My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 85 : Lantai 3


__ADS_3

piuuuit**


Saat dia meniupkan peluit sebuah tali panjang menghampirinya. Luna memegang tali tersebut dan menambahkan bom asap lagi sebelum menutup jendela yang merupakan jalan keluar miliknya. Membiarkan lantai 3 menjadi ruangan yang gelap dan dipenuhi kabut asap.


Luna memegang kuat tali yang diberikan oleh orang atas yang merupakan rekannya. Mengambil penjepit yang ada di tali dan menjepitkan nya di ikat pinggang miliknya. Dengan posisi memanjat yang sempurna Luna menginjakkan kakinya di tembok-tembok tersebut. Berjalan menuju ruangan targetnya sambil melewati jendela-jendela yang ada.


Dimana jendela paling ujunglah yang merupakan tujuan utama nya. Jendela yang akan memperlihatkan apa yang sedang dilakukan oleh Sisca Made di dalam sana. Di saat Luna mendekat tiba-tiba jendela ketiga yang dia lewati terdapat sebuah gerakan. Membuatnya dengan cepat mengeluarkan kain yang ada di dalam kantongnya.


Jendela itu terbuka dan memperlihatkan seorang penjaga. Membuat Luna dengan cepat menekan kain yang sudah ia tambahkan obat tidur ke penjaga yang membuka jendela tersebut. Hanya perlu beberapa detik penjaga yang melihat Luna sudah tumbang dan pingsan di tempat. Luna menendang kepala penjaga tersebut agar menjauh dari jendela yang dibuka tadi.


Menambahkan bom asap kembali dan menutup jendela yang dibuka tadi. Sedikit gangguan mampu mengurangi batas waktu yang Luna dapatkan. Tinggal 22 menit lagi untuk mengerjakan tugas yang dia dapatkan. Dengan adanya bantuan virus yang dia sebarkan di sistem keamanan membuat Luna bisa melakukan pekerjaan nya dengan muda. Tapi sayangnya memiliki efek samping yaitu tidak bertahan lama. Menjadikan tugas Luna sedikit sulit dan memiliki batas waktu tertentu untuk kali ini.


Luna melanjutkan perjalanan nya sisa satu jendela lagi, Luna akan sampai ke jendela yang berada di ujung yang merupakan tujuan miliknya. Tapi langkah kaki Luna harus terhenti kembali karena seorang penjaga yang keluar dari sisi jendela. Membuat Luna dan penjaga itu saling bertemu dan menyiapkan posisi bertarung mereka. Di saat tangan penjaga tersebut ingin menekan tombol darurat dengan cepat Luna melempar jarum perak miliknya.


"Aarghhh" teriak penjaga itu saat tangannya tertusuk jarum perak yang dilemparkan oleh Luna.


"Maaf sepertinya hari ini adalah hari terakhir mu hidup" ucap Luna dingin dan menusuk jantung penjaga tersebut. Membiarkan pisau belati miliknya menusuk dalam dan membunuh penjaga yang berniat untuk menekan tombol darurat. Beruntungnya Luna sudah berjaga-jaga dan berhasil mengenai tubuh penjaga dengan jarum perak miliknya. Seperti yang dia hitung tadi penjaga yang ada di lantai 3 ini lumayan banyak. Bahkan ini sudah ketiga kalinya Luna melihat penjaga sebelum dari toilet. Dan juga jarum yang Luna berikan kepada penjaga tadi merupakan jarum yang sudah menusuk daerah titik akupuntur penjaga tersebut.


Membuat orang yang terkena jarum miliknya tidak bisa bergerak dan berhenti di tempat. Luna pernah memperlihatkan gerakan nya juga saat di London. Dimana saat itu Leon lah yang merupakan korban dari jarum miliknya.


"Aarghhh!" teriak penjaga itu kesakitan. Satu nyawa lagi yang hari ini telah Luna kembalikan ke asalnya. Luna memasukkan pisau belati miliknya ke tempat yang terletak di dekat paha miliknya.


Kemudian tangan Luna mengambil jarum perak yang ditusukkan Luna ke penjaga tersebut dan memasukkan nya ke dalam kantung tas ransel miliknya. Menarik pergelangan tangan penjaga yang telah mati dan melemparkannya ke bawah.


"Maaf aku membuang dirimu sembarangan, teman" ucap Luna dingin sambil menatap mayat penjaga yang sudah terdampar di bawah. Luna harus membuang mayat tersebut dari lantai 3 ke lantai 1 agar membuat orang-orang berpikir bahwa penjaga tersebut mati karena bunuh diri bukan dibunuh.


Salah satu cara yang akan memudahkan Luna untuk lari dalam penyelidikan. Bagaimanapun juga Luna harus mengerjakan setiap tugasnya tanpa ketahuan, tanpa terlihat dan tanpa meninggalkan jejak. Membuat Luna menutup mulut orang-orang yang telah melihatnya itu dengan nyawa mereka.

__ADS_1


Dimana setiap keinginan membutuhkan perjuangan dan juga pengorbanan untuk mencapainya. Walau jalan untuk mencapai semuanya itu terbilang sulit. Tetapi Luna tidak akan pernah menoleh ke belakang dan merasa menyesal dalam menjalankan setiap rencananya.



Dia akan tetap menatap ke depan dan tidak akan menyerah. Hingga Luna sampai di ujung tembok yang lantai 3 ini. Luna bisa mendengarnya suara desahan yang terhenti karena lampu yang mati.


