My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 20 : Neva


__ADS_3

Ke Esokan Harinya~


Luna sudah siap dengan pakaian gym miliknya. Sebenarnya dirinya ingin berolahraga di rumah saja tapi apa daya saat dirinya baru diberi tau bahwa gym di mansion milik kakaknya sedang rusak dan menunggu kiriman yang baru.


"Mom, ikut" ucap Navin pelan agar tidak membangunkan Tante Joe di sofa. Luna menundukkan tubuhnya dan menyamakan tingginya dengan anak lelakinya itu dan menatap pelan anak lelaki yang memiliki wajah sedikit sama dengan mantan kekasih dan atasannya itu. Kenapa sedikit tentu saja Navin hanya memiliki rambut dan tubuh berwarna sama dengan ayahnya itu dan jangan lupakan bibirnya yang seksi seperti ayahnya juga, sedangkan bola mata, hidung dan tentunya sikapnya seutuhnya sama dengan ibunya.


"Tidak bisa sayang, mom takut nanti ada yang melakukan apa-apa. Apalagi mom bukan pergi ke tempat gym biasa" jelas Luna membuat Navin mencemberutkan wajah tampan miliknya itu.


"Memang apa yang bisa membuat mom takut,coba" ngambek Navin sambil melipat kedua tangannya dan membuang pandangannya. Luna hanya bisa menggeleng heran melihat sikap anak laki-lakinya yang membuat dirinya teirngat akan dirinya dulu.


20 Tahun Yang Lalu~


Flashback On~


Di sebuah pesta besar nan megah terlihat senyuman bahagia di wajah milik saudari kembarnya Lina dipanggung itu. Sedangkan perempuan lain sedang menatap cemberut ke arah itu.


"Kenapa dia bisa sebahagia itu" gumamnya sambil menatap ke arah saudari kembarnya. Ya dia adalah Luna, seorang anak kecil polos yang sedang berulang tahun yang ke 8. Dirinya menatap dari balik pohon dan menatap senyuman yang terpancar di wajah Lina. Dirinya pernah menginginkan semua itu tapi apa boleh buat dirinya harus mengalah dengan sang kakak apalagi dirinya diberi tau bahwa bila dirinya tidak ketahuan oleh publik bahwa dirinya adalah saudari dari Lina dirinya akan aman dan tentu saja Luna yang saat itu masih tidak mengetahui apapun mengiyakannya.


Sebuah tepukan bahu lembut membuatnya menoleh ke arah belakang dan menemukan seorang perempuan muda yang menjadi penjaganya.


"Apa yang nona lakukan disini" tanya pelayan yang bernama Neva itu sambil menundukkan tubuhnya dan menyamakan tinggi miliknya dengan Luna.


"Sister Nev, bolehkan aku bertanya" ucap Luna pelan yang langsung diberikan oleh senyuman oleh Neva


"tentu saja ada apa, nona?" ucap Neva


"aku tau ini demi keamanan ku tapi kenapa aku tidak pernah diberikan kado oleh Daddy and mommy lalu aku tidak pernah merasakan seperti kak Lina?" tanya Luna panjang yang hanya membuat Neva tersenyum sendu saat mendengar ucapan dari nonanya yang bahkan tidak tau bahwa dia tidak disayangi oleh kedua orang tuanya dan sangat dibedakan oleh sang kakak.

__ADS_1


"Mungkin mereka lupa,nona" jawab Neva sopan.


"Sister Nev sudah mengatakan ini selama 5 kali mulai dari umurku 3 tahun" merajuk Luna saat mendengar jawaban dari orang yang merawat nya mulai dari dia bisa berjalan dan berbicara itu. Neva hanya bisa terkekeh saat mendengarnya dan tanpa sadarnya tawa kecilnya itu menarik perhatian tamu di sana dan membuat Neva langsung menggendong Luna untuk keluar dari pesta itu dan membawanya ke tempat aman dan tersembunyi.


"Ada apa, Sister Nev?" tanya Luna polos. Seruan seruan nafas tergesa-gesa terdengar dirinya Luna kecil matanya tertipu oleh helaian rambut milik Neva hingga suara pintu terkunci terdengar di sana. Neva menurunkan Luna secara perlahan lahan di tempat tidur berselimut kain coklat itu.


