My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 19 : Boleh Ku Bunuh?


__ADS_3

Di Tempat Lain~


Luna dan Joe sudah mengantar Kevin ke rumahnya. Tidak ada pertanyaan dan Hanya keheningan yang ada saat Kevin di antar tapi tidak saat mereka berdua. Apalagi Joe yang sudah menahan dirinya untuk tidak bertanya.


"Tanyalah" ucap Luna santai sambil mengendarai mobil putihnya.


"Ini baru temanku, aish kenapa kau tidak bilang musuhnya banyak? kalau begitu kan aku bisa ikut" kecewa Joe sambil mengeluarkan lolipop nya.


"Memang kenapa?" tanya Luna


"Astaga Luna-chan ku, sudah pasti aku ikut dong aku juga mau uji coba laser baruku"


"Senjata baru,hmm" goda Luna yang malah membuat Joe terkekeh.


"Yap baru dikirim karena kalau pedang samurai ku pasti akan ketahuan jadi bawa laser saja ditambah aku bawa laser api haha" jelas Joe.


"Kau ingin membunuh mereka?" tanya Luna dan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk mansion miliknya.


"Tentu saja ku bunuh hingga berdebu" jawab Joe lalu mereka keluar dari mobil putih itu. Baru saja Luna membuka pintu dirinya sudah disambut dengan banyak pertanyaan dan tarikan tangan.


"Mom! apa mom baik-baik saja?" tanya Navin khawatir.


"Ahhh kenapa mom berdarah seperti ini ayo masuk dan ceritakan siapa yang menyerang mom!" teriak Laura sambil menarik tangan Luna sedangkan Joe hanya menggeleng pasrah melihat sikap kedua anak Luna yang sangat overprotektif kepada Luna tetapi sangat nakal. Luna lebih memilih memandikan tubuhnya di kolam renang di dalam mansion walau malam hari tapi tubuhnya kuat untuk menahan suhu apalagi kolam renang ini dilengkapi dengan pengatur suhu jadi tidak perlu takut untuk kedinginan di dalam air.


Sedangkan Joe sedang menyenderkan tubuhnya di ayunan di samping kolam renang berbeda dengan Navin dan Laura yang sudah duduk di pinggir kolam sambil memulai pertanyaan mereka dan jangan lupakan pisau belati LHR Combat berada di tangan mereka masing-masing karena pisau belati itu harus dibersihkan dari noda-noda darah.


"Berapa orang yang mom bunuh?" tanya Navin sambil melap pisau belati itu dengan kain khusus.


"entahlah 3 atau 4 mungkin apalagi pria bertopeng itu dikawal 1 orang" jawab Luna lalu memasukkan kepalanya di dalam air.


"Kenapa mereka menyerang mom? apa mereka musuh? lalu siapa mereka?" tanya Laura panjang lebar sambil mencengkram erat pisau belati itu


"Mom kira mereka musuh mom ternyata bukan" jawab Luna enteng lalu memasukkan kepalanya untuk menahan nafas di dalam air.


"Apa boleh ku bunuh?" tanya Laura yang membuat Luna menaikkan kepalanya dan menatap anak perempuannya.


"kenapa kau ingin membunuhnya, Laura?" tanya Luna.


"Karena dia berani menguras energi dan juga membuang waktu mom lalu membuat mom terlambat pulang" teriak Laura lalu melesatkan pisau belati itu ke arah kanan dan


Tap**

__ADS_1


"Wah!!! hati-hati lemparnya Laura nanti hidung Tante berdarah" kejut Joe yang langsung berdiri dari ayunannya. Tidak ibu tidak anak sama sama memiliki lemparan pisau belati yang cepat tapi bila Laura hanya akurat saat dirinya sedang emosi seperti ini. Hampir membuat diri Joe yang menyatakan tubuhnya di ayunan terkejut dengan pisau belati yang tajamnya luar biasa melesat di hadapannya.


"Maaf Tante" teriak Laura, Joe hanya bisa menggeleng pasrah lalu mencabut pisau belati itu dan berjalan ke arah tiga orang yang ada di sana.


"Dari pada emosi lebih baik kita mempecahkan beberapa angka di komputer apalagi katanya nih sistem komputer perusahaan Luxury diperbarui" goda Joe ke arah Laura dan tentu saja dengan senang hati Laura menerima.


"baiklah kalau begitu, ayo Tante dan juga sampai jumpa mom" semangat Laura dan menarik Joe ke arah ruang komputer miliknya. Luna dan Navin saling menatap memutar bola mata jengah.


"Adikmu itu" ucap Luna


"Anak mom" ucap Navin tak kalah yang membuat keduanya terkekeh.



Luna mendudukkan dirinya di samping anak lelakinya itu dan mengusap pelan Surai pirang itu.