"Tidak apa-apa sayang kita bisa melakukan nya bahkan jika gelap sekalipun" ucap seorang laki-laki di dalam ruangan.


"Tidak-tidak! aku takut gelap kau tau" tolak Sisca Made.


"Aku akan memelukmu, sayang" ucap seorang laki-laki. Dari luar jendela Luna hanya bisa mendengar dan melihat gerakan mereka. Listrik yang dia matikan masih belum dinyalakan membuatnya tidak bisa melihat sosok laki-laki yang ada di dalam ruangan tersebut.


Luna mengambil sebuah kamera kecil dari tas ransel miliknya. Membuka jendela ruangan tersebut dengan berhati-hati agar tidak ketahuan. Di balik gorden bewarna merah merona itu Luna menyembunyikan tangannya. Dia memasang kamera kecil tersebut di dekat meja yang terletak di dekat sana.


Menutup kembali jendela ruangan tersebut dan melihat jam tangan miliknya. Sisa 10 menit lagi dan semua sistem keamanan akan menyala. Luna langsung memegang tali tersebut dan menariknya sengaja dua kali. Membiarkan rekan yang berada di atas memegang tali kuat.


Tangannya menggapai bebatuan yang ada dan mengangkat salah satu kakinya. Luna sudah menaiki loteng yang merupakan tempat paling atas dari Austin BarC.


Di sana Luna bertemu dengannya, rekan yang merupakan temannya. Teman yang memiliki misi juga di Austin BarC membuat Luna mendapatkan sedikit bantuan untuk memudahkan tugasnya.


"Terimakasih Joe atas bantuannya, sepertinya kamu hidup ada gunanya" dingin Luna dan melepas jepitan tali yang ada di ikatan pinggang miliknya.


"Tidak perlu berterimakasih denganku dan aku hidup untuk diriku bukan dirimu, Luna-chan" jelas Joe.


"Apa kamu tidak menonton nya lebih lama Luna-chan? padahal jika kau merekam secara langsung itu akan memberikan efek samping yang bagus untukmu" senyum Joe sambil menggulung tali yang digunakan untuk Luna mengerjakan tugasnya.


"Ya efeknya itu adalah aku akan mandi di kamar mandi, bila aku orang yang mudah terangsang" tekan Luna dan melepas topeng miliknya. Memasukkan perlengkapan yang di letakkan di daerah pinggang nya ke dalam tas dan mengeluarkan laptop miliknya.

__ADS_1


Membuka laptop tersebut dan melihat bahwa virus yang sudah dia sebar sudah dibersihkan. Membuat sistem keamanan kembali normal tapi tidak untuk penjaga yang bukannya kembali normal malah berkurang.


"Ingat kau harus membantuku dalam permainan kartu di Kasino," ucap Joe mengingatkan Luna maksud dan tujuan mereka bekerja sama. Dimana mereka berdua menggunakan keuntungan yang akan didapatkan jika mereka saling membantu.


Luna mendapatkan keberuntungan dalam tali miliknya dan Joe mendapatkan keuntungan dalam permainan kartunya. Sebenarnya Joe sudah menyelesaikan misinya di Austin BarC ini. Tetapi dia membutuhkan uang yang banyak untuk mengganti uangnya yang hilang karena kebanyakan membeli baju Loli.


"Aku ingat dan jangan mengintip" sinis Luna yang ingin mengganti bajunya. Dia tidak mungkin menggunakan baju khusus miliknya ke dalam kasino. Bisa-bisa dia dicurigai nanti jika menggunakan pakaian seperti ini.


"Tidak akan ada yang mengintipmu Luna-chan dan tidak ada satupun orang yang tertarik denganmu" sindir Joe sambil melihat ke arah bawah. Dimana orang-orang sudah ramai berkumpul karena sebuah mayat yang tergeletak.


"Nee Luna-chan apa tidak apa-apa membiarkan mayat itu di sana, bukannya nanti pihak kepolisian akan mengambilnya?" tanya Joe yang melihat orang-orang yang berkumpul itu semakin ramai.


"Tenang saja tidak mungkin pihak kepolisian di ambil. Bagaimanapun juga tempat ini merupakan tempat yang memiliki keilegalan 75% dan jelas itu akan membuat tempat ini di sita jika ketahuan" jelas Luna dingin. Dia menggerai rambut panjang miliknya lagi dan menyemprotkan parfum beraroma mawar di tubuhnya.


Menghilang kan aroma darah yang ada dan menggantikan nya dengan aroma harum khas bunga. Mempoleskan sedikit make up tipis yang memberikan kesan natural di wajahnya.


"Ayo Joe, aku sudah siap" ucap Luna dan memberikan senyuman manisnya.


"Bisakah kau tidak tersenyum aku merinding melihatnya Luna-chan" sindir Joe sambil memasukkan permen karamel miliknya. Mereka berjalan ke pintu yang ada di loteng. Membiarkan kedua orang itu masuk ke ruangan lantai 5.


Ruangan yang memiliki sejuta keilegalan dan sejuta kelicikan. Kartu, Jarum, Billiar dan masih banyak hal lainnya. Ruangan itulah yang akan menjadi pertempuran terkahir Luna untuk hari ini. Tempat perjudian yang paling terkenal dan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang ternama yaitu lantai 5 Austin BarC.


'Permainan kartu mana yang akan dipilih lawanku ya' smirk Luna.



🔫Masih permainan otak dan ehem spoiler bakal ada laki-laki tersayang kita nih yang hadir^^ hohoho tambah seru alurnya sayang!

__ADS_1


__ADS_2