
Di ruangan tersebut Luna duduk di samping Leon. Dimana di depan mereka berduabsudah duduk kedua pasangan paruh baya yaitu Levi dan Qarin.
"Jadi apa yang membuatmu membawa perempuan baru ke rumah, Leon?" tanya Levi dingin.
"Tentu saja untuk menikahinya" dingin Leon yang tak kalah dari ayahnya. Tangan miliknya dengan sengaja diletakkan ke atas kepala Luna. Membiarkan orang-orang yang ada di dekat mereka mengetahui bahwa hubungan Leon dan Luna merupakan kebenaran dan bukan kebohongan.
'Mencari kesempatan dalam kesempatan, hehh dasar tidak tau malu' pikir Luna yang mengikuti acting milik Leon. Karena bagaimanapun juga dia memiliki kepentingan sendiri untuk melakukan nya. Dimana dirinya harus mengetahui peta yang di simpan klan Singa dan menjaga peta tersebut agar aman dari klan harimau yang merupakan keluarga kandungnya yaitu, Marga Luxury.
"Ehmm, apa anda tidak menyukai saya Tante?" tanya Luna dengan wajah polosnya. Dia menutupi wajah iblis dan menakutkan miliknya dengan wajah seperti malaikat. Menatap ibu Leon yang pernah dia selamatkan dan membuka suaranya pelan.
"Jangan panggil aku Tante, aku bukan keluargamu" dingin Qarin yang secara terbuka menunjukkan sikap ketidaksukaan nya dengan Luna. Tangannya dilipat di bawah dadanya dan mengeluarkan tatapan perkelahian.
'Apa yang bagus coba dari perempuan ini? padahal bagusan Lina yang telah menyelamatkan ku' gumam Qarin yang tidak sadar bahwa gumaman kecilnya itu terdengar sampai ke telinga Luna.
'Pffttt hahaha, astaga ini benar-benar menyenangkan melihat seseorang yang mudah dibodohi' pikir Luna yang menahan tawa merendahkan miliknya.
Mendengar gumaman Qarin yang merupakan ibu kandung Leon, cukup membuat Luna ingin tertawa serendah-rendahnya. Dimana yang seharusnya menyelamatkan hidup itu adalah dirinya bukan saudari perempuan nya yang sedang bersenang-senang dan melakukan hal-hal intim dengan laki-laki lain.
"Luna, ada apa?" tanya Leon yang melihat ekspresi aneh Luna.
"Ahhhh tidak apa-apa, cuma saya liat gaya instruktur mansion ini terlalu bagus. Sampai-sampai mata saya takjub melihatnya" ucap Luna dan mengeluarkan senyum malaikat nya. Dimana malaikat yang memperlihatkan senyumnya ini menyembunyikan pisau dan pistol untuk membunuh orang-orang.
"Heh, sudah ku pastikan orang miskin tidak akan bisa memiliki kualifikasi yang bagus" sindir Qarin yang mendengar pujian terhadap interior yang baginya biasa saja.
__ADS_1
"Qarin" tekan Levi yang tidak suka mendengar sindiran dari sang istri. Baru beberapa menit saja Levi sudah mengetahui bahwa anak laki-lakinya ini menyukai perempuan yang dibawa ke rumah. Bahkan dari tatapan maupun tindakannya yang tulus menambah keyakinan Levi.
'Apa dia benar-benar jatuh cinta? kalau benar aku tidak akan membiarkan Qarin merusaknya lagi' pikir Levi yang merupakan ayah kandung Leon dan selalu melihat penderitaan milik anaknya. Penderitaan yang disembunyikan secara rapat dan tidak diperlihatkan kepada orang-orang.
"Sayang..." panggil Qarin yang kesal melihat suaminya mendukung pasangan yang baginya tidak cocok sama sekali.
"Ibu sudah ku katakan jangan pernah ikut campur dalam urusanku bukan?" dingin Leon yang sudah tidak tahan dengan sikap bodoh ibunya sendiri.
Niat Leon hari ini untuk mengenalkan ke kedua orang tuanya calon menantu baru mereka. Dimana Leon tidak ingin kehilangan ataupun ditinggalkan oleh Luna lagi. Karena baginya sudah cukup untuk 8 tahun perasaan nya kosong dan jiwanya tidak ada. Dan kali ini dia menginginkan jiwa yang hidup dan penuh dengan perasaan yang mengalir. Dengan perasaan inilah mungkin bagi Leon untuk mengubah warna yang dulunya hitam putih menjadi sedikit bewarna.