"Tanyakanlah apa yang mau kau tanya, Navin" Ucap Luna sambil mengelus pelan rambut anak lelakinya.


"Kenapa mom membantu dad?" tanya Navin sambil mengelus tangan Luna.


"mom bukan membantu dad, sayang" jawab Luna terus terang.


"Mom hanya membantu Sandra nya saja" jawab Luna


"Siapa?" tanya Navin.


"nenekmu" singkat Luna yang membuat Navin memandang Luna penuh dengan tanda tanya.


"Kenapa mom menolong nenek?" tanya Navin membuat senyum terukir lembut di wajah Luna.


"Karena nenekmu adalah seseorang yang dulunya sangat baik dengan mom tapi entah sekarang" jawab Luna dengan nada lemah diakhir katanya.


"Apa mom menyesal dengan jalan ini?" tanya Navin. Ya inilah Luna hanya bisa terbuka dengan anak pertamanya dan anak pertamanya yang hanya bisa terbuka dengan. Apalagi mereka berdua memiliki sikap yang sama persis. Membuat keduanya merasa nyaman di saat berdua.


"Mom tidak pernah menyesal, dan juga mom sudah berjanji pada diri mom untuk menjadi kuat dan membalas semua perbuatan mereka" ucap Luna dan mengingat 8 tahun silam dimana sebuah janji terucap di saat dia mendapatkan hasil USG itu.


**8 Tahun Lalu~


Flashback on**~


Di sebuah kamar bernuansa abu-abu terlihat seorang perempuan yang memiliki rambut panjang sejengkal dari bahu itu bergetar menangis melihat hasil USG dari seorang dokter pribadi keluarga yang mengangkatnya menjadi anaknya. Sebuah janin berkantung dua terlihat di sana gambar hitam putih itu membuatnya menangis melihat sesuatu yang hadir di saat dia kehilangan dan di saat dirinya bingung apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


Hingga sebuah ketukan pintu terdengar dan terlihat seorang perempuan muda yang merupakan pelayan pribadinya sekarang.


"Nona ini makan siang anda" sopan perempuan bernama Cici itu.


"Ci a.. Apa yang harus ku lakukan?" tanya Luna gugup sambil melihat gambar USG.


"Nona ingin saja saya jawab jujur?" tanya Cici yang langsung diangguki oleh Luna.


"Luna berjanjilah untuk menjadi lebih kuat dan membalaskan dendam orang-orang yang menghancurkan hidup anda" jawab Cici yang langsung digeleng keras oleh Luna.


"tidak a..aku tidak bisa"


"Apa nona takut bersalah?" tanya Cici yang dibantah oleh Luna.


"a..aku tidak punya kekuatan untuk melawan mereka" jawab Luna jujur.


"Nona jika nona tidak memiliki kekuatan maka carilah dan dapatkan kekuatan itu dengan kerja keras karena setiap tangisan yang nona keluarkan harus dibayar dengan darah yang menetes di mereka" ucap Cici.


"tapi.."


"Nona, anda adalah anggota keluarga Nypole sudah cukup anda berdiam diri 3 bulan di kamar anda harus berubah karena dunia ini bukan surga yang membahagiakan nona tapi dunia ini dunia yang kejam nona!" jelas Cici lantang.


"Tapi.."


"Nona berjanjilah untuk menjadi kuat dan membalaskan apa yang nona rasakan, karena di hidup ini hanya ada prinsip yang kuat menyerang yang lemah dan lemah akan takut dengan yang kuat. Maka jadilah kuat dan taklukan mereka agar mereka menyesal dan akan sadar bahwa nona adalah orang yang terkuat yang pernah ada" ucap Cici sambi memegang erat tangan Luna.


"Aku.."


"berjanjilah nona agar saat saya tidak ada Nona bisa menjadi cahaya dan harapan saya" ucap Cici sambil memandang sendu ke arah Luna.


"a..aku janji" jawab Luna yang membuat cuci tersenyum hingga 2 bulan setelah janji itu Cuci meninggalkan ku karena penyakit yang dia sembunyikan. Aku terpukul tapi aku berjanji menjadi kuat dan menjadi cahaya dan harapan untuk menyinarinya, walau badai harus ku hadapi aku sudah berjanji kepada satu-satunya orang yang membuat hatiku terbuka dan menerima setiap keadaan.


Flashback Off~


Navin menyentuh pelan pipi Luna dan membuyarkan lamunan miliknya.


"Ada apa mom?" tanya Navin


"Tidak apa-apa ayo masuk sudah mau tengah malah kalau uncle pulang bisa-bisa dimarahi mom" ucap Luna yang diangguki oleh Navin.


__ADS_1


__ADS_2