
Di tempat lain . . .
Mobil kamuflase itu melaju menuju tempat tujuan. Dengan angin musim dingin yang berhembus, kulit seputih dan sehalus bulu itu menatap pepohonan lebat yang ada d sekitarnya.
Bulu matanya yang lentik memperlihatkan sebuah keanggunan seperti peri kecil yang murni. Dengan wajah dingin seperti potongan giok, ia menghembuskan nafas musim dingin abadi.
Tanpa kehangatan dan tanpa senyuman, ia menatap sekelilingnya dengan tenang tanpa kegugupan sedikitpun. Seakan-akan tujuannya kali ini hanyalah hal biasa dan tidak menyangkut nyawanya sama sekali.
Tidak seperti kedua orang yang saat ini sedang duduk di depan. Dimana gerakan mereka yang tenang berlawanan dengan mata mereka yang gugup.
"Apa kau melihat ada yang mencurigakan, Rangga?" tanya Jiro yang saat ini sedang memegang kemudi mobil kamuflase.
"Aku tidak melihat hal yang mencurigakan, kecuali pepohonan lebat yang menutupi sekitaran jalan saja" jelas Rangga sambil memegang teropang miliknya.
"Kau benar"
"Apa kita tersesat?"
"Tidak mungkin, aku sudah memastikan bahwa jalan yang kita lewati saat ini sama persis seperti yang ku lewati beberapa hari yang lalu"
"Mungkin saja kau memiliki penyakit lupa jalan"
"Kau-"
"Bisakah kalian berhenti berdebat, ini memang jalan yang benar dan coba perhatikan sisi barat kalian, terdapat posko penjaga di sana" sela Luna yang tidak ingin membuang-buang waktu miliknya.
Terutama dalam meladeni sikap kedua mahluk yang ada di depannya saat ini. Dengan nafas yang dingin, ia mengambil pistol dan juga pisau belati yang ada di dekatnya. Memasukkan isi peluru ke dalam pistol tersebut lalu meregangkan otot lengannya.
'Ini terlalu menenangkan' pikir Luna sambil melihat ke arah jendela mobil.
Dimana mobil kamuflase yang dibawa oleh Jiro mulai mendekati manor tua yang ada di sebrang mereka. Manor putih itu terlihat terawat dan juga terjaga rapi, terutama di saat pagar putih yang tadinya tertutup, kini perlahan terbuka.
Memperlihatkan tampilan luar manor sepenuhnya, terutama bendera yang terdapat di puncak manor. Menambah kesan kebangsawanan dan juga kehormatan yang dimiliki oleh sang pemilik tempat tinggal itu.
"Hey, bukankah mereka terlalu mempercayai kita?" bisik Rangga yang melihat para penjaga yang berdiri di manor itu membiarkan mereka masuk tanpa melapor sedikitpun.
"Bukannya mereka tidak mempercayai kita, hanya saja aku sudah meminta izin kepada pemilik manor atau bisa dibilang kerabat bangsawan itu" jelas Jiro yang mengikuti protokol.
__ADS_1
"Silahkan ikuti saya masuk, tuan dan nona" ucap kepala pelayan menghampiri mereka. Membuat Luna, Rangga dan juga Jiro mengikuti langkah laki-laki paruh baya tersebut.
Dimana saat mereka memasuki manor tersebut, terlihat banyak barang antik terpajang di sana. Mulai dari lukisan hingga guci besar berumur 200 tahun. Menjadikan penampilan manor tua itu terlihat mahal dan juga elegan.
Sehingga membuat mereka merasa bahwa yang mereka datangi bukanlah rumah bangsawan, melainkan sebuah museum barang antik terkenal.
"Silahkan duduk para tamu terhomat, saya akan memanggil orang yang berhubungan dengan manor ini" jelas kepala pelayan sopan.
Dengan dua kali tepuk tangan yang keras, ruang yang tadinya kosong kini dipenuhi dengan para pelayan. Meja tamu yang tadinya kosong itu mulai dipenuhi dengan camilan ringan dan juga teh hitam import.
Menjadikan ruang yang tadinya santai menjadi ruangan ala bangsawan berkelas. Terutama para pelayan yang sudah siap untuk melayani para tamu yang datang ke manor tersebut
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu" lanjut kepala pelayan sambil meninggalkan ruangan tersebut.
"Sekarang aku tau maksud dari perkataanmu malam itu" gumam Rangga sambil mencium aroma teh hitam di cangkirnya. Terutama aroma teh hitam pekat yang menggugah indra penciuman miliknya.
