My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 58 : Memilih


__ADS_3

"Aku sudah menjelaskan nya bukan bahwa kamu bisa bertunangan denganku maka aku akan melepaskan anak buahmu dan tentunya aku akan bekerja sama denganmu dalam sebuah proyek nanti. Namun kamu juga bisa memilih pilihan yang kedua membahayakan nyawa bawahanmu yang satu ini dan juga yang baru kami tangkap" jelas Leon, nadanya penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Membuat Luna tau semua yang dikatakan adalah keuntungan dan kerugian untuknya.


"Apa maksudmu?" dingin Luna. Di saat itu pulalah seorang laki-laki berjalan keluar dari bayangan lainnya, ditemani kedua anak buah yang menahan tangan laki-laki tersebut.


"Edwin" gumam Luna yang tidak percaya melihat anak buah yang merupakan tangan kanannya juga ikut menjadi sandera milik Leon.


"Maaf ketua saya lalai menjalankan tugas, saya tidak tau ada obat bius yang di sebarkan di udara" jelas Edwin meminta maaf. Luna menundukkan kepalanya membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya. Hembusan nafas keluar dari mulutnya dan kepalanya kembali mendongak menatap Leon dan beberapa orang di belakangnya.


Tangannya memegang kepalanya membiarkan rambutnya yang berantakan menjadi ke atas. Tatapan dingin dan suara tawa yang hambar menemani ruangan yang penuh debu itu.


"Hahaha aku baru sadar sekarang" tawa Luna dingin.


"Apa maksudmu?" bingung Leon.


"Aku baru sadar ternyata kamu sudah menyiapkan perangkap yang sangat rapi sekali tuan Leon" ucap Luna dingin. Leon yang mendengar hal tersebut hanya bisa menaikan alisnya sebelah. Suhu malam mulai meningkat tajam dimana jam sudah menuju angka tepat 12.00 pm (dua belas malam).


Mata Luna menjadi tenang daripada biasanya, kekebalan tubuhnya meningkat tajam dari biasanya. Jika ular mulai menunjukkan aksinya di malam hari maka inilah waktunya. Dari mendengar hal konyol yang selalu diucapkan oleh mantan bos dan mantan kekasihnya itu. Tunangan, kejahatan yang dia lakukan, status yang dia sembunyikan.


Tidak ada yang salah jika semuanya terbongkar, itu hanya masalah kecil. Jika orang mengancam nya hanya karena hal kecil ini maka jangan anggap dirinya menjadi ketua mafia yang sekarang sudah menduduki peringkat pertama selama dua kali. Panggilan sadis dan Badas yang selalu dijadikan julukannya. Itu bukanlah sebuah kebohongan yang berasal dari mulut ke mulut.


Namun itu adalah sesuatu hal yang dia buktikan dengan kemampuan miliknya. Kebahagiaan, tangisan, keringat, darah semua yang dia tumpahkan merupakan hal yang dia dapatkan karena kerja keras. Dari perempuan yang bahkan dulunya hanya menginginkan kasih sayang dan rasa cinta. Menjadi perempuan yang melahirkan kedua malaikat kecil yang indah. Membuat dirinya sadar bahwa dia harus melindungi kedua anaknya dan membalaskan semua hal yang sudah dia dapatkan.


Dari keringat yang dia limpahkan, air mata yang keluar tak terhingga sampai darah yang pernah keluar. Semuanya akan dia balas kau itu keluarga kandungnya ataupun orang-orang terdekatnya. Jika mereka berani melakukan hal itu kepadanya maka seharusnya mereka berani membayar semua hal tersebut.


"Kalau begitu aku akan memberikan mu jawabanku" gumam Luna, suaranya kecil dan berdengung di antara udara-udara yang ada di sekitar mereka. Matanya yang tenang namun dingin tercampur dalam kabut kegelapan yang abadi. Di sanalah tangan kanannya memasukkan kembali pistol miliknya dan mengambil kedua pisau belati miliknya.


Matanya menatap ke arah orang-orang yang ada di sekitarannya, memprediksi semua orang yang sedang bersembunyi di balik bayangan.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan tadi?" ucap Leon Tidka mendengar gumaman Luna yang sangat kecil.


"Aku bilang aku akan memberikan mu pilihanku!" lantang Luna sambil menggigit bibir bawahnya.



