
Jika langit berwarna gelap, maka bulan dan bintang akan menjadi peran untuk menerangi malam mereka.
Bahkan jika awan gelap mulai menutupi cahaya yang mereka berikan kepada orang-orang yang mereka cinta itu tidak bisa menghalangi pandangan orang tersebut dalam kegelapan.
Terutama saat mata berwarna hitam itu dengan jelas melihat sosok cantiknya. Sehingga ia tidak bisa menipu mata leon yang berwarna biru laut dengan kilauannya yang jernih namun warnanya yang dalam.
Dimana saat mata itu menangkap sosok bayangan yang lepas landas dengan cepat, ia menangkap sebuah kilauan yang dihasilkan oleh benda tajam yang ia letakkan di pangkal pahanya yang indah itu.
Membuat matanya yang tenang sedikit menyipit dan membuatnya semakin tersenyum.
Siapa lagu jika itu bukan wanita kesayangannya. Luna Luxury, ah tidak Luna Nypole yang dengan berani dan gagahnya, tanpa rasa takut membawa pisau yang terbuat dari potongan berlian hitam asli itu ke medang perang.
Sebuah senjata tajam eksklusif yang terbuat dari bahan yang tentunya harus eksklusif dan spesial. Karena setengah badan dari pisau tersebut terbuat dari potongan berlian hitam yang telah diasah ribuan kali.
Tidak hanya memiliki kandungan berlian saja, berlian hitam itu juga bercampur dengan kandungan perak dan juga tembaga berjenis langka yang bercampur menjadi satu di dalam benda tersebut.
Membuat pisau berukuran kecil itu tidak hanya memiliki bahan yang tidak bisa saja melainkan berat yang juga tidak biasa. Dimana berat pisau itu hampir berasal dari berlian yang terletak di mata pisau.
Tanpa kekurangan kemegahan sedikitpun, pisau berukuran kecil itu sangat sulit untuk dibentuk dan diasah untuk sesuai dengan desain yang mereka peroleh dari para desainer papan atas yang mengkhususkan dalam pembuatan senjata eksklusif.
Sehingga pisau itu hanya ada 2 pasang di dunia dan Leon lah yang mengambil pisau terakhir yang mereka lelang di pasar gelap.
“Tuan, apa anda ingin menyusul nyonya muda?” Tanya Max yang tau baha nyonya pasti berada di dekat mereka. Apalagi Max sangat mengetahui bahwa hanya nyonya lah yang bisa membuat tuannya menjadi bahagia.
"Tidak perlu, biarkan dia bersenang-senang dan apa kau sudah meminta mereka untuk membawa senjata itu ke markas." Jawab Leon sambil menatap wanitanya dengan penuh kasih sayang dan mengalihkan perhatiannya kepada Max dengan tatapan menjijikkan.
Max yang menyadari apa arti tatapan tuannya dengan cepat mengabaikan nya dan seolah-olah dia tidak pernah menerima tatapan menjijikkan seperti itu dari tuannya. Dimana tangan besar itu dengan cepat menghubungi bawahannya yang tadi dan meminta mereka untuk membawa senjata tersebut kembali ke markas.
__ADS_1
Tidak hanya satu tangan saja yang bekerja, tangan Max yang satunya lagi dengan mudah menusuk dahi orang-orang yang mulai mendekati tempat persembunyian mereka dan memasukkan nya ke dalam perangkap yang telah mereka gali.
Dimana dari atas tanah yang mereka injak, mereka bisa melihat dengan jelas bahwa banyak sudah banyak tumpukan mayat berada di bawah tanah. Tepatnya di dalam galian tanah yang telah mereka buat, mayat-mayat itu dipenuhi dengan luka tusukan benda tajam.
Dan bahkan tidak ada luka senjata tembak sedikitpun di tubuh manusia-manusia itu. Membuat orang-orang yang melihatnya pasti akan familiar dengan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di bawah tangan Leon.
