
"Dia... dia adalah arghhh....." teriak Qarin kesakitan. Kepalanya seperti terkena serangan listrik. Membuat tubuhnya bergetar ketakutan saat mengingat setiap kejadian hari itu. Hingga sebuah pelukan jangan menenangkan ketakutan nya. Pelukan yang diberikan oleh Luna kepadanya.
"Tidak perlu takut, aku di sini aku akan menemani mu bu...." ucap Luna lembut membuat suara teriakan dari Qarin mulai menghilang. Rasa sakit yang menyerang nya berubah menjadi rasa nyaman. Membuat perasaan mengerikan yang datang menjadi perasaan hangat.
"Luna..." panggil Qarin lembut. Kedua tangannya mencengkram erat belakang baju Luna. Dia tidak ingin kehilangan seseorang lagi, perasaan nyaman dan tenang setelah kecelakaan yang hanya bisa ia dapatkan dari satu orang saja. Membuatnya tersadar bahwa orang yang ada di dekatnya sama dengan orang yang dulu pernah menyelamatkan nya.
Dimana kalimat yang sama juga diucapkan untuk menenangkan nya saat itu, 'Tidak perlu takut, aku di sini aku akan menemani mu bu....' kalimat yang membuatnya teringat akan kejadian silam tersebut.
"Luna..." panggil Qarin kembali dan tertidur tenang di pelukan Luna yang hangat. Membuat Luna mengeluarkan senyuman tipisnya. Menepuk punggung wanita paruh baya tersebut lalu membalas pelukannya hangat.
"Ingatanmu akan menjadi kunci kehancuran keluarga Luxury, nyonya Qarin" bisik Luna yang melihat kewarasan Qarin kembali hadir. Dimana ingatan tentang kejadian kecelakaan itu masuk kembali ke dalam ingatannya yang rapuh. Membuat senyum tipisnya kembali muncul di wajah cantiknya.
Ingatan yang mampu menjerumuskan keluarga Luxury ke titik akhir. Akhir yang akan Luna bawa menuju lubang neraka dan membiarkan mereka lebih memilih untuk mati daripada hidup. Semua hal yang akan membuat keluarganya menjadi yang paling terburuk di dunia ini.
'Kecelakaan yang sangat penuh dengan lubang' smirk Luna mengingat ingatan miliknya juga.
8 last year, of Mexico City ....
Langit biru ditemani awan putih lembut terlihat di pemandangan. Dimana sinar matahari mulai menyengat dan mencoba untuk menembus pertahanan kulit orang-orang yang sedang berada di luar.
"Nyonya besar, sepertinya hari ini akan panas jadi kita akan menggunakan payung untuk membawa anda ke luar sampai ke tujuan anda" jelas pengawal menemani Qarin.
"Apa hari ini sangat panas? Ku lihat awannya sangat banyak" ucap Qarin sambil melihat ke luar jendela. Matanya melihat awan-awan yang lembut sedang memenuhi langit biru nan cerah karena sinar matahari di musim panas.
"Sinar matahari akan menyengat kulit anda nyonya, sinar UV akan membahayakan perawatan anda. Bukannya anda merawat kulit anda beberapa hari ini untuk melihat calon menantu anda?" ucap pelayan yang ada di samping Qarin. Membuat Qarin menyipu malu dan terkekeh pelan.
"Hahaha, kau benar anak laki-laki itu sudah menyembunyikan seorang anak perempuan cantik dan yang terpenting berhati malaikat" kekeh Qarin sambil mengedipkan mata kanannya. Dia tidak pernah memiliki keakraban dengan anak laki-laki nya seumur hidup.
Namun setelah perempuan yang merupakan sekretaris itu datang ke mansion. Dia membantu hubungan mereka semakin baik dan beruntungnya untuk pertama kalinya dia bisa datang ke perusahaan milik suami dan anaknya. Dimana dia sudah bertahun-tahun lebih tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di perusahaan ini karena takut membuat masalah untuk anak laki-lakinya yang dingin.
'Hah, jika mengingatnya pasti banyak perubahan sekarang' pikir Qarin dan mulai keluar dari pintu mobil yang telah dibukakan.
Payung bewarna hitam dibuka untuk melindunginya. Langkah kakinya yang lembut berjalan menuju ke dalam perusahaan. Dengan pakaian musim panas, pesona mudanya mengalahkan umur tua yang ada.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, nyonya?" tanya resepsionis tersebut sopan.
"Saya ingin bertemu dengan Leon" ucap Qarin.
"Maksud anda Tuan Leonex Marin, CEO dan pemilik perusahaan ini?"