"Tapi ini demi kebahagiaan mu Leon, lihat bahkan dia saja terlihat sangat-sangat tidak bagus. Apa kamu ingin menikahi perempuan yang bahkan lebih buruk dari Lina!" teriak Qarin yang merasakan dirinya selalu salah di mata kedua orang terdekatnya. Ia kesal sangat kesal melihat anaknya tidak memilihnya. Padahal dirinya sudah mencoba untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik yaitu Lina.
Bahkan di saat dirinya mencoba untuk menutupi moodnya yang buruk, Qarin Martin mencoba membangkitkan emosi dinginnya. Luna tidak ingin mendengar nama Lina tapi mulut yang tidak tau di akal itu menyebutnya secara langsung dan lebih buruknya lagi membandingkan Luna dengan Lina.
'Heh, sepertinya orang tua ini tidak pernah berubah dari dulu' pikir Luna dan mengigit bibir bawahnya. Tangan kanannya mengambil tas yang dari tadi dia bawa. Tas yang dia bawa bukan tas kecil seperti perempuan-perempuan kaya, hanya sebuah tas ransel berukuran besar yang berisi barang-barang penting.
"Ehhh, sepertinya nyonya Qarin memang suka membandingkan seseorang" dingin Luna dan mengeluarkan aura membunuhnya. Membuat tubuh Qarin yang penuh dengan percaya diri ketakutan.
"a..aku" gugup Qarin dia menatap ke arah Levi dan Leon mencoba meminta bantuan. Tetapi kedua laki-laki tersebut hanya meminum kopi hitam mereka dengan santai dan tidak mempedulikan nya sama sekali.
'Dasaf bodoh, kau seharusnya tau orang yang ada di depanmu adalah orang yang melindungimu saat di pesta' ucap Levi di dalam hati yang tidak percaya bahwa akal istrinya akan serendah ini.
__ADS_1
'Aku tidak peduli Bu, kamu telah membangunkan singa yang tertidur dan mendatangkan banyak ular berbisa ke habitat mu' ucap Leon yang tidak peduli dengan ibunya yang ketakutan. Bahkan di saat dirinya meminta bantuan ibunya saja ibunya tidak mempedulikan dan selalu melakukan hal-hal yang baginya baik untuk anaknya tapi nyatanya tidak.
Zreeett***
Suara resleting itu terdengar di sela-sela ketegangan yang diciptakan oleh Luna. Dimana tangan Luna sudah membuka tas miliknya dan mengeluarkan biodata miliknya. Keberuntungan Luna kali ini dia membawa biodata yang tadi dibutuhkan untuk rapat besar.
"Jika nyonya berpikir wanita yang anda sebutkan lebih baik dari anda,l seharusnya anda bisa membaca dan melihat. Karena jika saya dibolehkan jujur saya lebih menyukai orang-orang pintar" dingin Luna yang juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyindir Qarin secara terbuka.
Dirinya lebih tidak suka ia dibandingkan langsung dengan Lina yang merupakan saudarinya itu. Bahkan jika dunia runtuh Luna tidak akan segan-segan membawa Lina ke dalam neraka dan membiarkan wanita itu menjadi arwah gentayangan.
"I..itu'" gugup Irene.
"Jika anda tidak bisa mengeja maupun membacanya anda bisa membantu pelayan yang ada di sini untuk membacakannya dengan keras" ucap Luna dan menatap para pelayan ada dengan tatapan dinginnya. Membuat para pelayan yang ada menelan saliva mereka pelan.
'Cih, sudah 8 tahun aku pergi dan sudah 8 tahun mental mereka berubah secepat ini. Bahkan semut lebih tahan dari mereka saat ditatap seperti ini' pikir Luna yang merasakan mansion yang dia datangi dulu berubah banyak.
Mengubah nilai keuntungan dan Kebagusan yang ada mansion menjadi sangat memalukan.
'Semuanya berubah Luna, semenjak kamu pergi semuanya berubah dari ibuku dan para pelayan yang ada di sini' ucap Leon dalam hati. Dia mengetahui makna kalimat dari tatapan rendah Luna. Karena dirinya dibesarkan di sekitar orang-orang yang selalu melihatnya dengan tatapan penuh kebohongan. Membuatnya bisa membaca semua mata dan arti dalam mata itu sendiri.
š«Arghhhhhhhhh maaf atas keterlambatannya, saya masih harus belajar dan menyelesaikan beberapa hal maupun tugas yang ada. Membuat saya kelelahan dan mencapai batas maksimum dan tertidur selama 8 jam!
__ADS_1
Maafkan saya°^° Sayonara~