
Dengan suara angin yang similiar, kedua bayangan itu mulai terlintas di setiap lorong yang ada. Sambil menghindari jebakan sampai sinar infra merah yang terpampang di jalur itu.
Kedua bayangan itu dengan cepat menghilang dan saling kejar mengejar. Terutama bayangan besar yang terlihat mengikuti bayangan kecil yang ada di depannya.
Membuat orang-orang yang akan melihatnya tertawa. Karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan saling kejar-kejaran.
Hingga tangan besar itu menangkap pinggang kecil milik bayangan yang ada di depannya. Pelukannya yang lembut melindungi tubuh wanita itu dalam kasih sayangnya yang dalam.
Membuat kedua mata yang berbeda saling menatap. Goresan, maupun luka seakan terpantul di mata mereka. Terutama luka sayatan yang ada di pipinya sangat terlihat jelas.
Mata berwarna biru itu terbuka saat melihatnya dan dengan sapuan yang lembut. Tangan berukuran besar itu menyapu luka yang ada di wajahnya.
Kelembutan dan kebaikannya, membuat hati yang mendingin mulai merasakan rasa kehangatan yang lembut. Seolah-olah arus listrik mengalir ke dalam dirinya.
Luna yang merasakan hal tersebut, menatap Leon dengan tatapan membeku. Dan dengan kasar menghempaskan tangan yang berada di wajahnya.
Mata berwarna hitam itu menatapnya sedalam jurang. Membuat aura dingin terhempas di lorong itu. namun itu tidak menghentikan Leon untuk mendekati nya.
Mengunci sosok wanita itu ke dalam tubuhnya, karena itulah yang ia inginkan. Menenggelamkan orang itu ke dalam dirinya. Karena wanita yang ada di hadapannya adalah miliknya.
"Apa kau pikir aku akan memaafkan semua yang telah kau perbuat padaku, Leon?!" Dingin Luna menatap mata biru itu dengan kejam.
"Ahhh, akhirnya kau memanggil namaku dengan mulutmu itu Luna." Bisik Leon menggoda.
"Hah, apa itu yang kau inginkan? Kalau begitu bisakah kau lepaskan ku. Kau tau aku lelah. Lelah dengan segala tindakan yang kau lakukan padaku."
"Lelah dengan semua kepura-puraan mu itu. Aku lelah Leon! Tolong berhenti, aku sudah melupakan mu, jadi jangan pernah menyentuh atau mencoba mendekati ku lagi." Tekan Luna sambil menatap mata Leon dengan tegas.
__ADS_1
Karena dia tau, sedingin apapun hatinya ia tetaplah seorang manusia. Seorang manusia yang mampu merasakan rasa sakit, sedih dan juga rasa gembira seperti manusia apa adanya.
Walau begitu, harinya tetap bisa merasakan rasa yang bahkan membuatnya ingin tertawa. Dimana masa kecil yang seharusnya dipenuhi dengan kegembiraan dan kesedihan itu diisi dengan kekosongan.
Terutama setiap langkah yang ia ambil ke dalam lorong ini. Membuat ingatan yang seharusnya terkubur di dalam dirinya malah mulai bermunculan.
Dimana dengan setiap langkah yang ia ambil, ia mulai mengingat kenangan yang menyakitkan itu. Seakan ingatan itulah yang seharusnya menjadi miliknya saat ini.
Sebuah ingatan yang telah terkubur sangat lama. Membuat jantung yang tadinya tenang mulai berdegup kencang saat kaki yang mulai melangkah ke setiap lorong memunculkan ingatan yang tidak ia inginkan.
Ini menyakitkan, aku membencinya. Aku tidak menyukainya, aku ingin pergi dari tempat ini. Tapi bagaimana dengan tugas yang diberikan oleh orang-orang kepadaku?
Mereka mempercayai ku untuk menyelesaikan nya. Bahkan jika nyawa sebagai taruhan, aku tetap harus mengerjakan nya. Karena ini tanggung jawabku sebagai bawahan dan sebagai pemimpin untuk orang-orang yang mempercayai diri mereka kepadaku.
Demi orang-orang yang ada di dunia ini. Apapun harus ku lakukan dan demi kedua anakku. Oleh karena itu, Leon lepaskan kedua tanganmu dariku. Aku membencimu, membencimu untuk selama-lamanya.
Aku-
"Kenapa? Bukankah ini sudah jelas, karena hanya sebuah kesalahpahaman. Kau tidak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan masalah yang kita hadapi selama ini."
"Dan apa kau tau, selama tahun-tahun kita merajut benang kasih, kau tidak pernah memberi tau ku Luna, bahwa kau. . . Kau memiliki saudari kembar yang memiliki wajah yang sama denganmu." Tekan Leon sambil menatap diri Luna yang sering menyalahkan kesalahan itu kepada orang lain.
"Kau tidak pernah mengatakannya Luna. Aku juga tau aku menamparmu di saat kemarahan dan rantai perusahaan sedang dalam masalah. Aku juga tau, tapi apa kau pernah memikirkan perasaan di pihak yang lain. Karena bukan hanya kamu saja yang tersakiti Luna."
"Tapi kita semua." Bisik Leon yang mencoba menjelaskan apa yang ia rasakan selama ini.
__ADS_1
Leon tau, bahwa kesalahpahaman ini berasal dari kesalahannya. Tapi kejujuran juga terletak di sini, membuat pihak yang tidak mengetahui nya merasa bersalah atas kejadian tersebut.
Dan Leon juga tau sifat Luna yang sangat sulit dirubah. Dimana sifat ketidakpekaannya itulah yang membuat Luna tidak menyadari apa yang dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Sama seperti seorang atasan yang tidak pernah turun dan mau bertemu dengan bawahannya. Sehingga ia akan menjadi ornag yang tak akan pernah tau apa yang dirasakan oleh karyawan yang ada di bawah tangannya selama ini.
Apa mereka merasa ketidaknyamanan? Apa mereka diasingkan? Atau mereka dijadikan sebagai kambing hitam oleh yang lain?
Tidak ada yang tau apa yang dirasakan mereka, karena orang itu hanya berdiri teguh di posisi nya tanpa menyadari perasaan yang mereka miliki.
"Kau-"
Prok* * prok * * prok* *
Dengan suara tepuk tangan yang keras, Luna dan Leon yang sedang membicarakan masa depan mereka berhenti dan mengalihkan pandangan mereka ke arah suara tepuk tangan itu berasal.
Dimana kedua pasang mata itu dengan jelas melihat sekelompok orang berdiri di sana. Terutama taring hewan yang tidak dikekang itu memperlihatkan keganasan dari binatang tersebut.
Dengusan dan juga geraman mulai terdengar di lorong itu. Dengan senyum smirk, seseorang mulai mengeluarkan suara dingin nya. Seakan memuji semua percakapan yang mereka lakukan selama ini.
"Hei, bukankah ini sangat menarik sekali tuan Leon dan nona Luna."
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~
__ADS_1