"Ya" ucap Qarin.
Resepsionis yang mendengar hal tersebut langsung melihat penampilan milik Qarin dari atas dan bawah. Menilai semua penampilan yang ada lalu mengeluarkan senyum merendahkan nya.
"Heh, Jika anda hanya ingin memperkenalkan anak perempuan anda lebih baik and pergi ke luar saja" sindir Resepsionis secara langsung dengan tatapan matanya yang merendahkan. Membuat Qarin yang merasakan sikap sopan tiba-tiba merinding.
"Hei, apa seperti ini sikapmu terhadap tamu?" tanya Pelayan yang ada di samping Qarin saat melihat perubahan sikap resepsionis yang tiba-tiba.
"Saya hanya sopan dengan orang yang ba..."
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya seorang laki-laki dengan suaranya yang dingin. Laki-laki itu memotong pembicaraan milik resepsionis dengan aura dan kalimatnya yang dingin.
"Apa kamu tidak membaca pesan yang ibu kirimkan untukmu?" tanya Qarin sedih.
"I...ini tuan saya...saya" gugup Resepsionis yang takut akan kemarahan atasannya. Tubuhnya bergetar ketakutan, dia tidak mengetahui bahwa wanita paruh baya dengan pakaian mahal itu merupakan orang dikenal atasannya.
"Apa?" dingin Leon dan menatap resepsionis yang ketakutan.
"I...itu saya-saya tidak...tidak.."
"Maaf tuan muda, dia ketakutan mungkin karena mengira nyonya besar merupakan seseorang yang ingin menjodohkan anda dengan anak perempuan nya" jelas pelayan membantu penjelasan resepsionis yang ketakutan.
"Jodoh?" dingin Leon lalu menatap resepsionis yang ketakutan.
"Saya..."
"Sir, anda benar-benar ingin menikah? jika anda menikah nanti jangan lupa undang saya ya... Karena yang saya tau pernikahan orang kaya pasti menghidangkan makanan yang enak" ucap Luna polos sambil mengeluarkan senyum manisnya. Membuat Leon menatap Luna tajam lalu menghela nafasnya.
"Jika kau pikir aku akan menikah, maka kamu yang akan ku nikahkan paham" dingin Leon. Membuat Luna mengembulkan pipinya.
__ADS_1
"Cih..." decih Luna kesal.
"Tuan... i..ini... saya" gugup Resepsionis.
"Kamu pergi ke HRD, sekarang" dingin Leon membuat resepsionis yang ketakutan terjatuh ke lantai.
"Anu... kak Resepsionis saya lupa memberitahu anda bahwa nyonya yang tadi anda prasangka buruk merupakan ibu dari atasan anda" jelas Luna polos dan mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia simpan. Dengan baik hati ia memberikan sapu tangan putih miliknya dan menyapu air mata resepsionis itu lembut.
"Jangan menangis kak Resepsionis, mungkin ini bisa menjadi pelajaran untuk anda di perusahaan lain jadi tetap semangat ya" ucap Luna sambil menyemangati resepsionis yang menangis.
"Luna jika kamu masih lama aku akan memotong gajihmu" dingin Leon membuat Luna gelagapan.
"Ehhh sebentar-sebentar kenapa jadi gajih saya yang dipertaruhkan, sir anda tidak benar-benar melakukan nya bukan?" tanya Luna gelagapan karena mendengar gajihnya akan dipotong.
"Makanya cepat, jika tidak ..."
"Ehhh sebentar-sebentar, nyonya besar mari saya antar anda juga ke ruangan" ucap Luna yang kesal dengan atasannya dan mengeluarkan senyum manisnya ke arah Qarin.
"Ba..."
"Luna..." panggil Leon dingin.
"Baik-baik" jawab Luna cepat dan mengikuti atasannya secepatnya. Melangkahkan kakinya secepat mungkin agar tidak tertinggal atasan dingin nya.
'Ish'
🔫Fufufu masa lalu Luna emang manis ya, namanya juga Luna 8 tahun yang lalu dimana sikapnya masih polos nan manis bagaikan anak kecil.
Jadi mari kita lihat bab berikutnya, jika ingin cepat up untuk kali ini like nya 500 ^^
Mata Ne~
•Ngomong-ngomong cuma mau bilang yang bilang bab-bab tulisan saya dikit, hei katanya padahal sama loh bahkan ada lebih. Kalian itu bilang dikit karena bacanya kecepatan atau keseruan, astaga.... Jangan marah dong kalau komen yang manis semanis madu, okay!
__ADS_1