
"Itu karena kamu terlalu bodoh menjadi manusia, tuan Martin" sindir Luna sambil mengeluarkan senyum smirknya. Mmebuat wajah cantik yang seperti malaiakat tidak bersalah itu berubah menjadi iblis yang menyeramkan.
Namun hal itu tidak membuat Leon melepaskan tangan waniita itu secepatnya. Melainkan menambah tarikannya dan mendekatkan keberadaan Luna kepadanya. Dengan mata biru lautnya yang dalam, ia menatap wajah mencemooh wanita itu.
Dengan hembusan nafasnya yang liar Leon mengatakan beberapa kata kepada wanita tersebut.. Wajah yang tadinya mencemooh idengan cepat berubah. Mata hitam pekat wanita itu dipenuhi dengan kabut putih.
Auranya yang kuat dengan cepat membuat ruagan itu terasa dingin. Mencekik orang-orang yang ada di sana dengan suhu mengerikan miliknya. Bahkan membuat Rangga yang ada di sana merasakan perasaan gunng everest.
Hingga tidak lama sebuah kecupan jatuh ke telapak tangan miliknya. Membuat aura yang menyeramkan itu berhenti karenanya. Dengan senyum kecil yang menyungging Leon meninggalkan ruang makan tersebut.
Luna yang melihat kepergian Leon dengan cepat berteriak. Suaranya yang tegas dan lantang terdengar menggema di seluruh mansion itu. Membuat Leon yang baru saja keluar dari ruang meja makan mengeluarkan senyum tipisnya.
Menoleh kebelakang sebentar lalu menatap ruangan yang ia masuki tadi. Dengan sinar matahari yang senja, mata biru lau itu melihat ke arah tangan kananya dan dengan lembut mencium bau wanita yang tertinggal di tangannya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Luna" smirk Leon sambil menyembunyikan tangan kanan tersebut di balik sakunya. Berjalan keluar, meninggalkan mansion putih itu.
Tanpa mengetahui bahwa dua pasang mata kecil sedang mengawasinya terus menerus dari lantai 2. Berjalan ke arah teras kamar mereka dan menatap punggung laki-laki itu. Dengan mata kecil mereka, mereka melihat punggung yang lebar dan juga kokoh.
Membuat anak perempuan yang ada tidak bisa tidak mengangkat suaranya.
"Lihat punggung itu kak, itu pasti punggung yang paling lebar dan kokoh yang pernah ku lihat" sanjung Laura saat melihat punggung ayahnya dari lantai atas.
"Sekokoh apapun punggungnya jika dia tidak memiliki perasaan yang baik itu hanya membuat sia-sia saja" dingin Navin yang menatap tajam ke arah laki-laki yang memiliki mata yang sama denngannya.
'Apa kau pikir aku akan memaafkanmu, tuan' pikir Navin yang tidak tau bahwa aura di sekitarnya saat ini semakin mendingin. Bahkan membuat Laura yang ada di dekatnya hanya bisa menghela nafas pasrah.
'Hah..sepertinya ayahku masih memiliki jalan yang panjang untuk mendapatkan kami' pikir Laura yang merasakan bahwa ayahnya saat ini memiliki banyak penghalang untuk mendapatkan mereka.
"Baiklah-baiklah mari kita lupakan hari ini dan bersenang-senang di kemudian harinya" Semangat Laura sambil memegang bahu kakak laki-lakinya. Mengajak Navin pergi meninggalkan teras lantai dua, lalu mengistirahatkan tubuh mereka.
Hari ini sangat melelahkan untuk mereka berdua. Dimana setelah menyelesaikan sesuatu ada hal baru yang terjadi. Bahkan ebih besar dari perkiraan mereka, yaitu datangnya ayah kandung mereka.
Membuat kebenaran yang sudah disembunyikan ibunya terungkap lebih cepat dari yang diduga. Menjadikan hari pelepasan beban mereka berubah menjadi hari beban kembali.
__ADS_1
"Aku harap mom baik-baik saja" jelas Laura yang ditanggapi pelan oleh Navin.
Harapan kecil yang tidak bisa dikabulkan oleh sang maha kuasa saat ini. Ialah harapan seorang anak perempuan yang mengharapkan ibunya baik-baik. Dimana keadaan ibunya saat ini bukanlah bai-baik saja.
Melainkan sebuah amarah dan rasa ketidaksukaan yang mendalam terhadap laki-laki yang datang itu. Dengan tangan putih nan lembut, Luna menghancurkan gelas yang ada di dekatnya dengan kasar.
