My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 164 : Pemikiran (2)


__ADS_3

Adegan perkelahian itu sangat sengit, terutama kedua senjata yang digunakan oleh Navin dan laura. Membuat perasan berbahaya dan juga kritis muncul di perkelahian tersebut.


Namun, Damian yang merupakan lawan dari kedua orang tersebut sama sekali tidak memiliki ekspresi extra di wajahnya yang tampan itu. Yang ada hanyalah wajah tenang dengan tatapan main-main.


Seolah-olah kedua hal yang ditembakkan dan diarahkan kepadanya itu hanyalah hal biasa saja dan sama sekali tidak menyakiti pihak lain maupun merenggut nyawa yang mereka lawan. Dimana nyawa yang dimiliki setiap manusia tidak sebanyak hewan berkaki empat bernama kucing.


“Eh. .”


Dengan suara keterkejutan, Leon yang berdiri di sana terkejut melihat adegan kedua anaknya dan menatap pohon yang tumbang dan juga rumput yang telah menjadi debu itu. Yang kini ada sebuah perasaan tersembunyi di dalam dirinya mencoba untuk menghentikan perbuatan kedua anaknya.


Tapi Leon yang ingin melangkahkan kakinya ke mereka dengan cepat didahului oleh Damian yang telah melaju ke arah mereka dengan cepat. Seperti sebuah bayangan, Damian melaju ke arah mereka dan meletakkan kedua tangannya di belakang leher kedua orang itu.


Dan dengan hitungan detik, kedua anak yang melakukan gerakan liar dan bahaya mereka menjatuhkan tubuh mereka. Dan ditangkap oleh Damian dengan lembut, yang membiarkan kedua anak itu tertidur lelap di kedua tangannya.


“Tunggu, apa yang kau lakukan kepada mereka?” Tanya Leon yang melihat bahwa kedua anaknya telah dibawa ke dalam pelukan Damian.


Terutama tadi, Leon dengan jelas menangkap sebuah bayangan jarum disuntikkan di bagian belakang lahir mereka. Sehingga kedua anak nya yang memberontak dan masih memiliki energi untuk berkelahi, tertidur dalam sekejap mata.


Membuat Leon yang melihatnya khawatir, dan menanyakan kebenaran dari sikap Damian. Karena dia tidak ingin mendengar sebuah kebenaran, bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini merupakan musuh yang diam-diam menyusup dan berhasil mendapatkan kepercayaan dari orang tercintanya.


“Memang kenapa tuan Martin, apa anda mengkhawatirkan sesuatu hal yang seharusnya tidak dikhawatirkan oleh anda?” Ucap Damian dengan senyum smirknya sambil menatap orang yang ada di depannya dengan ringan.


“Apa maksudmu, Damian?” Tatap Leon dingin.


“Ahhh, apa anda masih tidak memahami maksud saya tuan Martin?”


“?”


“Hahaha, kalau begitu saya akan menjelaskan kepada anda tuan Martin atau saya panggil anda dengan sebutan bajingan?” Ucap Damian dengan nada mengejek.

__ADS_1


Membuat Leon yang mendengarnya menatap Damian dengan tatapan berkabut dan mencoba menekan perasaaan gelap yang ada di dalam lubuk hatinya.


“Apa anda masih tidak memahaminya tuan Martin? Tidak ada gunanya ada datang ke sini dan tidak ada gunanya ada mengkhawatirkan kedua anak yang ada di dalam genggamanku saat ini, karena itu semua sia-sia saja.”


“Dan juga bukankah anda tau bahwa selama ini anda tidak pernah sekalipun melakukan kewajiban anda sebagai suami maupun ayah dari kedua anak ini? Oh ya benar juga, bukan anda yang telah menjalankan kewajiban selama 8 tahun penuh, tapi saya.”


“Dan apa saya harus melamar Luna, karena sepertinya dia kekurangan orang untuk menjaga kedua anaknya. Bukankah begitu, tuan Martin?” Lanjut Damian yang dengan terang-terangan menyindir semua kesalahan dan luka yang dimiliki oleh Leon dan tidak lupa menambahkan sebuah bumbu pedas untuk menambahkan kemarahan dari orang yang ada di hadapannya.



