My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 108 : Qarin Madness


__ADS_3

'Aku harus menyelesaikan semuanya dan mengakhiri hubungan yang berbahaya ini' pikir Luna.


Ting**


Bunyi lift berdenting membuat pintu lift yang tadinya tertutup terbuka. Luna yang berada didalam lift keluar dan melihat sekeliling. Matanya menangkap sesosok laki-laki yang sangat ia kenal. Laki-laki yang sedang berdiri di luar pintu sambil membaca sebuah laporan. Membuat senyum dingin Luna muncul di wajah cantiknya.


Tuk.... tuk.... tuk...


Sepatu hak itu berjalan di lantai yang terbuat dari marmer. Menghasilkan suara ketukan yang tegas namun anggun. Aura dingin dan rambut panjangnya menghentikan setiap gerakan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sampai dimana langkah kakinya berhenti tepat di depan seorang laki-laki yang sedang fokus membaca laporan.


Aura dingin milik laki-laki itu menyambut Luna yang berada di dekatnya. Dengan suara yang lembut nan dingin Luna memanggil nama laki-laki tersebut.


"Tuan Leonex Martin" panggil Luna membuat laki-laki yang memegang laporan tersebut menegang dan langsung menoleh. Konsentrasi tinggi yang dikeluarkan nya tiba-tiba menghilang saat suara lembut dari seorang perempuan yang dia cintai terdengar sangat-sangat dekat. Membuat matanya menoleh dan melihat sesosok wanita yang ingin dia peluk sekarang.


"Luna..." sebut Leon saat melihat Luna ada di hadapannya. Tangannya melepas laporan yang dia genggam, memeluk tubuh perempuan yang ada di hadapannya dan mencium bau bunga Lily yang harum. Membiarkan laporan penting yang sedang ia baca terlepas dan terletak ke lantai.


"Seperti biasanya kau sangat harum, Luna" bisik Leon dan menghirup aroma bunga Lily tersebut dalam-dalam. Dia belum tertidur hari ini karena harus menjaga ibunya yang kembali masuk rumah sakit. Membuat tubuhnya bekerja lebih dari apa yang dia inginkan.


Tubuhnya lelah dan matanya ingin tertidur tapi suara teriakan dari kamar pasien membuatnya terganggu. Sehingga membuat rasa kantuk yang ada harus tahan setiap detik, menit maupun jam.


'Ahhh, rasanya aku ingin tidur sambil memeluknya sekarang' pikir Leon yang merasakan rasa nyaman yang sudah lama hilang. Untuk pertama kalinya selama 8 tahun terakhir dia merasakan rasa nyaman yang membuat jiwa dan raganya tenang seketika.


"Apa kau bisa melepas pelukan mu sekarang?" tanya Luna dingin. Dirinya tidak nyaman dengan gerakan yang dibuat Alex tiba-tiba.


"tidak" jawab Leon singkat. Dia menambah pelukannya kembali, mencium aroma tubuh itu dalam dan semakin dalam.


"Orang-orang sedang melihat mu, tuan Leon" dingin Luna yang merasakan banyak tatapan di sekitarnya saat ini. Menambah rasa tidak nyaman yang ada bertambah.

__ADS_1


"Biarkan saja, jika mereka berani menyebarkannya aku akan mencolok mata dan memotong tangan mereka. Jadi biarkan aku mencium aroma tubuhmu sebentar lagi" dingin Leon yang tidak ingin melepaskan tubuh Luna.


Hingga tidak berapa lama kemudian suara teriakan dari seorang wanita terdengar keras dari dalam ruangan yang ada di belakang Leon. Sebuah teriakan yang membuat Leon langsung berdecak kesal. Bahkan pintu yang tadinya tertutup kini terbuka oleh seorang laki-laki dengan jubah putihnya.


Sreekk....


"Tuan Leon, gawat itu...." ucapan dokter laki-laki itu berhenti seketika saat melihat sebuah adegan yang seharusnya tidak ia lihat di rumah sakit saat ini.


"ah... saya maaf-maaf menggangu" gugup dokter tersebut yang langsung ingin masuk kembali ke dalam ruangan tapi sayangnya bahunya dengan cepat sudah ditahan oleh sebuah tangan besar.


"Cih, katakan apa yang terjadi" dingin Leon yang kesal karena pelukan miliknya harus terhentikan.