Nafas yang berat dan terengah-engah menemaninya di sana. Matanya menatap ke semua area. Sepatu boot yang dipasangnya dia lepaskan dengan pisau belati miliknya. Melemparkan kedua sepatu miliknya ke arah sisi kanan dan kiri. Membiarkan bom asap bermunculan di dekat sana.


Sssst


Pisau belati yang lainnya dia lemparkan ke arah depan tepat di arah tangan orang yang memegang tangan Edwin. Suara lumpuhan dari Edwin terdengar dan dengan cepat Edwin mengeluarkan pisau silet kecilnya dan melepas ikatan K dari kursi. Jika tanganmu diikat gunakanlah kepalamu untuk memukul orang.


Jika tanganmu tidak bisa mengambil senjata yang terselip gunakan mulutmu. Bila darah menetes itu tidak apa-apa karena ada gigi yang akan menggengam menggantikan jari-jari tangan. Semua asam bermunculan menutup penglihatan orang-orang yang bersembunyi dalam bayangan. Cahaya bulan yang tadinya terang sudah tertutupi oleh awan yang kembali ditiup oleh angin.


Dor Dor Dor


"Ambil pisau belati yang ada di pahaku" perintah Luna ke arah K yang dimana dia tidak memiliki senjata sama sekali.


"Baik ketua" ucap K yang langsung mengambil pisau belati yang diselipkan di paha milik Luna. Kakinya dalam posisi siap menyerang, tangannya yang panjang dan memiliki daya lempar yang akurat. Dengan cepat melemparkan pisau belati yang dia dapatkan ke arah Leon yang berada di balik asap.


Tring


Suara pisau belati yang sama-sama dikenakan oleh pisau belati lainnya yang berarti Leon juga sudah menyiapkan posisi siap bertarung dan memegang pisau belati miliknya.


"Seperti yang diharapkan dari ketua klan Singa, selalu siap" Smirk Luna. Tembakan dari pistol miliknya sudah habis karena peluru yang diisi sudah kosong.


Tangannya dengan cepat mengambil garanat yang dia siapkan diikatkan di pinggang. Tangannya menarik kunci dan melemparkannya ke arah Leon. Menarik kedua bawahannya keluar dari rumah yang merupakan markas klan Singa.

__ADS_1


Walau kakinya sedang dalam posisi bertelanjang kaki, tetapi tetap saja Luna memegang tangan milik Edwin dan K melewati jalan yang dipenuhi dengan barang-barang pecah dan berantakan. Darah yang mengalir dari telapak kakinya tidak menjadi penghalang untuk kabur dari markas milik Leon. Kecepatan dan kelenturan yang dia lakukan untuk menghindari setiap perangkat yang masih terpasang.


Hingga mereka bertiga sampai ke dalam mobil Jeep hitam dan pergi menjauh dari markas tersebut. Edwin dengan cepat memutar kemudi dsn menginjak gas mobil. K yang berada di sebelah Edwin menembakkan beberapa peluru ke arah orang-orang yang mencoba mengejar mereka.


Dor Dor Dor


"Hahaha rasakan itu" Smirk K sambil meniup asap yang keluar dari pistolnya.


"Ketua apa anda tidak apa-apa?" tanya Edwin yang sedang menyetir mobil menjauhi tempat kejadian.


"Tidak apa-apa jalankan saja mobilnya" dingin Luna. Ini hanyalah Luna kecil dari kebanyakan luka yang dia dapatkan.


"Kita akan kembali ke mana ketua?" tanya K dan memasukkan kembali kepalnya dari luar jendela mobil.


"Kembali ke mansion dan juga kalian berdua untuk hari tinggal di mansion karena ada yang harus ku bicarakan" perintah Luna sambil menatap ke arah luar jendela.


"Baik ketua" jawab Edwin dan K bersamaan. Luna menatap langit malam yang gelap dan hanya ada bunyi burung gagak di sekitaran mereka. membuatnya mengingat hal konyol yang diucapkan oleh Leon kepadanya.


'Bertunanganlah denganku'


Jika memikirkan nya lagi semua hal yang diucapkan nya membuat Luna ingin muntah.


"Orang gila" gumam Luna.



🔫Udah author bilang alurnya gak ketebak, jangan lupa like 300 up lagi kayak biasanya dan juga beri Votenya ya^^

__ADS_1


__ADS_2