My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 147 : Kita Harus Serius


__ADS_3

Suara telphone berdering kembali, membuat Luna yang sedang mengontrol emosi miliknya menatap tajam ke arah handphonenya yang berdiri itu. Menarik nafas pelan lalu berjalan ke ranjangnya.


Mengambil handphone yang bergetar itu lalu melihat nama pemanggil yang tertera di sana. Dengan sebuah nicknam tertera di sana, Luna yang melihatnya menghela nafas lega. Menggeser simbol hijau itu lalu mengangkatnya.


"Ya ayah, aku ada di sini"


"Apa kau sedang sibuk Luna? kenapa kau lama sekali mengangkat telphone ayah?" tanya Henry yang merasakan keanehan dengan anak perempuannya. Karena bagaimanapun anak perempuannya selalu cepat dan sigap saat mengangkat panggilan miliknya.


Namun kali ini berbeda dari biasanya, bahkan suara anaknya tidak menunjukkan perasaan tegas apapun. Melainkan suara yang meemiliki nafas kelegaan dan kenyamanan yang ada. Sehingga membuatnya mengernyit seketika saat mendengarnya.


"Luna, apa kau mendengarnya?" tanya Henry sekali lagi.


"Maafkan aku ayah, hanya saja tadi ada seseorang yang mengangguku" jelas Luna yang tidak ingin membuat ayah angkatnya khawatir.


"Ayah tau kamu tidak akan megatakannya tapi ingat ayah akan selalu membantumu"


"Baik, ayah"


"Kalau begitu mari kiita lanjutkan apa yang kamu kirim tadi" ucap Henry dengan nada seriusnya, membuat Luna yang mendengarnya mengubah sikapnya seperti seorang tentara.


"Siap, komandan"


"Semua yang kamu tulis di pesan tadi sedang diproses dan kami akan membahas masalah itu dengan beberapa klan jadi berhati-hatilah beberapa hari ini"


"Siap, komandan"


"Baik"


Henry yang mendengar jawaban tegas luna mematikan panggilan tersebut secara sepihak dan menyelesaikan semua rencana miliknya. Karena bagaimanapun masalah ini bukanlah masalah biasa yang bisa membuat mereka bersantai.


Masalah ini berhubungan dengan negara dan tentunya akan sangat menyulitkan sekali. Terutama musuuh kali ini bukanlah orang biasa melainkan kelompok Black Emperor yang sering disebut sebagai penguasa kegelapan.


Lunapun juga mengetahui bahwa ayah angkatnya saat ini sedang sibuk dengan urusan barusan. Karena tidak mungkin bagi dirinya untuk menyelesaikan masalah ini. Walaupun ia dijuluki sebagai peluru pembunuh sejak tinggal di London City itu tidak memungkinkan dirinya untuk menyelesaikan masalah ini.


Apalagi kelompok Black Emperor yang dulu berbeda dengan yang sekarang dan tentunya itu akan menambah kesulitan untuk misi kali ini. Dan untuk masalah beberapa tahun yang lalu itu merupakan keberuntungan Luna untuk berhasil masuk ke dalam markas kelompok Black Emperor dulu.


Namun sayangnya karena itu pulalah kejadian itu memakan banyak korban dan merubah kota perdamaian menjadi kota kehancuran yang menyeramkan.


Tok*** Tok***


"Nona besar, makan malam sudah siap"


"Sebentar lagi aku akan turun"


"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu no-"


"Tunggu kepala pelayan"


"Ya nona?"


"Apa kedua anak itu sudah berada di meja makan?"


"Belum nona, tuan muda dan juga nona muda saat ini sedang mengunci diri mereka di dalam ruang komputer" jelas kepala pelayan mengigat keberadaan kedua anak itu.

__ADS_1


"Apa mereka tidak turun?"


"Tuan muda dan juga nona muda mengatakan bahwa mereka akan makan malam setelah anda"


"Baiklah kau bisa turun terlebih dahulu, aku akan mengajak kedua anak itu"


"Baik, nona"


Suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan mulai mengilang. Membuat Luna yang mendengarnya membuka pintu kamarnya perlahan dan berjalan ke arah ruang komputer yang disiapkan kakak laki-lakinya untuk mereka.



Dengan suara ketukan pintu yang keras, suara kedua anak yang berada di belakang pintu itu terdengar.


"Tenang saja kepala pelayan, kami akan turun setelah ibu kami makan" jelas seorang anak laki-laki di balik pintu itu.


"Ya, jadi tidak perlu meminta kami untuk turun lagi" balas seorang anak perempuan lainnya.


"Kalau begitu biar mom buka pintu ini secara paksa" ucap luna yang membuat kedua anak yang ada di balik pintu itu terkejut dan saling bertatapan.


"Apa kau dengar itu?"


"Aku juga mendengarnya, Laura"


"I-ini"


"Jika kalian tidak bisa mendengarnya maka mom akan mengulanginya untuk kalian berdua" sela Luna yang sudah tau bahwa kedua anaknya tidak akan percaya bahwa dirinya akan datan secepat ini.


