
Ke esokan harinya berita tentang perusahaan milik keluarga Luxury disiarkan secara langsung. Dengan pengakuan milik seseorang dan juga pengajuan hukum dari keluarga Martin. Membuat harga saham keluarga Luxury yang tadinya menurun tambah menurun drastis hingga angka 40.
Di perusahaan itu juga dipenuhi dengan para wartawan dan juga para karyawan yang di PHK massal oleh atasan mereka, dikarenakan saham yang menurun sehungga menjadikan orang-orang yang tadinya bekerja sekarang kesusahan karena dipecat.
Bahkan orang-orang yang dipecat itu sama sekali tidak diberikan gaji sedikit pun oleh Perusahaan Luxury. hingga cukup membuat bangunan depan yang tadinya dipenuhi wartawan menjadi tambah penuh oleh orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan itu.
Dimana seorang wanita kini sedang menatap perusahaan yang dipenuhi orang-orang itu dengan tatapan tajam yang mematikan dari balik. mobilnya. Matanya yang tajam menoleh dingin ke arah perusahaan, ditemani dengan kedua malaikat nya dia hanya bisa mengeluarkan senuman tipisnya.
"Mom, aku sudah siap" ucap seorang anak laki-laki sambil menenteng sebuah tas ransel berisi barang berbahaya
"Baiklah" ucap Luna lalu membuka pintu mobil itu pelan. Membiarkan anak laki-laki itu pergi ke Luxury Company sambil membawa barang-barang.
Langkah kakinya yang kecil menyelinap masuk ke dalam Perusahaan besar itu. Menyembunyikan wajahnya di balik masker dan berjalan di sekitar gedung dengan penuh minat. Dia berhati-hati dan melakukan semua gerakan dengan sesantai mungkin, membuat orang yang ada di sekitarnya tidak mencurigai dirinya. Kecuali orang-orang yang ada di dalam mobil hitam itu.
"Mom, apa kakak akan baik-baik saja? padahal lebih baik serahkan tugas itui kepadaku daripada kakak" jelas Laura seorang anak perempuan yang manis dan manis
"Tidak bisa Laura, kamu seharusnya tau kamu memiliki kebiasaan gugup sedangkan kakakmu itu memiliki kebiasaan tenang dan tenang" jelas Luna yang membuat Luara hanya bisa menggerutu kesal dan mengeluarkan decihan kecil.
"Cih"
Mereka berdua melihat aksi Navin dari dalam mobil dengan tenang, tapi tidak dengan supir yang ada di dalam mobil. Seorang supir yang mengantarkan kedua tamu penting milik bisanya dan hanya bisa menahan nafasnya saja.
'Ahhhh komandan, kenapa anda bisa memiliki orang-orang semengerikan ini dan juga apa anak laki-laki itu tidak takut jika dia salah meletakkan bom itu' pikir supir yang merupakan salah satu anak buah milik Leon yang diberikan tugas untuk mengantarkan ketiga orang ini ke arah perusahaan Luxury atau sering dikenal sebagai Luxury Company.
"Mom, kenapa harus bom waktu? bukankah lebih baik untuk meledakkan perusahaan itu secara langsung dengan granat atau bom nuklir?" tanya Laura sambil melihat ke arah kakak laki-laki nya yang sedang bersembunyi di balik semak-semak menggunakan teropongnya.
"Karena ada sesuatu hal yang ibu butuhkan, membuat mom lebih memilih bom waktu daripada bom nuklir paham" jelas Luna yang membuat Laura menggangguk paham dan kembali melihat ke arah kakaknya.
__ADS_1
Di sana terlihat seorang anak laki-laki yang sedang bersembunyi di balik semak-semak rimbun sambil membawa perkakas dan juga alat peledak yang berbahaya. Dengan ketenangan pikiran, anak itu dengan cepat menyelesaikan pemasangan bom di luar perusahaan.
'Kalian harusnya bersyukur karena mom lebih memilih bom waktu dibandingkan bom nuklir untuk menghancurkan perusahaan kalian ini' ucap Navin dalam hati yang membersihkan perkakas nya dan menuangkan cairan bening di sekitar bomnya.
'Tapi sayangnya aku suka meletakkan barang-barang pendukung di rencana momku, jadi selamat tinggal' lanjut Navin yang kembali mengitari perusahaan besar itu dan kembali bersembunyi.