"Apa kau pikir aku berbohong denganmu, hah?!" bisik Jiro sambil mengalihkan pandangan matanya ke pintu.
Dimana pintu yang tadinya tertutup kini perlahan terbuka, menampilkan sesosok laki-laki menawan yang didampingi oleh kepala pelayan tadi.
"Kalau begitu maaf merepotkan anda, tuan Martin" sopan Jiro sambil menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya.
Membuat Luna yang tadinya menunduk perlahan mendongak, di saat telingannya yang seputih salju mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jiro. Mata hitam yang tadinya tenang seperti kolam perlahan ditutupi oleh kabut yang tebal.
Di saat mata itu melihat seseorang yang seharusnya ia tak lihat dalam beberapa hari kedepan.
"Kenapa bisa kau yang ada di sini, Leon?!" dingin Luna sambil menatap mata biru yang ia kenal.
"Apa kau mengenal tuan Martin, Luna?" tanya Jiro saat melihat pemandangan aneh diantara kedua orang yang ada di dekatnya.
"Tidak, aku tidak mengenalnya" ucap Luna dingin membuat Jiro yang mendengarnya mengangguk dan mengganggap ucapan Luna sebelumnya hanyalah sebuah ilusi semata. Tanpa mengetahui bahwa orang yang ia bicarakan saat ini sedang tersenyum tipis.
"Kalau begitu bisakah kita mulai pembicaran kita, Jenderal muda" senyum tipis Leon.
"Tentu saja tuan Martin dan juga anda bisa memanggil saya dengan sebutan Jiro, seperti mereka berdua memanggil saya" jelas Jiro yang membutuhkan informasi dari orang yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
"Kalau begitu panggil saja saya Leon dan terimakasih telah memberikan kehormatan kepada saya untuk membantu kalian" senyum Leon sambil menatap Luna terus menerus.
"Baiklah kalau begitu maaf menggangu anda Leon, karena saat ini kami sedang membutuhkan sebuah informasi yang berkaitan dengan kematian bibi anda atau bisa dibilang informasi yang berada di tangan nyonya Lucia"
"Sa-"
"Tunggu sebentar, apa yang kamu maksud Jiro? apa orang yang kau sebut dan kita cari itu adalah bibi dari orang ini?!" sela Rangga sambil menunjuk ke arah laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Tolong jaga kesopanan anda tuan Rangga, orang yang ada tunjuk saat ini merupakan patriak dan pemilik manor yang anda kunjungi" ucap kepala pelayan yang tidak menyukai sikap salah satu tamunya.
Terutama di saat orang yang mereka hormati di ejek di hadapan mereka.
"Kau-"
"Kakak, kita di sini untuk membahas tentang potongan peta bukan tentang hubungan semata. Jadi tolong jaga sikapmu" dingin Luna yang tidak ingin membuang-buang waktunya dengan mantan bosnya.
"Cih"
"Maaf atas ketidaksopanan teman saya Leon, karena sepertinya ia salah paham terhadap anda" ucap Jiro tidak nyaman.
"Tidak apa-apa Jiro, mungkin tuan Rangga- a tidak maksud saya Rangga tidak nyaman mengobrol dengan saya. Oleh karena itu, sepertinya wanita yang ada di samping anda bisa mengobrol dengan saya berduaan tentang masalah itu" ucap Leon sopan.
Dengan senyum tipis yang menawan, mata biru lautnya mulai menatap mata hitam yang berkabut itu dengan penuh keposesifan.
"Kau-"
"Baiklah, kalau begitu dimana saya harus berbicara dengan anda tuan Martin?" sela Luna yang mengetahui bahwa ia tidak bisa berbicara baik-baik dengan laki-laki yang ada di hadapanya saat ini.
"Silahkan ikuti saya Luna dan juga bisakah anda berhenti memanggil saya tuan Martin?" tatap Leon yang tidak nyaman dipanggil dengan sebutan 'tuan' oleh wanitanya.
"Maaf tuan, ini merupakan kebiasaan saya saat memanggil seseorang yang lebih tua dari saya" tegas Luna yang tidak ingin memanggil nama depannya. Karena bagi Luna sudah cukup dirinya lalai dalam menyebut namanya tadi.
"Baiklah, mari kita pergi ke ruangan yang sudah disediakan oleh para pelayanku" ucap Leon sambil menggengam salah satu tangan milik Luna dan meninggalkan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu dengan penuh tanda tanya.
🔫Leon mulai aktif ya bund. . . Jadi jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~