
Dengan wajah yang tampan dan juga kokoh, orang itu dengan cepat masuk ke dalam helikopter yang sudah disiapkan.
Menerbangkan salah satu helikopter favoritnya dan memimpin orang-orangnya menuju ke tempat sang leluhur berada sambil membawa semua perlengkapan yang diinginkan oleh sang leluhur lewat panggilan tadi.
Dan di tempat lain, Luna yang baru saja menyelesaikan panggilan dengan orang tersebut. Menekan nomor yang baru lagi dan berbicara dengan orang-orang yang ada di bawah komandonya.
Tanpa memperhatikan bahwa anak perempuannya kini sedang memanggil dirinya berulang-ulang kali dan mencoba mendapatkan tanggapan dari sang ibu.
"Mom, apa mom mendengarkanku?" keluh Laura sambil menatap ke sosok wanita yang tidak berhenti memegang telepon miliknya dan tidak pernah beranjak dari tempatnya berada.
"Mom-" panggil Laura yang sama sekali tidak menyadari bahwa ada seorang laki-laki berdiri di belakangnya dengan tatapan yang hangat.
Dengan sepasang tangan berukuran besar, laki-laki itu dengan lembut menutupi kedua pasang mata milik anak perempuannya dan dengan penuh kasih sayang berbisik di telinga kecilnya itu.
"Maafkan ayah karena terlambat menjemput kalian dan juga terima kasih telah menerima ayah" bisik laki-laki itu. Membuat Laura yang mendengarnya tertegun dan menenangkan dirinya.
Walaupun kedua matanya kini ditutupi oleh sepasang tangan berukuran besar, Laura dengan mudah mengetahui bahwa orang yang menutupi kedua matanya kini tidak lain ialah ayah kandungnya sendir. Tepatnya seorang lelaki yang memiliki nama panjang Leonex Martin.
Membuatnya mengeluarkan air mata dan melepaskan sepasang tangan berukuran besar yang menutupi matanya dengan lembut, lalu berbalik ke arah laki-laki tersebut.
Dengan tatapan mata yang berair, Laura yang melihat ayah kandungnya dengan cepat melompat dan membentangkan kedua tangannya sebesar-besarnya.
Membuat Leon yang melihat gerakan tersebut dengan cepat menangkap tubuh nya dan membawa anak perempuan tersebut ke dalam pelukannya. Mengelus pucuk kepalanya dan menatap wajah yang persis sama dengannya.
Seakan-akan anak perempuan yang berada di hadapan kini merupakan cetakan yang dibuat dengan sempurna oleh sang pencipta, kecuali warna lensa mata yang mengikuti sang ibu.
Di mana warna mata yang dimiliki gadisnya bewarna hitam polos, tanpa sedikitpun kotoran. Membuatnya yang terlihat kecil semakin polos dan manis.
"Menangislah, karena ayah akan menemani mu selamanya" bisik Leon yang tidak bisa mengalihkan perhatiannya terhadap yang lain.
"Aku tidak menangis, aku hanya- hanya ingin berpelukan saja, hiks. . hiks" sangkal Laura sambil bersembunyi di balik dada ayahnya.
"Benarkah? kalau begitu bersihkan dahulu air mata dan ingusmu itu, agar ayah bisa mempercayainya" ucap Leon sambil terkekeh kecil.
Terutama saat dia melihat penampilan lemah anak perempuannya, membuatnya teringat dengan penampilan Luna dahulu. Di mana penampilan Luna dahulu sama persis seperti anak perempuannya saat ini.
Sebuah penampilan yang menampilkan sesosok wanita yang lemah dan mudah sekali hancur. Wanita itu sama seperti boneka porselen kaca, di mana ia harus dijaga dan dirawat dengan baik.
__ADS_1
Namun sayangnya, boneka porselen yang dia jaga selama beberapa tahun itu hancur karena dirinya sendiri. Membuat boneka yang seharusnya memiliki sosok lembut berubah menjadi sosok yang berduri seperti landak.
Menarik tetapi sulit dijangkau, unik namun penuh bahaya. Seperti bunga mawar yang memiliki banyak duri di tangkainya. Membuat orang-orang yang melihat keindahan dan pesonanya harus berhati-hati dalam bertindak.
Jika tidak berhati-hati maka orang tersebut lah yang akan terluka karena keindahannya. Sehingga orang yang mengambil bunga tersebut harus memisahkan duri dari tangkainya. Agar bunga yang memiliki keindahan dan pesona itu tidak membahayakan sang pemilik.