Karena cara itu secara misterius telah diturunkan ke generasi ke setiap generasi selanjutnya. Hingga telah sampai ke tangan Leon yang dimana tindakan mereka sama persis dengan tindakan yang dilakukan oleh Luna saat melawan musuh-musuh nya tadi.
Hanya saja bedanya, Luna menambahkan jarum sebagai senjata pembunuhannya. Sedangkan milik Leon, mereka menggunakan senjata tajam dan juga tinju mereka untuk melawan musuh yang mereka hadapi.
Sehingga rencana dan juga tindakan mereka terlihat sama persis.
Dikarenakan Luna lah yang meniru tindakan tersebut dan merubahnya dengan gaya tindakan yang bisa ia lakukan dengan semaksimal mungkin. Terutama tindakan yang dilakukan sebenarnya adalah tindakan yang telah direvolusi dari tindakan yang berasal dari Leon.
Yang artinya mereka telah ditakdirkan untuk bersama. Bahkan pisau yang sulit untuk didapatkan dan hanya ada dua pasang di dunia berada di tangan mereka masing-masing.
Dengan kemungkinan 1:1 (satu banding satu) mereka berdua memiliki pikiran dan juga barang yang sama. Walau jarak memisahkan mereka, itu tidak pernah menghentikan takdir yang mengikat mereka bersama.
“Tuan?”
“Ya, lanjutkan kembali rencana seperti yang ku katakan dan susuri jalanan yang ada di dekat perairan. Pastikan kalian menemukan pintu masuk ke wilayah milik mereka yang sebenarnya.” Jelas Leon dingin dan memandang kumpulan mayat itu dengan wajah biasa-biasa saja.
Seolah-olah itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Membuat Max yang mendengarnya dengan cepat mengarahkan setengah anak buahnya untuk menuju tempat berikutnya dan mencari pintu masuk seperti yang dikatakan tuannya.
“Tuan, apa yang harus kita lakukan dengan senjata yang telah sampai di markas?”
__ADS_1
“Perintahkan V untuk mengirim senjata itu ke orang yang tepat dan cari tau apa senjata itu bisa kita duplikat kan.”
“Baik, tuan.” Jawab Max yang melanjutkan pemanggilan di lain tempat.
Di tempat lain,
ruangan bawah yang gelap itu kini mulai dipenuhi dengan bau keringat yang dihasilkan oleh para pejuang yang ada di lapangan latihan. Bahkan R yang menciumnya dengan cepat berpindah tempat untuk menghilangkan bau kotoran tubuh dari bawahannya.
“Tunggu sebentar yang mulia.” Teriak seorang petugas yang membuat Yu yang mendengar teriakan yang tidak sopan itu mau tidak mau menatap orang itu dengan tatapan mati.
Terutama saat melihat tuannya yang terhormat menghentikan langkah kakinya dan berhenti beranjak dari tempat yang berbau kotor ini. Membuat Yu yang mendengarnya semakin marah.
Tidak hanya Yu saja yang merasakan perasaan marah, R yang ingin beranjak pergi dari tempat kotor ini juga ingin membunuh bawahannya. Namun dia hanya bisa menghentikan aksi kekerasannya dan menahan semua amarahnya.
Yu yang saat ini telah berbalik melihat wajah gelisah anak buahnya, membuat Yu merasakan firasat buruk saat melihatnya. Dan benar saja firasat itu terjadi sedemikian rupa saat mendengarkan laporan dari anak buahnya secara langsung.
Bahkan R yang telah menahan amarahnya semakin jelek wajahnya saat mendengar laporan dari bawahannya.
Apalagi saat mendengar kabar bahwa banyak penyusup telah memasuki wilayahnya dan orang-orang yang bertugas untuk menjaga wilayahnya di luar ruangan telah dimusnahkan secara cepat dan juga bersih.
Membuat R yang mendengarnya tidak bisa menahan rasa dinginnya dan menyadari bahwa tikus yang masuk ke wilayahnya bukanlah tikus sembarangan melainkan tikus-tikus yang mungkin saja ia kenali.
“Sial.”
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
__ADS_1
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~