
Ruangan yang penuh kebisingan dan keributan itu sangatlah berbeda dengan ruangan yang dipijak oleh orang-orang itu.
Karena walaupun berisik ruangan itu dipenuhi dengan bau obat-obatan dan terlihat bersih dan sejuk.
Berbeda dengan ruangan yang mereka tempati saat ini karena ruangan itu dengan jelas memperlihatkan hal-hal berantakan dan juga kotor.
Dengan lantai yang dipenuhi potongan mayat, itu jelas memperlihatkan darah yang mulai berceceran di sekitar dinding maupun lantai yang berbeda dari sebelumnya. Dari kepala manusia yang terlihat jelas di sana sampai potongan lengan manusia yang telah terpisah dari tubuhnya.
Itu semua terlihat sangat tragis di sana, membuat nafas terasa sesak dan sangat menyakitkan. Terutama mata hitam dan juga biru itu berhadapan langsung dengan mata berwarna hijau yang tenang.
Seakan mencairkan nuansa gelap dan juga kelam di ruangan itu. Perasaan berdiri di antara tumpukan mayat berubah menjadi berdiri di tengah-tengah hutan hijau nan asri. Dengan angin lembut yang bertiup, membawa kesejukan dan kenyamanan dari pepohonan yang ada di sana.
Sama seperti orang itu yang berdiri di hadapan mereka, dia seakan membawa kesejukan dan juga kenyamanan yang dalam. Jika mereka berdua mengabaikan tumpukan mayat yang ada di sekeliling mereka.
Dimana tumpukan mayat itu dihasilkan oleh orang-orang yang mereka bawa entah itu manusia maupun hewan peliharaan yang mengikuti mereka.
“Lama tidak bertemu, my Queen.” Ucap orang itu sambil memanggil wanita yang ada di seberangnya saat ini.
Membuat Luna yang berdiri di tengah-tengah lapangan pertandingan dengan jelas melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. Terutama mata berwarna hijaunya itu dengan cepat membuatnya akrab.
“Ryu. .”
Tidak hanya Luna, Leon yang berhasil menyusul Luna juga dengan jelas mengetahui siapa orang yang berdiri di hadapan wanitanya saat ini. Terutama orang yang berani memanggil wanitanya dengan sebutan ‘my Queen’.
Membuat Leon yang mendengar panggilan tersebut mengernyit saat mendengarnya. Dan membuat sebuah keributan di dalam dasar pikirannya saat ini.
‘Tunggu, apa yang kau katakan? my Queen? Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan majesty? Bukankah kau gila. Kau pikir aku tidak tau kau sering meminta bawahanmu untuk menyebutmu dengan sebutan King, dan itu sangat sepasang dengan sebutan wanitaku tadi.’
Bukan hanya Leon saja yang merasakan kesal, Ryu yang telah lama tidak mendengar namanya di panggil oleh Luna yang seharusnya merasakan perasaan bahagia. Namun itu berubah saat suara yang memanggilnya bergabung dengan suara bass yang dalam.
__ADS_1
Membuat perasaan manisnya hancur berkeping-keping karena suara pria yang ada di belakang wanitanya. Membuat kedua mata itu saling bertabrakan dan memperlihatkan permusuhan yang sama.
‘Siapa yang mengundangmu ke sini, tuan Leonex Martin?’ Ucap Ryu sambil menatap Leon dengan tajam. Leon yang merasakan tatapan Ryu dengan jelas memahami maksud perkataan pria itu.
‘Heh, kau pikir aku tidak tau apa yang kau pikirkan saat ini dasar kau bajingan!’
Kedua mata itu saling berbicara tapi itu tidak menghentikan aksi mereka dalam menembakkan peluru yang mereka miliki. Bahkan Ryu yang terlihat tenang dan bercanda, dengan antusias menghindari tembakan yang diarahkan oleh Luna dan juga Leon kepadanya.
Membuat rambut berwarna coklat muda itu bergoyang dengan lembut. Sampai suara alarm mulai berbunyi, membuat tembakan yang diarahkan oleh Luna jadi salah sasaran.