Oleh karena itulah, Leon akan berusaha mencabut dan membersihkan semua duri yang ada di tangkai bunga mawar miliknya. Sehingga mawar yang bisa melukai dirinya itu akan tetap aman dan menunjukkan pesonanya.
"Hiks . . hiks . . . Daddy apa kau mendengarkanku?" tanya Laura sambil menangkupkan wajah ayahnya yang tampan.
Mata hitamnya yang berkilauan menatap wajah tampan milik sang ayah dengan sedih. Seperti seekor kelinci yang diintimidasi, dia menatap wajah tampan itu dengan tatapan yang sangat menyedihkan.
"Daddy. . ." rengek Laura kecil.
Sehingga membuat Navin yang melihatnya tidak bisa menahan cibiran dingin miliknya "Cih, dasar penipu" ejek Navin yang melihat tingkah laku adiknya.
Membuat Laura yang sedang berada dalam pelukan ayahnya dengan cepat menendang kepala kakaknya, dan menjauhkan posisi Navin dari posisi ayahnya saat ini. Karena dia tidak ingin ucapan sang kakak terdengar oleh ayah kandungnya.
'Diam kau dasar anjing kecil' tatap Laura tajam.
"Daddy. . ." rengek Laura menyedihkan.
Membuat Leon yang mendengarnya menggelengkan kepalanya cepat dan dengan lembut menatap anak perempuannya. Mencium wajah putih susu kecil itu dengan penuh kasih sayang dan mengeluarkan senyum hangat miliknya.
"Ya, ayah mendengarnya" balas Leon hangat.
"Benarkah? kalau begitu mengapa Daddy tidak ingin dipanggil dengan sebutan Daddy, dan lebih memilih sebutan Ayah? bukankah itu aneh?" tatap Laura menyedihkan membuat Leon yang mendengarnya tidak bisa menolak dan hanya bisa menerimanya.
Terutama saat ini dia mendapatkan kesempatan dari anak perempuannya langsung. Sebuah kesempatan untuk mengubah nama panggilannya. Membuat jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dan jiwanya dipenuhi dengan kehangatan keluarga yang nyaman.
"Baiklah-baiklah, Daddy akan mendengarkanmu" ucap Leon senang.
"Benarkah? kalau begitu Daddy mendengar semua yang ku katakan tadi bukan?!" senyum Laura sambil menyapu air matanya cepat.
"Itu-"
__ADS_1
"Apa Daddy berbohong kepadaku?" tatap Luna sedih.
"Tidak! Daddy tidak berbohong kepadamu dan juga Daddy berjanji akan mengabulkan semua keinginanmu" ucap Leon penuh percaya diri.
Tanpa mengetahui bahwa anak perempuannya saat ini sedang mengambil keuntungan dari dirinya.
"Semua keinginanku?" tatap Laura berkedip-kedip.
Wajahnya yang bulat dan juga berisi menatap ayah kandungnya dengan polos. Seakan-akan dia tidak percaya bahwa janji yang diberikan oleh ayahnya akan dipenuhi.
"Ya, semuanya. Ayah berjanji kepadamu"
"Kalau begitu mari lakukan perjanjian jari kelingking" ucap Laura manis sambil mengangkat jari kelingkingnya yang kecil dan menunggu ayahnya untuk mengaitkan kedua jari mereka.
"Baiklah janji jari kelingking-"
"Daddy? apa ada masalah?" tatap Laura polos.
"Tidak ada masalah, hanya saja Daddy harus menurunkan atau memindahkan Laura sebentar-"
"Tidak! aku tidak ingin turun! hiks. . . Daddy . . . Daddy jahat" rengek Laura yang membuat Leon yang melihatnya gugup dan dengan cepat mencoba menenangkan anak perempuannya.
"Jangan menangis Laura, Daddy tidak akan menurunkanmu dan kita bisa melakukan janji jari kelingking nanti" ucap Leon sambil mencoba menenangkan anak perempuannya.
"Aku tidak ingin nanti, aku inginnya sekarang!"
"Tetapi-"
"Bukankah aku memiliki kembaran, biarkan dia yang melakukan janji jari kelingking denganmu!" rengek Laura kesal.
"Baiklah-baiklah, Daddy akan melakukan janji jari kelingking dengan kembaranmu sekarang"
"Bagus" senyum Laura penuh kemenangan dan menatap laki-laki di hadapannya dengan rasa senang.
🔫 Terima kasih buat kak Susi Haryati dan kak izarina ibrahim yang sudah memberikan koin [TIP] untuk mendukung novel ini. Oleh karena itu, jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terima kasih, and Sayonara~