My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 138 : Keterkejutan Para Tetua (2)


__ADS_3

Di dalam ruangan itu, tercium bau pohon mahoni yang kuat. Dengan kayu-kayu yang terbuat dengan bahan premium. Terlihat seorang laki-laki dewasa dan lanjut usia saling berhadapan.


Dengan aura dinginnya, ruangan yang dipenuhi dengan arsitekstur kayu itu terasa seperti kutub utara yang dipenuhi dengan salju-salju tipis. Suhu dinginnya cukup membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu membeku.


Namun suhu yang dingin itu sama sekali tidak mempengaruhi kedua orang yang ada di dalam ruangan itu. Di saat kedua pemimpin perusahaan terdahulu dan juga sekarang saling berbicara dengan auranya yang dingin dan juga mencekam.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, kek" tanya Leon datar.


Menatap mata biru gelap itu lalu menghembuskan nafas dinginnya. Ia sudah lama tidak berbicara dengan kakeknya berduaan. Terutama membahas hal lain yang tak berhubungan dengan perusahaan.


"Bukankah kau harus menjelaskan maksudmu tadi" dingin Leonhard sambil menatap mata biru laut cucunya.


Dimana mata cucu laki-lakinya memiliki warna gradasi yang indah, lembut namun penuh dengan ketajaman. Membuat orang yang melihatnya akan tersapu ke dalam pusaran matanya yang dalam dan penuh dengan kerahasiaan.


"Bukankah aku sudah menjelaskan padamu di meja makan tadi, atau apa aku harus menjelaskannya panjang lembar" tatap Leon sengit.


Membuat Leonhard yang mendengarnya menghembuskan nafas kasarnya. Meminum kopi hitam yang ada di atas meja lalu menenangkan pikirannya sebentar. Leonhard tidak ingin penyakit darah tinggi miliknya kambuh karena peristiwa ini.


Apalagi melihat salah satu cucu laki-laki yang paling dia banggakan membuat masalah. Masalah yang cukup membuat satu keluarga terkejut saat mendengarnya. Saat mengetahui cucu laki-laki yang selallu menjaga jaraknya dari wanita memiliki anak.


"Aku sudah mendengarnya sangat jelas Leon, yang ingin ku ketahui maksud dari perkataanmu tentang kau memiliki dua anak yang ibunya adalah kekasih lamamu Luna" jelas Leonhard yang menyadari dalam perkataan cucunya ada yang mengganjal.


Terutama saat mendengar cucu laki-lakinya mengatakan Luna bukan Lina membuat pikirannya bingung. Dimana setau dirinya saat ini, kekasih lama cucunya sudah menghilang selama 8 tahun lamanya.


'Tunggu, 8 tahun? jangan bilang'


"Leon, apa kamu bilang tadi 8 tahun?"


"Ya"


"Jangan bilang, kau-"


"Benar, kurang lebih delapan tahun yang lalu aku melakukannya bersama Luna di apartemant ku" jelas Leon tenang.


Membuat Leonhard yang mendengarnya memegang pegangan tongkatnya erat-erat. Menghembuskan nafas kasarnya, lalu menatap mata cucu laki-lakinya kembali. Dengan auranya yang dingin, Leonhard menatap tajam ke arahnya.


"Leon! bagaimana bisa kau tidak bertanggung jawab kepada wanitamu?! apa keluargamu mengarjakanmu seperti itu?!"


"Keluargaku tidak mengajarkanku seperti itu tapi keluargaku mengajarkanku untuk tidak peduli dengan hal-hal sepele" balas Leon sambil menatap kakeknya sengit.

__ADS_1


"Leon!"


"Aku datang ke sini hanya untuk mengatakan itu saja, jadi saya harap kakek tidak mengganggu ku lagi" jelas Leon yang tidak ingin diganggu saat melaksanakan rencana miliknya nanti.


"Kapan kami mengganggu urusanmu, hah?!"


"Jika kakek lupa tanyakanlah kepada asisten kakek, aku pergi" ucap Leon meminum kopi hitam miliknya sedikit.


Menangkat pantatnya lalu pergi dari ruangan kerja milik kakeknya. Meninggalkan kakek dan juga beberapa orang di dalam sana. Dengan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan, Leonhard hanya bisa meneriaki cucu laki-lakinya yang aneh.


"Leon!!!" teriak Leonhard yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Leon.


"Tuan besar mohon tenangkan diri anda, ingat dokter mengatakan kepada anda untuk mengontrol emosi anda" jelas asisten Leonhard yang sudah menemani tuannya selama beberapa dekade.


"Bagaimana bisa aku mengontrol emosiku, jika anak laki-laki itu datang dengan kejutan seperti ini?! Apa dia ingin melihat kakeknya mati lebih cepat?!" ucap Leonhard yang mencoba mengontrol emosi miliknya.