Dengan suara knop pintu yang diputar, sanggul kecil itu menampakkan setengah wajah miliknya. Dengan mata hitam yang sama persis ia menatap mata ibunya dengan tatapan menggemaskan seperti anak anjing mungil.


"Apa yang kau lakukan, hmm?"


"I-itu"


"Bukankah mom sudah mengatakan kepada kalian bahwa mom akan menjelaskannya nanti"


"Ka-mi"


"Kami apa hm?? apa kalian berdua pikir mom tidak tau apa yang kalian lakukan hingga kalian nekad menerobas sistem kemanan dan meminta bantuan kepada paman kalian"


"Hanya saja kami juga ingin membantumu, mom" jelas Laura yang telah menampakkan seluruh anggota tubuh miliknya.


Dimana tubuhnya kini dipenuhi dengan bau minyak dan juga tembaga. Seakan-akan mengatakan bahwa mereka saat ini sedang memperbaiki sesuatu hal.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


"I-itu"


"Kami sedang membuat sesuatu, apa mom ingin memmbantu?" tanya Navin sambil berjalan ke arah kedua wanita itu. Dengan tangan yang memegang tang dan juga kunci inggris secara bersamaan.


"Apa kamu melakukan eksperimen lagi?" tatap Luna tajam.


"Bisa dibilang begitu, hanya saja ekperimen kali ini membutuhkan alat yang bagus"

__ADS_1


"Apa kamu ingin membuat senjata lagi?"


"Entahlah, hanya saja alat ini mungkin bisa membantu mom" jelas Navin yang membuat Luna yang mendengarnya sedikit tertarik.


"Kalau begitu perlihatkan blue printnya"


"Ini"


Navin mengambil blue print yang telah ia siapkan dan memberikannya kepada ibunya. Membiarkan ibunya untuk menilai seberapa bagus dan kuatnya alat yang ingin ia buat saat ini.


"Apa kau benar-benar ingin membuat ini?"


"Aku sudah merencanakannya saat aku berumur 5 tahun" ucap Navin dengan penuh percaya diri membuat Luna yang mendengarnya mengeluarkan senyum tipisnya.


"Mom, apa mom masih marah?" tanya Laura yang takut ibunya marah kepada mereka berdua. Karena ia tidak ingin ibunya menghentikan pengiriman barang miliknya, terutama senjata yang sudah ia dambakan beberapa hari ini.


"Mom tidak marah, tapi kalian berdua harus turun untuk makan malam terlebih dahulu baru mom pikirkan untuk membantu kalian dalam membuat alat ini atau tidak" jelas Luna yang membuat kedua anak itu mengeluarkan senyum mereka.


"Siap, kapten" ucap mereka bersamaan dan memeluk ibu mereka hangat.


"Tapi kalian harus serius saat mengerjakannya, jika tidak hanya kegagalan yang akan menjemput kalian saat membuat barang ini"


"Tenang saja mom, kita berdua akan serius saat membuatnya. Oleh karena itu tambahkan modalnya ya" senyum Laura sambil mencari keuntungan dari hal ini.


Membuat Luna yang mendengarnya mencubit pipi anak perempuannya lalu menatap mata hitam yang sama persis dengannya tajam.


"Apa kau mencoba merampok uang ibu mu ini" tatap Luna tajam.


"Bukan merampok, kami hanya ingin meminta sedikit saja" jelas Luna sambil memperlihatkan tangan kecilnya yang berbentuk seperti cubitan kecil.


"Bukankah kalian sudah mendapatkan uang tahun baru dari nenek dan kakek kalian"


"Masa mommy tidak tau apa yang kami inginkan"


"Kalian memesan senjata baru lagi?!"


"Hehehe, senjata itu terlihat cantik mom" kekeh Laura yang membuat Luna yang mendengarnya menghela nafas.


"Cepat turun ke bawah untuk makan, nanti makanannnya dingin"


"Ehh, mom jangan ubah topik pembicaraannya. Kita harus membahas transaksi legal milik kita mom"


"Baiklah mari kita turun dan biarkan anak mata duitan itu sendirian" potong Luna sambil memegang telapak tangan anak laki-lakinya. Navin yang mengetahui maksud dari ibunya tanpa sadar mengeluarkan senyum smirk miliknya.


"Baik, mom"


"Hei tunggu aku, mommy brother tunggu aku, hei!" teriak Laura sambil mengikuti kedua orang yang meninggalkan dirinya sendiri.


'Andai saja aku memiliki pendukung, dipasstikan aku tidak akan dikalahkan telak seperti ini' pikir Laura yang sama sekali tidak memiliki pendukung.


Dimana kakak laki-lakinya memiliki dukungan pihak ibu dan dirinya hanya bisa mendengus kasar saat melihatnya.


__ADS_1


🔫Jangan lupa like, komen, pantengin, beri hadia, dan juga TIP. Sekian terimakasih and Sayonara~


__ADS_2