Membuat pecahan-pecahan kaca itu memenuhi meja makan yang ada. Menatap pecahan kaca tersebut sambil mengingat semua kata yang diucapkan Leon kepadanya tadi.
'Seharusnya kau tau apa yang akan ku lakukan untuk mendapatkan semua hal yang ku inginkan'
Kalimat itu terlihat santai dan juga sederhana yang membuat orang-orang berpikir bahwa Leon hanya bercanda kepadanya. Namun tidak untuk dirinya yang mendengar langsung kalimat itu. Kalimat yabg cukup berrbahay untuknya saat ini.
Apalagi ia sudah bersama Leon lebih dari satu setengah tahun. Membuatnya mengenal mantan atasannya itu lebih dari orang lain. Bahkan orang tua kandung Leon belum tentu tau bagaimana anaknya.
Dimana Leon waktu itu masih berkonflik dengan kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Dengan sikap dingin yang acuh tak acuh, ia menjauhkan dirinya dari orang tua itu. Dan lebih memilih tinggal di perusahaan dibandingkan mansion putih yang megah itu.
'Sial jika ini terus berlanjut hidup kedua anak itu pasti akank sulit terutama Laura' pikir Luna yang tidak lupa bahwa anak perempuannya saat ini mendukung ayahnya.
Tidak membantah, mendorong atapun memblokir tangan milik Leon. Melainkan menerimanya saja dengan tenang. Hingga Leon tidak sengaja memeluk anak perempuannya erat-erat. Sehingga membuat Laura melarikan diri darinya.
'Sepertinya aku harus memikirkannya lagi'
"Luna"
'Jika tidak ini akan sangat berbahaya baginya'
"Luna"
'Benar akku harus meminta bantuan kepadanya'
"Luna!"
__ADS_1
"A-ah ada apa kak?" tanya Luna yang dengan cepat menoleh ke arah kakak lalki-lakinya. Menghilangkan keinginan aus darahnya sebentar dan menatap mata coklat bagai gurun pasar itu.
"Apa yang kau lamunkan daritadi Luna?" tanya Rangga tenang.
"Lamun? aku tidak melamunkan apapun kak, tenang saja"
"Benarkah? kalau begitu katakan pada kakak apa yang kamu lakukan saat aku memanggilmu barusan?"
"Apa tadi kakak memanggilku?" tanya Luna sambil menatap mata kakaknya penuh tanda tanya.
"Aku sudah memanggilmu 3 kali dan kamu sama sekali tidak mendengarnya Luna. Ada apa denganmu, apakah keberadaan Leon tadi mengganggu pikiranmu atau kalimat yang dibisikkan Leon barusan?" jelas Rangga mengkhawatirkan keadaan Luna saat ini.
Apalagi saat melihat serpihan kaca yang tersisa di bawah lantai dan belum sempat dibersihkan oleh pelayan yang ada. Cukup membuat Leon mengetahui bahwa adiknya saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Walaupun mereka berdua tidak memiliki hubugan darah sama sekali. Itu tidak menutup kemungkinan Rangga untuk mengkhawatirkan kondisinya saat ini. Dimana waktu yang mereka habisi sudah lebih dari 8 tahun lamanya.
Jelas membuat Rangga menggangap Luna sebagai adik kandungnya secara langsung. Bahkan jika keberadaan kedua keponakannya terancam, Rangga akan turun tangan langsung.
Namun sayangnya kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya kurang percaya diri. Saat mengetahui bahwa keluarganya hampir saja terbunuh oleh orang-orang yang tidak bermoral dan ia tidak sempat menyelematkannya.
"Luna apa yang dikatakan laki-laki itu tadi? apa ia ingin mengambil hak asuk kedua anakmu secara paksa?" tanya Rangga menatap adiknya khawatir.
"Itu mungkin saja kak"
🔫 Makasih banyak buat para pembaca yang selalu menunggu cerita ini update. Bahkan di sela-sela hiatusnya dengan baik hati memeberikan koin kalian untuk tip saya.
Walaupun itu hanyalah hal sepele itu cukup membuat saya senang dalam bekerja di sela-sela kesibukan saya. Oleh karena itu mohon bantuannya.
🔫Cerita Luna akan terus berlanjut, dimana saat ini ada dua kubu memulai perselihan mereka, yaitu kubu Luna dan kubu Leon. Siapakah yang akan menang di antara keduanya?
Mari kita simak bab-bab berikutnya
__ADS_1
(ノ≧∇≦)ノ ミ ┻━┻