
"Ini-"
Dengan suara sistem yang menyala, serangga tersebut menampilkan sebuah layar yang kini memiliki sosok laki-laki yang sangat dikenali oleh Luna. Terutama mata berwarna kelabu yang kini hanya menampilkan sosok dirinya di sana.
Dengan senyum yang mempesona, orang di dalam layar itu tersenyum ke arah Luna berada, "Lama tidak bertemu, my Queen."
"..."
"Hahaha, kenapa kau hanya diam saja sayang? Apa kau terlalu gugup saat melihat penampilanku atau hatimu saat ini sedang berdetak kencang saat melihat sisi tampanku yang sangat berbeda dari yang dulu?" Goda pria itu.
Membuat Luna yang mendengar memiringkan kepalanya sedikit dan menaikan sebelah alis nya. Sambil menatap pria di balik layar itu dengan tenang.
"◉_◉"
"Puff, kau masih kaku sama seperti biasanya Luna. Hingga sampai membuatku diriku berubah menjadi seekor pemburu yang siap memancing, ah maksudku mengunci dan mengurungmu ke dalam sangkar yang telah ku sediakan."
"..."
"..."
Dengan suara tarikan nafas, Luna menyentuh serangga yang terbang itu dan mendekatkan layar tersebut ke wajahnya. Sambil menatap mata berwarna kelabu itu dengan dingin.
"Bukankah kamu masih terlalu percaya diri, Re-"
"Ssst, sayang apa yang ingin kau katakan tadi? sepertinya aku salah dengar." Senyum orang itu tipis.
"..."
"Bukankah sudah ku katakan berulang kali, jika kau ingin menyebut namaku sebutlah namaku di atas ranjang bukan di tempat yang berbeda dan jika kau tidak suka menyebut namaku di atas ranjang kau bisa menyebut namaku di ruangan isolasi yang telah ku siapakah untukmu. Agar kamu tidak bisa lari lagi dari genggaman tanganku." Ucap orang itu sambil menatap Luna dengan tatapan penuh obsesi.
Dimana tatapan yang berasal dari mata berwarna kelabu itu hampir sama dengan tatapan yang diberikan oleh Leon kepada Luna. Yang mana tatapan itu berisikan sifat obsesi dan hasrat yang dimiliki oleh pemiliknya untuk mendapatkan sesuatu hal yang mereka inginkan.
"Kau sama sekali tidak berubah, R."
Dengan suara yang tenang, Luna mengikuti keinginan orang itu untuk tidak memanggil namanya secara langsung dan hanya menyebutkan inisialnya saja. Membuat orang yang ada di dalam layar tersebut tersenyum secara tidak langsung.
"Ya, dan aku senang kau masih mengingatku sayang. Sampai aku tidak pernah berpikir kau akan mendapatkan julukan sebagai 'malaikat pencabut nyawa' oleh rekan tim mu hanya karena kejadian yang terjadi 7 tahun yang lalu." Tawa orang itu sambil menahan kepalanya dengan kedua tangannya dan menatap Luna dengan penuh nostalgia.
__ADS_1
Seakan-akan kejadian yang terjadi dulu, bukanlah kejadian yang disebabkan oleh dirinya. Dimana kejadian itu hampir mencelakakan 2 buah nyawa yang sangat berarti untuk wanitanya.
"Apa kau pikir aku bisa melupakannya, R?" Dingin Luna membuat orang di dalam layar itu tertawa puas saat melihat sikap dingin yang menyembunyikan sikap amarah di dalam hatinya.
"Hahaha, kau masih sama seperti dulu Luna. Tidak pernah berubah saat menyangkut orang yang kau sayangi."
"..."
"Hei, bagaimana kabar orang itu? Apa kau akan kembali bersamanya?"
"..."
"Hmmm, sepertinya kau masih memendam perasaan itu. Tapi apa kau tau, saat aku memikirkan laki-laki yang telah meninggalkan mu itu dan membuat kau jatuh cinta kepadanya. Aku merasakan niat membunuh yang sangat besar dari dalam diriku, apa kau tau kenapa?"
