
Qarin yang tidak menemukan bantuan apapun dengan tangan yang bergetar mengambil beberapa file yang terletak di atas meja. Membuka setiap lembar dengan ketidaksukaan dan keterkejutan.
File itu berisi profile lengkap yang dibutuhkan untuk bekerja. Dari lulusan sekolah, nilai, pendidikan, pekerjaan bahkan gaji yang dimiliknya juga tertera. Luna sudah menyiapkan semua data yang digunakan untuk kerja sama itu secara detail. Walaupun data masa lalunya ia ubah dan modifikasi agar orang-orang tidak mengetahui siapa sebenarnya dirinya.
Namun sayangnya tidak berfungsi untuk Leon yang sudah mengetahui siapa dirinya. Mencoba untuk mendapatkan kembali apa yang telah dia tinggalkan. Seakan-akan menganggap Luna merupakan barang yang dulunya tidak berharga dan sekarang malah memilih harga fantastis. Membuat banyak orang mencoba mendapatkan nya, tapi sayang barang yang ditinggalkan ini sudah berkarat dan membenci semua orang yang telah melukai harga dirinya.
"Apa ini! pasti ini data palsu bukan!" teriak Qarin yang tidak percaya dengan data yang tertulis di kertas tersebut.
"Sepertinya anda sangat-sangat membenci saya nyonya Qarin Martin, padahal di sana sudah terlihat tanda tangan pemimpin negara" dingin Luna. Matanya menatap tajam dan auranya yang dingin membuat orang-orang yang ada di sekitarnya terdiam. Perasaan milik Luna tidak bisa dibaca oleh orang-orang, hanya dirinya sendirilah yang tau. Bahwa perasaan nya saat ini sedang senang melihat keterkejutan orang yang dulu pernah ia bantu.
'Jika ekspresi milik Qarin saja seperti ini, bagaimana dengan ekspresi milik Lina? apa dia akan bunuh diri dari gedung sendirian?' pikir Luna yang mengeluarkan senyum tipisnya
"Sayang, ini tidak mungkin data miliknya! aku pastikan dia berbohong dengan kita" ucap Qarin yang langsung memberikan kertas yang dia baca.
"Semuanya benar" singkat Levi yang membaca dengan cepat isi kertas tersebut. Umurnya memang sudah tua tetapi daya pikirnya masih sangat kuat. Sehingga cukup dengan melihat tanda tangan di samping kiri sudah cukup membuktikan kertas tersebut asli atau tidak. Pemerintahan negara ini terkenal berat dan ketat, jelas sulit mendapatkan tanda tangan pemimpin negara.
Namun di kertas yang diberikan oleh istrinya terlihat sekali bahwa data tersebut asli dan memiliki cap negara. Semua orang juga tahu dokumen yang memiliki tanda tangan atau cap negara dikatakan asli dan merupakan barang yang sangat penting.
"Tidak-tidak ini tidak mungkin, ini terlalu berlebihan bahkan sangat-sangat berlebihan" teriak Qarin yang masih tidak menerima fakta tentang identitas milik Luna. Identitas yang menunjukkan bahwa Luna dua puluh kali lipat lebih baik dari Lina Luxury.
"Pfffft hahaha" tawa Luna lepas menghasilkan rasa merinding di sekitar mereka. Tawa milik Luna menyeramkan dan penuh dengan sikap merendahkan, sehingga membuat orang-orang yang ada di sekitarnya membeku di tempat.
"A..ada apa Luna? kenapa kau tertawa?" bingung Leon yang mendengar tawa Luna tiba-tiba.
"Ah maaf-maaf aku sepertinya tidak bisa menahan tawaku lagi" jawab Luna yang berdiri dan berjalan mendekat ke arah Qarin. Dia berjalan mendekat dan mengurung Qarin dengan kedua tangannya.
Mulutnya membisikkan beberapa kalimat ke telinga kanan milik Qarin. Menyapu kebencian yang ada di pikiran Qarin dengan keterkejutan. Bahkan suaranya yang rendah tidak bisa didengar oleh orang-orang.
__ADS_1
"Nee, kau tau nyonya saya sangat tidak menyukai orang yang menilai dari luar saja. Terlebih membandingkan saya secara langsung dengan wanita yang kau banggakan itu" bisik Luna dingin.
"A..apa maksudmu?" gugup Qarin. Dia merasakan tubuhnya merinding, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Membuat dirinya merasakan ancaman yang kuat dari orang yang ada dihadapannya.
"Maksudku aku akan memperlihatkan realita yang menyakitkan bahkan sampai jiwa anda kembali mengingat kejadian kecelakaan itu" jelas Luna dan membisikkan setiap kata yang terjadi di kecelakaan 8,5 tahun lalu. Kecelakaan yang membuat jalur jembatan hampir rusak dan hampir memakan korban.
"I...ini'" takut Qarin.