Jika tidak kandungan gula darahnya akan naik dan mencapai batas yang dilarang oleh dokter pribadi miliknya.


"Hah, kalau begini jadinya Louise coba bantu aku cari informasi yang dimaksud anak itu" jelas Leonhard sambil meminta pelayan mengganti kopi hitamnya dengan air mineral.


"Baik tuan" ucap Louise meninggalkan ruangan itu dan meminta para pelayan untuk mengurangi kafein yang ada di dalam minuman tuannya.



Felix yang saat ini sedang bersembunyi di pepohonan ditemukan oleh orang-orang Luna. Tepatnya kamera kecil yang sedang berkeliaran di langit-langit. Membuat Felix yang tadinya bersembunyi di pepohonan sedang menatap lapangan hijau yang ada di depannya.


"Bisakah kalian berdua melepaskan ikatan, paman?" tanya Felix yang dengan cepat dipotong oleh suara tembakan.


Dor***


"Huh, tenang saja paman Felix kami akan melepaskan ikatanmu jika kami sudah bosan dengan permainan ini" ucap Navin sambil meniup moncong pistol miliknya.


Dimana ujung pistol itu mengeluarkan asap dari peluru yang dikeluarkan. Walaupun senjata yang dipegangnya merupakan senjata mainan tapi itu tetap tidak mengubah dampak kesakitan saat mengenail tubuh seseorang.


Terutama di saat peluru itu ditembakan ke arah target. Membuat kulit target bewarna kemerahan saat mengenail sang target. Apalgi taget yang mereka hadapi saat ini berbeda dari biasanya.


Sehingga membuat adrenalin mereka bertambah dan semakin bertambah karenanya.


"Benar paman, ini hanya permainan saja jadi tidak perlu cemas, okay" senyum Laura manis sambil mengarahkan senjata miliknya ke arah botol kaleng yang ada di sekitar tubuh Felix.

__ADS_1


Dengan suara tembakan yang menggema, peluru itu tidak mengenai botol sama sekali. Membuat Laura yang melihatnya mengeluarnya ekpresi cemberut miliknya.


Dor***


"Huff, sepertinya hari ini anginnya sangnat jelak" ucap Laura sambil melihat ke arah peluru tembakannya tadi.


Felix yang mendengarnya dengan cepat menatap kedua anak itu tajam. Berteriak sekeras-keras mungkin lalu mendengus kesal.


"Bukan masalah anginya tapi itu karena kamu sengaja melakukannya!" terial Felix kesal.


Dimana kali ini ia dijadikan target oleh kedua anak atasannya. Membuat perasaan tenang yang ada pada dirinya tidak bisa dikendalikan lagi.


"Dan juga, apa tadi kamu bilang permainan? bukankah ini jelas-jelas latihan atau penghukuman milik kalian!" lanjut Felix dengan dengusan kecilnya.


Membuat Navin yang mendengarnya dengan santai memasukkan peluru plastik miliknya. Mengarhkan ke arah target lalu menutup sebelah matanya. Dengan pegangan yang kuat dan juga stabil.


Peluru yang ia tembakkan mengenai botol kaleng yang ada di atas kepala Felix. Felix yang ingin mengeluarkan suaranya dengan cepat terkesiap dan menoleh ke belakang. Dimana botol kaleng yang ada di atas kepalanya kini penyok.


'Astaga, sepertinya aku benar-benar akan tamat kali ini' pikir Felix sambl menelan salivanya pelan. Lalu kembali menoleh saat mendengar suara anak laki-laki itu.


"Andai saja paman bisa bersembunyi di tempat yang lebih gelap atau titik buta kamera, mungkin saja paman tidak akan menjadi target kami hari ini, dan juga seharusnya paman beruntung yang menemukan paman adalah kamera uji coba kami bukan ibu kami"


"Bila tidak-"


Dengan gerakan menyayat leher Navin mengeluarkan senyum dingin miliknya. Menatap orang yang ada di hadapannya lalu menghembuskan nafas dinginnya.


"Seperti itu jadinya" lanjut Navin yang membuat Felix yang mendengarnya merinding.


Terutama saat melihat gerakan kecil milik Navin membuatnya merinding seketika. Dimana gerakan kecil itu memiliki arti yang mengerikan dan juga menakutkan.


'Sial, sepertinya aku benar-benar akan mati disini' pikir Felix yang merasakan bulu kuduknya berdiri.



🔫 Leon sama semangat yaa ngejar Lunanya dan buat si kembar, aku nantikan sikap nakal kalian berdua. Oleh kaena itu janga lupa buat like, komen, dan berikan TIPnya.


TERIMAKASIH buat Kak Izarina Ibrahim yang sudah memberikan Tip untuk karya ini.


🔫Sekian terimakasih, sayonara~

__ADS_1


__ADS_2