"Nona itu.." belum sempat Neva menjelaskan ucapannya tiba-tiba suara ketukan pintu jelas terdengar di sana. Membuat Luna berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu itu tetapi gelengan pelan dan genggaman tangan Neva menghentikan langkah kaki miliknya.


"Aku harus membukanya Sister Nev itu bisa jadi Daddy yang mencariku" ujar Luna yang digeleng cepat oleh Neva dan ditarik lembut tangan kecil itu kedalam dekapan miliknya.


"Nona harus diam dan jangan bersuara yaa saya mohon tolong diam sebentar karena daya menyayangi nona" bisik Neva dan menggendong Luna ke dalam lemari pakaian miliknya(Neva). Pintu lemari itu ditutup oleh Neva dan suara pintu yang dibuka terdengar setelah itu.



Luna kecil mengintip pelan dari lubang kemari yang sedikit terbuka dan melihat ayah yang sangat dia sayangi sedang menjambak rambut milik Neva sedangkan ibunya hanya berkipas-kipas pelan sambil menatap tak peduli.


"Awas" ucapnya lalu pergi. Setelah kedua orang itu pergi ringisan dan tangisan Neva terdengar di ruangan kecil itu. Luna membuka pelan lemari baju itu dan berjalan ke arah Neva dengan tatapan bingung miliknya.


"Kenapa kau menangis sister Nev dan juga apa yang dilakukan Daddy mommy tadi?" tanya Luna polos. Neva menggelengkan kepalanya pelan dan memeluk tubuhnya pelan dengan kasih sayang.


"Tidak apa-apa nona" jawabnya.


Flashback Off~


Kejadian 20 tahun yang masih dirinya ingat kejadian yang masih membuat dirinya bingung dengan apa yang orang dewasa lakukan dan ucapkan tapi sekarang dirinya sudah sadar dan juga memiliki kekuatan untuk melawan mereka yang telah melukainya.


"Ada apa mom?" tanya Navin.

__ADS_1


"tidak apa-apa sayang kau begitu mom pergi ya dan ingat sarapan mom sudah siapkan di atas meja" ucap Luna yang diangguki oleh Navin. Luna berjalan memasuki mobil Ferrari merah miliknya dan melaju ke arah tempat Gym terkenal di kota Chicago dan pastinya dengan perlengkapan yang lengkap.


"Neva..." sebut Luna sambil mengendarai mobilnya.


Di Tempat Lain~


Seorang laki-laki berwajah dingin dan cool itu sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower dan masih memikirkan semua hal yang akan dilakukannya apalagi sekarang informasi rahasia nya diketahui oleh publik dan dibocorkan oleh perempuan berdebah dibantu ibu yang dia cintai.


"Kenapa dunia ini sangat lucu sekali" dinginnya lalu mematikan Shower dan menatap tubuh atletis miliknya di kaca itu.


"Leon, sepertinya kita harus memuaskan emosi di tempat olahraga" smirknya. Tentu saja lelaki itu adalah Leonex Martin, laki-laki yang pergi dari mansion orang tuanya dan mengistirahatkan tubuhnya di apartemen miliknya dengan kekasihnya dulu yaitu Luna. Karena baginya hanya ruangan ini yang membuatnya bisa meredakan emosinya walau sedikit apalagi dirinya tidak pernah mengotak Atik setiap letak benda yang ada di apartemen nya dan masih sama tercium bau kekasihnya yang sangat menyukai parfum beraroma bunga Lily itu. Hingga sebuah bayangan muncul di pikirannya dan mengingatkanya pada kekasih yang dia cintai itu.


"Luna Nypole, Perempuan yang menarik" gumamnya dingin sambil memasang sepatu olahraga miliknya. Hingga sebuah telpon terdengar di ruangan itu.


Kring** kring**


"Apa" dinginnya.


"Tuan saya sudah mendapatkan informasi yang anda inginkan tentang Luna Nypole" ucap seseorang di sebrang sana.


"nanti aku ambil" ucapnya dingin.


"baik tuan dan juga teman anda sepertinya sudah ada di tempat gym seperti biasanya"


"hmm" Ucap Leon lalu mematikan telponnya. Tatapan matanya menatap ke arah Cermin yang menampilkan penampilan yang gagah dan bisa menarik semua perempuan dengan mudah tapi sayang hatinya hanya milik satu perempuan itu.


__ADS_1


__ADS_2