"Karena aku merasa barangku telah direbut oleh orang lain. Bukankah ini aneh, rasa sikap kekanakan yang tidak ingin dirampas dari barang mereka." Senyum orang itu tipis sambil mengelus selembar kain dengan lembut.
"Benarkah? Kalau begitu aku pikir kamu salah R, Karena Aku bukan milik siapapun dan aku bukanlah barang yang bisa kalian mainkan seenaknya saja. Kau paham itu." Dingin Luna sambil menatap R dengan sangat dingin.
Seolah-olah semua yang telah orang itu katakan tadi hanya sebuah omong kosong semata dan merupakan kesalahan yang tidak akan pernah terjadi di dalam hidupnya lagi.
Mengingat hal tersebut, Luna memejamkan matanya dan perlahan membuka mata berwarna hitam kelam. Dimana kini ia menatap mata orang tersebut dengan tatapan kosong yang dingin.
Seakan semua hal yang ia pikirkan tadi hanyalah omong kosong dan masa lalu yang tak akan pernah ia sentuh lagi.
"Kau masih sama seperti biasanya Luna, memejamkan matamu dan mencoba untuk melupakan hal-hal yang terjadi di masa lalu. Apa kau tidak tau itu?" Ucap orang itu yang dengan yakinnya mengetahui semua hal tentang Luna.
"Benarkah? Kalau begitu selamat R, karena kamu salah besar."
"Maksudmu?"
"Bukan aku yang tidak pernah berubah, tapi kamu R."
"..."
"Kamu tidak pernah berubah sejak dulu, karena kamu selalu merubah orang di dekatku menjadi orangmu dan membiarkan mereka mengkhianati kepercayaan ku R."
__ADS_1
"Hahahaha, merubah? Tidak Luna, aku tidak pernah merubah mereka menjadi orang ku. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Bukankah itu simple."
"Simple? Maksudmu dengan cara menculik kekasih atau membunuh kerabat mereka?" Tatap Luna dingin.
"Ya, bukankah itu cara termudah tanpa harus menghipnotis mereka."
"..."
"Tapi apa kau tau Luna, semua ini kulakukan hanya untukmu. Oleh karena itu lihat lah aku dan jangan pernah lupakan keberadaan ku, kau paham itu." Ucap orang itu sambil memeringatkan Luna tentang keberadaan nya.
Lalu meledakkan sistem yang terpasang di dalam serangga tersebut.
Membuat hewan berukuran kecil itu memercikkan api yang dengan cepat di jangkau dan dibuang oleh Jiro.
"Luna kau-"
Dengan suara Jiro yang khawatir, Jiro menatap wajah Luna yang saat ini penuh dengan aura yang mengerikan. Membuat Jiro yang melihat nya merinding dan mencoba menjangkau tubuh Luna untuk mengembangkan.
Dimana tangan itu dengan cepat diblokir oleh tubuh seseorang yang dengan cepat menjaga jaraknya sambil merangkul Luna di dalam pelukan nya.
"Apa yang kau-"
Tanya Jiro kesal saat mengetahui bahwa wanita yang ingin ia tenangkan menjauh dari dirinya, dan berada tepat di seberangnya. Di dalam pelukan seseorang yang baru saja ia kenal.
"Kau-"
"Luna sayang, apa kau mencoba berselingkuh di belakang ku?" Tanya Leon menjerat tubuh Luna ke dalam pelukannya dan merangkul wanita itu dengan erat.
Dengan mata yang gelap dan penuh ke obsesifan, Leon menatap Luna dengan penuh kasih sayang. Merangkul tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dan menatapnya dengan gelap.
Seolah ia bisa mengunci wanita itu ke dalam sangkar yang telah ia buat dengan hati-hati dan mengikatnya dengan erat. Agar sosok wanita itu tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi dari dirinya.
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~
__ADS_1