
Dengan tatapan yang panas dan juga membara. Leon mulai menggerakkan kakinya. Dimana setiap langkah yang ia ambil dengan mudah melewati setiap jebakan yang ada di tempat itu.
Entah itu dari tali yang menggantung di lantai, sampai jaring yang dihasilkan oleh benang nilon yang sangat tipis. Sehingga benang yang seharusnya mampu untuk membunuh seseorang dengan mudah dilewatkan.
Dimana mata berwarna biru gelap itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari sana. Dengan sosok cantik yang tercermin di mata yang penuh ketenangan dan juga kehausan akan nafsu.
Dan dengan sekali klik, Leon dengan cepat menyembunyikan tubuhnya di balik dinding yang ada di sampingnya.
Luna yang juga melihat pergerakan tersebut dengan mudah menangkap suara langkah kaki menuju ke arah mereka. Dan dengan jelas langkah kaki itu menuju ke arah tempat mereka berada.
Membuat Leon yang mendengarnya terpaksa menurunkan Luna dari pelukan nya dan mengeluarkan senjata yang ada di sakunya.
Tek. . . Tek. . . Tek. . .
Suara langkah kaki terdengar mulai mendekat, bunyi nafas yang tadinya keras kini mulai tenang. Bahkan suara detak jantung yang tadinya berdegup keras, menjadi setenang genangan air.
Dengan suara pelatuk yang ditarik dengan sebelah tangan, Luna dan Leon yang mendengar gerakan tersebut langsung keluar dari persembunyian mereka dan mulai menembakkan senjata yang mereka miliki.
Dor. . . Dor. . . Dor. . .
Walau angin tidak bertiup, bau mesiu masih bisa tercium di sana. Dengan bunyi pelatuk yang mulai ditarik kembali dan roda peluru yang mulai diputar.
Suara tembakan mulai terdengar kembali, hingga aroma darah mulai mencemari tempat tersebut. Tangan yang tadinya memegang sebuah senjata api kini mulai turun.
Dan memperlihatkan sebuah senjata dan juga tangan yang dipenuhi dengan warna merah segar.
Luna dan Leon yang melihat kotoran di tangan mereka dengan cepat mengeluarkan sapu tangan yang mereka miliki. Sambil melihat mata itu dengan dingin, kedua orang itu membersihkan hal-hal kotor yang mengenai tubuh mereka.
Hingga tidak ada lagi sisa berkas maupun bercak darah tersisa di tubuh mereka. Luna yang melihatnya mulai memindahkan pandangannya dan menatap orang yang berdiri di sampingnya.
Dengan tatapan dingin dan juga tegas, Luna mengangkat kembali senjata miliknya dan mengarahkan senjata tersebut ke arah Leon.
Moncong berwarna hitam itu dengan jelas mengarah ke arah kepala nya. Namun tanggapan yang diberikan oleh Leon berbeda dengan harapan Luna.
Dimana mata berwarna biru itu hanya menatapnya dengan ringan dan tidak pernah menatap dirinya dengan tatapan kebencian maupun bermusuhan.
Membuat Luna yang melihatnya hampir melemahkan niatnya. Sehingga tangan berwarna putih itu dengan erat memegang pistol yang ia miliki dan tidak pernah mengalihkan pandangannya ke manapun.
__ADS_1
Sampai suara langkah kaki mulai terdengar kembali. Membuat Luna yang memiliki niat untuk menembak ke arah Leon berhenti dan dengan cepat berpindah tempat menuju ke arah tempat-tempat orang-orang tadi berasal.
Leon yang ditinggalkan oleh Luna dengan cepat menyusulnya. Terutama saat melihat bayangan yang mulai mendekat ke arah mereka. Karena Leon dengan jelas mengetahui langkah kaki itu bukan hanya milik manusia saja, melainkan hewan karnivora.
Dimana suara tepukan dari bantalan lembut yang dihasilkan hewan itu mulai menggema di lantai yang mereka pijaki.
Membuat Leon yang mendengar dengan cepat mengurangi suara langkah kakinya dan pergi menjauh dari tempatnya berdiri.
Hingga tak lama kemudian, beberapa bayangan mulai muncul di sana. Memperlihatkan tujuh makhluk hidup berdiri tepat di tempat Luna dan Leon berada sebelumnya.
Dengan dua manusia memegang senjata sniper milik mereka, dan satu manusia lainnya sambil memegang empat serigala liar.
Bulu berwarna coklat dan hitam itu terlihat di bayangan mata mereka. Menampilkan sosok-sosok serigala liar yang penuh ambisi dan rasa haus darah.