"Jika anda mengingatnya saya akan sangat senang sekali" smirk Luna yang memundurkan langkahnya dan melihat reaksi ketakutan milik Qarin. Dia sudah memeriksa semua profile keluarga Luxury dan tidak lupa menambahkan keluarga Martin.
Dimana dirinya sudah menghafal penyakit apa yang pernah mereka idam dan efek sampingnya. Sehingga memudahkan Luna menghancurkan atau memperbaiki semua hal yang seharusnya menjadi miliknya.
"Qarin.." panggil Levi yang melihat tubuh istrinya mulai bergetar ketakutan.
"Tidak-tidak ini tidak mungkin, jangan mendekat, jangan mendekat kataku jangan mendekat!" teriak Qarin dan menutupi kedua telinganya. Tubuhnya bergetar, kepalanya mendadak pusing. Memori masa lalu yang terlupakan tiba-tiba saling bertabrakan membuat kepalanya menjadi kesakitan dan terasa ingin meledak.
"Qarin, sadar Qarin!" panggil Levi sambil mengguncang tubuh istrinya.
"Nyonya-nyonya" panggil para pelayan yang ada di dekat sana melihat keadaan atasan mereka menjadi buruk.
"Cepat siapkan mobil!" perintah Levi dan membawa istrinya. Mereka semua berkeliaran keluar dari ruang tamu keluar mansion. Meninggalkan kedua orang di ruang yang sepi itu.
Luna ingin meninggalkan tepatnya sekarang tapi tangan kanannya sudah dipegang erat oleh Leon. Membuat Luna menoleh dan memberikan tatapan dingin dan tajamnya.
"Apa?" dingin Luna.
"Apa yang kau lakukan kepada ibuku?" tanya Leon dingin.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan" jelas Luna santai. Membuat Leon menambah kekuatan nya dalam mencengkram tangan miliknya.
__ADS_1
"Kau tau kondisi ibuku tidak kuat seperti yang kau bayangkan" dingin Leon.
"Aku tau dan karena itulah aku mengembalikan apa yang seharusnya milik ku" tegas Luna dan melepaskan genggaman erat milik Leon kasar.
"Kau..."
"Apa? kau ingin marah denganku?" tanya Luna sarkas.
"Aku.."
"Kau tau Leon, aku mengetahui tujuanmu membawaku ke sini. Aku tau kau ingin memperkenalkan ku ke kedua orang tuamu. Tapi seharusnya kau juga tau aku memiliki tujuan tersendiri dan memiliki sesuatu yang berbeda denganmu" dingin Luna
"Aku.."
"Bukalah matamu Leon, aku bukan lagi orang yang kau kenal. aku adalah aku, dan dia adalah dia. Jangan samakan aku dengan orang yang ada di hatimu karena aku sudah tak memiliki hati bahkan perasaan sepeserpun" tegas Luna. Dia berjalan melewati Leon dan memasukkan barangnya kembali ke dalam tas ransel. Melupakan keberadaan Leon dan melanjutkan pekerjaannya miliknya.
"Aku akan merubahmu" ucap Leon pelanm Dia berbalik dan menatap Luna, matanya dipenuhi dengan rasa sayang yang dalam. Saat Luna berbicara mulutnya tidak bisa berbicara dan dia merasakan jarak yang membuat hatinya sakit. Bahkan jika sekarang dia tidak berada di mansion sudah dipastikan ia akan menangis.
"Aku akan mengembalikan semuanya ke tempatnya, seperti katamu aku juga akan mengembalikan Luna ku yang dulu" lanjut Leon dan berjalan pelan ke arahnya. Dia memeluk tubuh Luna dari belakang, menghirup bau segar bunga lili di tubuh tersebut.
"Aku akan melakukan nya" bisik Leon yakin. Tanpa tau bahwa mata tajam Luna kini berubah menjadi kosong.
'Kau tidak bisa merubahnya Leon, Luna yang dulu kau kenal adalah Luna yang tidak pernah bermain dengan darah dan merupakan malaikat tanpa penuh dosa. Bukan diriku yang sekarang dipenuhi dengan dosa bahkan merupakan jelmaan iblis sendiri' ucap Luna dalam hati. Dirinya tidak bisa kembali ke tempat dulu yang merupakan tempat suci bagaikan arti bunga Lily, sekarang dirinya adalah orang penuh dengan darah bagaikan bunga mawar hitam yang memiliki arti kematian.
'Lupakan lah leon' lanjut Luna dan melepaskan pelukan Leon. Dirinya pergi meninggalkan Leon tanpa menoleh ke belakang dan tanpa menatap mata yang memerah itu. Ia pergi meninggalkan rumah yang dia buat kacau. Membiarkan orang-orang yang dulunya ia sayang menjadi benci kepadanya.
🔫Huft maaf atas keterlambatannya, saya masih ujian jadi jangan salahkan saya. Saya juga seorang manusia yang memiliki dunia nyata jadi sorry.
__ADS_1
Sayonara~