My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 61 : Email


__ADS_3

Sudah beberapa hari lewat dari pertandingan maupun perlombaan untuk kemiliteran dan anggota klan kegelapan. Pagi ini pesawat kemiliteran sudah memanaskan mesin dan siap kembali ke Mexico city.


Semua perlengkapan, barang-barang bawaan, senjata maupun Hadiah yang sudah dibagi rata untuk semua dikemas dan dimasukkan ke dalam kabin pesawat.


"Kenapa kalian tidak tinggal di sini selama satu bulan, ini terlalu cepat" kesal Francis sambil menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya.


"Tidak mungkin mom, adikku masih memiliki tugas yang harus diselesaikan di Mexico, ya kan Luna" jawab Rangga dan menatap Luna yang sedang di bantu oleh anaknya. Merapikan jaket musim dingin dan topi rajut.


"Ah iya" jawab singkat Luna. Setelah semua pakaian musim dingin ya dibetulkan untuk mengangkat tubuhnya. Luna berjalan ke arah sister Neva dan memeluknya hangat.


"Sampai jumpa, sister Neva" pamit Luna. Neva yang dipeluk oleh Nonanya gaya bisa tersenyum hangat dan menepuk punggung Luna.


"Hati-hati" ucap sister Neva.


"Ku harap kau senang tinggal di sini, nek" ucap Laura yang bersembunyi di balik tubuh ibunya dan Navin yang mengganguk setuju.


"Baik" jawab Neva. Dia mengeluarkan jawaban dengan aura bahagia. Apalagi di senang bisa bertemu dengan anak yang dia asuh kembali. Walau di saat pertama-tama Neva tidak terbiasa bekerja di mansion megah yang penuh dengan aura kebahagian dan tidak lupa dengan candaan. Membuat Neva mulai terbiasa dan menjalani hari-hari nya dengan baik. Itupun bila tidak ada seorang penyusup, karena ruang bawah tanah di dekat dapur membuat Neva sering terkejut.


Melihat orang-orang yang dibawa dengan cara kakinya di seret, menggunakan gerobak dorong dan lain-lain. Yang paling Neva kaget kan adalah pelayan-pelayan yang sepertinya sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu dan menjelaskan kepada neva. Membuat Neva menggangap tempat dia bekerja seperti rumahnya sendiri.


Tetapi hari ini Nonanya harus kembali ke Mexico dan Neva juga tau bahwa dia dikirim ke London untuk mendapatkan keamanan.


"Nek?" panggil Laura membuat Neva tersenyum hangat dan mengusap pelan pucuk rambut milik Laura.


"Saya akan mendoakan keselamatan kalian selalu" ucap Neva yang setelah itu suara tegas terdengar sebagai tanda penghormatan.


"Jangan lupa lindungi semuanya!" teriak Luna tegas, sebelum pintu pesawat tertutup.


"Siap kerjakan!" lantang semua orang yang ada di sana. Lambaian tangan yang dilakukan orang-orang di bandara mengakhiri tugas yang dilakukan oleh Luna di London.


Di ikuti pesawat kemiliteran yang menaikkan roda dan kesenyapan para tentara karena efek dari bangun pagi-pagi.


"Mom bangunin ya" minta Laura yang merapatkan selimutnya.

__ADS_1


"Iya untuk Navin tidurlah mom dan Uncle Rangga akan membangunkan kalian" kata Luna yang diangguki oleh Navin. Kedua anaknya tertidur ditemani selimut yang tebal. Musim dingin sudah tiba membuat suhu menjadi dingin dan kadang berubah-ubah.


Suara hening di dalam pesawat dan hanya diisi oleh suara bisikan pelan dari Rangga dan Luna. Membicarakan semua hal yang akan mereka lakukan di Mexico.


"Jadi apa kakak sudah meminta teman kakak yang ada di Kanada itu?" tanya Luna pelan.


"Tenang saja dia adalah dokter yang handal dan berhasil masuk rumah sakit yang ada di negara Kanada" jawab Rangga.


"Baguslah"


"Memang kenapa? apa kamu masih membutuhkan info perempuan itu?" tanya Rangga kepo.



