
Rangga yang mendengar ucapan milik Luna mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Menatap mata hitam wanita itu dengan kesungguhan lalu mulai mengangkat suaranya secara perlahan.
"Apa artinya laki-laki itu mencoba mencari mati?" tanya Rangga tenang.
Auranya yang sangat tenang membuat orang-orang yang ada disekitarnya merasakan kenyamanan. Namun tidak untuk Luna yang berdiri di hadapannya saat ini. Ia sangat mengetahui ketenangan yang dimiliki oleh sang kakak.
Terutama ketenangan yang sering kakaknya gunakan di pasukan kemiliteran. Memberikan rasa nyaman dan juga bahaya secara langsung. Karena seperti padang pasir yang tenang, maka badai besar akan datang di sana.
Membuat padang pasir yang biasanya tenang dipenuhi dengan badai yang sangat berbahaya dan mampu menghancurkan orang-orang yang ada. Menjadikan keluarga Nypole memiliki ciri khas mereka masing-masing.
Tenang namun berbahaya, seperti seekor ular yang memiliki ketenangan dalam mencari mangsa. Menjadikan ketenangan yang ada berubah menjadi marabahaya yang tak berujung. Membuat para mangsa yang tadinya berpikir aman menjadi ketakutan karena bahaya tersebut.
"Hidup atau Mati itu sesuai dengan apa yang akan dia lakukan nanti, kak" jelas Luna yang tidak ingin gegabah dalam bertindak. Karena mengetahui musuh barunya saat ini bukanlah orang biasa.
Melainkan pemilik perusahaan nomor 1 di dunia, pemimpin klan Singa, mantan atasannya dan tentunya ayah dari kedua anaknya saat ini. Sehingga membatasinya dalam bergerak kemanapun.
Apalagi saat Luna mencoba meretas informasi milik orang lain. Ia tidak sengaja menemukan bahwa hampir semua jalur perairan dan juga udara di Mexico city ini dimanupulasi oleh Leon.
Membuatnya akan kesulitan saat melarikan dari negara ini. Dimana jalur perairan dan juga udara ditangani oleh Leon secara langsung. Walaupun ia dulu berhasil pergi meninggalkan kota ini, semua itu tidak luput dari bantuan keluarga Nypole.
Bahkan sampai saat ini Luna tidak akan pernah melupakan kebaikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Terutama ayah, ibu dan juga kakak baptisnya yang selalu ada untuknya saat ia kesulitan.
'Benar apapun keadaannya kita harus tetap tenang'
"Luna"
"Ya, ada apa kak?" tanya Luna tenang.
Matanya yang bewarna hitam menatap kakak laki-lakinya tenang. Menekan amarah dan juga kebencian yang ada menjadi sebuah ketenangan yang indah namun elegan. Membuat Rangga yang melihatnya dengan lembut tersenyum.
Mengangkat tangannya dan meletakkan tangannya itu di atas kepala adiknya. Mengusap pucuk kepala itu lalu menghela nafas lega.
"Tetap berhati-hati Luna dan jangan pernah melupakan orang-orang yang ada di dekatmu" lembut Rangga yang membuat Luna yang mendengarnya tidak bisa menahan tawa.
"Apa kau tidak bisa memikirkan kalimatmu sendiri kak? Hingga membuatmu meniru kalimat ayah" sindir Luna sambil tertawa pelan.
Rangga yang mendengar sindiran halus adiknya hanya bisa mendengus kasar lalu menatap wanita yang ada di hadapannya tajam. Dengan penuh kepercayaan diri Rangga meletakkan kedua tangan miliknya di balik saku celana.
Mengeluarkan senyum smirk yang menawan lalu mengangkat suaranya.
__ADS_1
"Aku tidak meniru kalimat komandan hanya mengigatkanmu agar tidak lupa, paham" tegas Rangga yang membuat Luna yang mendengarnya membalas dengan angkuh dan juga sombong.
"Tenang saja aku sangat memahami maksud dari komandan pengganti saat ini" ucap Luna angkuh dan sombong.
Membuat wajah Rangga yang dipenuhi kepercayaan diri dan juga wibawa runruh seketika. Saat mendengar suara angkuh dan sombong milik adik perempuannya. Dengan sekali tarikan nafas Rangga meneriaki nama adiknya.
Sedangkan Luna yang mendengarnya hanya bisa tertawa dan tertawa mengejek. Berjalan cepat ke kamarnya dan meninggalkan kakak laki-lakinya yang marah.
"Luna lihat saja aku akan membalasmu!" teriak Rangga marah.
"Kalau berani tangkap aku dan pastikan kau memukul kepala adikmu yang manis ini" tawa Luna sambil mengejek laki-laki itu.
"Luna!!!!"
"Hahahaha"
Luna yang mendengar teriakan milik Rangga hanya bisa tertawa dan tertawa. Melepaskan semua amarah dan juga beban yang ada. Dimana saat ini dendam yang dia miliki sudah terselesaikan dan membuat ia mengeluarkan suara tawa yang lembut.
