya satu caranya untuk mengetahui semua ini. Dengan cara mencari asal-usul Luna Nypole yang artinya dia harus menyelesaikan pertandingan ini lebih cepat.


"Le.."


"Mari kita selesaikan ini lebih cepat" tegas Leon yang diangguki Oleh Febri. Mereka berlari ke arah labirin lain. Melukai musuh maupun melumpuhkan yang tentunya mereka berdua tidak membuat nyawa terbang. Hanya tetesan darah, teriakan, hawa dingin dan tatapan permusuhan yang menemani mereka berdua saat melawan klan lain. Lalu mengambil bendera yang ada di salah satu tangan mereka.


"Feb setelah pertandingan ini cari semua info tentang Luna Nypole" perintah Leon.


"Baik, siap melaksanakan semua perintah anda" jawab Febri. Febri tidak ingin terlalu banyak bertanya karena dia lebih memilik menggunakan otaknya dan menyimpan tenaganya. Kemungkinan yang ada adalah teman yang merupakan atasannya sedang tertarik dengan perempuan bernama Luna Nypole. Sebuah harapan mungkin akan datang jika teman yang merupakan atasannya ini menemukan cintanya lagi. Dipastikan pekerjaannya akan lebih mudah kedepannya.


'Mari kita berkeja keras dan beristirahat setelah ini' pikir Febri yang tidak tau maksud dan tujuan Leon yang sebenarnya untuk memperintahkan Febri.


"Aku harus mendapatkan jawaban dari rasa Dejavu ini" pikir Leon sambil menyayat pundak musuhnya.

__ADS_1



🔫Keterangan : Dejavu adalah perasaan dimana anda pernah mengalami situasi yang sama persis dengan situasi yang sedang Anda alami sekarang. Seakan-akan ada ingatan masa lampau mengenai situasi saat ini yang mendadak muncul. 


__ADS_2