My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 158 : Lotus Putih


__ADS_3

Senyum itu murni seperti lotus putih, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa hatinya tidak terbuat dari opium? Terutama mata berwarna hitam itu dipenuhi dengan kabut tipis.


Seolah-olah menyembunyikan sebuah rahasia dan merencanakan hal-hal licik. Tanpa diketahui oleh ayahnya, Laura menatap kakak laki-laki yang ada di dekatnya dengan tatapan yang manis.


Membuat Navin yang melihat tatapan adiknya menghela napas dan memutar bola matanya ringan. Terutama saat melihat tingkah laku adiknya yang sama persis seperti teratai putih.


‘Apa kau tidak takut diketahui oleh ibu?’ tatap balik Navin sambil mengeluarkan selembar kertas dari balik pakaiannya dan dibalas oleh tatapan adiknya yang enteng.


‘Kenapa aku harus takut? bukankah dia juga yang meninggalkan ibu kita saat musim gugur itu?’


‘Huft, kau harus menanggung akibatnya’


‘Baik’


Navin yang mendapatkan tanggapan dari adiknya dengan tenang melangkahkan kakinya ke depan dan berjalan menuju ayahnya. Menatap wajah pria tampan itu dari samping lalu menghembuskan napas dengan kasar.


Terutama saat melihat wajah ayahnya yang sama persis dengan mereka, membuatnya bertanya-tanya alasan kenapa ayahnya meninggalkan mereka.


Namun, ia juga mengetahui bahwa semua ini bukan hanya kesalahan milik ayahnya sendiri. Melainkan kesalahan orang-orang yang berada di dekat ibu. Mulai dari keluarga yang tidak pernah memberikan harapan mereka kepada ibu sampai sosok kekasih yang dulunya menetap di dalam hatinya.


Dimana sosok kekasih milik ibu mereka saat ini sedang berdiri di depannya. Dengan kesalahpahaman yang seharusnya tidak ditanggung oleh ibu mereka saat itu.


‘Tenangkan dirimu Navin, orang yang ada di depanmu saat ini tidak pantas menerima belas kasihanmu. Ingat dia lah yang meninggalkan kalian di hari yang dingin itu, dan jangan lupakan semua penderitaan yang dimiliki oleh ibumu’ ucap Navin dalam hati.


Membuat perasaan yang tadinya hampir goyah karena kasih sayang di antara mereka kini kembali menjadi normal.


Sehingga Leon yang saat ini sedang menggendong anak perempuannya Laura, tidak mengetahui bahwa anak laki-lakinya tadi sedang mempertimbangkan dirinya.


Yang dimana pertimbangan tersebut dengan cepat lenyap saat mata biru itu mengunci tatapannya ke arah jari-jari ramping yang dimiliki oleh ayahnya dan dengan cepat menekankan salah satu jari tersebut di pewarna merah yang ia bawah.

__ADS_1


Lalu menekannya di selembaran kertas putih yang dia bawa dan membiarkan kertas tersebut memiliki sidik jari yang berasal dari salah satu jarinya. 


Dimana Navin yang melihat hasil perbuatannya tersenyum puas dan menghapus bekas pewarna yang ada di jarinya. Tanpa mengubah wajah, navin berdiri di hadapan ayahnya dan membiarkan mata berwarna biru malam itu menatapnya.


“Apa sudah selesai?” tanya Leon yang tidak mengetahui bahwa diri nya disalahgunakan oleh kedua anaknya.


“Hmm.” 


“Baguslah, kalau begitu apa kamu juga ingin digendong seperti saudari kembarmu?” tanya Leon sambil menawarkan kemurahan hatinya dan tak lupa memberikan kesan baik kepada anaknya yang lain.


Dan tidak mengetahui bahwa kesan baik yang ditunjuukkan olehnya kepada anak laki-lakinya sama sekali tidak mampan. Terutama Navin yang sudah mengingatkan dirinya dan meneguhkan pendirian yang ia miliki.


“Tidak perlu dan jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu” dengus Navin dingin. 


