
Waktu berjalan hingga jarum jam sudah berada tepat di jam 7.30 pm. Aura di dekat labirin besar itu terasa mencekam. Baju hitam memenuhi area labirin yang membedakan hanya bendera yang diselipkan di tangan dan diikat erat.
Hari ini adalah hari pertandingan dimulai dengan semua klan yang sudah berkumpul dengan sesama orangnya. Termasuk Luna yang sudah menggunakan sepatu boot hitam ditemani baju hitam miliknya.
"Ketua apa kita harus berpisah?" tanya Edwin kepada Luna.
"Ya kita harus berpisah kalian bisa mengambil jalur Kiri saat masuk dan aku sebaliknya" jelas Luna yang mengecek persenjataan nya.
"Tapi kalau begitu caranya bukankah Anda akan sendirian masuk ke dalam labirin jalur kanan?" ucap Edwin.
"Seperti yang kau tau anak buah kita yang menyusup hilang dan tidak kembali. Pastinya ada orang yang membunuh atau menyergapnya bukan?" jawab Luna. Apalagi penyusup yang dia kirim adalah peserta yang dia pilih untuk ikut pertandingan tapi harus digantikan.
"Baiklah, semoga anda kembali tanpa luka" menyerah Edwin atas keinginan ketuanya.
"Ku doakan kau kembali dengan nyawa" ucap Luna. Rambut panjangnya kali ini dia ikat menjadi style ekor kuda poni. Dengan wajahnya yang ditutupi oleh Topeng. Karena sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan untuk menjaga informasi orang yang ikut maka menggunakan topeng yang disediakan masing-masing peserta.
Di saat Luna mulai berpikir si saat itu pulalah suara tegas dan keras terdengar di panggung atas yang tiada cahaya. Suara tegas yang sangat dikenal oleh semua orang. Pemilik klan yang selalu menang dan mempertahankan kemenangannya berturut-turut, yang dimana sekarang mereka sudah pensiun.
"Karena kami mengumpulkan semua nyawa di satu tempat maka yang akan masuk ke dalam labirin sesuai dengan pangkat yaitu peringkatnya, silahkan untuk klan Ular memasuki jalur labirin" perintahnya tegas. Kelompok Luna memasuki labirin melalui jalur yang berbeda. Di mana persembunyian dan juga jalan keluarnya juga berbeda.
Persembunyian untuk mengintai musuh dan tidak akan ketahuan oleh musuh lain. Di pertandingan ini dilukai boleh tetapi membunuh tidak boleh. Itulah kesulitan untuk pertandingan yang mereka ikuti. Tetapi semua itu sangat impas dimana hadiah yang sangat menggiurkan akan ada di tangan milik sang pemenang.
Tangan Luna mengetuk dua kali di area telinganya yang di sana terpasang airpods untuk berkomunikasi dengan kelompoknya.
"Apa kalian sudah dapat tempat pengintai?" tanya Luna.
"tenang saja ketua sudah" bisik Edwin. Luna mematikan airpods nya di saat dirinya melihat beberapa orang berada di bawahnya. Tepat dimana dia sedang bersembunyi. Labirin yang mereka masuki sangat gelap dan hanya memiliki cahaya di pintu masuk.embiat semua orang hanya bisa mengandalkan suhu, temperatur, pendengaran dan lain-lain.
"Apa ini tempat uang cocok untuk bersembunyi?" tanya seorang laki-laki dengan topeng berbentuk kucing.
__ADS_1
"Tenang saja kita sudah berlari sepat mungkin dan mendapatkan tempat gelap ini pasti tidak apa-apa" jawab yang lainnya. Luna tersenyum tipis mendengar klan-klan mudah yang ada di bawahnya. Dimana saat ini dia sedang berjongkok di satu balok kayu panjang yang diletakkan di atas.
Membuat Luna bisa bersembunyi di atas balok kayu dan dari atas bisa melihat persembunyian semua orang yang ada di dekatnya. Labirin ini memiliki 3 jalur yaitu kanan, kiri, dan tengah. Dan memiliki jalur akhir satu di ujung. Tetapi jalur keluar itu ditutupi oleh sel besi. Di saat Klan terkahir masuk ke dalam labirin maka suara pintu masuk akan ditutup yang artinya pertandingan dimulai.
