My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 33 : Senapan


__ADS_3

Tidak terasa tujuh hari telah berlalu, hari pertandingan untuk anggota kemiliteran akan dimulai di waktu musim dingin akan tiba dan suhu dingin mulai memasuki area London . Di setiap tenda milik klan masing masing sangat terasa aura ambisi setiap kelompok yang ingin memenangkan dan tentu saja membawa nama baik untuk negara maupun klannya.


Di Tenda Klan Singa~


Seorang pria gagah dan berotot sudah siap dengan senjata nya yang dia letakkan di punggungnya, dengan pakaian anggota kemiliteran Leonex Martin terlihat sangat tampan dan gagah.


"Ingat jika kalian takut kalian bisa mundur karena aku tidak butuh anggota yang lemah" dingin Leon sambil menatap tajam ke arah anggotanya.


"Siap kapten" ucap mereka tegas. Leon melihat peta yang merupakan tempat mereka berlomba, setiap pos memiliki lombanya masing-masing dari mulai menembak menggunakan pistol, senapan, maupun menggunakan belati, granat atau merancang bom dan lain-lain. Tentu saja semua anggota surga dibagi kelompok dan Leon akan mengikuti pertandingan di bagian senapan dan belati. 'Aku akan mengalahkan kalian klan Ular' Smirk Leon.


Di Tenda Klan Ular~


Seorang laki-laki yang sudah siap dengan perlengkapan pistol maupun firearms {senjata api} sudah melekat di pinggangnya dan jangan lupakan granat yang selalu dibawa lelaki yang merupakan perwira tertinggi di kemiliteran nya, Rangga Nypole.


Rangga yang menjelaskan metodenya dan beberapa penilaian maupun lawan yang harus diperhatikan atau ditakuti agar klan mereka tau kekurangan maupun ketidakmampuan klan lain. Rangga yang fokus dan teliti dalam menjelaskan berbanding terbalik dengan perempuan yang sedang santai duduk sambil melihat ketajaman pisau belati miliknya itu.


"Luna apa kau mendengar penjelasan ku!" tanya Rangga tegas. Ya perempuan yang sedang duduk di kursi itu adalah Luna Nypole yang akan mengikuti perlombaan bagian Senapan dan tentu saja belati, sebenarnya dirinya ingin mengikuti bagian yang lain juga tapi sayang Lomba untuk bagian militer dan bagian untuk lomba mafia harinya berdekatan yang membuat dirinya harus menjaga stamina dan daya tahan tubuh nya.


"Ya" jawab Luna singkat. Rangga melangkah kan kakinya ke arah adik perempuannya itu dan memegang pundak perempuan itu kuat.


"Ingat jangan sampai kalah karena aku tidak ingin ada nyawa yang terbang di arena belati" ucap Rangga sambil mencengkram erat kedua bagi adiknya itu.


"Tenang mungkin kakak yang akan hilang kalau salah rangkai bom" Smirk Luna hingga suara mic terdengar dari arah luar tenda mereka yang menandakan semua orang harus bersiap di posisi karena pertandingan akan dimulai.

__ADS_1


"Perwira lebih baik kita keluar dan bersiap sebelum kita di diskualifikasi" ucap anggota tentara lainnya.


"Dengar tuh, Perwira" ucap Luna sambil mengeja kata terakhir yang dirinya ucapkan. Rangga hanya bisa mengembuskan nafas melihat tingkah laku adiknya itu.


" ambil semua perlengkapan dan ingat jangan Samapi ada yang ketinggalan dan jangan sampai salah lokasi" perintah Rangga lantang.


"Siap laksanakan" jawab mereka serentak dan langsung mengambil senjata, peluru, kabel untuk bom dan lain-lainnya. Suara serapan langkah lari terdengar di saat semua klan sudah keluar dari tenda mereka dan menuju lokasi pertandingan masing-masing. Ada yang sudah lari menuju lokasi, ada yang persiapan dan ada yang sedang merapikan barisan mereka.


"***Siap grak...


"Yang dibelakang dirapikan...


"Maju jalan***....