Terutama saat Damian menatap mata biru yang sama persis dengan kedua anak baptisnya. Membuat perasaan ketakutan merayapi hatinya, tapi Damian yang sudah terbiasa mengontrol ekspresi wajahnya dengan kuat menahan perasaan menyeramkan itu.


Dimana kabut mulai menutupi mata berwarna biru terang itu dan mengubahnya seperti lautan yang gelap dan juga dalam. Seolah-olah bisa menyedot lawan yang melihat matanya dengan sekali lihat dan menenggelamkan orang tersebut ke dalam lautan tanpa dasar.


Dengan sebuah kegelapan yang terpantul di dasar matanya yang gelap dan Damian yang melihat mata tersebut merasakan bayangan milik atasan sekaligus orang yang ia kagumi dari lubuk hatinya.


“?”


“Akan merebut segala yang seharusnya menjadi milikku. Entah itu darah dagingku maupun bulan putihku.” Bisik Leon yang dengan mudah merenggut kedua anaknya dari genggaman Damian dan membawa kedua orang itu ke dalam pelukannya.


Dan Damian yang mendengar bisikan Leon menatap Leon dengan dingin dan menyadari bahwa kedua tangannya saat ini kosong. Membuat Damian yang merasakan hal tersebut mengalihkan pandangannya ke dada Leon yang saat ini telah diisi oleh dua boneka kecil yang telah tertidur lelap.


“Kau-”


“Kenapa? Apa kau kesal? tapi sayangnya kau sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melawanku Damian dan Itulah kenapa kau sama sekali tidak bisa masuk ke dalam hatinya, Damian.” Sela Leon yang membalas semua sindiran yang ia terima tadi.


Membuat Damian yang mendengarnya merasakan perasaan berat dan tidak nyaman di hatinya. Terutama mata itu, memandangnya seperti orang asing dan bahkan sama sekali tidak menganggap dirinya sebagai lawan yang setara dalam memperebutkan wanita cantik itu.


Seolah-olah semua hal yang ada di dunia ini sudah ada di dalam genggaman tangannya dan tidak ada yang bisa merebut barang yang ia minati.

__ADS_1


“Heh, menyedihkan.” Dingin Leon yang membalikkan tubuhnya ke belakang dan memunggungi Damian yang ada di belakangnya. 


Dimana Damian yang telah lama diam, mengeluarkan suaranya yang tegas namun penuh perasaan tenang.


“Kau tidak boleh membawa mereka ke tenda militer yang baru saja dibangun.”


“Kenapa?”


“Karena Luna memerintahkanku untuk membawa mereka ke distrik militer yang dimiliki oleh Sir Rangga dan Luna juga memerintahkan saya untuk tidak membiarkan mereka berdua mengikuti dirinya dan tidak hanya untuk mereka, tapi untuk dirimu juga tuan Martin.” Jelas Damian yang melihat gerakan Leon yang berbalik dan mencoba menuju tempat Luna berada.


Leon yang mendengar penjelasan Damian menghentikan langkah kakinya dan menatap Damian dengan dingin. Dimana kedua tangannya saat ini masih memeluk tubuh kedua anaknya.


Namun itu semua tidak menghentikan gerakan membunuhnya, yang mana mata  biru gelap itu menatap Damian dengan dingin dan tanpa perasaaan.


Seolah-olah hanya dengan tatapannya saja, dia dapat membunuh para musuh yang ada di sekelilingnya. Lalu membuat mereka ketakutan saat melihat tatapan gelapnya itu.


Karena di mata berwarna biru gelap itu, tercermin sebuah kegelapan laut yang dalam. Sehingga siap membawa orang-orang ke dalam pusaran ombak yang keras dan juga berbahaya.


Dan saking berbahayanya mampu membahayakan nyawa orang yang tidak dikenal itu. Bahkan Damian yang menerima tatapan mata tersebut, mencoba menahan kegugupan dan kegelisahan dari mata berwarna gelap itu.


Terutama di saat mata itu menatapnya seperti mangsa bukan lagi seperti orang lalu yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. 


“Kalau begitu katakan padaku, apa hubunganmu dengannya?” 



🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.


🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~

__ADS_1


__ADS_2