Navin mengulangi gerakan dan juga semua hal yang ia lakukan. Dari berjalan, menoleh, bersembunyi, membongkar, memasang hingga menuangkan cairan bening tersebut. Sampai sebuah bom terakhir dipasangkan tepat di dekat pintu masuk perusahaan milik Luxury. Membuat recanannya terselesaikan dan dengan cepat kembali menuju mobil yang berada tidak jauh dari perusahaan.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan di sana?" panggil seseorang di belakangnya membuat Navin yang tadinya berhenti kini membalikkan tubuhnya pelan.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini nak?" tanya orang itu kembali dan meliuat apa yang dikerjakan oleh Navin. Sehingga Navin yang melihatnya dengan cepat menyadari dan melambaikan kedua tangannya ke arah laki-laki dengan baju penjaga itu.
"Paman-Paman kau harus menunduk! aku tidak bisa melihat wajahmu!" ucap Navin sambil melambaikan kedua tangannya dan juga sedikit melompat. Membuat laki-laki yang tadinya melihat ke arah tempat anak itu tadi kembali menatap ke arah Navin.
"Huh, akhirnya paman melihatku juga" ucap Navin sambil menghela nafasnya.
"Saya lakukan? maksud paman saat di sana tadi yaa"
"Ya, apa yang sedang kau lakukan?"
"Hehehe, aku tadi sedang melihat bunga yang cantiiiik sekali. Saking cantiknya aku mengambil bunga itu, coba liat paman bunga nya" jelas Navin sambil mengeluarkan suara kekanakannya dan tidak lupa mengambil bunga yang ada di kantungnya.
"Cantik bukan, bunga ini pasti bagus untuk kuburan Daddy nanti" lanjut Navin yang dengan cepat mengubah ekspresi bahagianya dengan ekspresi sedih. Seolah-olah bunga yang ia dapatkan ini adalah sebuah bunga yang paling cantik untuk dijadikan kado sebagai hati kematian ayahnya.
'Untung saja aku mengambil bunga ini tadi dan juga maaf Tuan Martin kematian mu aku bawa-bawa' pikir Navin yang tanpa tau bahwa seorang laki-laki yang berada di gedung tertinggi itu kini mengeluarkan suara bersin.
__ADS_1
"Hachim" bersin Leon yang menyapu hidungnya dengan sapu tangan yang ada.
"Ada apa Leon? kenapa kau bersin, sungguh jarang melihatmu bersin di tengah-tengah persiapan konferensi pers" ucap Levi yang merupakan ayah Leon.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasakan gatal di dekat hidungku" jelas Leon menarik perhatian milik Febri.
"Gatal? sepertinya ada yang membicarakan mu kawan" canda Febri yang dengan cepat terkena tendangan milik Leon.
"Awch, hei bokong yang kau tendang ini merupakan bokong mahal tau" kesal Febri lalu memegangi bokong miliknya pelan.
"Bokongmu mahal?! heh seperti nya kau tidak perlu gaji di tahun ini" ancam Leon yang membuat Febri yang mendengar nya langsung khawatir dengan biaya hidupnya.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya dan juga hasil test yang kau minta akan keluar ebberapa hati lagi" ucap Leon memberikan info kepada atasan sekaligus temannya itu.
"Bukannya aku memintamu untuk lebih ceoat menyelesaikan nya?"
"Tuan Leonex yang terhormat, apa anda tau rumah sakit kita sedang dipenuhi dengan banyak pasien" tukas Febri yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan miliknya dengan cepat. Bahkan jika atasannya mengancamnya, tidak ada yang bisa ia lakukan juga karena pasien kecelakaan di negaranya cukup membuat sampel tes untuk rumah sakit kepenuhan.
"Kalau begitu selesai kan pekerjaan milikmu yang lainnya" dingin Leon membuat Febri yang mendengarnya mengangkat tangan kanannya dan menyatukan ujung jari miliknya ke arah Leon.
"Siap, kaksa" ucap Leon yang langsung berlari ke luar dan meninggalkan Leon dengan Levi di sana. Dimana saat itu juga laki-laki itu sedang memikirkan wanita miliknya, seorang wanita yang membuat hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan dan kadang sebuah rasa kesakitan.
'Aku harap dia baik-baik saja di sana dan ku harap semua masalah ini akan berakhir secepatnya, Luna aku ingin memeluk dan mencium baumu sekarang' ucap Leon sambil memandang ke arah langit yang dipenuhi awan-awan putih lembut.
🔫 Keluarga Luxury akan hancur dalam 2 bab dan juga keromantisan Leon akan bertambah di setiap babnya, dengan Luara yang mendukung dan juga Navin yang menghalangi. Entah apa yang akan terjadi di novel ini dan saya berterimakasih kepada para readers yang telah berbaik hati menyumbangkan koinnya untuk memberi tip untuk novel ini.
__ADS_1
Sekian terimakasih, Mata Ne~
Pemberitahuan: Karakter milik Luna akan dibagi di story Ig besok jadi jangan sampai ketinggalan ya, my Ig : @Dna2005_