My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 186 : Mengurus Hal-hal Aneh (5)


__ADS_3

Dengan gumaman yang pelan, Leon menatap tajam ke arah lelaki yang sedang duduk dan bergaul dengan para kawanan serigala itu. Seolah-olah ia telah menjadi raja yang telah menguasai dunia.


Sehingga kawanan serigala yang seharusnya menjadi kawanan yang buas berubah menjadi tunduk di hadapannya. Terutama darah istimewa yang mengalir di tubuh orang itu, membuat Leon yang mengingatnya merasa jijik saat melihatnya.


Bahkan tanpa Leon beritahu pun orang-orang pasti dengan jelas merasakan perbedaan dari orang itu. Terutama mata almondnya yang unik dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang istimewa.


Sama seperti dirinya yang memiliki mata biru sedalam laut yang berbeda dari orang-orang lain. Membuat dirinya juga menjadi orang-orang terpilih diantara orang-orang yang memiliki darah istimewa. 


“Ayah/Kakek?” Ucap mereka berdua bersamaan saat menyadari bahwa lokasi mereka saat ini sudah didatangi oleh beberapa orang.


Membuat Leon yang mendengarnya menghentikan pikirannya dan menepuk tangan L untuk membawa dirinya ke tempat wanitanya yang berada.


V yang menerima maksud tuannya mulai mendorong kursi roda tersebut sambil melewati bebatuan yang ada di sekeliling mereka. Dengan suara aliran sungai yang jelas, Max menghentikan langkah kakinya dan menatap kedua orang yang ada di depannya.


Sehingga Leon dan juga V yang mendengar langkah itu berbalik dan menatap Max dengan tatapan tajam. Max yang menerima tatapan itu dengan cepat memasuki peranya.


“Huh, ini sangat membosankan sekali.” Ucap Max yang tidak tertarik lagi dengan tempat ini.


“Nak, kau-”


“Cukup, biarkan saja anak itu pergi. Kita tidak perlu lagi menghalangi bocah itu untuk menemani waktuku berjalan, uhuk-uhuk. Remaja jaman sekarang tidak pernah tau kebaikan apa yang mereka dapatkan dari para penatuanya, uhuk.” Sela Leon yang tidak ingin menghambat kepergian tangan kirinya.


“A-”


“Kalau begitu aku pergi dulu, kakek ayah sampai jumpa lagi.” Ucap Max yang dengan cepat pergi meninggalkan kedua orang itu menuju tempat yang ingin ia tuju. 


“Nak! Hah, ayah bukankah sudah ku bilang untuk tidak memanjakan anak itu lagi. Lihat apa yang ayah lakukan, anak itu sekarang semakin memberontak jadinya.” Jelas V yang hanya bisa menyalahkan sikap anaknya karena perbuatan ayahnya yang tua.


“Huh, apa kau pikir itu karena dia satu-satunya cucu lelaki tua ini atau karena kau juga waktu dulu memiliki sifat yang seperti itu tapi tidak ingin mengakuinya, hah?!” Tatap Leon yang tidak ingin menerima perasaan salah dari bawahan atau anaknya saat ini.


“Ayah. . .”


“Huh, oh nak apa itu kau nak?” Ucap Leon yang mencoba memanggil orang yang sedang berjalan di depan matanya. Yaitu seorang wanita khas tionghoa yang kini sedang berpakaian dengan setelan tang tradisionalnya.


Membuat V yang ingin memasuki perannya terkejut kenapa tuannya yang tadi sedang mengobrol dengannya kini sedang menatap ke arah belakangnya. Dan dengan sekali tolehan, V dengan cepat memahami apa yang dimaksud dengan tuannya.


Terutama saat melihat seorang wanita cantik yang memiliki kekhasan nya tersendiri dan dengan jelas V mengetahui bahwa wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah calon nyonya besar.


__ADS_1


Bukan hanya V saja yang terkejut dengan tingkah laku tuannya, Luna yang ingin kembali dan keluar dari tempat ini juga terkejut saat mendengar seseorang menyapanya secara langsung. Dan orang yang menyapanya bukanlah orang yang ia kenal melainkan seorang lelaki tua paruh baya yang memiliki keriput di wajahnya.


“Nak, kenapa kau tidak pulang ke rumah? Setiap hari ayah meletakkan bunga favoritmu di kamarmu, nak?” Ucap Leon yang mencoba menjangkau lengan Luna.


Membuat Luna yang ingin pergi dan melewati lelaki tua itu harus mendekatkan tubuhnya. Terutama saat menyadari bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya mulai melihat tubuh dan juga wajahnya.


‘Ah, apa aku sangat sial sekali hari ini? dan kenapa aku tidak memeriksa kalender sebelum berangkat tadi.’ Pikir Luna yang terus menerus mendapatkan perhatian dari orang-orang yang ada di sekelilingnya karena orang-orang tak terduga yang ia temui hari ini.


“Aku-”


“Nak?”


“Hah, baik ada apa ayah?” Ucap Luna sambil meletakkan tangannya di atas tangan lelaki tua itu.


