
Hingga alunan lagu kebahagian itu berhenti di kata tolong. Luna yang memejamkan matanya sebentar membuka matanya kembali. Melihat kamera yang sudah merekam semua ucapan milik Jefri lalu mematikan kamera tersebut. Ia tidak mempedulikan ekspresi tegang milik Jefri, yang ia pedulikan saat ini adalah memindahkan rekaman video itu menuju flashdisk miliknya.
'Tekan ini dan ini, dan selesai' smirk Luna yang melihat rekaman dari kamera mulai ditransfer ke dalam laptop dan berakhir di sebuah komponen berbentuk persegi panjang.
"I..itu apa anda akan membebaskan saya dan keluarga saya?" tanya Jefri gugup. Membuat Luna yang tadinya menunggu transferan data, menoleh ke arah Jefri.
"Ah maksud mu itu, tentu saja aku akan membebaskan istri dan anakmu, tapi..."
"Tapi?"
"Tapi sayangnya aku harus membunuhmu di sini, tuan" lanjut Jefri yang membuat perasaan lega milik Jefri kembali menghilang.
"Bukankah kamu sudah berjanji?"
"Sejak kapan aku berjanji? seharusnya kamu ingat aku mengatakan Mungkin Saja, dan kata itu memiliki dua kemungkinan antara ya dan tidak. Jadi mari kita selesaikan ini secepatnya" senyum Luna lali meletakkan laptop nya di atas tas. Berjalan ke arah pantai dan mengambil jarum suntikan miliknya.
Membuka tutup suntikan tersebut dan berjalan kembali ke arah Jefri yang ketakutan. Wajah Luna seperti biasanya mengeluarkan ekspresi santai dan datar. Ia tidak mempedulikan sama sekali apa yang akan terjadi kepada Jefri setelah ini, karena baginya pengakuan Jefri itu sudah cukup daripada nyawa laki-laki tersebut.
"Tu..tunggu... anda..anda tidak boleh melakukan nya" teriak Jefri ketakutan. Namun sayangnya Luna tetap berjalan dan mendekat ke arah Jefri. Menjongkokan tubuhnya yang tinggi dan melihat ke arah kaki Jefri yang belum terluka, tapi berlumuran darah karena tetesan dari tangan yang ada di atasnya.
"Ah, kaki yang sangat bagus sekali" puji Luna yang merasakan bahwa kedua kaki itu terlihat sangat bagus untuk disuntik kan.
"Tidak...tidak...jangan mendekat jangan mendekat" ucap Jefri. Tubuhnya bergetar ketakutan setiap melihat jarum suntik itu. Bahkan saat ini celananya hampir basah karena air kemih nya keluar.
"Tenang saja kamu akan mendekat dengan maha kuasa secepatnya tuan Jefri, jadi tidak perlu takut karena sakit ini hanya sebentar saja" ucap Luna yang mulai memasukkan jarum suntik itu ke kaki kanan milik Jefri. Menekannya dan membiarkan cairan bewarna ungu itu memasukki tubuhnya perlahan-lahan.
Menyebarkan racun tersebut ke seluruh tubuh dan membuat tubuhnya semakin melemah. Darah yang menetes terlihat berubah warna di saat tubuhnya mulai dimasuki racun. Racun itu bekerja cepat dan tentu saja memiliki efek samping yang sangat berisiko. Darah yang ada di tangan mulai keluar dari mulut Jefri, melimpahkan sebuah darah yang sangat segar dan beracun.
__ADS_1
"Ka...kamu...bluhuk"
"Jangan salahkan aku karena membunuh mu tuan Jefri, karena di dunia ini tidak ada manusia yang bisa dipercaya bahkan keluarga kandung sekalipun" dingin Luna yang melihat darah sudah mulai berceceran di tubuh milik Jefri.
"Li..lihat saja... a... ak..."
"Aku akan melihatnya, melihat kematian mu" smirk Luna yang menatap dingin hembusan nafas terakhir milik Jefri. Berjalan mendekat dan melihat mata itu tertutup, senyumnya dingin dan tipis. Matanya hanya menatap mayat itu dengan santai lalu berjalan mengambil sebotol cairan bening.
Cairan bening itu merupakan minyak bakar yang sengaja ia bawa untuk membakar mayat dan bangunan kosong yang ada. Sehingga menciptakan sebuah ilusi bahwa tempat ini sengaja dibakar oleh orang yang tidak ingin bukti itu turun ke tangan orang lain.