'Sudah lama aku tidak merasakan tawa yang seperti ini' pikir Luna yang sudah lama tidak pernah merasakan tawa ringan.
"Tuan ini informasi yang anda minta saya selediki" jelas asisten Leon sambil menyerahkan informasi yang ia dapatkan.
Leon yang mendengarnya dengan cepat membuka lembaran kertas itu. Membaca semua informasi yang ia dapatkan lalu mengernyitkan dahinya sedikit. Saat mengetahui informasi yang diberikan oleh asistennya ada kekurangan.
"Apa hanya ini saja?" tanya Leon curiga.
"Itu-"
"Aku tidak memakan orang"
"Tapi-"
"Tidak perlu menanyainya seperti itu Leon, karena tidak akan ada yang berubah juga" sela Felix sambil membawa dokumen miliknya.
"Maksudmu?"
"Maksudku sia-sia saja kau bertanya dengan asistenmu tentang informasinya karena yang kudapatkan kurang lebih seperti itu juga. Tangkap ini" jelas Felix melemparkan dokumen yang ia bawa.
__ADS_1
Membuat Leon yang mendengarnya dengan mudah menangkap dokumen itu. Membuka dokumen itu secara perlahan lalu membacanya sexara terliti. Dan menyadari apa yang dikatakan oleh Felix memang benar.
Dimana dokumen yang ada di tangannya saat ini tidak jauh berbeda dari informasi yang diberikan asistennya tadi. Hanya mencangkup beberapa informasi kecil dan tidak terlalu mencangkup informasi besar.
Sehingga membuat informasi yang ada di tangannya saat ini tidak terlalu penting. Bahkan jika ada orang yang melihat informasi ketiga orang ini akan menggangap orang-orang itu tidak berbahaya kecuali Leon.
Leon yang mengetahui siapa mereka sekarang. Tidak hanya Luna namun kedua anaknya juga. Karena bagaimanapun juga kemampuan ketiga orang itu bukanlah kemampuan milik orang biasa.
Kemampuan orang biasa yang bisa membahayakan nyawa seseorang dengan caranya sendiri. Seperti kejadian kali ini. Seorang newscaster (penyiar berita) sedang membawakan berita tentang runtuhnya bangunan perusahaan milik keluarga Luxury.
Dimana kejadian kali ini memakan banyak korban. Bahkan korban itu tidak luput dari sang pemilik perusahaannya sendiri yaitu Reno Luxury.
"Kamu minta seseorang untuk memeriksa apa yang terjadi dengan korban kecelakaan kali ini terutama orang-orang yang bermarga Luxury" perintah Leon sambil menyatukan kedua telapak tangannya tenang.
Membuat asisten yang melihatnya dengan cepat melaksanakan tugas yang diberikan Leon kepadanya. Meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan kedua laki-laki itu membicarakan hal yang lebih mendetail.
"Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku, sehingga kau harus mengusir asistenmu sendiri, Leon?" tanya Felix sambil menatap layar televisi yang saat sedang menyiarkan berita reruntuhan perusahaan Luxury.
"Kau tidak mungkin hanya mendapatkan informasi sekecil ini saja kan, Felix" ucap Leon menatap laki-laki yang ada sebrangnya saat ini.
Membuat Felix yang mendengarnya dengan lembut tersenyum, lalu melemparkan sebuah flasdisk berukuran kecil ke hadapannya. Dengan senyuman lembut Felix menegakkan posisinya saat ini.
"Kau benar dan tentunya aku sudah mencoba mencari informasi ketiga orang itu sampai lelah. Walaupun hanya sedikit, informasi yang kudapatkan lumayan penting untukmu"
"Sedikit? apa IQ mu mulai menurun?"
"IQ ku masih sama Leon, hanya saja informasi yang kita cari saat ini dijaga dengan ketat. Bahkan saking ketatnya aku hanya bisa membuka pertahanan pertama dari ketiga pertahanan yang ada"
"Ketat?"
"Ya sangat ketat. Bahkan saking ketatnya, keamanan milik keluarga Nypole mengalahkan keamanan milik pemerintah itu sendiri" jelas Felix yang juga terkejut saat meretas informasi anggota keluarga Nypole.
Leon yang mendengar penjelasan panjang lebar milik Felix hanya bisa mencibirnya pelan. Menatap layar laptop yang ada di depannya dan membaca informasi dari flasdisk yang diberikan Felix kepadanya.
"Inggris-"
🔫 Hohoho tidak semudah itu Leon sama. Anakmu bukan anak biasa dan wanitamu bukanlah wanita yang lemah seperti biji kesemek lembut. Oleh karena itu jangan lupa support cerita ini dengan cara LIKE, commen dan juga TIP.
__ADS_1
Sekian terimakasih, sayonara!!!