Kekesalan yang harus ia tahan kembali saya sebuah teriakan mulai hadir dan hadir si sela-sela obrolan miliknya. Bahkan dari depan pintu saja mereka yang ada di luar bisa melihat seorang wanita sedang meringkuk ketakutan di dalam.


"Bukannya kau sudah memberikan obat penenang, kenapa dia masih terbangun?" tanya Leon dingin membuat dokter yang sedang dipegang bahunya mengigil ketakutan.


"Sial" ucap Leon yang melihat ke belakangnya dan melihat bahwa Luna tidak ada di dekatnya. Membuat tubuhnya reflek melepaskan genggaman di bahu dokter dan melihat sekeliling.


"Luna, Luna kamu dimana?" panggil Leon yang sadar bahwa dokter yang tadi dia ancam kini menatap khawatir ke hadapannya.


"Ada apa? surga kukatakan jika bukan karena keadaan darurat jangan memanggilku" dingin Leon.


"I..itu tuan, nona yang anda panggil ada di dalam" ucap dokter membuat Leon langsung mendekat ke arah pintu dan melihat ke arah kaca transparan yang ada di pintu. Matanya melihat Luna yang sedang berjalan ke arah ibunya dengan tenang. Membuat nya dengan cepat memutar ganggang pintu. Dimana rasa khawatirnya kembali hadir dan takut Luna akan di apa-apakan oleh ibunya yang belum tenang.


"Luna! buka pintunya! kau gila ibuku masih belum tenang!" teriak Leon yang sadar bahwa pintunya di kunci dari dalam ruangan. Membuat Leon dengan cepat mendobrak pintu dan tau bahwa itu akan sia-sia karena keamanan rumah sakit militer yang sangat tinggi.

__ADS_1


"Luna... Luna" panggil Leon kembali. Luna yang berada di dalam ruangan mengabaikan semua panggilan yang di berikan oleh Leon. Dia berjalan mendekat ke arah Qarin yang sedang meringkuk ketakutan. Ketakutan karena kejadian yang pernah dia alami itu mulai bangkit ke alam sadarnya.


Dimana semua ingatan itu dibangkitkan kembali oleh Luna saat di mansion milik Leon kemarin.


'Qarin Martin, umur 49 tahun ulang tahun 22 November lahir di Washington DC merupakan anak pertama dari pemilik perusahaan minyak terkenal. Memiliki riwayat penyakit kejiwaan pada umur 41 tahun. Hehhh ternyata info yang kudapat kan secara ilegal ini memang benar' pikir Luna yang mengingat semua informasi yang telah dia dapatkan.


"Arghh jangan mendekat, i..itu bukan salahku aku hanya tidak sengaja....arghhh" teriak Qarin ketakutan.


"Tidak sengaja? hmmm benarkah?" ucap Luna dingin membuat Qarin kembali meringkuk ketakutan.


"A..aku tidak sengaja itu bukan aku, bukan aku" ulang Qarin.


"Jika kamu berkata itu tidak sengaja, buktikanlah nyonya Qarin" ucap Luna meladeni obrolan ketakutan Qarin.


"A..aku bukan aku ta..tapi dia, dia yang ingin membunuhku" ucap Qarin yang mencoba mengingat semua kejadian kecelakaan.


"Ya, dia... dia yang ingin membunuhmu tapi kau tidak tau namanya bagaimana aku membuktikan nya nyonya" ucap Luna dan mengeluarkan senyum dinginnya. Dia membutuhkan ingatan milik Qarin sebelumnya agar dia bisa mendapatkan bukti untuk merusak reputasi keluarga Luxury.


Dimana kejadian kecelakaan ini berhubungan dengan keluarga Luxury dan akan berhubungan dengan balas dendamnya.


'Semua ketakutan mu itu akan menjadi kunci dari kebahagian, nyonya Qarin' pikir Luna yang menyembunyikan alat perekam di bawah bajunya.


"Dia... dia adalah arghhh....."



🔫Ingat setiap kenangan keluarga Martin akan berhubungan dengan Keluarga Luxury. Dimana mereka saling berkaitan dan akan membuat rencana Luna mudah~

__ADS_1


jadi mari kita liat kegilaan Qarin beberapa hari ini~


Mata ne~


__ADS_2