
Luna yang telah berkeliling di seluruh tempat, menyadari bahwa lokasi ini sangatlah luas dan jika tidak ada peta maka dia akan tersesat sepenuhnya. Karena tempat ini tidak mirip dengan hutan buatan melainkan seperti hutan asli yang ada di kota-kota lain.
Membuat Luna yang berkeliling sekaligus memeriksanya dengan yakin memastikan bahwa tempat ini bukanlah tempat yang aman, melainkan tempat yang cukup berbahaya untuk menyesatkan orang-orang yang ada di dalamnya.
Seperti masuk ke dalam labirin yang akan menyesatkan orang-orang yang ada di dalamnya. Bahkan jika mereka tau bahwa tempat ini memiliki jalan keluar dan juga jalan masuknya. Sehingga Luna yang memeriksa keadaan kawasan yang ada di cagar lama, merasa bahwa dia harus keluar dari tempat ini cepat atau lambat.
Jika tidak ini akan membahayakan hidupnya. Tapi untuk menghindari rasa kecurigaan orang-orang yang mengawasinya, Luna berjalan ke restoran yang ada di dekatnya. Sambil menunggu makanan tiba, Luna melihat hiasan yang ada di restoran itu.
Dimana restoran ini memiliki tema pemburu, dan menggunakan kesannya untuk mencegah publik dalam menghancurkan habitat para hewan. Tapi Luna yang mendengar penjelasan dari manajer restoran merasakan perasaan yang lucu.
Terutama saat melihat senjata yang menempel di dinding-dinding bangunan. Matanya dengan jelas manangkap bahwa senjata maupun biasa yang di tempel di bagian dinding jelas asli bukan sebuah replika biasa.
Sehingga kemungkinan wilayah ini semakin besar. Apalagi saat mata Luna menangkap sebuah senjata tua namun mematikan tergantung dengan jelas di atas perbatasan antara ruang makan dengan ruang koki atau ruangan memasak.
Tapi tidak hanya itu saja yang membuatnya terkejut, Luna juga menyadari bahwa orang-orang di restoran saat ini sedang melihat ke tempatnya berada. Tepatnya di balik tubuhnya, dimana lokasinya makan saat ini berada di samping pintu masuk restoran.
Sehingga Luna yang berbalik tidak bisa tidak menatap wajah pemuda yang sangat ia kenal dan telah ia jumpai berkali-kali. Entah itu di kehidupan saat di membesarkan seorang anak maupun kehidupan nya dalam bertarung dengannya.
'R.' Pikir Luna yang tidak ingin menyebutkan nama asli pria yang ada di dekatnya.
Terutama saat pria itu sedang tertawa, mata berwarna almond itu dengan jelas memperlihatkan sepasang kesejukan dan ketenangan yang tidak sesuai dengan umurnya. Seolah-olah dia hanyalah anak polos yang mudah diajak bermain.
Namun sayangnya anak itu hanya bermain dalam menusuk temannya dari belakang.
"Bukankah dia tampan? Dia terlihat seperti bintang idola yang ku kagumi!"
"Astaga mata almond itu sangat indah sekali, rasanya aku ingin menyimpan dan melihatnya selama sisa hidupku."
"Dia sangat manis."
"Ya ampun, ibuku. Aku rasanya ingin menikah dengannya hari ini juga."
__ADS_1
"Apa dia kenalan pemilik restoran ini? Dia terlihat akrab dengan manajer restoran."
"Siapa dia? Apakah aku boleh meminta tanda tangannya?"
"Ahhh, aku ingin berfoto dan mencium pipinya yang lembut."
Dengan suara bisikkan dan juga gumaman para wanita, Luna yang mendengarnya hanya bisa menampilkan senyumnya yang tipis. Seolah-olah kejadian ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya dan dia hanya fokus dalam menunggu makanannya saja.
Terutama saat dia mendengar suara troli makanan didorong, membuat Luna yang telah lapar seharian mengambil kain bersih yang terlipat di atas meja dan meletakkannya di atas kerah bajunya.
Agar menghindar dari bekas maupun kotoran yang tidak sengaja dibawa oleh makanan saat menyuap ke dalam mulutnya.
Sampai tak lama kemudian Luna menyadari bahwa banyak orang telah melihat ke arahnya dan memandangi orang yang sedang berdiri tepat di sampingnya. Dimana dengan sekali toleh, Luna melihat wajah tampan itu langsung di hadapan matanya.
Dengan senyum yang manis orang itu meletakkan makanan dan juga minuman yang ia pesan di atas mejanya.
"Terimakasih telah datang ke restoran ayahku."