Krek***
Pintu labirin pertama ditutup
Krek***
Pintu labirin kedua tertutup
Krek***
Pintu labirin ketiga ikut ditutup.
Tuk* Tuk*
Dengan pukulan keras dan menggunakan titik vital organ manusia. Kedua orang yang berbisik itu pingsan dan membuat satu temannya terkejut.
"Hei temanmu sudah pingsan apa kamu tidak ingin menyerah saja?" tanya Luna dan melompat ke bawah. Tangganya menjadi pondasi sebelum dirinya turun dan menjadi kayang. Setelah itu berdiri, dia mendekat ke arah kedua orang yang dengan mudahnya dia gugurkan. Tangganya mengambil kedua bendera yang terikat di masing-masing tangan mereka.
"Jadi apa kau ingin menyerah dengan kakakmu ini?" tanya Luna. Laki-laki yang bertopeng itu langsung menggeleng keras. Dengan cepat Luna mendekat dan menghunuskan belatinya tepat di wajah milik orang bertopeng tersebut.
Belati yang dia hunuskan mulai mengenai permukaan kulit. Getaran tubuh penerimanya terlihat oleh Luna. Dimana organ pernafasan nya lebih cepat mengeluarkan karbondioksida.
"Kau ingin menyerah atau tidak?" tanya Luna.
__ADS_1
"A... aku tidak akan per Wahhhh!" teriak Laki-laki yang ada dihadapannya. Di saat itu pulalah musuh yang ada dihadapannya pingsan. Karena keterkejutan yang dia dapatkan dan irisan tipis di kulit pernah itu. Tidak lama Luna dengan cepat mengambil bendera yang ada di laki-laki itu dan melanjutkan langkah ke ruangan labirin berikutnya. Apalagi dia mendengar suara tembakan, hunusan pedang maupun belati di tempat lain.
Dia membutuhkan banyak bendera untuk dia bawa keluar dari labirin ini untuk memenangkan pertandingan. Tetapi jika orang berpikir mudah untuk melakukannya. Maka kalian salah karena pertandingan yang sebenernya akan dimulai saat kau memasuki labirin tambah dalam. Dan menemui sejumlah pesaing yang handal dan kuat. Musuh yang dia lawan sebagai pemanasan nya tadi hanyalah klan muda dan belum terlatih.
Yang memungkinkan mereka bertiga adalah klan yang dibuat secara abal-abal dan diperintahkan oleh orang tuanya. Untuk mendapatkan uang yang banyak dari pertandingan ini. Tapi sayang bukan untung yang kau dapatkan tetapi buntung.
'Apa aku mencoba di dalam saja yaa' pikir Luna yang kemudian suara tembakan pistol mulai mendekat ke arahnya.
Dor*
Dengan cepat Luna menundukkan posisinya. Apalagi peluru yang hampir mengenainya tadi. Wajahnya yang menunduk menengok ke arah atas. Terlihat beberapa orang yang sudah berdiri di dekatnya.
"Woah ternyata kemampuan klan ular melebihi ekspektasi ku!" lantang laki-laki yang sedang memegang pistolnya. Pistol itu tidak terlalu berbahaya tapi tetap Luna sayang tubuh tentunya.
"Sepertinya kalian ingin mati" Smirk Luna.
"Apa kau tau kami dari klan apa?" sombong anggota yang lainnya.
"Hmm memang apa?" pancing Luna.
"Klan harimau dan kau pasti tau namanya bukan" arogan yang lainnya. Telinga Luna yang mendengar jawaban dari orang-orang yang mencoba melawannya membuat senyuman dingin menemaninya.
'Sepertinya aku mendapatkan mangsa yang menyenangkan' pikir Luna. Tidak dia habis pikir klan harimau datang sendiri ke arahnya berjalan. Maka kesempatan ini tidak akan di sia-siakan.
"Bukankah kalian hanya klan yang pernah jatuh setelah itu bangkit kembali" Smirk Luna.
"Tidak usah banyak omong klan sialan! serang Dia!" perintah laki-laki yang memegang pistol.
"Ku terima serangan kalian" Smirk Luna dan...
__ADS_1