Luna yang mendengarnya hanya memberikan senyum ringannya sambil menatap ke arah luar jendela. Memandangi langit pagi yang berawan, walau matahari sedang menampilkan dirinya tetap saja suhunya dingin. Sedingin perasaan nya kepada orang-orang yang memiliki darah yang sama dengannya.


"Tentu saja aku membutuhkannya, karena yang sulit dilawan itu bukan anak perempuan miliknya tetapi ayahnya" dingin Luna.


"Maksudmu?" bingung Rangga pelan.


"Yang pasti aku mendukungmu apapun itu dan jangan lupakan banyak proyek perusahaan" ucap Rangga menyudahi topik pembicaraan tentang keluarga Luxury. Bahkan menyebut nama mereka saja lidahnya terasa malas.


"Jangan ingatkan aku tentang perusahaan dulu, bahkan setelah pertandingan aku harus menatap layar laptop 10 lebih dalam sehari" ucap Luna karena dia harus mengerjakan pekerjaan nya yang tertunda setelah menyelesaikan pertandingan.


"Itulah jalan yang kamu pilih" ucap Rangga pelan dan mengusap rambut navin yang tertidur di depannya yaitu di sebelah kiri Luna


"Ya kau benar jalan yang berbahaya tapi membuat jiwa kita tenang" lanjut Luna menambah dan mengalihkan pandangannya ke dua orang anaknya.


Kedua anak yang lahir tanpa seorang dan membuat kedua anaknya kuat. Hanya saja sekuat-kuatnya anak kecil dalam lingkungan dunia mereka pasti memiliki sikap kenakan dan manja. Sikap itulah yang selalu ditunjukkan oleh kedua anaknya terutama Navin yang hanya bisa bersikap seperti anak kecil bersama ibunya.


Mungkin jika orang-orang mengetahui cara didikan Luna kepada anaknya. Mereka akan tidak percaya atau menentang karena hal yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan umur mereka. Tetapi hal yang diajarkan Luna cukup membuat anaknya mengetahui kekejaman dunia.


'Huft jika dipikir-pikir sudah lama aku tidak pernah liburan dengan mereka berdua' pikir Luna teringat kesibukan yang ada pada dirinya. Jika ada libur itu paling dia hanya mengajak anaknya ke tempat persenjataan dan memesan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Ada apa Luna hidupmu terlalu berat sampai-sampai menghela nafas?" tanya Rangga yang ada di depan Luna.


"Tidak hanya saja kakak tau kapan terkahir kalinya aku liburan bersama mereka?" tanya Luna.


"Liburan yang mana main senjata atau apa?"


"Jalan-jalan" jawab Luna singkat.


"Sepertinya saat mereka berdua umur tiga tahun setengah, yang di saat itu mereka menangis gara-gara tidak diajak ke pantai" jawab Rangga.


"Sudah lama ternyata" gumam Luna sambil memikirkan bahwa dia tidak pernah anak-anak berlibur empat setengah tahun.


"Memang kenapa?" tanya Rangga.


"Gak ada apa-apa cuma kepikiran buat refreshing sama mereka berdua"


"Beneran? Luna kamu tadi pagi kepala mu tidak tertabrak pintu kamar kan?" tanya Rangga yang tidak percaya dengan ucapan adiknya.


"Bukan menabrak pintu kamar tapi terlalu banyak mikir buat masalah selanjutnya" jawab Luna sambil mendengus kecil.


"Selesaikan pekerjaan mu dulu"


"iya"


Obrolan mereka berakhir dan membuka handphone masing-masing. Melalui tugas yang dimana handphone merupakan alat canggih untuk pengganti barang-barang tertentu.


Pesan, email dan telpon sudah memenuhi beranda milik Luna. Pekerjaan maupun hal yang biasa saja tertulis di pesannya. Namun perhatiannya hanya tertuju kepada email yang baru dia di dapatkan. Email yang berasal dari laki-laki yang sudah dirinya tolak.


'Selamat pagi Luna... perkenalkan calon tunangan masa depan, Le'


Seringai muncul di wajah Luna di saat nama panggilan yang sudah lama tidak pernah dia baca atau dengar kembali ada.


__ADS_1


🔫Sebentar lagi Luna dan Leon bakal ketemuan, jangan lupa like 300 seperti biasanya :) karena saya penyuka angka^^


__ADS_2