My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 51 : Erotis


__ADS_3

"Ku terima serangan kalian" Smirk Luna dan di saat itu pulalah semua sarangan datang untuk menyerang Luna. Tonjokan yang diarahkan ke wajah Luna selalu dihindari.


"Sial kenapa tidak kena!" geram laki-laki yang mencoba menonjok mengenai Luna tapi sayangnya keahlian Luna dalam menangkis serangan musuh sangatlah baik.


"Apa ini saja kemampuanmu?" remeh Luna. Bahkan kucing saja lebih baik dari orang yang ada di hadapannya.


"Serang dia bersama!" perintah laki-laki yang lainnya. Di saat itulah Serangan yang mencoba memukulnya ditangkis. Tangan Luna menggengam tangan musuh yang ada di sebelah kanannya.


Dengan cepat Luna memutar posisi dan membuat tangan kiri musuh yang dia pegang berada di arah belakang. Musuh yang ada di belakangnya dia tendang dengan keras menggunakan sepatu boot hitamnya.


Dwak


Tendangan kaki Luna tepat mengenai kepala milik orang itu. Di saat itu juga kakinya menekan bagian pinggang orang yang menjadi tamengnya. Membuat musuh yang menjadi tamengnya menunduk dan


Krek


"Ahhhhhh!" teriak laki-laki yang menjadi tamengnya. Luna melepas genggaman tangannya dan beralih ke orang-orang yang belum dia lukai.


"Sepertinya aku mematahkan tulang orang" ucap Luna polos dan tidak bersalah. Pisau belati yang ada di sakunya dia lepaskan dan mengenai area kulit tangan salah satu dari mereka. Tetesan darah keluar dari tangan orang tersebut dia meringis kesakitan di saat tangannya terluka. Jika perempuan yang melihat hal ini akan khawatir tapi sayangnya Luna melanjutkan aksinya.


Tidak ada suara pistol di ruangan labirin tersebut hanya ada suara patahan tulang yang sudah dilakukan oleh Luna berkali-kali. Dari Tangan, kaki, jari bahkan kepala dia patahkan.


"Ahhhhhh!" teriak yang terakhir kali ketua itu saat Luna mematahkan kepalanya.

__ADS_1


"Astaga aku tidak tau itu menyakitkan" ucap Luna tak berdosa lalu berjalan mengambil bendera yang ada di tangan kanan musuhnya. Bendera klan harimau yang dengan mudahnya dia kalahkan. Luna tidak menyalahi aturan, apalagi di peraturan bertuliskan bahwa tidak boleh membunuh orang. Ingat membunuh dan sekarang dia hanya mematahkan tulang orang yang artinya tidak menyangkut pautkan nyawa bukan?


Luna memasukkan semua bendera yang dia dapatkan ke dalam tas kecilnya. Suara gemerisik dari sekitar Luna membuatnya peka terhadap suara. Dia tau suara yang ada di ruangan ini suara tawa manusia yang sangat dia kenal.


"Jika anda lebih suka mengintip maka intip saja karena saya pikir klan singa sangat suka mengintai terlebih dahulu, bukankah begitu?" lantang Luna. Di sanalah suara tawa berat nan dingin datang dari arah balok-balok kayu yang disusun. Tepuk tangan takjub dia berikan kepada Luna dimana perempuan yang ada dihadapannya bisa mengetahui tempat keberadaannya.


"Hahaha kau memang hebat Nona tapi sayangnya saya tidak ingin berdamai kepada anda" Smirk Leon. Laki-laki yang sedang mengincar klan harimau tapi malah melihat kejadian mengerikan dari tempat persembunyiannya.


"Apa anda punya telinga? saya tidak pernah bilang kita akan berdamai" ucap Luna arrogant. Laki-laki yang ada dihadapannya satu-satunya orang yang membuatnya membenci akan cinta. Dia adalah Leonex Martin, mantan atasannya sekaligus kekasih nya juga. Miris sekali hidupnya dulu yang selalu haus akan cinta dan kasih sayang tapi malah mendapatkan karma.