"Tuan Jefri beruntunglah kamu karena aku memilihmu diantara banyak nya orang untuk memegang flashdisk dengan jenis terbaik ini, bahkan temanku sendiri saja tidak bisa memilikinya" dingin Luna dan meletakkan flashdisk yang berisi rekaman pengakuan tadi ke tangan milik Jefri yang berlumuran darah.
Menyiramkan minyak tanah di sekujur tubuh Jefri kecuali bagian tangan. Menyalakan api dan pergi meninggalkan bangunan kosong tersebut. Api itu berkobar di dinginnya malam, suara deringan dari telpon terdengar di sela-sela kesunyian malam.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Huhuhu, tolong.... tolong saya, a...ada kebakaran di gedung kosong jalan xxxxxxx. Tolong saya apinya sangat besar" ucap Luna yang sudah mengubah suaranya dengan suara anak-anak kecil.
"Kalau begitu cepatlah datang, dan juga tolong bawa polisi sa..saya benar-benar takut" ringis Luna berpura-pura lalu mematikan telponnya.
Menyalakan mobil miliknya lalu melihat sebentar ke kobaran api yang menyala. Luna pergi meninggalkan bangunan kosong itu dan menatap jalanan penuh dengan dinginnya. Rencananya sudah tersusun secara rapi dan hanya tinggal menunggu waktu saja.
Waktu yang akan membuat kehancuran keluarga Luxury terjadi sedikit demi sedikit. Dan berakhir dengan pencabutan nyawa yang dilakukan oleh Luna.
"Saya sekali aku harus menukar flashdisk mahalku dengan keuntungan yang ku butuhkan" gumam Luna dikarenakan flashdisk yang ia letakkan di tangan Jerfri merupakan flashdisk khusus yang memiliki bahan anti api.
__ADS_1
Sehingga membuat Luna menelpon pemadam kebakaran dan juga polisi yang bisa membuka flashdisk yang tidak terkunci itu. Membuat kantor polisi kacau dan berita tentang kejahatan milik Keluarga Luxury muncul.
"Hah, hari yang sangat menyenangkan tapi tidak ku sangka darahnya lebih banyak dari yang ku pikir" dingin Luna yang melihat tubuhnya terkena banyak darah daripada biasanya. Padahal ia sudah membersihkan kotoran-kotoran itu dengan darah tapi tetap saja terlihat.
"Inilah alasanku tidak bisa mengantarkan kedua malaikat itu ke sekolah" gumam Luna yang menambah kecepatan mobilnya. Melaju membelah jalan kota Mexico dan berhenti tepat di tempat pelatihan militer milik kakaknya.
Tit*** tit***
Klakson mobil itu berbunyi membuat pagar menjulang yang tadinya tertutup kini terbuka lebar. Memberikan hormat dan hanya dijawab oleh tatatan dingin Luna.
"Anda sudah datang" ucap anak buah milik Rangga menyambut kedatangan Luna.
"Ah ya begitulah dan juga bisakah kamu minta salah satu tentara untuk mencuci mobil karena sepertinya mobilnya terkena darah" ucap Luna yang memperlihatkan tetesan darah di dalam mobil.
"Ah baik, dan apa anda baik-baik saja? karena Ketua Rangga meminta saya untuk menjaga anda di sini"
"Tenang saja ini bukan darahku dan juga itu bukan darah manusia hanya darah hewan pengerat saja" dingin Luna yang tidak ingin memberitahukan apapun.
"Ah baiklah kalau begitu selamat beristirahat" ucap bawahan Rangga dan diangguki Luna.
Membawa tas ranselnya dan berjalan masuk ke tempat peristirahatan khusus anggota kemiliteran. Melepas semua pakaiannya dan memasukkan nya ke dalam perapian.
"Menjijikan tapi juga menyenangkan" ucap Luna sambil melihat pakaian yang berlumuran darah miliknya terbakar karena api perapian yang ada. Kobaran apinya mengingatkannya tentang bangunan kosong yang ia tinggalkan tadi. Bangunan dan mayat yang akan membuat keluarga Luxury hancur sedikit demi sedikit.
'Keluarga Luxury, nikmatilah kebahagian sesaat kalian ini' smirk Luna.
__ADS_1
🔫Bab berikutnya bakal penuh senjata dan darah lagi terutama bagian pistol dan juga teknologi bagian komputer atau laptop. Dimana kedua anak yang menggemaskan ini akan berperan penting di dalam bab berikutnya.
Sekian terimakasih, Mata Ne~