Membuat Leon yang mendengarnya mendapatkan bayangan masa lalu saat dia mencoba mengusir Lua di lobby perusahaan miliknya dan memukul wajah wanita cantik itu dengan tangannya sendiri.


[Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu dan usir dia dari kantor ku sesegera mungkin dan pastikan kalian memblacklist wanita ini.]



Seolah-olah Tuhan tidak mengizinkannya untuk melupakan semua kejadian yang terjadi pada masa lalu. di mana bukan dia sajalah yang menderita akibat kejadian tersebut melainkan wanita juga kedua anaknya yang saat itu sedang berada di dalam kandungan.


‘Ssst, seharusnya aku saja yang menghabisi mereka hari itu’ pikir Leon dingin menyadari bahwa saat ini anak yang berada di dalam pelukannya ketakutan.


“Apa kamu baik-baik saja, Laura?” tanya Leon khawatir.


“Aku-”


‘Apa itu? mengapa aku merasakan bahwa ada binatang buas sedang menatapku? Apa ini benar-benar aura yang dikeluarkan oleh ayahku?’ pikir Laura yang tanpa sadar menyusut ke dada lebar milik ayahnya melingkarkan leher ayahnya dengan erat.

__ADS_1


Dia merasakan bahwa jantungnya saat ini berdetak sangat kuat. Seolah-olah ada seseorang yang sedang menatapnya siap memangsanya. Menangkapnya hidup-hidup mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur.


Hanya satu kalimat yang ada di pikirannya saat ini, [ini sangat mengerikan].


"Maafkan ayah Laura, apa itu menakuti mu?"


"Tidak apa-apa, Dad. Hanya saja aku merasakan kedinginan tadi" senyum Laura tipis sambil menyembunyikan rasa takutnya terhadap orang yang ada di depannya saat ini tidak menyadari bahwa ibunya sedang menatap ayah juga dirinya dengan tatapan yang lekat.


'Apa anak ini mulai buta? mengapa dia tidak menyadari tatapan yang diberikan oleh ibu juga bisakah kau berhenti menyentuh tubuh adikku, aku merasa tanganmu tidak bisa lepas dari sayatan pisau milik ibuku' gumam Navin dalam hati.


terutama saat melihat bahwa perhatian adiknya tidak lagi berada di sisinya maupun di sisi ibunya, melainkan berada di tempat laki-laki berengsek yang ada di depannya saat ini. Seolah-olah hanya mereka berdua yang ada di muka bumi ini.


Dengan pemandangan kobaran api yang berasal dari mansion milik pamannya, itu sangat tidak realistis!


"Lau-"


Navin yang ingin memanggil adik perempuan nya seketika berhenti saat mendengar suara yang dikenalnya pelajar mendekat ke arahnya. Dengan daun juga ranting-ranting yang bertebaran, Navin mendongakkan kepalanya ke atas melihat ke arah selusin helikopter yang sedang terbang di atasnya.


di mana helikopter berwarna keemasan itu mulai memenuhi langit yang memiliki kabut hitam. seperti sebuah cahaya yang menerangi kegelapan yang ada, seperti itu jugalah keadaan mereka saat ini.


karena saat ini Navin yang berada di bawahnya juga menyadari bahwa helikopter ini berasal dari orang-orang yang dipanggil oleh ibunya. Sambil menatap helikopter itu dengan cermat, Navin menyadari bahwa saat ini tangan kecil miliknya sedang disentuh oleh telapak tangan besar milik ayahnya.


Dengan sentuhan yang ringan juga erat, Navin merasakan suhu dingin berasal dari telapak tangan milik ayahnya itu. Membuatnya mengikuti gerakan ayahnya dengan tenang, di mana ayahnya saat ini sedang menariknya menjauh dari lokasi mansion yang ada di dekatnya.


'Dingin, tetapi mengapa aku merasa bahwa telapak tangan ini memiliki kehangatan saat tangan itu menggenggam tanganku? Apa aku memiliki penyakit aneh?' pikir Navin bingung sambil menatap kedua tangan yang saat ini saling bersentuhan.



🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.

__ADS_1


🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~


__ADS_2