"cih" decih Luna malas dan berjalan menjauh dari Leon untuk pergi ke labirin lainnya.



"Apa ini sikap ketua klan ular? atau bisa ku sebut nona Luna" Smirk Leon. Langkah kaki Luna berhenti dirinya berbalik menatap laki-laki yang ternyata sudah mengetahui identitas nya.


"Tapi sayangnya saya akan menang nona Luna" dingin Leon dan sebuah bom asap Leon lemparkan ke arah Luna.


"Tunggu.. uhuk" Luna tercekat dia langsung mengambil permen pil yang ada di dalam kantongnya. Asap mengelilinginya dan menutup bayangan laki-laki yang ada di dekatnya. Pil yang Luna makam sudah bekerja sama membuat dirinya tidak akan kehilangan kesadaran di dalam kabut asap yang diciptakan oleh Leon.


Mata Luna tertutup pelan, penglihatan yang minim membuatnya harus menggunakan pendengarannya.


'Arah jam 12 pisau belati' gumam Luna dan menunduk dari posisinya. Pisau belati yang dilemparkan melewati udara dan asap yang menjadi satu dihindari Luna dengan cepat. Luna berjongkok dan merasakan pergerakan dari belakangnya. Sebuah tangan yang ingin mengambil tas kecil yang dia gantungkan di pakaiannya.

__ADS_1


Tangan yang ingin mencapai tas milik Luna yang berisikan bendera yang dia dapatkan. Dengan cepat Luna tarik dengan kasar. Tubuh Leon yang tidak memiliki pondasi yang kokoh tertarik ke arah Luna. Mata yang Luna tutup terbuka, di sanalah Luna membalikkan keadaan. Dia menarik tangan Leon ke arah lantai beton labirin. Dan dia kunci rapat dengan tubuhnya yang dimana Alex berada di bawahnya Luna.


"Sepertinya aku meremehkan mu" Smirk Leon yang berada di bawah Luna. Posisi mereka sangat intim yang dimakan seorang laki-laki sedang di duduki oleh snag perempuan dan dikunci oleh kedua kakinya.


"Sepertinya kau menganggap saya orang yang mudah anda jebak" ucap Luna dingin. Mata nya menggelap dan mengeluarkan aura yang kuat.


"Apa anda merasa tersakiti?" remeh Leon.


"Ya saya merasa tersakiti, sampai-sampai saya akan melakukan hal ini" Dingin Luna. Dia menekan bagian dada milik Leon dengan erotis. Tidak mempedulikan perasaan yang akan bergejolak.


"A..Apa yang kau lakukan?" gugup Leon saat dirinya merasakan gejolak aneh.


"Aku hanya..." ucapan Luna terhenti yang dengan cepat di susul oleh tekanan dari jari-jari tangannya.


Tuk** Tuk** Tuk***


Luna menekan semua titik akupuntur milik Leon dan mengentikan semua gerakan Leon. Tubuh Leon dia buat agar tidak bergerak dan tetap berada di bawahnya. Sesuatu hal yang dia pelajari oleh Joe dan berguna juga di sini.


"Kau!"


"Sepertinya kau harus tau aku siapa dulu tuan Leon" tegas Luna yang memajukan tubuhnya. Matanya menatap mata yang tersembunyi di sela-sela topeng. Wajah yang merupakan wajah dari anak Laki-lakinya Navin. Wajah laki-laki yang akan dia balas tapi untuk kali ini dia akan memberikan hadiah. Sebuah hadiah yang manis dan mungkin menyakitkan untuk Leon.


Untuk kali ini dia menggunakan metode ibunya, metode tidak masuk akal tetapi mampu membuat orang yang menerimanya mabuk. Berpikir itu adalah kenyamanan tapi kebenaran nya itu hanyalah awal dari kehancuran yang dirinya bawa untuk orang yang sedang berada dibawanya.

__ADS_1


Cup



__ADS_2