My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 159 : Rahasia


__ADS_3

Luna yang sedang berdiri di samping mobil militer miliknya, menatap jauh ke arah mereka dengan pandangan yang dingin. Menatap setiap gerak-gerik yang dihasilkan oleh laki-laki itu. di mana saat ini tangan itu sudah menyentuh salah satu telapak tangan milik anaknya yang lain.


Membuat perasaan nya yang buruk bertambah buruk saat melihatnya. Dengan kacamata hitam yang menutupi pandangan nya secara langsung, Luna menyentuh pisau army yang menggantung di pahanya menggoreskan jari telunjuknya.


membiarkan darah menetes di sela-sela jarinya, membuat perasaan benci yang mulai memuncak kembali menjadi tenang. seperti air laut yang menyimpan sebuah gelombang tsunami memperlihatkan permukaan tenang yang dimiliki bibir pantai.


maka seperti itu jugalah Luna saat ini, di mana matanya sedang menatap mereka dengan tenang tanpa emosi orang-orang yang ada di dekatnya tidak mengetahui bahwa tubuhnya lah yang terluka. Luka yang akan membuatnya menahan perasaan marah yang seharusnya tidak dia miliki untuk orang itu.


'Sepertinya kedua anakku sudah terlalu lama bersantai melupakan kemampuan mereka. Apa aku harus minta ayah untuk mengirim mereka kembali ke negara itu?' pikir Luna sambil menyapu jarinya yang terluka menatap dalam ke arah mereka.


Membuat Navin yang sedang berdiri di samping ayahnya sang ibu berpegangan tangan dengan cepat melepaskan tangan ayahnya melemparkannya sejauh-jauhnya mungkin. karena intuisi nya saat ini mengatakan jika dia terlambat melepaskan sentuhan dari orang yang ada di sampingnya hidupnya akan segera terancam.


Oleh karena itu, Navin mengembalikan sikapnya yang tenang mencari-cari keberadaan seseorang yang saat ini juga sedang menatapnya dengan senyum tipis. Walaupun kacamata hitam itu menutupi mata ibunya, itu sama sekali tidak menyembunyikan kedinginan milik ibunya.


Apalagi saat ini Navin dengan jelas melihat senyum milik ibunya, terutama ada tetesan darah mengalir di antara jari-jari nya yang ramping utu. Membuat Navin yang terbiasa dengan pandangan gelap memiliki mata yang tajam dengan jelas menangkap luka tersebut.


'Apa ibu melukai diri ibu lagi?' pikir Navin sambil melihat tempat berdarah yang ada di tangan ibunya.


Laura yang berada di dalam pelukan ayahnya pun juga menyadari bahwa saat ini kakaknya sedang menatap ke arah ibunya. di mana dia juga melihat bahwa ibunya melukai dirinya sendiri lagi. sehingga Laura yang tadinya berada di dalam pelukan ayahnya dengan cepat mendorong ayahnya menjauh menjaga jarak mereka satu meter.


Dia takut, takut membangkitkan sebuah kenangan yang seharusnya dilupakan oleh ibunya dia juga takut ibunya akan melukai dirinya sendiri. Lalu mengubah dirinya kembali seperti 7 tahun yang lalu.


di mana masa itu, dia juga kakaknya melihat ibunya tenggelam dalam sebuah kegelapan yang mengerikan hanya rasa sakitlah yang membuat dirinya menjadi tenang seketika.

__ADS_1


"mengapa kau mendorongku, nak-"


Leon yang ingin berbicara dengan kedua anaknya menyadari bahwa saat ini mereka bukan sedang menatap dirinya melainkan menatap orang lain. Membuat dirinya yang melihat hal tersebut mengikuti pandangan mereka menatap seseorang yang saat ini sedang berdiri di depan mobil militer yang memiliki warna kamuflase tersebut.