Terutama gigi yang mereka tampilkan memiliki ketajaman dan kepanjangan yang berbeda dengan serigala biasanya. Tidak hanya itu saja, manusia yang memegang kekang serigala itu dengan jelas mengetahui seberapa tajam cakar yang dimiliki oleh hewan yang ia pegang saat ini.
Hanya dengan satu perintah saja, serigala itu akan siap menggigit musuh yang mereka hadapi dan tidak akan pernah menyisakan sisa tulang sedikitpun.
"Cih, sepertinya mereka berhasil kabur."
"Hah, ini menyebalkan sekali! Kenapa harus di saat jadwal kita untuk tanding, dan kenapa tidak yang lain saja ditugaskan untuk berkeliling?" Ucap kedua orang tersebut sambil berbincang.
Dimana hanya satu orang saja yang berdiam diri di sana. Matanya yang dingin menatap darah yang mulai mengering di lantai.
Dengan tatapan yang dingin dan juga mematikan. Orang tersebut mengalihkan pandangannya menuju lorong yang kosong di seberangnya.
Mata itu dengan jelas melihat reaksi yang dihasilkan oleh hewan peliharaannya. Terutama hidung tajam itu mulai mengendus menuju arah yang ia lihat.
Sambil melangkahkan kaki menuju lorong, orang itu berhenti melangkah saat melihat salah satu hewan peliharaannya mengigit suatu benda dan berjalan ke arahnya.
Benda itu terlihat jelas sangat berbeda dengan benda yang mereka miliki. Bahkan bisa dibilang tidak pernah mereka lihat di lingkungan mereka yang artinya seorang penyusup telah berhasil masuk ke dalam markas.
Membuat mata berwarna kelabu itu seketika berubah menjadi gelap. Bayangan benda itu Maisy terpantul dengan jelas di matanya.
Hingga suara dingin mulai keluar dari mulutnya, membuat orang-orang yang ada di sana bergegas menuju lokasi penyusup yang mulai mengintai mereka.
__ADS_1
"Ikuti aku."
Langkah kaki yang mulai menetap, meninggalkan jejak kaki di lokasi yang penuh dengan darah dan juga keringat.
Dengan taring yang tajam, keempat hewan itu dengan cepat dilepaskan dari tali pengekang mereka. Membuat langkah yang tadinya sudah cepat semakin keras, saat diiringi dengan langkah kaki hewan-hewan yang tidak terkekang lagi.
Seolah-olah mereka siap untuk keluar dan mencari tau siapa yang telah berani masuk ke dalam wilayahnya.
Di ruangan lain, mata berwarna hijau itu sedang menyaksikan setiap pertempuran yang ada di setiap kameranya berada.
Dimana wajah yang tertata rapi itu, kini terlihat pucat. Dengan keringat yang mulai bercucuran di dahinya. Tangan kanan yang melihat hal tersebut dengan cepat mengambil peralatan miliknya dan menusukkan cairan tersebut ke dalam tubuh pria yang ada di depannya.
Cairan berwarna bening itu dengan cepat mengalir masuk ke setiap jaringan sel yang ada di dalam tubuhnya. Membuat kulit yang tadinya terlihat pucat dan hampir menyamai warna mayat berubah kembali menjadi normal.
Bahkan mata yang tadinya layu kini mulai kembali mendapatkan cahayanya. Dan itu semua tidak merubah aura yang ia miliki. Walaupun tubuh dan kondisinya seakan memperlihatkan kelelahan dan keputusasaan.
Itu tidak akan pernah mengubah niatnya untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya selama ini. Karena hal itu jugalah ia bisa berdiri di tempat yang seperti ini.
"Yang mulia."
"Huh. . . Huh. . ."
"Yang mu-"
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku, lebih baik kau khawatirkan apa ada orang yang sudah berhasil menyusup ke dalam basecamp kita."
"Karena sepertinya ada beberapa orang yang masih tidak kembali ke sini." Lanjut orang itu sambil menatap bagian belakangnya yang mulai kosong.
"Semua perintah anda akan saya kerjakan, yang mulia." Ucap orang itu yang dengan cepat menghilang dan meninggalkan ruang kendali.
Dimana ia tidak mengetahui sama sekali, bahwa mata berwarna hijau itu kini sedang meneteskan sebuah cairan bening dari matanya. Membuat mata berwarna hijau itu semakin sedih dan juga layu.
"Maafkan ku. . . "
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~