"Nona, apa anda tau anda saat ini anda sangat terlihat manis di mata saya nona.” Puji orang itu tanpa rasa malu sedikitpun.
Membuat luna yang mendengarnya mencoba mengeluarkan blush di pipinya dengan meletakkan peruas pipi di tangannya dan sedikit menggosokkan di atas permukaan topeng yang ia pakai.
Sehingga R yang berdiri di depan Luna dengan cepat menangkap aksi malunya yang tipis. Membuat pikiran yang ada di hatinya dengan cepat pergi, dan mata berwarna almond itu berubah menjadi gelap dan tidak ada usahanya.
Saat mengetahui bahwa orang yang ia pikir adalah orang itu bukan lah orang yang ia cari. Sehingga hatinya dengan cepat mereda dan kehilangan perasaan menyenangkan itu.
“Tu-tuan. . .” Tatap luna malu yang mencoba menahan rasa marah dan rasa ingin membunuh di depan orang ini.
“Hahaha, tidak perlu malu nona. Karena saya pikir anda memang sangat cantik dan tolong simpan kartu ini, anda bisa menghubungi saya kapan-kapan saat anda memerlukan teman untuk mengobrol.” Ucap R yang tak lupa menggoda wanita yang ada di hadapannya lalu berbalik pergi meninggalkan meja tersebut.
__ADS_1
Sehingga Luna yang mendapatkan kartu nomor itu dengan cepat berbalik dan melihat kepergian pria yang tidak sempat ia bunuh itu. Terutama mata berwarna almond itu yang kini tidak memiliki kesejukannya lagi dan hanya dipenuhi dengan rasa dingin dan keterasingan.
Membuat Luna yang melihat kepergian pria itu sampai tidak ada bayangan sedikitpun mulai membalik kartu nomor yang diberikan orang itu kepadanya. Yang mana kartu itu ditulis dengan nomor yang tidak asing baginya.
Nomor itu terdiri dari beberapa angka yang biasa-biasa saja saat di mata orang lain. Tapi tidak dengan Luna yang mengetahui angka apa yang ada di balik nomor tersebut. Terutama saat nomor itu terasa familiar bagi Luna, yaitu nomor lama yang ia miliki saat ia masih tinggal di kediaman Luxury.
“Nomor yang sangat indah (menarik).” Gumam Luna yang hanya bisa menggunakan kata ‘sangat indah’ saat menyadari ada seseorang sedang menatap dirinya dari kejauhan. Yang membuat Luna yang menerima tatapan itu dengan spontan mengubah kalimatnya.
Agar tidak memberi celah terhadap orang yang sedang memperhatikannya dan benar saja setelah Luna mengatakan kalimat tersebut orang itu dengan cepat menghilangkan keberadaannya. Seolah-olah ia telah menghilang dari udara tipis.
Sehingga Luna yang menyadarinya dengan tepat menebak tindakan yang dilakukan oleh orang itu. Dimana saat ini orang itu telah berjalan ke masuk ke dalam hutan-hutan yang lebat, dan tidak jauh di sana terlihat seorang pria sedang duduk di atas batu yang merupakan tempat tinggal hewan karnivora itu.
“Bagaimana dengan reaksi wanita itu, apa dia senang saat mendapatkan nomorku?” Ucap R sambil mengangkat kepalanya sedikit dan memperlihatkan mata berwarna almond yang indah itu.
“Seperti biasa tuan, reaksi yang mereka berikan tidak lebih dan tidak juga kurang.” Jawab bawahan itu yang merupakan orang yang telah memata-matai tindakan luna saat menerima nomor tadi.
Membuat R yang mendengarnya mau tidak mau menghela nafas dan turun dari batu berukuran besar itu. Dengan suara mendarat yang ringan, R dengan cepat disambut oleh sekumpulan serigala berukuran besar.
DImana serigala-serigala itu tidak hanya mengelilinginya melankan ikut menjilati wajahnya yang tampan.
Membuat R yang menerima tindakan dari kawanan serigala tersebut menatap mereka tajam dan pergi meninggalkan para kawanan yang telah menampilkan wajah memelas mereka yang tidak memiliki pengaruhnya sama sekali kepadanya.
“Kalau begitu kembali lah ke tempat penyembunyian.” Ucap R dingin.
“Baik, tuan.”
Dengan jawaban yang patuh kedua orang itu dengan cepat pergi menuju tempat persembunyian mereka berada dan menyamarkan diri mereka di tengah-tengah para turis yang tengah berkeliling di sana.
Tanpa mengetahui seekor singa kini sedang menatapi mereka dari kejauhan sana.
__ADS_1
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~