Dengan tatapan yang tajam, Leon dengan cepat menemukan bahwa tangan orang tersebut terluka. Walaupun luka tersebut sudah dibersihkan dengan tisu, itu tidak membuat Leon mengetahui bahwa tangan wanitanya saat ini sedang terluka..


"Lu-"


Leon yang ingin berjalan mendekat ke arah wanita kesayangannya dengan cepat dihentikan oleh anak laki-lakinya. di mana kini anak tersebut sedang menatapnya dengan tatapan yang dingin seperti biasanya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini Navin? mengapa kau menghentikanku apa kalian berdua tidak melihat bahwa tangan ibu kalian terluka?" tatap Leon kesal. terutama saat melihat anaknya mencoba menghalangi nya mendekat ke arah wanitanya.


"Ya, jika tidak apa kalian ingin membiarkan luka ibu kalian terinfeksi?"


"Cih, bodoh. Kau melakukan hal yang sia-sia, Mr. Martin" decak Navin dingin berbalik menjauh dari ayahnya lalu berjalan menuju para tentara yang sedang bekerja sama untuk melenyapkan kobaran api.


Menyisakan adik perempuan satu-satunya di sana bersama dengan ayahnya. di mana adik perempuannya kini juga memahami maksud dari tindakan juga ucapan dari kakaknya.


"Bodoh? Apa anak itu tahu maksud dari kalimat itu" dingin Leon.


"Dad, aku sarankan kamu menja- ehm tidak, maksudku lebih baik kamu menjaga jarak dari mommy karena aku tidak ingin sesuatu hal yang tidak diharapkan kembali terjadi. Apalagi dengan kondisi yang tidak baik seperti ini" jelas Laura demi kebaikan ayahnya sambil menghitung pro-kontra milik ayahnya.

__ADS_1


Membuat Leon yang mendengar penjelasan anak perempuannya terdiam, bingung karena tidak mengetahui maksud dari ucapan mereka berdua. terutama anak perempuannya yang kembali menekankan kalimat 'Perpisahan' membuat perasaan nya menjadi tidak nyaman.


"Kau-"


"Pikirkanlah itu, Dad. Aku akan pergi menyusul kakakku di sana" tunjuk Laura yang dengan cepat pergi meninggalkan ayahnya sendirian di sana, ditemani dengan kobaran angin panas yang berasal dari mansion yang terbakar.


di mana pikiran Leon kini mulai berpindah tempat memikirkan maksud dari kalimat kedua anaknya tersebut. Apalagi kalimat yang diucapkan oleh Laura, membuatnya memiliki firasat buruk tentang pengalaman milik Luna, mantan kekasih sekaligus mantan sekretaris nya.


'Apa yang terjadi selama 8 tahun ini? Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui tentang mereka?' pikir Leon bingung mengangkat kepala sendiri.


Menatap wanita yang sedang berdiri tegak di samping mobil militer itu, lalu memandangi setiap inci tubuhnya. di mana selama 8 tahun ini dia juga menyadari bahwa banyak perubahan terjadi tanpa sepengetahuan.


Bahkan kini wanita yang dulunya dia pelihara seperti anak kucing kecil tumbuh menjadi serigala liar besar yang selalu memangsa domba-dombanya. yang mana wanita itu selalu menatap mangsa yang dia inginkan tidak akan pernah membiarkan nya lepas dari genggaman tangannya sekalipun.


seperti seorang pemimpin yang berdiri di puncak Piramida, dia mengubah tangan nya menjadi awan, menutupi tangan sebagai hujan. Membiarkan orang-orang yang baik menerima kebaikan dan orang yang buruk menerima kejahatannya.


'Apa yang harus kulakukan untuk bisa berhasil merebut mu kembali dan membiarkanmu masuk ke dalam sangkar ku lagi, Lun?' gumam Leon yang membiarkan angin menerpa rambutnya yang berwarna cokelat kegelapan itu, sambil menatap wanita yang berada di seberang nya dengan tatapan yang penuh dengan rasa obsesi juga posesif.



🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.


🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~

__ADS_1


__ADS_2