Membuat Leon yang menerima inisiatif Luna, merasakan perasaan yang senang. Terutama saat menyentuh tangan lembut yang telah lama tidak ia sentuh. Sehingga leon yang mendapatkan tangan itu mau tidak mau menyentuhnya bolak-balik dan mendekapnya di dalam pelukannya.


“Kau-”


“UHuk, maaf nona bisakah kita berbicara di sebelah sana.” Sela V yang menyadari apa yang ingin dilakukan tuannya selama ini. 


Terutama saat menyentuh lengan milik nyonya muda, membuat wajah pria tua yang tadinya ketus dan penuh dengan dengusan kini berubah menjadi wajah yang berseri-seri. Seakan-akan mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini.


Walaupun Luna memiliki prinsip menghormati yang tua dan mencintai yang muda, tetap saja Luna tidak mengenali siapa lelaki tua yang menggenggam tangannya saat ini.


Sehingga dua orang dan satu orang yang seharusnya berjalan menuju tujuan masing-masing berubah menjadi tiga orang yang berjalan menuju tujuan yang sama yaitu tempat peristirahatan yang tidak jauh di depan mata mereka.


“Lihat tanganmu nak, bukankah kamu semakin kurus.” Ucap Leon yang tidak memperhatikan apapun kecuali tangan yang telah ia genggam selama ini.


“Ini-”


“Seperti yang anda lihat nona muda, ayah saya sudah semakin tua jadi pandangannya semakin kabur. Apalagi saat kami sekeluarga mengetahui bahwa lelaki tua itu mengidap penyakit alzheimer, sehingga ia melupakan beberapa hal penting dan mengingat bahwa ia masih memiliki anak perempuannya.” Jelas V secara rinci tak lupa menutupi bawah matanya dengan saputangan yang ada di sakunya.


“Lalu, kalau boleh tau dimana anak perempuannya saat ini?” Tanya Luna yang tidak menyadari bahwa ia dijebak oleh singa yang ada di hadapannya saat ini.


“Itu-”


“?”


“Mati.”

__ADS_1


“Eh?”


“Saudara perempuan saya telah mati sebelum saya menikahi menantu perempuan saya. Itu juga diakibatkan oleh penyakit jantung bawaan, yang membuat ayah saya tidak menerima keadaaan anak perempuan satu-satunya.” Ucap V yang membuat LUna yang mendengarnya tidak bisa menahan perasaan sedih saat mengetahui bahwa anak lelaki tua itu telah mati.


Terutama saat mata berwarna hitam itu bertemu dengan tatapan lembut dari lelaki tua itu, membuat Luna menyadari bahwa lelaki tua itu juga memiliki hidup yang menyedihkan bahkan jika dia memiliki kekayaan tak terhingga saat masa hidupnya.


“Pak-”


“Hmm, apa kau ingin pulang bersama ayah?” Tatap Leon telah menyentuh kedua tangan milik anaknya dan menatap wajah palsu milik wanitanya.


“TIdak, ayah aku- aku bisa pulang sendiri.” Ucap Luna yang mencoba pergi dari tempat ini dan sekaligus tidak ingin menyakiti perasaan lelaki tua yang ada di hadapannya.


“Benarkah? Ayah ingat kau telah lama tidak pulang ke rumah.” Sedih Leon yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendorong wanitanya untuk semakin mendekat ke dalam pelukannya.


“Aku-”


“Nona, bisakah saya meminta nomor nona. Jika nona tidak sibuk tolong hubungi lelaki tua itu.” Potong V yang tau bahwa nyonya muda saat ini tidak nyaman dengan perasaan lelaki tua itu (tuannya).


“Ah, kalau begitu tolong simpan nomor ini dan maaf saya harus pergi terlebih dahulu. Ada yang harus saya selesaikan setelah ini.” Ucap Luna yang bertema kasih atas pengertian dari orang tua itu dan menuliskan nomor teleponnya di selembar kertas.


“Tidak apa-apa nona, saya harap anda menjalani hari yang menyenangkan untuk hari ini.” Senyum V yang menerima selembar kertas itu dengan baik hati dan menepuk pundak ayahnya untuk melepaskan tangan milik nyonya besar.


Membuat Leon yang mendengarnya dengan enggan melepaskan tangan wanita nya dan menatap punggung wanitanya yang telah pergi dan dengan cepat menghilang dari pandangannya.


“Tuan-”


“Kertas.”


“Ini tuan.”


“Kenaikan gaji sekaligus bonus ambil di kantor ku besok.” Ucap Leon yang telah menerima kertas tersebut dan mengantonginya dengan senang hati. 


Membuat V yang melihat tingkah laku tuannya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mensyukuri bahwa gaji dan juga bonus yang akan ia terima meningkat. Dan tidak sia-sia ia berpura-pura dalam menjelaskan penyakit tuannya.


‘Bonus, bonus, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan. Sayang sekali Max pergi dengan cepat tadi.’ Pikir V sambil berbela sungkawa dengan kepergian kawannya tadi. Jika tidak mereka akan memiliki gaji dan bonus yang sama.



🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.

__ADS_1


🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~


__ADS_2