Peluru yang mulai berterbangan mengarah ke arah yang lain. Mata berwarna hijau itu kini mulai berlari dan meletakkan kaki nya dinding sebagai tumpuan. Dan dengan suara retakan dinding, Luna dan Leon dengan jelas melihat perubahan di sekeliling lingkungan mereka.
Terutama kedua pasang mata itu dengan jelas melihat senyum menyegarkan dan menyenangkan milik Ryu. Seolah-olah sebuah tangan mulai mengikat dan menggenggam erat jiwa mereka dan benar saja alarm itu tidak hanya berasal dari alat pemberitahuan namun dari jam tangan Luna juga.
Membuat perasaan Luna mulai khawatir dan bersemangat,
"Hahaha, sepertinya rencanaku berjalan dengan sangat baik."
"Apa maksudmu?" Tatap Leon bingung saat melihat sinar misterius mulai memancar dari matanya.
"Kau tau Luna, tempat apa yang sedang kalian masuki selama ini.”
“. . .”
“Coba kau lihat sekelilingmu Lunaku sayang, ruangan bernuansa putih ini dan berbagai jenis kaca yang menempel di sekelilingnya. Apa kau lihat itu atau kau mengingat sesuatu?” Ucap RYu lembut.
Membuat Luna yang tidak memperhatikan lingkungan sekelilingnya dan hanya fokus dengan musuhnya dengan jelas melihat bahwa lingkungan yang ia masuk saat ini sangatlah berbeda dengan sebelumnya.
__ADS_1
Terutama cat bernuansa putih itu membuat lorong bawah tanah menjadi terang dan penuh ketenangan. Namun itu semua akan terlupakan dalam sesaat saat melihat banyak kaca berukuran besar melindungi beberapa tempat yang ada di sekelilingnya.
Dengan jeruji besi menghiasi pintu-pintu itu. Membuat Luna yang melihatnya merasakan sebuah nostalgia seolah-olah ia pernah melihat, tidak- bukan melihat namun merasakan perasaan dikurung di dalam jeruji itu.
‘Apa ini? perasaan apa ini? ada sesuatu yang mencoba memasuki pikiranku.’
“Sepertinya benar, kau juga pernah terkurung di sini.” Gumam Ryu yang dengan jelas didengar oleh Leon. Membuat leon yang mendengarnya mengambil kesempatan untuk melukai Rtu.
srek* * *
Dengan suara sobekan, Luna yang memiliki kesadaran aneh akhirnya tersadar. Dan memalingkan wajahnya menuju arah suara itu berasal. Dimana tidak jauh dari tempatnya berada, Luna dengan jelas melihat luka sobekan yang cukup besar di lengannya Ryu.
Terutama lengan berwarna putih itu memiliki darah yang sangat mencolok di lengannya. Seakan menghiasi tangan indah tersebut. Dan dengan darah yang menetes, mata berwarna hijau itu menggumpal dan menatap lawan di hadapannya dengan dingin.
‘Pisau itu, pisau itulah yang melukai ku.’ Pikir Ryu dan mengambil senjata yang ada di pinggangnya dan dengan cepat menembakkan peluru tersebut ke arah Leon berada, tepatnya lengan yang menggenggam pisau itu.
Luna yang melihat aksi Ryu dengan cepat menyadari keanehan orang itu, terutama mata berwarna hijau itu yang penuh dengan kekeringan. Seolah-olah ia sedang berada di tengah gurun sahara dan menemukan sebuah mata air dan itu mata air itu adalah pisau army yang sedang digenggam Leon saat ini.
“Luna, menjauh!”
Suara teriakan Leon yang kencang membangunkan Luna dari pemikirannya tentang keanehan Ryu dan mengalihkan pandangannya ke arah Leon. Dimana kini Luna menyadrai bahwa senjata yang dimiliki oleh Ryu berbeda dengan senjata yang dimiliki oleh bawahannya.
Terutama peluru yang ia tembakkan berbentuk bulat, bukan runcing seperti amunisi biasanya.
‘Itu adalah- granat’
Boom* * *
__ADS_1
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~