Arena Senapan~


Luna sudah siap dengan senjata senapan nya yaitu Barrett M82 warna hitamnya. Tangannya mengikat rambut panjang miliknya dengan gaya ekor kuda. dirinya hanya memakai celana tentaranya dan kaos pendek nya karena musim dingin masih belum memasuki area mereka dan tentu saja karena banyaknya orang yang ada di area senapan membuat sedikit gerah walau suhu sudah mendingin.


"Semua peserta harap bersiap siap" ucap pembawa acara di pertandingan ini. Luna melangkahkan kakinya menuju tempatnya menembak, apalagi pertandingan ini mereka menggunakan nomor urut.


"Nomor Tujuh" gumam Luna dan meletakkan senapannya tepat di posisi yang ada tulisan Nomor tujuh. Arena laki-laki dan perempuan di pisah oleh pagar besi menjulang. Suara peluit pertama terdengar dan semua peserta sudah dalam posisi tiarap sambil memegang senapan mereka. Mata mereka harus fokus untuk menembak ke arah target bergerak dan tentu saja suhu dingin sudah mengenai kulit mereka dan suara peluit dibunyikan lagi.

__ADS_1


Saat itulah suara tembak dari beberapa senapan yang berbaris dan digunakan oleh setiap peserta terdengar keras. Banyak peluru yang ditembakkan untuk mengenai target tepat sasaran, hembusan angin menerpa kulit mereka tapi tidak ada yang mau menganggu fokus mereka hingga suara peluit berbunyi lagi dan setiap peserta harus menghentikan tarikan pelatuk mereka.


Langkah kaki para panitia langsung mendekat ke arah target untuk mengetahui siapa yang mengenai target paling sempurna dan tidak ada kekurangan nya.


"*Untuk Grup Perempuan Klan Ular nomor 7"


"Untuk Grup Laki-laki Klan Singa nomor 12*"


Terdengar pemberitahuan yang keras dari Panitia yang lolos dan mengenai semua target tepat sasaran. Semua bertepuk tangan saat mereka melihat ke setiap peserta dengan nomor mereka masing-masing.



Luna berdiri dari posisi menembaknya sambil memegang senjata senapan nya. Rambutnya sudah sedikit berantakan karena terpaan angin tetap membuat tubuhnya yang berisi dan cantik itu sangat mempesona.


"Sepertinya ada yang menandingi ku" Smirk Luna sambil menatap sebrang tempatnya berada dimana jauh dari tempatnya adalah arena senapan untuk grup lelaki. Tidak jauh berbeda dengan perempuan yang menyungingkan smirknya itu ada laki-laki lain yang menatap tajam ke arah grup khusus perempuan.


"Klan ular ternyata kalian tidak menyerah" dingin Leon dan tentu saja lelaki yang ber aura dingin itu adalah Leonex Martin lelaki yang menembak sempurna di arah target nya yang bergerak dan tentu saja dengan cepat karena waktu yang dibutuhkan tidak boleh lama. Dua mahluk hidup yang saling menatap tetapi dihalangi oleh pembatas dan orang-orang yang berbaris di posisinya. Kedua insan yang diciptakan sang maha kuasa untuk bertemu maupun tidak karena jika yang di sana berkehendak maka semua akan terjadi walau rintangan yang akan dihadapi mereka akan sangat berbahaya untuk keluarga bahkan nyawa mereka sendiri.


Luna melangkahkan kakinya keluar dari arena senapan dan membiarkan peserta lainnya untuk memulai lagi. Tatapan dingin dan datarnya menyertai setiap langkah kakinya menuju tempat lain. Namun hatinya merasakan ambisi dan tekat yang kuat untuk mengalahkan orang yang sama dengan dirinya.


"Menarik" ucap Luna di dalam hatinya dan melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya karena di babak ini mereka akan dipilih dan diadukan setiap ronde hingga menyisakan beberapa anggota klan kemiliteran yang akan memperebutkan peringkat 1 dalam adu lomba senapan.


__ADS_1


🔫Maaf telat update ada sebuah masalah pribadi, sekian terima kasih.


__ADS_2